13 Climate Action

Menakar Masa Depan Fisioterapi: Dari Regenerative Medicine hingga Kunci Longevity di Era AI

, ,
Fisioterapi

Momentum Hari Kesehatan Sedunia yang jatuh pada Tanggal 7 April lalu, menjadi titik balik penting bagi dunia medis untuk merefleksikan arah layanan kesehatan di masa depan, salah satu bidang yang kini menjadi sorotan utama adalah fisioterapi, yang kini bertransformasi melampaui sekadar layanan rehabilitasi konvensional.

Fisioterapi

Wakil Rektor IV Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Dr. M. Ali Imron, M.Fis, menegaskan bahwa lanskap pelayanan kesehatan global tengah bergeser ke arah yang lebih personal atau precision medicine. Menurutnya, fisioterapi masa depan akan sangat bergantung pada kolaborasi erat dengan pendekatan regenerative medicine dan upaya peningkatan angka harapan hidup yang berkualitas (longevity).

“Fisioterapi hari ini harus mampu bersinergi dengan intervensi regeneratif. Pelayanan tidak lagi bersifat umum, melainkan sangat individual dan spesifik sesuai kebutuhan genetika serta gaya hidup pasien,” ujar Ali Imron saat diwawancarai di kampus UNISA Yogyakarta.

Tantangan Kecerdasan Buatan dan Penyakit Kronis

Perubahan ini bukannya tanpa kendala. Ali Imron menyoroti bahwa profesi fisioterapis saat ini menghadapi tantangan ganda: adaptasi terhadap Artificial Intelligence (AI) dan ledakan angka penyakit kronis. Teknologi AI diprediksi akan masuk ke dalam instrumen diagnostik dan pemantauan pasien, menuntut praktisi untuk melek digital agar tetap relevan.

Namun, Ali optimistis. Ia menyebut fisioterapi adalah pemegang peran vital dalam empat pilar sistem kesehatan: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif (PPKR). “Fisioterapi bukan sekadar penyembuhan setelah sakit, tetapi kunci utama dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup masyarakat di segala usia,” tambahnya.

Strategi UNISA Yogyakarta Menuju Inovasi Global

Sebagai institusi yang fokus pada kesehatan, UNISA Yogyakarta telah mengambil langkah strategis. Kehadiran Program Studi Magister (S2) Fisioterapi menjadi bukti keseriusan kampus dalam mencetak SDM yang adaptif. Kurikulum terbaru kini telah mengintegrasikan konsep teknologi masa depan dan laboratorium riset lanjutan untuk mendukung praktik regenerative physiotherapy.

Imron menjelaskan bahwa penerapan inovasi ini akan dilakukan secara simultan, baik di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun rumah sakit rujukan. Tujuannya jelas: memberikan hasil yang lebih cepat dan manfaat yang lebih besar bagi pasien, institusi, hingga pemerintah.

Harapan di Hari Kesehatan Sedunia 2026

Memanfaatkan momentum internasional ini, Ali Imron mendorong pemerintah untuk lebih memberdayakan fisioterapis di layanan primer. Dengan kebijakan yang berorientasi pada pencegahan, fisioterapi dapat berperan besar dalam optimasi gerak fungsi tubuh, menurunkan prevalensi penyakit kronis, serta menjaga kesehatan ibu dan anak.

Bagi generasi muda, Imron berpesan bahwa profesi ini sangat menjanjikan. “Seiring kompleksitas kehidupan modern, kebutuhan akan ahli gerak dan fungsi tubuh akan terus meningkat. Fisioterapi adalah profesi masa depan,” pungkasnya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *