Pos

Fisioterapi

Momentum Hari Kesehatan Sedunia yang jatuh pada Tanggal 7 April lalu, menjadi titik balik penting bagi dunia medis untuk merefleksikan arah layanan kesehatan di masa depan, salah satu bidang yang kini menjadi sorotan utama adalah fisioterapi, yang kini bertransformasi melampaui sekadar layanan rehabilitasi konvensional.

Fisioterapi

Wakil Rektor IV Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Dr. M. Ali Imron, M.Fis, menegaskan bahwa lanskap pelayanan kesehatan global tengah bergeser ke arah yang lebih personal atau precision medicine. Menurutnya, fisioterapi masa depan akan sangat bergantung pada kolaborasi erat dengan pendekatan regenerative medicine dan upaya peningkatan angka harapan hidup yang berkualitas (longevity).

“Fisioterapi hari ini harus mampu bersinergi dengan intervensi regeneratif. Pelayanan tidak lagi bersifat umum, melainkan sangat individual dan spesifik sesuai kebutuhan genetika serta gaya hidup pasien,” ujar Ali Imron saat diwawancarai di kampus UNISA Yogyakarta.

Tantangan Kecerdasan Buatan dan Penyakit Kronis

Perubahan ini bukannya tanpa kendala. Ali Imron menyoroti bahwa profesi fisioterapis saat ini menghadapi tantangan ganda: adaptasi terhadap Artificial Intelligence (AI) dan ledakan angka penyakit kronis. Teknologi AI diprediksi akan masuk ke dalam instrumen diagnostik dan pemantauan pasien, menuntut praktisi untuk melek digital agar tetap relevan.

Namun, Ali optimistis. Ia menyebut fisioterapi adalah pemegang peran vital dalam empat pilar sistem kesehatan: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif (PPKR). “Fisioterapi bukan sekadar penyembuhan setelah sakit, tetapi kunci utama dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup masyarakat di segala usia,” tambahnya.

Strategi UNISA Yogyakarta Menuju Inovasi Global

Sebagai institusi yang fokus pada kesehatan, UNISA Yogyakarta telah mengambil langkah strategis. Kehadiran Program Studi Magister (S2) Fisioterapi menjadi bukti keseriusan kampus dalam mencetak SDM yang adaptif. Kurikulum terbaru kini telah mengintegrasikan konsep teknologi masa depan dan laboratorium riset lanjutan untuk mendukung praktik regenerative physiotherapy.

Imron menjelaskan bahwa penerapan inovasi ini akan dilakukan secara simultan, baik di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun rumah sakit rujukan. Tujuannya jelas: memberikan hasil yang lebih cepat dan manfaat yang lebih besar bagi pasien, institusi, hingga pemerintah.

Harapan di Hari Kesehatan Sedunia 2026

Memanfaatkan momentum internasional ini, Ali Imron mendorong pemerintah untuk lebih memberdayakan fisioterapis di layanan primer. Dengan kebijakan yang berorientasi pada pencegahan, fisioterapi dapat berperan besar dalam optimasi gerak fungsi tubuh, menurunkan prevalensi penyakit kronis, serta menjaga kesehatan ibu dan anak.

Bagi generasi muda, Imron berpesan bahwa profesi ini sangat menjanjikan. “Seiring kompleksitas kehidupan modern, kebutuhan akan ahli gerak dan fungsi tubuh akan terus meningkat. Fisioterapi adalah profesi masa depan,” pungkasnya.

Janji pra ners

Dengan balutan seragam berwarna putih, sebanyak 176 mahasiswa keperawatan Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta angkatan 21 telah resmi mengucapkan janji pra ners dengan penuh tekad dan tanggung jawab sebagai langkah awal untuk melakukan penerapan ilmu secara langsung dalam pengabdian kepada masyarakat melalui instansi mitra terkait, pada Jumat, 17 April 2026.

Janji Pra Ners

Selama sepuluh bulan ke depan, mahasiswa akan melakukan tahapan praktik di berbagai pelayanan kesehatan mitra UNISA yang tersebar di wilayah DIY dan Jawa Tengah. Lokasi praktik tersebut meliputi: RSUP Dr. Sardjito, RS PKU Muhammadiyah Gamping, RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, RS Bagas Waras Klaten, dan sejumlah instansi kesehatan lainnya.

