Pos

Akreditasi unggul

Dalam rangka akselerasi peningkatan tata kelola institusi menuju akreditasi unggul, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menerima kunjungan studi banding dari delegasi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung. Pertemuan strategis antar Perguruan Tinggi Muhammadiyah`Aisyiyah (PTMA) ini berlangsung di Ruang Rapat Gedung Siti Moendjijah, kampus UNISA Yogyakarta, Jumat (24/4/2026).

Akreditasi Unggul

Wakil Rektor I UNISA Yogyakarta, Dr. Sulistyaningsih, S.KM., MH.Kes., menyambut hangat langkah proaktif tersebut. Ia menegaskan bahwa sinergi ini sejalan dengan mandat Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah agar kedua institusi saling menopang.

“Kita akan saling belajar untuk mengembangkan institusi, karena masing-masing memiliki kelebihan di bidangnya,” tuturnya.

Di sisi lain, Rektor UNISA Bandung, Prof. Dr. Sitti Syabariyah, S.Kp., MS.Biomed., menyatakan bahwa lawatan ini bertujuan untuk menimba ilmu serta mendapatkan pendampingan langsung dari tata kelola UNISA Yogyakarta.

“Kami sedang melakukan percepatan peningkatan mutu di semua bidang agar bisa menyusul UNISA Yogyakarta menjadi institusi Unggul. Kami terus membuka diri untuk belajar dan maju bersama,” tegas Prof. Sitti.

Untuk merealisasikan target percepatan tersebut, kegiatan diakhiri dengan diskusi teknis mendalam yang melibatkan Badan Penjaminan Mutu (BPM) dan Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) UNISA Yogyakarta.

Kebencanaan

Mitigasi dan manajemen logistik kebencanaan menjadi pilar krusial dalam respons tanggap darurat. Merespons kebutuhan tersebut, Pusat Studi Perempuan, Keluarga, dan Bencana (PSPKB) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta bersinergi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Kedutaan Besar Australia menggelar Seminar Nasional secara hybrid, Kamis (23/4/2026).

Kebencanaan

Kegiatan bertajuk “Memahami Logistik Kebencanaan Melalui Pendekatan Komprehensif” ini bertempat di Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah. Menghadirkan enam pakar, seminar strategis ini sukses menyedot animo hingga 1.200 peserta.

Wakil Rektor IV UNISA Yogyakarta, Dr. M. Ali Imron, M.Fis., menegaskan komitmen institusinya. “Sejak 2011, kegawatdaruratan menjadi konsentrasi semua prodi lewat mata kuliah manajemen bencana. Pembentukan PSPKB adalah wujud relevansi UNISA terhadap isu kebencanaan,” paparnya.

Pentingnya kesiapsiagaan juga ditekankan oleh Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan. Menurutnya, pengalaman masa lalu adalah pelajaran agar masyarakat tidak lengah, terutama dalam tata kelola logistik krisis darurat.

Kolaborasi ini menuai apresiasi dari First Secretary for Humanitarian Affairs Kedubes Australia, Catherine Meehan. Ia menilai langkah konkret yang digagas kampus dan MDMC ini sangat esensial. Logistik kemanusiaan, menurut Meehan, merupakan fondasi tak terpisahkan demi mewujudkan penanganan darurat bencana yang efektif.

Bedah buku

Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta melalui Perpustakaan Unisa Yogyakarta bekerja sama dengan The Aisyiyah Center mengadakan launching dan bedah buku berjudul “Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan” pada di Kampus Terpadu Unisa Yogyakarta, Rabu (22/4/2026). Buku ini menjadi jembatan dalam mengaplikasikan manifesto tujuh karakter perempuan berkemajuan.

Launching dan Bedah Buku

Hadir membuka agenda tersebut Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti, serta Ketua Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Evi Sofia Inayati. Sementara itu, acara bedah buku menghadirkan Pustakawan Unisa Yogyakarta, Irkhamiyati, sebagai moderator, serta Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI sekaligus Ketua PP ‘Aisyiyah, Siti Aisyah, dan Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Rof’ah, sebagai narasumber pembahas.

Rektor UNISA Yogyakarta, Warsiti, menyambut baik peluncuran buku “Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan”. Menurutnya, agenda ini bukan sekadar seremonial memperingati Hari Kartini, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk menguatkan budaya literasi dan membangun ruang dialog intelektual di ranah akademik.

