{"id":7229,"date":"2023-07-12T13:33:36","date_gmt":"2023-07-12T06:33:36","guid":{"rendered":"https:\/\/www.unisayogya.ac.id\/en\/id\/?p=7229"},"modified":"2023-07-12T13:33:36","modified_gmt":"2023-07-12T06:33:36","slug":"musim-ubur-ubur-dosen-bioteknologi-unisa-yogya-bagikan-tips-pencegahan-dan-penanganan-sengatannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.unisayogya.ac.id\/en\/musim-ubur-ubur-dosen-bioteknologi-unisa-yogya-bagikan-tips-pencegahan-dan-penanganan-sengatannya\/","title":{"rendered":"Musim Ubur-Ubur, Dosen Bioteknologi Unisa Yogya Bagikan Tips\u00a0 Pencegahan Dan Penanganan Sengatannya"},"content":{"rendered":"\n<p>Ubur-ubur merupakan hewan laut yang masih satu kerabat dengan anemon laut. Kemunculan ubur-ubur dapat menjadi penanda baik karena menjadi salah satu tanda musim bertelurnya penyu karena hewan yang seperti jeli ini adalah pakan alami penyu laut. Namun kemunculan hewan laut ini juga dapat membahayakan manusia karena hewan ini dapat mengeluarkan racun dari sengatannya. Hal ini tentunya perlu diwaspadai terutama bagi wisatawan yang berlibur di pantai. Berdasarkan informasi dari beberapa sumber menyebutkan setidaknya 35 wisatawan dikawasan pantai Bantul yang disengat&nbsp; hewan laut&nbsp; tersebut sepanjang musim liburan sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p>Dosen Bioteknologi Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Arif Bimantara, S.Pi., M.Biotechmenjelaskan bahwa ubur-ubur memiliki racun untuk menyengat guna melindungi diri dari serangan musuh dan untuk menangkap mangsa. Sel-sel penyengat tersebut disebut knidosit dan sering dikenal dengan nama <em>nematocyst<\/em> yang berukutan 11 \u2013 24 nanometer. Sel ini berada di tentakel ubur-ubur yang beberapa dilengkapi dengan pengait untuk menusuk mangsa atau musuh. \u2018\u2019Racun yang masuk ke dalam tubuh akibat sengatan hewan laut tersebut menyebabkan beberapa dampak dari ringan hingga berat\u2019\u2019, kata Arif<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut Arif menyampaikan efek dari racun ubur-ubur antara lain efek ringan yang menyebabkan badan lemah, mengantuk, rasa gatal pada bagian yang disengat, pembengkakan, nyeri, iritasi kulit yang disertai munculnya ruam kemerahan, rasa sakit seperti terbakar atau tertusuk dan terasa menyengat. Efek sedangnya orang yang disengat akan merasakan sakit perut, mual dan muntah, sakit kepala, kejang otot hingga pingsan. Sedangkan dampak serius dari racun ini dapat berakibat pada kesulitan bernafas, dan masalah jantung. Reaksi ini dapat muncul dengan cepat atau beberapa jam setelah sengatan tergantung pada umur dan kondisi kesehatan orang yang disengat.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengingat dampak sengatan ubur-ubur yang dapat membahayakan maka diperlukan upaya pencegahannya. Arif Bimantara memberikan tips yang dapat dilakukan wisatawan untuk mencegah bahaya akibat sengatan ubur-ubur ini antara lain : (1) Gunakan pakaian yang dapat melindungi sengatan; (2) gunakan alas kaki seperti sepatu tahan air saat berjalan di pantai; (3) gunakan lotion anti sengatan ubur-ubur; (4) jika melihat adanya ubur-ubur di pantai segera hindari kemudian laporkan kepada penjaga pantai; dan yang paling aman adalah (5) hindari berwisata ke laut saat musim ubur-ubur. Dan apabila terjadi sengatan ubur-ubur berikut beberapa hal yang dapat dilakukan, (1) apabila masih terdapat tentakel\/pengait yang menempel silahkan dibasuh menggunakan air laut, jangan menggunakan air tawar karena akan dianggap ancaman sehingga racun justru akan semakin banyak dikeluarkan; (2) rendam bagian yang tersengat dengan air hangat karena umumnya racun dari hewan laut akan rusak pada suhu hangat atau panas; (3) minum obat anti nyeri komersial seperti ibuprofen jika rasa nyeri tidak tertahankan; dan (4) hubungi tim medis jika diperlukan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" data-id=\"7230\" src=\"https:\/\/www.unisayogya.ac.id\/en\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/16\/sites\/7\/2023\/07\/Ubur-Ubur.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7230\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ubur-ubur merupakan hewan laut yang masih satu kerabat dengan anemon laut. Kemunculan ubur-ubur dapat menjadi penanda baik karena menjadi salah satu tanda musim bertelurnya penyu karena hewan yang seperti jeli ini adalah pakan alami penyu laut. Namun kemunculan hewan laut ini juga dapat membahayakan manusia karena hewan ini dapat mengeluarkan racun dari sengatannya. Hal ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7230,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"slim_seo":{"title":"Musim Ubur-Ubur, Dosen Bioteknologi Unisa Yogya Bagikan Tips\u00a0 Pencegahan Dan Penanganan Sengatannya - Universitas Aisyiyah Yogyakarta","description":"Ubur-ubur merupakan hewan laut yang masih satu kerabat dengan anemon laut. Kemunculan ubur-ubur dapat menjadi penanda baik karena menjadi salah satu tanda musim"},"footnotes":""},"categories":[978],"tags":[],"class_list":["post-7229","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.unisayogya.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7229","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.unisayogya.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.unisayogya.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.unisayogya.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.unisayogya.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7229"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.unisayogya.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7229\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18838,"href":"https:\/\/www.unisayogya.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7229\/revisions\/18838"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.unisayogya.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7230"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.unisayogya.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7229"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.unisayogya.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7229"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.unisayogya.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7229"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}