Universitas `Aisyiyah Yogyakarta menggelar acara wisuda sarjana dan diploma di Hall gedung Siti Bariyah, Kamis (31/03).

Sebanyak 107 mahasiswa mengikuti prosesi wisuda yang diadakan secara offline dan online dengan didampingi para orang tua maupun wali mahasiswa, wisuda kali ini diikuti masing-masing program studi dari Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes), Fakultas Ekonomi, Ilmu Sosial dan Humaniora (FEISHum), serta Fakultas Sains dan Teknologi (FST).

Salah satu mahasiswa inspiratif kali ini menampilkan Dian Pancaring Pertiwi dari Prodi Administrasi Publik Unisa Yogyakarta, semangat kegigihanya dalam menyelesaikan masa pendidikanya patut diapresiasi. Dian rajin membantu ibunya berjualan es teh keliling di Malioboro serta pintar membagi waktunya dengan baik sehingga akhirnya bisa lulus dan meraih gelar sarjana.

Rektor Unisa Yogyakarta Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat mengatakan ciri lulusan Unisa Yogyakarta yaitu tangguh dan memiliki nilai semangat yang tinggi dan tidak pantang menyerah dalam situasi apapun. “Setelah menjadi alumni nanti, saya berharap kalian semua tetap memiliki semangat juang  untuk memajukan bangsa dan juga membawa nama baik almamater Unisa tercinta ini,” ucap Warsiti didepan para wisudawan.

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta berhasil meraih penghargaan bergengsi dalam ajang Public Relations Indonesia Awards (PRIA) 2022 pada kategori perguruan tinggi yang digelar di Semarang, Jumat (25/3). UNISA Yogyakarta meraih  Silver Winner di Sub Kategori Video Profil.

PRIA merupakan ajang kompetisi kehumasan yang diselenggarakan oleh PR Indonesia. Kompetisi yang diadakan sejak tahun 2016 tersebut menjadi barometer kinerja komunikasi bagi setiap institusi atau organisasi di tanah air. Pada tahun ini penyelenggara menerima sebanyak 789 entri dari koorporasi, lembaga, kementerian, serta pemerintah daerah.

Kepala Biro Humas dan Protokol, Sinta Maharani menyampaikan rasa bangga atas penghargaan yang diberikan PR Indonesia kepada UNISA Yogyakarta. Prestasi yang diraih adalah hasil kerja cerdas dan dukungan berbagai pihak.  

“Alhamdulillah, UNISA Yogyakarta berhasil meraih penghargaan dalam PRIA 2022. Penghargaan ini didedikasikan kepada semua tim Humas dan Protokol,  jajaran Pimpinan Universitas dan seluruh civitas UNISA Yogyakarta,” kata Sinta.

Di tengah kondisi ketidakpastian karena pandemic yang tak kunjung usai, Sinta mengatakan apresiasi ini menjadi penyemangat untuk bisa terus meningkatkan kinerja kehumasan di UNISA Yogyakarta. Kedepan diharapkan Humas dan Protokol UNISA Yogyakarta dapat mengembangkan program yang kreatif dan terukur dalam memasyarakatkan program-program terbaik UNISA Yogyakarta. Sinta mengungkapkan keberhasilan humas UNISA kedepannya akan ditentukan pada kemampuan adaptasi terhadap perubahan zaman dan paham akan kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu UNISA Yogyakarta akan terus beradaptasi dengan menghadirkan konten yang dinamis serta sesuai dengan karakter stakeholder. Harapannya, semoga kedepan UNISA Yogyakarta dan kemampuan kehumasannya bisa lebih bermanfaat dan memberikan kebaikan bagi publik secara lebih luas

Program Studi Magister Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) Universitas `Aisyiyah Yogyakarta mendapatkan nilai akreditasi Unggul berdasarkan Surat Keputusan Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes) Nomor 0125/LAM-PTKes/Akr/Mag/II/2022.

Rektor Unisa Yogyakarta Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat mengucapkan syukur Alhamdulillah atas capaian unggul yang didapatkan oleh prodi S2 kebidanan. Keberhasilan program Magister kebidanan meraih akreditasi unggul, menunjukkan bahwa Unisa Yogyakarta berkomitmen menjamin mutu lulusan melebihi standar.

