Pos

Kekerasan

Kasus kekerasan, khususnya kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi, acap kali diibaratkan sebagai fenomena gunung es kasus yang tak terungkap jauh lebih besar dari yang tampak di permukaan. Merespons kedaruratan isu tersebut, Program INKLUSI Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah bersinergi dengan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mengadakan Workshop Penyegaran Standar Operasional Prosedur (SOP) Layanan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi. Kegiatan ini berlangsung secara komprehensif di Ruang Sidang Lantai 7, Gedung Siti Moendjijah, pada Jumat (24/4/2026).

Kekerasan Seksual

Wakil Rektor III UNISA Yogyakarta, Prof. Mufdlilah, S.SiT., M.Si., menegaskan bahwa perguruan tinggi memikul tanggung jawab absolut untuk menjamin ruang akademik yang aman, inklusif, dan berkeadilan. Meskipun UNISA Yogyakarta telah memiliki Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT), pemutakhiran standar operasional secara berkala mutlak dilakukan.

“Melalui sinergi ini, kita ingin meningkatkan kualitas implementasi PPKPT, memperkuat jejaring advokasi, serta menyempurnakan sistem perlindungan referensi. Perwujudan lingkungan pendidikan yang aman, adil, dan tanpa diskriminasi adalah cita-cita bersama,” tegas Mufdlilah.

Komitmen tersebut selaras dengan pandangan Koordinator Program INKLUSI ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah. Ia memastikan bahwa ‘Aisyiyah tidak hanya berhenti pada edukasi, melainkan telah menyiapkan berbagai Pos Bantuan Hukum sebagai pusat rujukan bagi korban yang mencari keadilan.

Secara teknis, Ketua Satgas PPKPT UNISA Yogyakarta, Prof. Wantonoro, Ph.D., membedah enam pilar SOP yang dikembangkan kampusnya.

SOP tersebut mengatur penanganan krisis hulu ke hilir, mulai dari mekanisme pelaporan, pemeriksaan berdasarkan bukti, penyusunan rekomendasi, pendampingan psikologis, rehabilitasi, hingga ketegasan hukuman.

Lebih lanjut, guna menjamin keamanan maksimal pada fase rehabilitasi, Wantonoro mengusulkan pengadaan fasilitas rumah aman khusus bagi korban, agar penanganannya tidak lagi bergantung pada asrama siswa.

Langkah taktis yang dilakukan UNISA Yogyakarta ini menuai apresiasi tinggi dari Kepala Balai Perlindungan Perempuan dan Anak (BPPA) DIY, Beni Kusambodo. Ia menilai konsistensi pembaruan SOP ini adalah wujud kolaborasi nyata lintas sektor yang secara signifikan akan menekan angka kekerasan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Akreditasi unggul

Dalam rangka akselerasi peningkatan tata kelola institusi menuju akreditasi unggul, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menerima kunjungan studi banding dari delegasi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung. Pertemuan strategis antar Perguruan Tinggi Muhammadiyah`Aisyiyah (PTMA) ini berlangsung di Ruang Rapat Gedung Siti Moendjijah, kampus UNISA Yogyakarta, Jumat (24/4/2026).

Akreditasi Unggul

Wakil Rektor I UNISA Yogyakarta, Dr. Sulistyaningsih, S.KM., MH.Kes., menyambut hangat langkah proaktif tersebut. Ia menegaskan bahwa sinergi ini sejalan dengan mandat Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah agar kedua institusi saling menopang.

“Kita akan saling belajar untuk mengembangkan institusi, karena masing-masing memiliki kelebihan di bidangnya,” tuturnya.

Di sisi lain, Rektor UNISA Bandung, Prof. Dr. Sitti Syabariyah, S.Kp., MS.Biomed., menyatakan bahwa lawatan ini bertujuan untuk menimba ilmu serta mendapatkan pendampingan langsung dari tata kelola UNISA Yogyakarta.

“Kami sedang melakukan percepatan peningkatan mutu di semua bidang agar bisa menyusul UNISA Yogyakarta menjadi institusi Unggul. Kami terus membuka diri untuk belajar dan maju bersama,” tegas Prof. Sitti.

Untuk merealisasikan target percepatan tersebut, kegiatan diakhiri dengan diskusi teknis mendalam yang melibatkan Badan Penjaminan Mutu (BPM) dan Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) UNISA Yogyakarta.

