DR. Junaiti Sahar, S.Kp., M. App.Sc, mengatakan karakteristik profesi perawat adalah seseorang yang harus memiliki kelompok pengetahuan landasan praktik, pelayanan unik kepada masyarakat, pendidikan yang memenuhi standar, pengendalian standar praktik & kode etik, bertanggung gugat terhadap praktik, kematangan professional melalui sosialisasi, karir seumur hidup & penghasilan utama, fungsi mandiri & mempunyai kewenangan.

Selanjutnya dijelaskan pula pengertian dari praktik keperawatan yaitu tindakan mandiri perawat professional melalui kerjasama berbentuk kolaborasi dengan klien dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggungjawabnya. Praktik keperawatan sebagai tindakan keperawatan professional menggunakan pengetahuan teoritik yang mantap dan kokoh dari berbagai ilmu dasar (biologi, fisik, biomedik, perilaku, sosial) dan ilmu keperawatan sebagai landasan untuk melakukan asuhan keperawatan.

Menurut Junaiti Sahar perawat di Indonesia harus memiliki kemandirian dan pelayanan yang lebih mengutamakan orientasi kepada pasien sebagai mitra kerja dari dokter. Disebutkan pula perawat bersama dokter dan farmasis sebagai pilar terdepan penyedia layanan kesehatan.

Kuliah Umum yang dihadiri oleh para mahasiswa S1 Keperawatan Stikes ‘Aisyiyah dan para Dosen pengajar mengangkat tema Hakekat Profesi dan Profesionalisme dalam Pelayanan dan Asuhan Keperawatan di Puskesmas dan Wilayah Kerjanya. Kuliah Umum dilaksanakan di Stikes ‘Aisyiyah pada hari Jum’at 1 November 2013.

DR. Junaiti Sahar, S.Kp., M. App.Sc yang merupakan Lektor Kepala di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia juga mengatakan bahwa banyak permintaan ahli perawat untuk bekerja di luar negeri. Besarnya permintaan ini harus juga diimbangi dengan kemampuan bahasa sebagai pendukung utamanya.

Gangguan fungsi lumbal merupakan salah satu masalah yang sering dijumpai dalam praktek fisioterapi. Nyeri pada regio lumbal yang menjalar sampai ke tungkai menjadi penyebab gangguan aktifitas gerak gerak dan fungsi pada banyak orang. Masalah-masalah yang terjadi pada lumbal semakin kompleks, begitu juga dengan penanganan fisioterapi baik assesmen maupun intervensi juga harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terkini. Sebagai insan fisioterapi harus memiliki dan menguasai kompetensi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Oleh sebab itu, Program studi S1 Fisioterapi Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta bekerjasama dengan Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) Cabang Yogyakarta menjawab tantangan dengan mendatangkan fisioterapis ahli dari Thailand untuk berbagi ilmu mengenai “Mechanical Diagnosis and MC KENZIE’s Approach for Management Physiotherapy of Lumbar Spine Problem”

Kegiatan yang berupa workshop, talkshow dan practice selama dua hari ini, dilaksanakan pada hari Jum’at dan Sabtu 1-2 November 2013. Pokok bahasan meliputi IFI Policy Statement, Applied Anantomy and Biomechanics of Lumbar Spine, Diagnostic Decision Making and Examination of Lumbar Spine Disorder, Neurophysiology of Pain, Physiotherapy Management of Lumbar Spine Disorder.

Kegiatan yang dilangsungkan di Kampus Terpadu Stikes Aisyiyah Yogyakarta ini, diikuti oleh para fisioterapis dan para mahasiswa fisioterapi dengan kuota maksimal sebanyak 30 orang. Sebagai pembicara yaitu Sumargiyono, SST. Ft, SH ketua IFI Yogyakarta, Asst.Prof.Dr. Mantana Vongsirinavarat dari Faculty of Physical Therapy Mahidol University Thailand dan Wahyudin, SST.Ft., M.Sc.

Pada hari pertama workshop, menjelaskan mengenai Mc Kenzie’s Approach secara teoritis dan secara umum. Pada hari kedua, kegiatan difokuskan pada Practicing of Mc. Kenzie’s Approach secara keseluruhan. 

Dalam rangka memotivasi mahasiswa untuk lebih aktif dalam kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta menggelar kegiatan workshop PKM bagi mahasiswa dan dosen pembimbing, Sabtu (19/10). Ketua STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta, Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat, mengatakan bahwa STIKES ‘Aisyiyah sudah mengikuti kegiatan PKM yang diselenggarakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Ditlitabmas) Ditjen Dikti. Dengan adanya workshop ini diharapkan mahasiswa yang mengajukan proposal PKM akan semakin bertambah.