“Hasil ini juga menambah poin penting, berkontribusi bagi upaya pencapaian target Akreditasi Perguruan Tinggi unggul, saat ini Unisa Yogyakarta telah memiliki 20% prodi unggul dan A. Unisa Yogyakarta terus berupaya untuk melakukan program akselerasi, mengedepankan aspek mutu untuk setiap program dan strategi untuk mencapai keunggulan.   Berharap juga ini menambah spirit maju bagi prodi prodi lain di lingkungan unisa,” ujar Warsiti.

Ketua Program Studi Magister Kebidanan Andari Wuri Astuti, S.SiT.,MPH., Ph.D mengatakan bahwa hal ini merupakan prestasi seluruh civitas akademika, mulai dari rektorat, fakultas, prodi dan unit-unit, dosen, mahasiswa, alumni, tendik, dan seluruh stakeholder terkait. “Hasil unggul ini merupakan amanah serta kepercayaan dari pihak eksternal terhadap mutu pendidikan di prodi, untuk itu perlu upaya untuk menjaga amanah ini supaya manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat secara luas,” tutur Andari.

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menerima studi banding dari Universitas Muhammadiyah Palopo via ruang maya, Selasa (08/03). Stuban dilaksanakan dalam rangka persiapan UM Palopo membuka Program S1 Studi Profesi Bidan. Pendirian tersebut menjadi pengembangan dari Prodi D3 Bidan yang telah berdiri dari tahun 2006 di UM Palopo.

Rektor UNISA Yogya, Warsiti,S.Kp.,M.Kep.,Sp.Mat., menyambut dan berterimakasih kepada UM Palopo, atas kepecayaannya untuk silaturahmi dan studi banding di UNISA Yogya. Warsiti menyebutkan bahwa UNISA Yogya, siap berkolaborasi dan membantu serta mendukung dalam pendirian tersebut. “Mudah-mudahan ikhtiar yang telah dilaksanakan dari rekan-rekan UM Palopo segera mendapatkan izin operasional,” tutup Warsiti.

Wakil Rektor II UM Palopo, Dr. Hadi Pajarianto, S.Pd.I., M.Pd.I., dalam sambutannya memaparkan bahwa pengembangan tersebut juga menjadi salah satu amanah dari para pendiri Akademi Bidan Muhammadiyah Palopo. “InsyaAllah dalam pertemuan ini kita akan diberikan ilmu, pengalaman, serta InsyaAllah akan diberikan percepatan dalam transformasi, sehingga Prodi S1 Kebidanan dan Profesi bisa berdiri,” jelas Hadi Pajarianto. Hadi juga menegaskan bahwa sarana dan prasana dari Prodi D3 Kebidanan UM Palopo sudah luar biasa.

Dalam sesi sharing pengalaman, dipandu oleh Nidatul Khofiyah, S.Keb.,Bd., M.PH, selaku Ka.Prodi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi, UNISA Yogya. Pembahasan terbilang cukup detail dimulai dari struktur organisasi Prodi, kurikulum, metode pembelajaran, mata kuliah terkait jumlah SKS, dan lain sebagainya. Selain dari Prodi juga dipaparkan dari Laboratorium dan Perpustakaan UNISA Yogya.

Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mendapatkan kunjungan Kapolda DIY Irjen Pol Drs. Asep Suhendar, M.Si., Selasa (08/03). Kunjungan ini dalam rangka meninjau vaksinasi booster hari kedua yang diadakan Unisa Yogyakarta bekerjasama dengan Kepolisian Daerah (Polda) DIY dalam mendukung program percepatan vaksinasi nasional.

Didampingi beberapa Pejabat Utama Polda DIY, dalam kunjungannya Kapolda disambut oleh Rektor Unisa Yogyakarta Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat beserta jajaranya.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolda DIY memaparkan beberapa perkembangan situasi Covid-19 di DIY. Kapolda menyampaikan bahwa pada tanggal 7 Maret 2022, penambahan kasus terkonfirmasi Covid-19 di DIY sebanyak 1.310 kasus dengan penambahan angka kesembuhan sebanyak 1.290 kasus.