Warsiti juga menegaskan bahwa dalam perspektif ‘Aisyiyah, perempuan harus menjadi subjek yang berperan penting dalam peradaban. Sebagai perguruan tinggi yang lahir dari rahim ‘Aisyiyah, UNISA Yogyakarta memiliki tanggung jawab untuk mengimplementasikan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan dan Risalah Perempuan Berkemajuan dalam kehidupan akademik, sosial, dan kebangsaan.

“Di sinilah pentingnya kehadiran buku Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan. Buku ini tidak hanya menjelaskan risalah sebagai teks, tetapi membantu kita memahami risalah sebagai cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Ia menjadi jembatan antara nilai dan realitas, gagasan dan praksis, serta idealitas dan tantangan zaman,” ujar Warsiti.

Ketua PP ‘Aisyiyah, Evi Sofia Inayati, turut menyampaikan apresiasi kepada penulis, Askuri, yang telah menyusun buku syarah (penjelasan) Risalah Perempuan Berkemajuan. Risalah tersebut merupakan hasil Muktamar ‘Aisyiyah 2022 di Solo dan menjadi bukti komitmen persyarikatan dalam meninggikan harkat dan martabat perempuan. Hadirnya buku syarah ini, menurutnya, merupakan hal yang patut disyukuri bersama.

“Risalah Perempuan Berkemajuan ini salah satu tujuannya adalah memberikan arahan dalam bersikap, berpikir, dan bergerak. Namun karena sifatnya universal, risalah ini perlu diinternalisasi. Oleh karena itu, syarah ini memberikan spirit untuk menginternalisasikan karakter perempuan berkemajuan tersebut,” ujar Evi.

Panduan Aplikasi Risalah Perempuan Berkemajuan

Buku Syarah Perempuan Berkemajuan merupakan penjelasan dari Risalah Perempuan Berkemajuan yang diterbitkan PP ‘Aisyiyah pada 2022. Risalah tersebut menegaskan peran perempuan sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi, dengan tujuh karakter utama, yaitu iman, taat, berakhlak, tajdid, wasathiyah, amaliah, dan inklusif, serta sepuluh komitmen strategis, seperti kemandirian ekonomi, pendidikan, dan partisipasi publik.

Penulis buku, Askuri, menjelaskan alasan di balik penulisan buku ini. Menurutnya, buku ini bertujuan menjadi jembatan dalam mengaplikasikan manifesto tujuh karakter perempuan berkemajuan yang telah disusun oleh ‘Aisyiyah. Ia menilai bahwa jamaah di tingkat akar rumput membutuhkan penjelasan kontekstual agar nilai-nilai tersebut tidak hanya berhenti sebagai konsep, tetapi menjadi sikap dan aksi nyata.

“Kenapa syarah ini penting? Karena ada banyak pertanyaan di tingkat grassroot. Perlu ada teks yang menjembatani antara normativitas Risalah Perempuan Berkemajuan dengan realitas. Risalah ini sejatinya adalah manifesto, sebuah deklarasi dan seruan untuk bertindak dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Askuri.

Askuri menambahkan bahwa syarah yang ia tulis tidak hanya menjelaskan istilah dalam risalah, tetapi juga mengangkat berbagai persoalan yang dihadapi perempuan di akar rumput. Menurutnya, fenomena tersebut perlu dijawab, dan buku ini hadir sebagai panduan bagi perempuan untuk menjadi pribadi berkemajuan sesuai cita-cita ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah.

Sementara itu, Siti Aisyah selaku pembedah memberikan apresiasi kepada penulis yang telah merampungkan buku ini. Ia menilai gaya penulisan Askuri mudah dipahami, namun tetap memiliki kekuatan akademik. Ia juga mendorong kader ‘Aisyiyah untuk membaca dan mengkaji buku tersebut.

“Syarah ini menjadi tradisi keilmuan yang penting. Ke depan, kami berharap akan lahir tafsir tematik (tafsir maudhu’i) dan fikih perempuan berkemajuan yang lebih mendalam. Syarah ini membuka ruang publik untuk memperkaya khazanah Risalah Perempuan Berkemajuan,” ujar Siti Aisyah.

Hal senada disampaikan oleh narasumber pembedah lainnya, Rof’ah. Dosen UIN Sunan Kalijaga tersebut menyambut baik terbitnya buku ini. Menurutnya, kehadiran buku ini menjadi panduan aksi sosial yang konkret bagi masyarakat dalam mengamalkan nilai-nilai risalah.