Ketua Program Studi Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners FIKes UNISA Yogyakarta, Dr. Sarwinanti, S.Kep., Ners, M.Kep., Sp.Mat. menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar seremonial, melainkan sebuah kegiatan sakral akademik, etik, serta komitmen moral.

“Tujuannya adalah untuk menanamkan komitmen terhadap kode etik, kerahasiaan pasien, serta integritas profesional yang berlandaskan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam setiap tindakan medis yang dilakukan. Hal tersebut menjadi ciri khas almamater UNISA diharapkan mampu menghadirkan pelayanan kesehatan yang humanis dan religius,” ujar Sarwinanti.

Ia juga berpesan dengan penuh harap agar para mahasiswa senantiasa mengasah empati di samping keterampilan klinis. Selain itu, mahasiswa diminta untuk melayani masyarakat dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin dan menjadikan setiap tindakan medis sebagai ladang ibadah sekaligus ruang untuk terus mengembangkan diri.

Momentum ini meninggalkan kesan mendalam bagi para mahasiswa. Ketua angkatan profesi keperawatan, Dedi Darmawan, mengakui adanya beban moral besar kini telah dipikul di pundak mereka.

“Ketika mulut mulai mengikrarkan janji dan sumpah, tentunya saya pribadi merasa gugup, karena beban yang akan kami tanggung itu untuk seumur hidup. Namun, setelah selesai, rasa lega dan syukur menyelimuti diri saya karena akhirnya bisa mencapai titik ini,” ujar Dedi dengan penuh haru.

Sebagai penutup acara, mahasiswa menerima pembekalan teori terkait etika profesi, komunikasi efektif, serta kesiapan mental dalam menghadapi dunia kerja di bidang kesehatan yang dibawakan oleh Bapak Tri Prabowo, S.Kep., Ns., M.SC selaku ketua DPW PPNI DIY. Pembekalan ini dinilai penting karena sebagai pedoman dalam menghadapi tantangan di lapangan.

Studi banding

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan tata kelola akademik, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menerima kunjungan studi banding dari Universitas Ciputra dan Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang. Pertemuan strategis antar-perguruan tinggi ini langsungkan di Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah kampus UNISA Yogyakarta, Rabu (15/4/2026).

Studi Banding

Ketua Komisi Etik Penelitian (KEP) UNISA Yogyakarta, Prof. Dr. Chairil Anwar, menyambut hangat para delegasi. Ia menegaskan komitmen institusinya yang selalu terbuka untuk berbagi ilmu dan bersinergi demi kemajuan pendidikan bangsa.

Kunjungan delegasi ini memiliki fokus yang spesifik. Ketua KEP Universitas Ciputra, Prof.Dr.Ir. Nyoman Puspa Asri, MS, mengungkapkan bahwa lawatan ini merupakan penjajakan kolaborasi untuk pengembangan KEP di kampusnya.

“Kami datang untuk belajar bersama. Harapannya, pertemuan ini berlanjut ke kerja sama di jenjang berikutnya,” ujar Nyoman.

Di sisi lain, delegasi Unwahas memiliki agenda khusus terkait pengembangan disiplin ilmu kesehatan. Kepala Bidang Pengembangan Kurikulum Unwahas, Dr. Fitria Martanti, M.Pd., menjelaskan bahwa kunjungan ini ditujukan untuk menimba pengalaman terkait tata kelola Program Studi Fisioterapi. Hal ini mengingat Unwahas baru saja mengantongi izin pendirian prodi tersebut beberapa bulan lalu.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi katalisator penguatan institusi pendidikan tinggi dalam mencetak sumber daya manusia unggul.

Green campus

Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta kembali menghadirkan Sport & Art Every Month (SAE) pada Jumat, 17 April 2026 di Halaman Parkir Gedung Siti Bariyah. Mengusung semangat keberlanjutan, kegiatan kali ini menitikberatkan pada kampanye green campus melalui gerakan kreatif “Buat Kantong Belanjamu Sendiri” dengan metode eco print.