“Vaksinasi ini merupakan vaksinasi serentak yang dilaksanakan secara bersamaan di 34 Provinsi di Indonesia dan dipantau oleh Kapolri secara virtual,” tutur Asep.

Selain melakukan pemantauan, Polda DIY dan Unisa Yogyakarta juga akan bekerjasama untuk membuka gerai vaksinasi di klinik Unisa Yogyakarta. Warsiti mengatakan kolaborasi antara Unisa Yogyakarta dengan Polda DIY terus berlanjut, nantinya gerai vaksinasi akan dibuka setiap hari untuk melayani masyarakat umum agar mendapatkan vaksin secara gratis.

Universitas `Aisyiyah Yogyakarta bekerjasama dengan Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Polda DIY) mengadakan kegiatan vaksin ke III (booster) bagi dosen, karyawan, mahasiswa Unisa Yogyakarta serta masyarakat umum di gedung Siti Bariyah kampus terpadu Unisa Yogyakarta, Senin (07/03).

Kegiatan Vaksin ini sendiri akan dilaksanakan selama 3 hari, yaitu dari tanggal 7 – 9 Maret 2022 dengan jumlah kuota 1000 vaksin perharinya. Adapun jenis vaksin yang dipakai untuk booster ini berjenis AstraZeneca.

Rektor UNISA Yogyakarta, Warsiti, S.Kp.,M.Kep.,Sp.Mat mengatakan kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar juga berkat dukungan dari Polda DIY yang selalu bersinergi dengan Unisa Yogyakarta dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19 melalui kegiatan vaksinasi yang sudah dilangsungkan beberapa kali.

“Meskipun baru kali ini Unisa mengadakan vaksin booster yang pertama, tetapi kami selalu senantiasa mendukung upaya dari program dinas kesehatan mengenai pencegahan penularan Covid-19, hal ini sudah kita lakukan sejak pertama kali dinyatakan di Indonesia sebagai pandemi,” tutur Warsiti.

Warsiti menambahkan selain vaksin untuk internal Unisa, vaksin ini juga diperuntukkan untuk masyarakat umum, lansia serta yang sudah memenuhi syarat untuk dilakukan vaksinasi. Khusus masyarakat umum dengan kriteria tertentu yang mengikuti kegiatan vaksin diberikan minyak goreng yang sekarang sedang langka dipasaran.

dr. Is Arifin, Sp.B selaku Kepala Bidang Dokter Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda DIY dalam sambutanya menyampaikan bahwa DIY merupakan terbaik ke 3 di Indonesia setelah Jakarta dan Bali mengenai penyaluran vaksin. “Yang perlu ditekankan ke masyarakat bahwa vaksinasi booster ini betujuan untuk mencegah fatalitas dari virus Covid-19. Meskipun nantinya sudah pada mendapatkan vaksin, masyarakat tetap harus menjaga prokes,” ucap Arifin.

Hari ini, Baitul Arqam untuk Pimpinan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta telah memasuki hari kedua. Di hari terakhir ini para peserta Baitul Arqam menyimak salah satu meteri yaitu Islam Washathiyah yang disampaikan oleh Dr. H. Agung Danarto., M.Ag. Islam Wasathiyah adalah Islam Berkemajuan. Pengertian Wasathiyah secara umum adalah jalan tengah, berada diantara dua sisi, tidak condong ke kiri atau condong ke kanan. Hal tersebut disampikan oleh Sekretartis PP Muhammadiyah, Dr. H. Agung Danarto., M.Ag. secara daring melalui Zoom Meeting pada hari Sabtu (05/03).