“Risalah Perempuan Berkemajuan harus dirasakan manfaatnya oleh perempuan di desa, perempuan miskin, dan mereka yang selama ini tidak bersuara. Buku setebal 700 halaman ini tidak terasa berat karena berisi jawaban atas realitas yang kita hadapi sehari-hari,” ujar Rof’ah. Rofáh berpendapat buku ini bukan sekadar penjelasan teks, melainkan manifesto keberpihakan. Penulis berhasil menunjukkan bahwa menjadi perempuan berkemajuan berarti memiliki keberanian meruntuhkan tembok patriarki melalui argumen teologis yang kokoh dan inklusif.

Relawan medis

Dalam upaya mencetak relawan medis yang mumpuni di bidang penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan, organisasi kemahasiswaan Federation of Rescue Health Team (FRESHT) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) 1. Kegiatan strategis ini berlangsung pada Senin (20/4/2026).

Relawan Medis

Mengusung tema “Leading in crisis: Sinergi Organisasi, Kepemimpinan, dan Tanggap Kedaruratan”, program ini difokuskan pada pemantapan kompetensi soft skill maupun hard skill bagi peserta dari angkatan 13 dan 14. Melalui serangkaian pemaparan materi komprehensif dan evaluasi terukur, para mahasiswa digembleng agar memiliki kesiapan mental serta ketangkasan dalam menjalankan fungsi pengabdian masyarakat.

Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) UNISA Yogyakarta, Yekti Satriyandari, S.ST., M.Kes., menegaskan urgensi pembekalan terstruktur bagi para relawan medis muda di lingkungan kampus.

“Melalui Diklat ini, kami menaruh harapan besar. Seluruh anggota FRESHT yang telah dibekali keilmuan dan keterampilan praktis ini nantinya harus sigap saat diterjunkan langsung untuk menolong, meringankan beban, serta memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat maupun korban bencana alam,” ujar Yekti.

Inisiatif terstruktur ini sekaligus mempertegas komitmen UNISA Yogyakarta dalam melahirkan generasi tenaga kesehatan profesional yang responsif terhadap krisis.

Kartini

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai momentum untuk mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini, tokoh perempuan yang telah membuka jalan bagi kemajuan perempuan Indonesia. Namun, peringatan ini tidak seharusnya berhenti pada seremoni dan simbolik semata. Hari Kartini merupakan pengingat bahwa perjuangan perempuan belum selesai. Tantangan zaman terus berubah, dan perempuan masa kini dituntut untuk menjadi pribadi yang cerdas, sehat, dan berdaya dalam menghadapi kehidupan serta mempersiapkan generasi masa depan.

Kartini dan Realitas Perempuan pada Masanya

Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai sosok perempuan yang memiliki semangat belajar tinggi, berpikiran maju, dan memiliki kepedulian besar terhadap nasib perempuan. Pada masa itu, perempuan menghadapi keterbatasan dalam mengakses pendidikan dan pelayanan kesehatan. Tradisi sosial yang membatasi ruang gerak perempuan membuat mereka sulit berkembang dan kurang mendapatkan perhatian dalam hal kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi.

Kisah hidup Kartini juga menggambarkan kondisi kesehatan perempuan pada masa lalu. Setelah menikah, Kartini mengalami kehamilan dan melahirkan seorang anak laki-laki pada tahun 1904. Namun, beberapa hari setelah persalinan, kondisinya menurun dan akhirnya wafat pada usia yang masih sangat muda, yaitu 25 tahun. Peristiwa ini menjadi refleksi penting bahwa kesehatan ibu pada masa itu sangat rentan akibat keterbatasan pelayanan kesehatan, fasilitas medis, serta rendahnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan ibu dan anak.

Hingga saat ini, persoalan kesehatan ibu masih menjadi perhatian serius. Meskipun pelayanan kesehatan telah berkembang pesat, tantangan seperti kematian ibu, anemia pada remaja putri, dan kehamilan berisiko masih ditemukan di berbagai wilayah. Hal ini menunjukkan bahwa upaya peningkatan kualitas kesehatan perempuan harus terus dilakukan secara berkelanjutan.