Green Campus

Sejak pagi hari, dosen dan tenaga kependidikan mengikuti senam bersama yang dilanjutkan dengan sarapan bersama dalam suasana penuh keakraban. Namun, yang menjadi sorotan utama adalah aktivitas eco print, di mana para peserta diajak memanfaatkan dedaunan yang tersedia di lingkungan kampus untuk menciptakan tas belanja ramah lingkungan.

Kepala Biro Humas dan Protokol UNISA Yogyakarta, Sinta Maharani, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada kebersamaan, tetapi juga sebagai langkah nyata membangun kesadaran lingkungan di lingkungan kampus.

“Melalui SAE, kami ingin menghadirkan pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermakna. Salah satunya dengan mengajak seluruh pegawai untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai melalui gerakan membuat kantong belanja sendiri berbasis eco print,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan kreatif ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan bahan alami di sekitar kampus, kegiatan ini juga menjadi simbol bahwa upaya menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal sederhana.

Selain eco print, SAE juga diramaikan dengan berbagai kegiatan lain seperti pemeriksaan kesehatan dan BIA, PA Day FIKES, konsultasi Coretax, test drive kendaraan listrik dari BYD, serta Grand Re-Opening kantin kampus. Beragam aktivitas olahraga dan seni seperti voli, basket, bulu tangkis, dan tenis meja turut memberikan ruang bagi peserta untuk tetap aktif dan produktif.

Melalui integrasi antara aktivitas fisik, kreativitas, dan kepedulian lingkungan, SAE tidak hanya menjadi ajang kebersamaan, tetapi juga memperkuat komitmen UNISA Yogyakarta sebagai kampus yang peduli terhadap keberlanjutan. Gerakan sederhana seperti membawa kantong belanja sendiri pun diharapkan dapat menjadi budaya baru yang berdampak luas, baik di lingkungan kampus maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Kartini masa kini

Suasana wisuda Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta pada Kamis (16/4/2026) di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan terasa berbeda, di balik prosesi akademik yang khidmat, terselip sebuah gerakan reflektif yang menyentuh: kampanye “Kartini Masa Kini”.

Kartini Masa Kini

Dalam momen tersebut, para wisudawan tidak hanya menerima gelar akademik, tetapi juga menyuarakan harapan, komitmen, dan cita-cita mereka melalui lembaran kertas yang mereka angkat bersama. Dengan kalimat pembuka sederhana namun bermakna, “Aku sebagai Kartini masa kini, akan…”, setiap lulusan menuliskan peran yang ingin mereka jalankan di tengah masyarakat.

Berbagai pesan tertulis pun muncul, mulai dari komitmen memberikan pelayanan kesehatan dengan sepenuh hati, menjadi pribadi yang tangguh dan terus bertumbuh, hingga harapan untuk tetap menjadi cahaya di tengah tantangan kehidupan. Ungkapan-ungkapan tersebut menjadi refleksi perjalanan panjang yang telah mereka lalui selama menempuh pendidikan.

Kampanye ini mengusung semangat “Kartini Masa Kini: Berdaya untuk Sesama, Peduli untuk Bumi”, yang menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan pengabdian. Para lulusan diajak untuk memahami bahwa ilmu yang mereka miliki harus memberi dampak nyata, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan.

Inspirasi dari sosok R.A. Kartini menjadi benang merah dalam kampanye ini. Kartini tidak hanya dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan, tetapi juga sebagai simbol keberanian berpikir, bersuara, dan memperjuangkan perubahan. Nilai tersebut selaras dengan semangat ‘Aisyiyah yang mendorong perempuan untuk berilmu, berakhlak, dan berkontribusi aktif dalam kehidupan sosial.

Melalui tayangan refleksi yang ditampilkan dalam prosesi wisuda, para hadirin diajak menyelami perjalanan para wisudawan tentang perjuangan, keraguan, hingga keteguhan yang akhirnya mengantarkan mereka pada hari bersejarah ini. Suara hati para lulusan menjadi pengingat bahwa setiap keberhasilan memiliki cerita dan makna yang mendalam.