Kelas Perancangan Tapak Arsitektur UNISA Yogya, Undang Professor Universiti Teknologi Malaysia

Program Studi (Prodi) S1 Arsitektur, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, menggelar Visiting Professor yang bekerjasama dengan Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Kegiatan berlangsung dari Selasa (4/05), hingga 30 Juni 2021, via aplikasi konferensi jarak jauh.

UNISA Yogyakarta menghadirkan 2 pemateri handal dari UTM, yaitu Prof. Dr. Ismail Said dan Dr. Lee Yoke Lai. Materi pertama tentang “Design Process in Landscape Architecture”, Visiting Professor kali ini diperuntukan bagi mahasiswa semester 2 tahun ajar 2020/2021, yang mengambil kelas Perancangan Tapak.

Aprodita Emma Yetti, S.T., M.Sc, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan agar para mahasiswa Arsitektur UNISA Yogyakarta memiliki wawasan dari dosen dan pakar Arsitektur lanskap berpengalaman. Selain itu, agar mendapatkan pengalaman kegiatan belajar mengajar yang berbeda dari kelas regular.

“Semoga program kerjasama kedua belah pihak antara program studi Arsitektur UNISA Yogyakarta dan Landscape Architecture UTM Malaysia dapat memberi banyak manfaat terutama bagi mahasiswa.” Ujar Aprodita selaku Ketua Prodi Arsitektur UNISA Yogyakarta.

 

Membangun Jejaring Global untuk Pengembangan Organisasi yang Kompetitif

Globalisasi adalah suatu proses integrase internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran dan aspek kebudayaan lainnya. Fenomena globalisasi telah menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat, demikian juga pendidikan tinggi atau universitas. Kesadaran ini menjadi pendorong bagi banyak universitas untuk membuka diri kepada dunia global. Mengapa kerjasama global menjadi penting? Karena jaringan kerjasama global bertujuan untuk meningkatkan kualitas organisasi dan kualitas akademis universitas secara menyeluruh. Hal ini disampaikan oleh Supriyatiningsih, kandidat doctor yang sedang studi doktoralnya di Jerman dalam Pengajian Ramadhan UNISA Yogyakarta (28/4).

Apa tiga isu pokok dalam dunia global? 1. Inovasi, 2. Penguatan motivasi intrinsic (empowerment) pada karyawan, 3. Tonjolkan kekuatan organisasi kita sebagai organisasi yang siap berkolaborasi. Hindari isu-isu yang mempertajam perbedaan. Kesehatan reproduksi, menolong kaum miskin, adalah nilai-nilai yang bisa kita sinergikan. Mulailah dari starting poin “berpikir positif”. Lambat atau cepat, kita akan berada di era persaingan. Demikian papar dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta siang itu.

“Jangan pernah sejengkal pun merasa tidak ingin maju ke depan. Majulah dan lakukan terobosan yang luar biasa,” tutur perempuan yang akrab disapa Dokter Upi. “Apa  tantangannya?” tanya beliau. “Tantangannya adalah teknologi informasi, teknologi komunikasi dan teknologi industri, Tantangannya ada yang negative, ada pula tantangan positif,” jawabnya.

“Apa yang harus disiapkan?” tanya beliau lagi. Beliau pun menjelaskan, “Change your mind! Perubahan mendasar yang ditimbulkan oleh globalisasi ialah keterbukaan. Karena itu jangan menutup diri, jangan apriori, dan belajarlah untuk menghargai orang lain. Apabila manusia menutup dirinya, pergaulannya akan terbatas dan pengalaman solidaritasnya sulit berkembang.

Peliharalah Tempatmu Bekerja, Jaga Nama Baiknya

Sumber Daya Manusia yang berkompeten merupakan aset penting yang dimiliki oleh Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Oleh karenanya, dalam proses bekerja perlu dilandasi oleh spirit rasa syukur, ibadah dan amanah. Hal ini disampaikan oleh dr. H. Agus Taufiqqurahman, M. Kes., Sp.OG pada momen Pengajian Ramadhan UNISA Yogyakarta (29/4).

“Mari kita ingat bahwa bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyuur. Tetapi bersyukur yang membuat kita bahagia. Maka marilah senantiasa bersyukur dengan nikmat bisa kerja. Karena tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama seperti kita” Agus Taufiqqurahman menambahkan.