Islam Wasathiyah memiliki pijakan kuat di dalam Al-Quran, yaitu dalam Surat Al-Baqarah ayat 143. Dalam surat tersebut, ummatan wasatha dimaknai oleh para mufasir sebagai umat yang adil dan pilihan. Ada sepuluh karakteristik  Islam Wasathiyah yang dikonsepkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang disampaikan oleh Agung Danarto, yaitu Tawazun(berkeseimbangan); Tawasuth (mengambil jalan tengah); Syura (musyawarah); Tasamuh (toleransi); I’tidal (lurus dan tegas); Awlawiyah (mendahulukan yang prioritas); Islah (reformasi); Musawah (egaliter non diskriminiasi); Tahaddhur(berkeadaban); dan Tathawur wa Ibtikar (dinamis, kreatif dan inovatif).

Apakah Muhammadiyah merupakan Islam Wasathiyah? Untuk menjawab pertanyaan ini Agung Danarto menyampaikan sepuluh Sifat Kepribadian Muhammadiyah. Sepuluh Sifat Kepribadian Muhammadiyah ini memiliki karakteristik Islam Wasathiyah yang dikemukakan oleh MUI. Pertama, beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang pertama ini mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Islah (reformasi); Tathawur wa Ibtikar (Dinamis, Kreatif dan Integratif); I’tidal (Lurus dan Tegas); Tahaddhur (Berkeadaban); Aulawiyah (Mendahulukan yang Prioritas); dan Tawazun (Berkeseimbangan).

Kedua, memperbanyak kawan dan mengamalkan Ukhuwah Islamiyah. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang kedua ini mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Musawah (Egaliter non Diskriminatif); dan Tasamuh (Toleransi). Ketiga, lapang dada, luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang ketiga  mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Tasamuh (Toleransi); I’tidal (Lurus dan Tegas); Tawasuth (Mengambil Jalan Tengah). Keempat, bersifat keagamaan dan kemasyarakatan. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang keempat mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Tahaddhur (Berkeadaban); Islah (Reformasi); Tathawur wa Ibtikar (Dinamis, Kreatif dan Inovatif). 

Kelima, mengindahkan segala hukum, undang undang serta dasar dan falsafah negara yang sah. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang kelima ini mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Syura (Musyawarah); Aulawiyah (Mendahulukan yang Prioritas); Tahaddhur (Berkeadaban); I’tidal (Lurus dan Tegas); dan Tawasuth (Mengambil Jalan Tengah). Keenam, amar ma’ruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh tauladan yang baik. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang keenam ini mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti I’tidal (Lurus dan Tegas); Islah (Reformasi); Tathawwur wa Ibtikar (Dinamis, Kreatif dan Inovatif); dan Tahaddhur (Berkeadaban).

Ketujuh, aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud islah dan pembangunan sesuai dengan ajaran Islam. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang ketujuh mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Islah (Reformasi); Tathawur wa Ibtikar (Dinamis, Kreatif dan Inovatif); dan Tahaddhur (Berkeadaban). Kedelapan, kerjasama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang kedelapan ini mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Musawah (Egaliter non Diskriminasi); Tasamuh (Toleransi); Tawazun (Berkeseimbangan); Syura (Musyawarah); dan I’tidal (Lurus dan Tegas).

Kesembilan, membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun negara untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi allah. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang kesembilan ini mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Syura (Musyawarah) Aulawiyah (Mendahulukan yang Prioritas); Tasamuh (Toleransi); Musawah (Egaliter non Diskriminasi); Islah (Reformasi); dan Tahaddhur (Berkeadaban).  Dan Kesepuluh, bersifat adil serta korektif ke dalam dan ke luar dengan bijaksana. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang terakhir ini mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti I’tidal (Lurus dan Tegas); Tawazun (Berkeseimbangan); dan Tawasuth (Mengambil Jalan Tengah).

Kesepuluh sifat-sifat Muhammadiyah yang disampaikan oleh Agung Danarto sama sekali tidak bertentangan dengan konsep Islam Wasathiyah yang dikemukanan oleh MUI. Lebih lanjut Agung Danarto menjelaskan bahwa “jika dilihat dari point-point Islam Wasathiyah yang dikonsepkan oleh MUI, itu saya kira semuanya ada dan semuanya sudah masuk. Sehingga karenanya Muhammadiyah masuk dalam golongan Islam Wasathiyah. Kalau Islam Wasathiyah dalam pengertian umat Islam itu sendiri, saya kira Muhammadiyah sudah menjadi Islam Wasathiyah, yaitu Islam yang adil, Islam yang maju, dan Islam yang paling utama” demikian disampaikan oleh Agung Danarto dalam Baitul Arqam yang dihadiri oleh seluruh jajaran pimpinan UNISA Yogyakarta. 

Penulis : Dr. M. Nurdin Zuhdi, S.Th.I., M.S.I. (Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam UNISA Yogyakarta)

Ditengah kesibukan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. KH. Haedar Nashir., M.Si., menyempatkan diri menghadiri Baitul Arqam Pimpinan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta via Zoom Meeting, Jum’at (04/03). Menyampaikan materi “Kepemimpinan Transformatif Profetik”, yang dimoderatori oleh Muhammad Ikhwan Ahada, S.Ag.,M.A, menjadikan tanya-jawab dengan peserta berlangsung hangat dan seru.

Materi diawali oleh moderator bahwa krisis kepemimpinan saat ini sangat dirasakan. “Banyak orang sekarang yang belum andil baik dalam pemikiran maupun kepemimpinan, gejala-gejalanya bisa dirasakan saat ini,” jelas Muhammad Ikhwan. “Tentunya kegiatan hari ini di Unisa sangat menggunggah untuk kemajuan kedepannya,” terus Muhammad Ikhwan. Pasca pengantar tersebut Haedar Nashir, melanjutkan dan masuk pembahasan materi kepemimpinan.

Dalam pemaparannya  Prof. Dr. KH. Haedar Nashir., M.Si., menjelaskan tugas pemimpin memberikan jalan serta memberikan arah untuk orang yang tersesat. Mampu memberikan solusi yang dianggap efektif. Fungsi pemimpin juga disebut direct yaitu memerintah dan melakukan sesuatu yang bersifat langsung. Dari berbagai konsep dasar seperti itu betapa pentingnya pemimpin itu. Ibarat kepala di tubuh kita.

“Kata pepatah ‘ikan busuk dimulai dari kepala’ artinya adalah baik buruknya sebuah bangsa, umat, lingkungan, komunitas, itu semua tergantung kepada pemimpinnya,” jelas Haedar Nashir.

Mengenal kepemimpinan transformatif yang berasal dari kata transform, yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan. Seorang pemimpin dengan tindakannya membawa kearah perubahan sejatinya itulah kepemimpinan transformatif. Kepemimpinan transformatif dan karismatik merupakan hal yang berbeda. Kepemimpinan karismatik adalah apa yang di konstruksikan oleh orang atau masyarakat sebagai karisma, sehingga dengan kata lain pemimpin tersebut biasa saja, namun oleh khalayak ramai ia di agung-agungkan. Tetapi baik pikiran maupun alamiah, kepemimpinan karismatik memiliki daya tarik kepada seseorang untuk mengikuti pemimpin tersebut dan memiliki daya untuk perilaku apa yang diinginkan.

Aspek dari kepemimpinan transformatif terdapat beberapa poin. Pertama, memiliki aspek kreatif yaitu pemimpin melakukan sesuatu diluar cara berfikir orang dalam hal berkarya yang mampu menghasilkan kreasi, orang yang mampu menciptakan hal baru. Kedua yaitu kepemimpinan yang inovatif yang mampu melahirkan terobosan baru dalam ide dan karya-karyanya. Ketiga yaitu kepemimpinan yang bisa melakukan recovery yaitu memperbarui. Contohnya di era pandemi saat ini mencoba melakukan perubahan baru. Keempat, adanya progress yaitu kemajuan yang bisa diukur. “Harapannya di perguruan tinggi kita mampu mengembangkan 4 aspek kepemimpinan ini,” tutur Haedar Nashir.

Kepemimpinan profetik merupakan kepemimpinan kenabian yang berorientasi pada nabi. Proyeksi dari ukhuwah, yaitu proyeksi dari apa yang dilakukan Nabi dalam memimpin dunia. Profesor Haedar juga menjelaskan bahwa ada dua substansi dalam hal tersebut, pertama, dalam menegakkan nilai-nilai agama Islam. Ada nilai metafisik dan nilai agama yang punya potensi Habluminallah dan Habluminannas.