Kebencanaan

Mitigasi dan manajemen logistik kebencanaan menjadi pilar krusial dalam respons tanggap darurat. Merespons kebutuhan tersebut, Pusat Studi Perempuan, Keluarga, dan Bencana (PSPKB) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta bersinergi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Kedutaan Besar Australia menggelar Seminar Nasional secara hybrid, Kamis (23/4/2026).

Kebencanaan

Kegiatan bertajuk “Memahami Logistik Kebencanaan Melalui Pendekatan Komprehensif” ini bertempat di Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah. Menghadirkan enam pakar, seminar strategis ini sukses menyedot animo hingga 1.200 peserta.

Wakil Rektor IV UNISA Yogyakarta, Dr. M. Ali Imron, M.Fis., menegaskan komitmen institusinya. “Sejak 2011, kegawatdaruratan menjadi konsentrasi semua prodi lewat mata kuliah manajemen bencana. Pembentukan PSPKB adalah wujud relevansi UNISA terhadap isu kebencanaan,” paparnya.

Pentingnya kesiapsiagaan juga ditekankan oleh Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan. Menurutnya, pengalaman masa lalu adalah pelajaran agar masyarakat tidak lengah, terutama dalam tata kelola logistik krisis darurat.

Kolaborasi ini menuai apresiasi dari First Secretary for Humanitarian Affairs Kedubes Australia, Catherine Meehan. Ia menilai langkah konkret yang digagas kampus dan MDMC ini sangat esensial. Logistik kemanusiaan, menurut Meehan, merupakan fondasi tak terpisahkan demi mewujudkan penanganan darurat bencana yang efektif.

Bedah buku

Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta melalui Perpustakaan Unisa Yogyakarta bekerja sama dengan The Aisyiyah Center mengadakan launching dan bedah buku berjudul “Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan” pada di Kampus Terpadu Unisa Yogyakarta, Rabu (22/4/2026). Buku ini menjadi jembatan dalam mengaplikasikan manifesto tujuh karakter perempuan berkemajuan.

Launching dan Bedah Buku

Hadir membuka agenda tersebut Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti, serta Ketua Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Evi Sofia Inayati. Sementara itu, acara bedah buku menghadirkan Pustakawan Unisa Yogyakarta, Irkhamiyati, sebagai moderator, serta Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI sekaligus Ketua PP ‘Aisyiyah, Siti Aisyah, dan Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Rof’ah, sebagai narasumber pembahas.

Rektor UNISA Yogyakarta, Warsiti, menyambut baik peluncuran buku “Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan”. Menurutnya, agenda ini bukan sekadar seremonial memperingati Hari Kartini, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk menguatkan budaya literasi dan membangun ruang dialog intelektual di ranah akademik.

Warsiti juga menegaskan bahwa dalam perspektif ‘Aisyiyah, perempuan harus menjadi subjek yang berperan penting dalam peradaban. Sebagai perguruan tinggi yang lahir dari rahim ‘Aisyiyah, UNISA Yogyakarta memiliki tanggung jawab untuk mengimplementasikan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan dan Risalah Perempuan Berkemajuan dalam kehidupan akademik, sosial, dan kebangsaan.

“Di sinilah pentingnya kehadiran buku Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan. Buku ini tidak hanya menjelaskan risalah sebagai teks, tetapi membantu kita memahami risalah sebagai cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Ia menjadi jembatan antara nilai dan realitas, gagasan dan praksis, serta idealitas dan tantangan zaman,” ujar Warsiti.

Ketua PP ‘Aisyiyah, Evi Sofia Inayati, turut menyampaikan apresiasi kepada penulis, Askuri, yang telah menyusun buku syarah (penjelasan) Risalah Perempuan Berkemajuan. Risalah tersebut merupakan hasil Muktamar ‘Aisyiyah 2022 di Solo dan menjadi bukti komitmen persyarikatan dalam meninggikan harkat dan martabat perempuan. Hadirnya buku syarah ini, menurutnya, merupakan hal yang patut disyukuri bersama.

“Risalah Perempuan Berkemajuan ini salah satu tujuannya adalah memberikan arahan dalam bersikap, berpikir, dan bergerak. Namun karena sifatnya universal, risalah ini perlu diinternalisasi. Oleh karena itu, syarah ini memberikan spirit untuk menginternalisasikan karakter perempuan berkemajuan tersebut,” ujar Evi.

Panduan Aplikasi Risalah Perempuan Berkemajuan

Buku Syarah Perempuan Berkemajuan merupakan penjelasan dari Risalah Perempuan Berkemajuan yang diterbitkan PP ‘Aisyiyah pada 2022. Risalah tersebut menegaskan peran perempuan sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi, dengan tujuh karakter utama, yaitu iman, taat, berakhlak, tajdid, wasathiyah, amaliah, dan inklusif, serta sepuluh komitmen strategis, seperti kemandirian ekonomi, pendidikan, dan partisipasi publik.