 

Berkaitan dengan hal tersebut, narasumber workshop, Dr.rer.nat. Endang Darmawan, menjelaskan bahwa lulusan sebuah perguruan tinggi dituntut untuk memiliki academic knowledge, skill of thinking, management skill dan communication skill. Kekurangan atas salah satu dari ke empat ketrampilan/kemahiran tersebut dapat menyebabkan berkurangnya mutu lulusan. Sinergisme akan tercermin melalui kemampuan lulusan dalam kecepatan menemukan solusi atas persoalan atau tantangan yang dihadapinya. Agar mahasiswa dapat mencapai level kreatif diupayakan melalui sebuah kegiatan yang diberi nama Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). PKM dikembangkan untuk mengantarkan mahasiswa mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang tinggi. Dalam rangka mempersiapkan diri menjadi pemimpiN yang cendekiawan, wirausahawan serta berjiwa mandiri dan arif, mahasiswa diberi peluang untuk mengimplementasikan kemampuan, keahlian, sikap tanggung jawab, membangun kerjasama tim maupun mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu yang ditekuni.

 

Jenis PKM antara lain PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), PKM-Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM-M), PKM – Teknologi (PKM-T), PKM – KarsaCipta (PKM-KC), PKM – Gagasan Tertulis (PKM-GT), PKM – Artikel Ilmiah (PKM-AI). Masing-masing program kreativitas tersebut memiliki kriteria dan bidang kegiatan masing-masing.

 

Tahun 2012 lalu STIKES ‘Aisyiyah telah meraih prestasi PKM (4 program) antara lain PKM GT Tahun 2012 dengan Judul “Diligent formulations for gender equality : Solusi cerdas mengatasi diskriminasi gender guna mencapai milenium develompment goal (MIDG’S) dengan meningkatkan kesetaraan gender menuju keluarga berkualitas 2015”,

PKM GT Tahun 2012 dengan judul “Pendekatan Need and Safety of Patience”,

PKM GT Tahun 2012 dengan judul “SOTO : Saung Otto alat bantu untuk mengantarkan gelombang beta menuju alpha solusi untuk merangsang AEISQ (Attitude Emotional Intellengence Spiritual Quetient) Anak bangsa tak bersekolah”,

PKM-P Tahun 2012 “Edukasi Postural Drainage Untuk Menurunkan Keluhan Batuk Pada Anak DI Desa Karangwaru Tegalrejo Yogyakarta”.

 

 

Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Indonesia (AIPKIN), Dra Jumiarni Ilyas, M.Kes mengemukakan, para calon bidan harus lulus uji kompetensi yang digelar oleh Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI). Setelah itu, mereka baru bisa praktik. Hal tersebut dijelaskan saat studium general/kuliah pakar pada program studi kebidanan DIII STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta, kamis (17/10).

Menurutnya, tujuan uji kompetensi untuk menghasilkan lulusan pendidikan kesehatan yang bermutu, menjamin keselamatan pasien, keselamatan tenaga kesehatan, kesetaraan mutu global, terpenuhinya standar mutu pelayanan kesehatan nasional dan menjadi syarat mendapatkan sertifikat kompetensi STR dari MTKI.

”Uji kompetensi ini untuk membuat standar pelayanan yang sama di seluruh Indonesia. Jadi lulusan kebidanan dimanapun diharapkan mampu memberikan pelayanan yang berkualitas, dalam hal ini bidan memiliki posisi strategis  dalam penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB),” jelasnya kepada mahasiswa kebidanan semester 5.

Lebih lanjut Jumiarni menjelaskan bahwa penyelenggara pendidikan kebidanan harus memastikan bahwa lulusannya adalah seorang praktisi yang kompeten, memberikan pelayanan yang aman dan berkualitas tinggi, dalam meningkatkan status kesehahatan perempuan/masyaraka yang dilayani. Kualitas suatu perguruan tinggi kebidanan dilihat dari input (kualitas calon peserta didik), proses (kualitas pengalaman belajar), out put (kualitas lulusan) dan out come (kualitas bidan sebagai tenaga kesehatan).

Pelaksanaan uji komptenesi secara nasional ini merupakan rangkaian dari proses pendidikan, dilakukan sebelum wisuda. Bentuknya uji tulis dan praktek. Uji kompetensi dilaksanakan 3 kali dalam satu tahun yaitu bulan April, Agustus, November. Bila tidak lulus masih ada kesempatan untuk mengulang.

”Pada akhirnya, uji kompetensi sebagai tolak ukur bahwa tenaga kesehatan memiliki kompetensi sesuai dengan keahlian dan kewenanganya,” terangnya.

 

 

 

 

 

Guna mencetak kader persyarikatan yang tangguh dan kuat dan menjadi tim medis yang siap tampil digaris terdepan dalam penanganan bencana, STIKES ‘Aisyiyah menggelar perkemahan mahasantri di bumi perkemahan Girikerto Turi Sleman, Ahad-Senin (13-14/10).

 

Beberapa materi yang diberikan oleh tim SAR DIY dan Hizbul Wathan Sleman, UMY dan UAD antara lain materi ular, SAR (pencarian dan penyelamatan), manajemen bencana (pencegahan dan penanganan) dan jelajah alam (praktek pencarian dan evakuasi).

 

Menurut Mukhsin, staf kemahasiswaan STIKES ‘Aisyiyah, melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan untuk dapat memahami dan mempratikan materi Search and Rescue (SAR), latihan mandiri serta bertahan hidup di alam terbuka (survival). Dan pelaksanaanya akan dilakukan rutin setiap bulan bagi mahasiswa baru