Ada nilai pola perilaku yaitu bagaimana seseorang bertindak yang terpuji dan baik dan tidak berkata yang bersifat mudharat. Nilai ini mampu dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga agama bukan hanya dogma ajaran tetapi mengaktual juga. Nabi membuktikan dengan menerapkan nilai-nilai agama Islam. “Hal ini bisa dibuktikan di Unisa dengan makna Islam dan Kemuhammadiyahan di jalankan, tidak hanya internalisasi tapi melimpahkan di institusional Unisa juga,” lanjut Profesor Haedar.

Yang kedua,  yaitu dimensi duniawi. Kepemimpinan Profetik juga mengurus Muammalah. Tidak benar ketika pengurus muslim menjadi anti dunia, harus diseimbangkan. Namun caranya berbeda dengan orang yang hanya berorientasi pada dunia. Harus memadukan urusan dunia dan akhirat. Kuncinya adalah Sidiq, Amanah, Tabliq, dan Fatonah.

“Setiap pememimpin itu harus belajar termasuk belajar dari kesalahan dan harus membaca. Sebagai pemimpin perguruan tinggi ikuti perkembangan berita dari media sosial, dari buku, hasil penelitian, dan sebagainya untuk bahan belajar. Kepemimpinan profetik dimulai dari hal kecil sampai hal besar,” Tutup Haedar Nashir.

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, gelar Baitul Arqam (B.A.) untuk Pimpinan, diikuti oleh jajaran Rektorat, Dekanat, Ka.Program Studi, dan Ka.Biro, 04-05 Maret 2022. Baitul Arqam dibimbing oleh Master of Training (MoT) dari Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Majelis Pembinaan Kader Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Selain mengikuti materi untuk pengkokohan dan penyegaran semangat kembali para jajaran pimipinan struktural, seluruh peserta Baitul Arqam juga mendapat kesempatn untuk mengisi Kultum setiap pasca Shalat Fardhu.

Digelar via Zoom Meeting dengan harapan tidak mengurangi esensi, materi diawali dengan pembahasan “Jihad teknologi dalam Menghadapi Tantangan Peradaban”, yang disampaikan oleh Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. Dalam materi tersebut disebutkan bahwa Agama Islam sedang mengalami kemunduran dari hari ke hari. Kontribusi umat masih kurang dalam pengembangan sains di dunia. Kontributor umat dalam bidang Sains 3 orang, 2 dibidang Kimia dan 1 dibidang Fisika.

Ada beberapa poin disebutkan yang menjadi penyebab keterlambatan perkembangan pada umat Islam. Pertama, umat Islam gagal mengidentifikasi kekuatannya. Kedua, gagal dalam memahami realitas kontemporer dunia. Dan ketiga, kegagalan yang disebabkan karena gagal merespon global.

Sains penting dalam banyak hal termasuk pengambilan kebijakan. Perempuan juga dapat berkontribusi atau berperan dalam pengembangan Sains dan Peradaban, bahkan diumur yang terbilang muda. Menilik ilmuwan Muslim dahulu, banyak yang memanfaatkan waktu untuk menulis, meneliti, merenung, dan refleksi. Fatul Wahid, dalam pemaparannya berkata,”Saya mengutip ‘bagaimana ketika pandemi menyerang, negara menggunakan pendekatan saintifik untuk melawan”. Hal ini menegaskan bahwa sains hadir salah satunya untuk memecahkan masalah manusia, salah satunya adalah pandemi.

Fatul menjelaskan dengan basis Mozaffari (1998), bahwa ada berbagai strategi untuk bangkit. Dalam hal reproduksi ada proses mekanis, berorientasi pada masa lalu (reinkarnasi), melibatkan mentalitas yang baku dan kaku. Dalam hal rekonstruksi ada proses intelektual. Strategi menuju peradaban baru dimulai dari konseptualisasi sangat awal untuk dikritisi. Tiga komponen dalam kemuliaan peradaban adalah kebahagiaan (pengembangan sains), kesejahteraan (penguasaan kapital), dan kedamaian (pendalaman agama). “Banyak jebakan jika meninggalkan salah satu komponen tersebut, contohnya ketika hanya dengan pendalaman agama, peradaban menjadi kerdil,” jelas Fatul.