Penulis buku, Askuri, menjelaskan alasan di balik penulisan buku ini. Menurutnya, buku ini bertujuan menjadi jembatan dalam mengaplikasikan manifesto tujuh karakter perempuan berkemajuan yang telah disusun oleh ‘Aisyiyah. Ia menilai bahwa jamaah di tingkat akar rumput membutuhkan penjelasan kontekstual agar nilai-nilai tersebut tidak hanya berhenti sebagai konsep, tetapi menjadi sikap dan aksi nyata.

“Kenapa syarah ini penting? Karena ada banyak pertanyaan di tingkat grassroot. Perlu ada teks yang menjembatani antara normativitas Risalah Perempuan Berkemajuan dengan realitas. Risalah ini sejatinya adalah manifesto, sebuah deklarasi dan seruan untuk bertindak dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Askuri.

Askuri menambahkan bahwa syarah yang ia tulis tidak hanya menjelaskan istilah dalam risalah, tetapi juga mengangkat berbagai persoalan yang dihadapi perempuan di akar rumput. Menurutnya, fenomena tersebut perlu dijawab, dan buku ini hadir sebagai panduan bagi perempuan untuk menjadi pribadi berkemajuan sesuai cita-cita ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah.

Sementara itu, Siti Aisyah selaku pembedah memberikan apresiasi kepada penulis yang telah merampungkan buku ini. Ia menilai gaya penulisan Askuri mudah dipahami, namun tetap memiliki kekuatan akademik. Ia juga mendorong kader ‘Aisyiyah untuk membaca dan mengkaji buku tersebut.

“Syarah ini menjadi tradisi keilmuan yang penting. Ke depan, kami berharap akan lahir tafsir tematik (tafsir maudhu’i) dan fikih perempuan berkemajuan yang lebih mendalam. Syarah ini membuka ruang publik untuk memperkaya khazanah Risalah Perempuan Berkemajuan,” ujar Siti Aisyah.

Hal senada disampaikan oleh narasumber pembedah lainnya, Rof’ah. Dosen UIN Sunan Kalijaga tersebut menyambut baik terbitnya buku ini. Menurutnya, kehadiran buku ini menjadi panduan aksi sosial yang konkret bagi masyarakat dalam mengamalkan nilai-nilai risalah.

“Risalah Perempuan Berkemajuan harus dirasakan manfaatnya oleh perempuan di desa, perempuan miskin, dan mereka yang selama ini tidak bersuara. Buku setebal 700 halaman ini tidak terasa berat karena berisi jawaban atas realitas yang kita hadapi sehari-hari,” ujar Rof’ah. Rofáh berpendapat buku ini bukan sekadar penjelasan teks, melainkan manifesto keberpihakan. Penulis berhasil menunjukkan bahwa menjadi perempuan berkemajuan berarti memiliki keberanian meruntuhkan tembok patriarki melalui argumen teologis yang kokoh dan inklusif.

Relawan medis

Dalam upaya mencetak relawan medis yang mumpuni di bidang penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan, organisasi kemahasiswaan Federation of Rescue Health Team (FRESHT) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) 1. Kegiatan strategis ini berlangsung pada Senin (20/4/2026).

Relawan Medis

Mengusung tema “Leading in crisis: Sinergi Organisasi, Kepemimpinan, dan Tanggap Kedaruratan”, program ini difokuskan pada pemantapan kompetensi soft skill maupun hard skill bagi peserta dari angkatan 13 dan 14. Melalui serangkaian pemaparan materi komprehensif dan evaluasi terukur, para mahasiswa digembleng agar memiliki kesiapan mental serta ketangkasan dalam menjalankan fungsi pengabdian masyarakat.

Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) UNISA Yogyakarta, Yekti Satriyandari, S.ST., M.Kes., menegaskan urgensi pembekalan terstruktur bagi para relawan medis muda di lingkungan kampus.

“Melalui Diklat ini, kami menaruh harapan besar. Seluruh anggota FRESHT yang telah dibekali keilmuan dan keterampilan praktis ini nantinya harus sigap saat diterjunkan langsung untuk menolong, meringankan beban, serta memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat maupun korban bencana alam,” ujar Yekti.

Inisiatif terstruktur ini sekaligus mempertegas komitmen UNISA Yogyakarta dalam melahirkan generasi tenaga kesehatan profesional yang responsif terhadap krisis.