Perlu dicermati bahwa terdapat relasi antara agama (mencari Ridho Allah) dan etos kerja sehingga dapat membentuk pola pikir SDM yang unggul. Bekerja dengan ikhlas dengan senantiasa dilandasi oleh etos kerja yang tinggi. Maka hakikatnya akan membawa manfaat bagi tempat kita bekerja.

“Peliharalah tempat kamu bekerja, jagalah nama baiknya. Walaupun tidak membuat kaya tapi setidaknya dari sanalah kalian hidup. Maka, mari bekerja dengan senang hati seperti piknik yang dibayar” tutup Agus Taufiqqurahman dalam paparan materinya.

Kampus Harusnya Menjadi Pusat Pengembangan Kepribadian Muslim yang Berwawasan Kebangsaan

Perguruan Tinggi ‘Aisyiyah (PTA) merupakan amal usaha yang dijiwai dan dilandasi oleh nilai-nilai Islam Berkemajuan dalam tatanan Ideologis, filosofis dan praksis-aplikatif. Nilai-nilai tersebut menjadi menjadi salah satu kekuatan untuk kelangsungan dan kesinambungan ‘Aisyiyah sebagai Gerakan dakwah dan tajdid yang melintasi jaman.

Dalam kegiatan Pengajian Ramadhan (28/4) yang diselenggarakan oleh Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Shoimah Kastolani menyampaikan bahwa semua Civitas Akademika punya tugas untuk menjadikan Kampus sebagai pusat pengembangan kepribadian muslim yg ber-Muhammadiyah dan berwawasan kebangsaan dengan mengintegrasikan  ilmu dan amal.

PTA khususnya UNISA Yogyakarta mempunyai ikatan struktural, fungsional, dan kultural langsung maupun tidak langsung dengan visi ‘Aisyiyah. Oleh karenanya, PTA perlu menumbuhkan nuansa keislaman di kampus. Misalnya dengan menggemakan Al Quran, melaksanakan Pengajian secara rutin dan tetap menjaga Kebersihan kampus.

“Untuk mendukung pengembangan kepribadian Muslim, seluruh elemen Kampus juga perlu memiliki loyalitas. Merasa bagian dari sistem, taat pada regulasi dan memberi kontribusi nyata bukan hanya sekedar menuntut” Ujar Shoimah Kastolani. Selain nilai akademik, juga perlu ditumbuhkan nilai kepribadian muslim pada seluruh Civitas. Sehingga PTA sebagai Amal Usaha dapat tetap terawatt dan terjaga.

 

 

Praksis Sosial Gerakan Perempuan dan Media

Di antara problematika perempuan dan media adalah citra perempuan dalam media, kekerasan berbasis gender online, akses perempuan dalam dunia digital, kurangnya literasi digital, maraknya hoaks dan fakes news dan problem influencer Islam Wasathiyah. Media mereproduksi stereotype perempuan, melakukan pelabelan feminitas dan maskulinitas dan perempuan sebagai penggoda. Media juga mengukuhkan domestifikasi perempuan. Adapun kekerasan berbasis gender online meningkat 300 persen di masa pandemi. Hal ini disampaikan oleh Dr. Tri Hastuti Nur Rochimah, M.Si., Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, dalam Pengajian Ramadhan UNISA Yogyakarta (28/4).

Pentingnya influencer Islam Wasathiyah mengingat wacana Islam Liberal mendominasi dunia media social, minimnya influencer perempuan dengan pandangan Islam Wasathiyah, dan pengelolaan media social pandangan Islam Wasathiyah secara lebih professional. Demikian penjelasan Tri Hastuti yang pernah menjabat sebagai Dekan FEISHum Unisa Yogyakarta tahun 2017-2019.

Strategi yang bisa digunakan adalah kritis terhadap media, meningkatkan pengetahuan digital dan ketrampilan digital. Adapun tantangan yang dihadapi perempuan antara lain: (1) fenomena Buzzer, (2) kemampuan (biaya dan SDM) dan kompetensi (content creator) untuk mengelola dakwah Islam Wasathiyah menggunakan media social secara professional, (3) kolaborasi, (4) implementasi kebijakan pemerintah mendukung literasi digital perempuan.