“Konseptualisasi yang saya gunakan berupa tangga sulaiman. Nabi sulaiman memiliki ilmu, harta, dan tahta. Tangga tertinggi berupa ilmu. Ketika kita memiliki ilmu dengan ketulusan maka memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Tangga kedua yaitu kedudukan. Yang mengembangkan ilmu dengan karir seperti jabatan fungsional. Yang ketiga yaitu harta. Ini menjadi penguat sebagai basis kolektif. Ikhtiar kolektif salah satunya membangun kesadaran berilmu dalam diri.” Jelas Fatul Wahid lebih lanjut.

Jum’at (04/03), sebanyak 57 peserta yang terdiri dari jajaran Rektorat, Dekanat, Ka.Prodi, hingga Ka.Biro, mengikuti Baitul Arqam Pimpinan yang dibimbing oleh Master of Training dari Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Majelis Pembinaan Kader Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Baitul Arqam akan dilaksanakan selama dua hari, Jum’at-Sabtu, 04-05 Maret 2022, dengan mengusung tema “Kepemimpinan di UNISA sebagai Perguruan Tinggi ‘Aisyiyah yang Transformatif Profetik Berkemajuan”. 

Dalam sambutan pembukaan, Rektor Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat, atas nama pimpinan UNISA Yogyakarta mengucapakan terimakasih kepada seluruh peserta, seluruhnya telah menunjukan semangat baru melalui Baitul Arqam ini dengan telah bergabungnya para peserta via Zoom Meeting sedari pagi hari. 

“Dengan Baitul Arqam ini, kita menyegarkan kembali dan menambahkan semangat untuk melaksanakan tanggung jawab kita. Perankan diri kita sebagai peserta Baitul Arqam untuk belajar teladan, berempati, dimana para mahasiswa-mahasiswi kita juga telah mengikuti Baitul Arqam,” jelas Warsiti.

Warsiti juga menjelaskan bahwa status UNISA Yogyakarta saat ini “Sehat” dilingkungan Perguruam Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA). Dimana salah satu faktornya dengan dapat terpenuhinya target capaian pendaftar mahasiswa baru.

Pidato kunci disampaikan oleh Dr. Hj. Siti Noordjannah Djohantini, M.M., M.Si., selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, menggarisbawahi bahwa dalam kegiatan ini bertujuan mengokohkan dan bersama-sama dalam membesarkan UNISA Yogyakarta. Saat ini posisi UNISA Yogyakarta sudah berada diposisi yang tepat, dimana mampu memajukan dan tidak dibedakan. Siti Noordjannah, juga menjelaskan bahwa UNISA Yogyakarta didirikan untuk memajukan dan mencerdaskan bangsa. Semua denyut hati, dan nadi semua pimpinan ini harus terkoneksi, tidak sendiri-sendiri, ada yang mengkoordinir, semua hati pikiran harus terkoneksi. Diskusikan secara sungguh-sungguh oleh seluruh pimpinan dengan pemikiran-pemikiran yang maju, jangan merasa sebagai pengikut terus menerus.

“Dalam dua hari ini diharapkan ada strategi untuk penguatan, kita kokohkan, kita berikan inovasi, karena kita sudah berjalan bukan memulai, harapannya dapat menjadi leader, bagi kepentingan pencapaian visi-misi kita.” Jelas Siti Noordjannah.

Seluruh peserta Baitul Arqam diserahkan oleh Prof. Dr. Sekar Ayu Aryani, M.Ag, selaku perwakilan dari Badan Pembina Harian (BPH) UNISA Yogyakarta dan diterima oleh Master of Training, Romo Paryanto. Dalam Baitul Arqam ini peserta juga mendapatkan kesempatan untuk memberikan Kultum setiap setelah Shalat Fardhu. Diagendakan pula untuk Shalat Tahajud dari rumah masing-masing yang nantinya akan dimonitoring oleh Master of Training