ICAS 2026 Perkuat Kiprah Perempuan Muslim di Tingkat Global
International Conference on Aisyiyah Studies (ICAS) 2026 yang digelar di Kampus Terpadu Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Kamis (11/6/2026), menjadi ruang konsolidasi pemikiran dan kolaborasi global untuk memperkuat peran perempuan Muslim dalam menghadapi berbagai tantangan dunia. ICAS 2026 juga menjadi bukti peran Aisyiyah dalam menghadapi berbagai tantangan global seperti konflik, kemiskinan, perubahan iklim, hingga transformasi digital.
ICAS
Mengusung tema “Strengthening Solidarity, Nurturing the Earth: Progressive Muslim Women’s Leadership for a Sustainable Civilization”, konferensi internasional ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-109 ‘Aisyiyah, 35 tahun Unisa Yogyakarta, dan 100 tahun Majalah Suara ‘Aisyiyah.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah, mengatakan tema yang diangkat sangat relevan dengan situasi global saat ini yang diwarnai konflik, perang, krisis iklim, dan melemahnya solidaritas antarbangsa. Ia juga menyebut Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muslim berkemajuan meyakini bahwa perempuan adalah agen perubahan.
“Selama 109 tahun perjalanan organisasi ini, perempuan telah membuktikan perannya dalam mengatasi konflik, mengentaskan kemiskinan, menjaga lingkungan, serta melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim,” ujar Tri Hastuti.
Menurut Tri, konferensi ini menjadi wadah dialog, diskusi, berbagi praktik baik, sekaligus memperkuat kolaborasi nasional dan internasional guna membangun peradaban yang berkemajuan dan berkelanjutan.
Ia menyoroti berbagai persoalan kemanusiaan global yang masih menjadi ancaman serius, seperti perang, genosida, kemiskinan ekstrem, hingga ketidakadilan lingkungan. Saat ini, lebih dari 600 juta orang di dunia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, sementara kerusakan lingkungan semakin mengancam kehidupan manusia.
“Kita menyaksikan ketidakadilan ekologis yang memandang bumi hanya sebagai objek eksploitasi. Dampaknya adalah hilangnya mata pencaharian masyarakat pesisir, meningkatnya suhu bumi, ancaman krisis pangan, dan hilangnya biodiversitas,” katanya.
Tri juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi digital memberikan peluang bagi kelompok perempuan, kelompok marginal, dan penyandang disabilitas untuk menyuarakan aspirasinya. Namun, di sisi lain, ruang digital juga menjadi tempat penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga kekerasan berbasis gender.
“Aisyiyah hadir dengan semangat dakwah lintas batas untuk memakmurkan bumi dan membangun peradaban yang menjunjung keadilan serta perdamaian. Solidaritas menjadi prinsip penting dalam membela kelompok rentan dan mendorong pembangunan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti menyebut penyelenggaraan ICAS 2026 menjadi momentum penting bagi gerakan perempuan berkemajuan sekaligus bagian dari ikhtiar intelektual menuju Muktamar ‘Aisyiyah 2027 di Sumatera Utara. “Momentum ini menunjukkan bahwa gerakan perempuan berkemajuan tidak hanya diwujudkan melalui pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga melalui pengembangan pengetahuan, penelitian, dan kolaborasi global,” katanya.
Menurut Warsiti, dunia saat ini membutuhkan kepemimpinan yang adil dan berkelanjutan di tengah perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan berbagai krisis kemanusiaan. Dalam konteks tersebut, perempuan memiliki peran strategis untuk membangun solidaritas, memperkuat ketahanan masyarakat, serta menghadirkan solusi yang inklusif.
“Perempuan berperan penting menanamkan nilai kepedulian, perdamaian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Karena itu, kepemimpinan perempuan berkemajuan menjadi salah satu kunci dalam pembangunan peradaban yang berkelanjutan dan berkeadaban,” ujarnya.
Warsiti menegaskan, sebagai perguruan tinggi yang lahir dari gerakan perempuan Aisyiyah, Unisa Yogyakarta memiliki komitmen kuat melanjutkan semangat pemberdayaan perempuan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. “UNISA Yogyakarta lahir dari gerakan perempuan, tumbuh bersama gerakan perempuan, dan akan terus berkontribusi untuk kemajuan perempuan,” katanya.
Ketua Pelaksana ICAS 2026, Alimatul Qibtiyah mengungkapkan antusiasme peserta terhadap konferensi tahun ini sangat tinggi. Panitia menerima 135 abstrak dan berhasil menghimpun 115 makalah lengkap dari akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri.
Makalah yang masuk membahas beragam tema, mulai dari sejarah, keadilan ekologis, dakwah digital, kesehatan, hingga diplomasi lintas batas. Jawa menjadi penyumbang makalah terbanyak dengan sekitar 40 paper, disusul Sumatera sebanyak 20 paper, Sulawesi 18 paper, Kalimantan 12 paper, dan Nusa Tenggara sebanyak tujuh paper.
“Distribusi ini menunjukkan semakin luasnya jangkauan Studi ‘Aisyiyah dan berkembangnya jaringan akademisi, peneliti, aktivis, serta praktisi yang menaruh perhatian pada kepemimpinan perempuan Muslim,” ujarnya.
Menurut Alimatul, pemetaan tema penelitian menunjukkan tiga kecenderungan utama yang membentuk kajian akademis kontemporer. Pertama, meningkatnya perhatian terhadap transformasi digital, otoritas keagamaan, dan keterlibatan media mencerminkan bagaimana organisasi-organisasi perempuan Muslim menavigasi perubahan teknologi yang pesat dan mendefinisikan ulang peran mereka di era digital.
Kedua, kehadiran yang kuat dari studi sejarah dan historiografi menandakan konsolidasi Studi ‘Aisyiyah sebagai bidang penyelidikan ilmiah yang berbeda dan semakin matang. Ketiga, keunggulan keberlanjutan lingkungan, jihad ekologis, dan kepemimpinan perempuan menunjukkan relevansi yang semakin meningkat dari pengalaman dan perspektif ‘Aisyiyah dalam mengatasi tantangan global terkait keadilan sosial, pengelolaan lingkungan, dan krisis ekologi.
ICAS 2026 diselenggarakan secara hibrida melalui delapan kelas paralel luring di Unisa Yogyakarta dan tujuh kelas paralel daring. Konferensi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga melahirkan rekomendasi kebijakan dan jejaring kolaborasi yang berdampak bagi pembangunan masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.








































Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!