BAITUL ARQAM PIMPINAN: ISLAM WASATHIYAH SEBGAI FONDASI KEPEMIMPINAN

Hari ini, Baitul Arqam untuk Pimpinan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta telah memasuki hari kedua. Di hari terakhir ini para peserta Baitul Arqam menyimak salah satu meteri yaitu Islam Washathiyah yang disampaikan oleh Dr. H. Agung Danarto., M.Ag. Islam Wasathiyah adalah Islam Berkemajuan. Pengertian Wasathiyah secara umum adalah jalan tengah, berada diantara dua sisi, tidak condong ke kiri atau condong ke kanan. Hal tersebut disampikan oleh Sekretartis PP Muhammadiyah, Dr. H. Agung Danarto., M.Ag. secara daring melalui Zoom Meeting pada hari Sabtu (05/03).

Islam Wasathiyah memiliki pijakan kuat di dalam Al-Quran, yaitu dalam Surat Al-Baqarah ayat 143. Dalam surat tersebut, ummatan wasatha dimaknai oleh para mufasir sebagai umat yang adil dan pilihan. Ada sepuluh karakteristik  Islam Wasathiyah yang dikonsepkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang disampaikan oleh Agung Danarto, yaitu Tawazun(berkeseimbangan); Tawasuth (mengambil jalan tengah); Syura (musyawarah); Tasamuh (toleransi); I’tidal (lurus dan tegas); Awlawiyah (mendahulukan yang prioritas); Islah (reformasi); Musawah (egaliter non diskriminiasi); Tahaddhur(berkeadaban); dan Tathawur wa Ibtikar (dinamis, kreatif dan inovatif).

Apakah Muhammadiyah merupakan Islam Wasathiyah? Untuk menjawab pertanyaan ini Agung Danarto menyampaikan sepuluh Sifat Kepribadian Muhammadiyah. Sepuluh Sifat Kepribadian Muhammadiyah ini memiliki karakteristik Islam Wasathiyah yang dikemukakan oleh MUI. Pertama, beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang pertama ini mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Islah (reformasi); Tathawur wa Ibtikar (Dinamis, Kreatif dan Integratif); I’tidal (Lurus dan Tegas); Tahaddhur (Berkeadaban); Aulawiyah (Mendahulukan yang Prioritas); dan Tawazun (Berkeseimbangan).

Kedua, memperbanyak kawan dan mengamalkan Ukhuwah Islamiyah. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang kedua ini mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Musawah (Egaliter non Diskriminatif); dan Tasamuh (Toleransi). Ketiga, lapang dada, luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang ketiga  mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Tasamuh (Toleransi); I’tidal (Lurus dan Tegas); Tawasuth (Mengambil Jalan Tengah). Keempat, bersifat keagamaan dan kemasyarakatan. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang keempat mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Tahaddhur (Berkeadaban); Islah (Reformasi); Tathawur wa Ibtikar (Dinamis, Kreatif dan Inovatif). 

Kelima, mengindahkan segala hukum, undang undang serta dasar dan falsafah negara yang sah. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang kelima ini mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Syura (Musyawarah); Aulawiyah (Mendahulukan yang Prioritas); Tahaddhur (Berkeadaban); I’tidal (Lurus dan Tegas); dan Tawasuth (Mengambil Jalan Tengah). Keenam, amar ma’ruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh tauladan yang baik. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang keenam ini mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti I’tidal (Lurus dan Tegas); Islah (Reformasi); Tathawwur wa Ibtikar (Dinamis, Kreatif dan Inovatif); dan Tahaddhur (Berkeadaban).

Ketujuh, aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud islah dan pembangunan sesuai dengan ajaran Islam. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang ketujuh mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Islah (Reformasi); Tathawur wa Ibtikar (Dinamis, Kreatif dan Inovatif); dan Tahaddhur (Berkeadaban). Kedelapan, kerjasama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang kedelapan ini mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Musawah (Egaliter non Diskriminasi); Tasamuh (Toleransi); Tawazun (Berkeseimbangan); Syura (Musyawarah); dan I’tidal (Lurus dan Tegas).

Kesembilan, membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun negara untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi allah. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang kesembilan ini mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti Syura (Musyawarah) Aulawiyah (Mendahulukan yang Prioritas); Tasamuh (Toleransi); Musawah (Egaliter non Diskriminasi); Islah (Reformasi); dan Tahaddhur (Berkeadaban).  Dan Kesepuluh, bersifat adil serta korektif ke dalam dan ke luar dengan bijaksana. Sifat kepribadian Muhammadiyah yang terakhir ini mengandung aspek Islam Wasathiyah seperti I’tidal (Lurus dan Tegas); Tawazun (Berkeseimbangan); dan Tawasuth (Mengambil Jalan Tengah).

Kesepuluh sifat-sifat Muhammadiyah yang disampaikan oleh Agung Danarto sama sekali tidak bertentangan dengan konsep Islam Wasathiyah yang dikemukanan oleh MUI. Lebih lanjut Agung Danarto menjelaskan bahwa “jika dilihat dari point-point Islam Wasathiyah yang dikonsepkan oleh MUI, itu saya kira semuanya ada dan semuanya sudah masuk. Sehingga karenanya Muhammadiyah masuk dalam golongan Islam Wasathiyah. Kalau Islam Wasathiyah dalam pengertian umat Islam itu sendiri, saya kira Muhammadiyah sudah menjadi Islam Wasathiyah, yaitu Islam yang adil, Islam yang maju, dan Islam yang paling utama” demikian disampaikan oleh Agung Danarto dalam Baitul Arqam yang dihadiri oleh seluruh jajaran pimpinan UNISA Yogyakarta. 

Penulis : Dr. M. Nurdin Zuhdi, S.Th.I., M.S.I. (Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam UNISA Yogyakarta)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.