Perempuan Cerdas: Kunci Kemandirian dan Kemajuan

Hari ini, perempuan memiliki kesempatan yang jauh lebih luas dibandingkan masa Kartini. Perempuan dapat menempuh pendidikan tinggi, bekerja di berbagai bidang, dan berperan aktif dalam pembangunan masyarakat. Namun, kecerdasan perempuan tidak hanya diukur dari tingkat pendidikan formal, melainkan juga dari kemampuan memahami diri, keluarga, dan lingkungan.

Perempuan yang cerdas adalah perempuan yang mampu mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupannya, termasuk dalam menjaga kesehatan reproduksi, merencanakan kehamilan, serta mendidik anak-anaknya dengan baik. Kecerdasan juga tercermin dari kemampuan perempuan dalam mengelola informasi, memilah pengetahuan yang benar, dan beradaptasi dengan perubahan zaman, termasuk perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin pesat.

Dalam era digital saat ini, literasi kesehatan menjadi bagian penting dari kecerdasan perempuan. Kemampuan memahami informasi kesehatan yang benar dapat membantu perempuan menghindari informasi yang keliru dan mengambil keputusan yang tepat bagi kesehatan diri dan keluarganya.

Perempuan Sehat: Fondasi Generasi Berkualitas

Kesehatan perempuan merupakan fondasi utama dalam membangun generasi yang sehat dan berkualitas. Perempuan yang sehat secara fisik dan mental akan mampu menjalankan peran sebagai individu, ibu, dan anggota masyarakat dengan optimal. Sebaliknya, jika kesehatan perempuan terabaikan, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh keluarga dan generasi berikutnya.

Saat ini, berbagai tantangan kesehatan perempuan masih menjadi perhatian, seperti anemia pada remaja putri, pernikahan usia dini, kehamilan berisiko, kekurangan gizi, serta kurangnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi. Kondisi ini memerlukan perhatian bersama dari keluarga, masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah.

Upaya promotif dan preventif perlu terus diperkuat melalui edukasi kesehatan, pemeriksaan kesehatan secara rutin, serta dukungan lingkungan yang sehat. Peran tenaga kesehatan, khususnya bidan, menjadi sangat penting dalam mendampingi perempuan sepanjang siklus kehidupan, mulai dari remaja, masa pranikah, kehamilan, persalinan, hingga masa menopause. Bidan tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi pendidik, konselor, dan pendamping bagi perempuan dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraannya.

Perempuan Berdaya: Agen Perubahan dalam Keluarga dan Masyarakat

Perempuan yang berdaya adalah perempuan yang memiliki kepercayaan diri, pengetahuan, serta kemampuan untuk mengambil peran aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Pemberdayaan perempuan tidak hanya berarti memiliki pekerjaan atau penghasilan, tetapi juga memiliki kendali atas keputusan yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, dan masa depan keluarga.

Dalam konteks masyarakat modern, perempuan berdaya menjadi agen perubahan yang mampu mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Perempuan dapat menjadi penggerak kegiatan kesehatan di masyarakat, kader kesehatan, pendidik keluarga, hingga pemimpin komunitas. Ketika perempuan berdaya, maka keluarga menjadi lebih kuat, dan masyarakat menjadi lebih sehat.

Pemberdayaan perempuan juga menjadi investasi jangka panjang bagi pembangunan bangsa. Perempuan yang sehat dan berdaya akan melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif, sehingga mampu berkontribusi dalam pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat.

Dari Kartini untuk Hari Ini dan Esok

Perjuangan Kartini memberikan pelajaran bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran dan keberanian untuk belajar. Semangat Kartini harus terus dihidupkan dalam kehidupan perempuan masa kini, tidak hanya dalam bidang pendidikan, tetapi juga dalam menjaga kesehatan, membangun keluarga yang sehat, serta berkontribusi bagi masyarakat.

Momentum Hari Kartini hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan sejarah, tetapi sebagai ajakan untuk memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan. Dengan perempuan yang cerdas, sehat, dan berdaya, maka generasi masa depan Indonesia akan tumbuh menjadi generasi yang kuat, berkualitas, dan berdaya saing.

Semangat Kartini tidak berhenti pada masa lalu. Ia hidup dalam setiap langkah perempuan Indonesia hari ini, dan akan terus menyala untuk generasi esok yang lebih maju, sehat, dan bermartabat.

Penulis: Prof. Dr. Mufdlilah, S.Pd., S.SiT., M.Sc (Wakil Rektor III UNISA Yogyakarta)