Dalam upaya mencetak relawan medis yang mumpuni di bidang penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan, organisasi kemahasiswaan Federation of Rescue Health Team (FRESHT) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) 1. Kegiatan strategis ini berlangsung pada Senin (20/4/2026).
Relawan Medis
Mengusung tema “Leading in crisis: Sinergi Organisasi, Kepemimpinan, dan Tanggap Kedaruratan”, program ini difokuskan pada pemantapan kompetensi soft skill maupun hard skill bagi peserta dari angkatan 13 dan 14. Melalui serangkaian pemaparan materi komprehensif dan evaluasi terukur, para mahasiswa digembleng agar memiliki kesiapan mental serta ketangkasan dalam menjalankan fungsi pengabdian masyarakat.
Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) UNISA Yogyakarta, Yekti Satriyandari, S.ST., M.Kes., menegaskan urgensi pembekalan terstruktur bagi para relawan medis muda di lingkungan kampus.
“Melalui Diklat ini, kami menaruh harapan besar. Seluruh anggota FRESHT yang telah dibekali keilmuan dan keterampilan praktis ini nantinya harus sigap saat diterjunkan langsung untuk menolong, meringankan beban, serta memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat maupun korban bencana alam,” ujar Yekti.
Inisiatif terstruktur ini sekaligus mempertegas komitmen UNISA Yogyakarta dalam melahirkan generasi tenaga kesehatan profesional yang responsif terhadap krisis.
Dengan balutan seragam berwarna putih, sebanyak 176 mahasiswa keperawatan Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta angkatan 21 telah resmi mengucapkan janji pra ners dengan penuh tekad dan tanggung jawab sebagai langkah awal untuk melakukan penerapan ilmu secara langsung dalam pengabdian kepada masyarakat melalui instansi mitra terkait, pada Jumat, 17 April 2026.
Janji Pra Ners
Selama sepuluh bulan ke depan, mahasiswa akan melakukan tahapan praktik di berbagai pelayanan kesehatan mitra UNISA yang tersebar di wilayah DIY dan Jawa Tengah. Lokasi praktik tersebut meliputi: RSUP Dr. Sardjito, RS PKU Muhammadiyah Gamping, RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, RS Bagas Waras Klaten, dan sejumlah instansi kesehatan lainnya.
Ketua Program Studi Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners FIKes UNISA Yogyakarta, Dr. Sarwinanti, S.Kep., Ners, M.Kep., Sp.Mat. menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar seremonial, melainkan sebuah kegiatan sakral akademik, etik, serta komitmen moral.
“Tujuannya adalah untuk menanamkan komitmen terhadap kode etik, kerahasiaan pasien, serta integritas profesional yang berlandaskan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam setiap tindakan medis yang dilakukan. Hal tersebut menjadi ciri khas almamater UNISA diharapkan mampu menghadirkan pelayanan kesehatan yang humanis dan religius,” ujar Sarwinanti.
Ia juga berpesan dengan penuh harap agar para mahasiswa senantiasa mengasah empati di samping keterampilan klinis. Selain itu, mahasiswa diminta untuk melayani masyarakat dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin dan menjadikan setiap tindakan medis sebagai ladang ibadah sekaligus ruang untuk terus mengembangkan diri.
Momentum ini meninggalkan kesan mendalam bagi para mahasiswa. Ketua angkatan profesi keperawatan, Dedi Darmawan, mengakui adanya beban moral besar kini telah dipikul di pundak mereka.
“Ketika mulut mulai mengikrarkan janji dan sumpah, tentunya saya pribadi merasa gugup, karena beban yang akan kami tanggung itu untuk seumur hidup. Namun, setelah selesai, rasa lega dan syukur menyelimuti diri saya karena akhirnya bisa mencapai titik ini,” ujar Dedi dengan penuh haru.
Sebagai penutup acara, mahasiswa menerima pembekalan teori terkait etika profesi, komunikasi efektif, serta kesiapan mental dalam menghadapi dunia kerja di bidang kesehatan yang dibawakan oleh Bapak Tri Prabowo, S.Kep., Ns., M.SC selaku ketua DPW PPNI DIY. Pembekalan ini dinilai penting karena sebagai pedoman dalam menghadapi tantangan di lapangan.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/04/janji-pra-ners.jpeg7201280adminhttps://media.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2024/01/Logo-Unisa_Horisontal_bg_putih.pngadmin2026-04-20 13:55:142026-04-20 13:55:17UNISA Yogyakarta Kukuhkan Komitmen Moral Melalui Janji Pra Ners
Masih terjebak zona nyaman kasur setelah libur panjang usai? Hati-hati, gaya hidup kaum rebahan alias kurang gerak bisa memicu berbagai masalah kesehatan. Di pertengahan tahun 2026 ini, saatnya Sahabat UNISA Yogyakarta mengucapkan selamat tinggal pada status kaum rebahan dan mulai bergerak aktif!
Kaum Rebahan
Saat ini, tren olahraga di kalangan masyarakat tak lagi sekadar rutinitas membosankan, melainkan sudah menjelma menjadi lifestyle yang seru dan menyehatkan. Dua primadona yang kini merajai tren adalah olahraga Padel dan gowes santai.
Bagi pecinta roda dua, gowes santai menyusuri sudut kota menggunakan sepeda lipat andalan seperti Brompton kini menjadi pilihan favorit. Tak butuh persiapan berat, cukup kenakan athletic wear yang nyaman, Sahabat UNISA Yogyakarta bisa membakar kalori sembari menikmati udara segar pagi hari.
Sementara itu, Padel sukses merebut hati anak muda hingga eksekutif. Olahraga raket yang memadukan unsur tenis dan squash ini sangat dinamis. Bermain ganda di lapangan tertutup berbahan kaca tak hanya mengasah kelincahan dan kardio, tapi juga menjadi ajang networking dan seru-seruan bareng sahabat.
Yuk, segera siapkan sepatu olahragamu! Pilih gowes santai atau serunya ayunan raket Padel, dan rasakan lonjakan kebugaran tubuh Sahabat UNISA Yogyakarta hari ini juga.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/04/kaum-rebahan.jpg7681408adminhttps://media.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2024/01/Logo-Unisa_Horisontal_bg_putih.pngadmin2026-04-13 10:59:462026-04-13 10:59:49Tinggalkan Kaum Rebahan! Dari Padel hingga Gowes Santai, Ini Tren Olahraga Hits yang Bikin Makin Bugar
Momen libur panjang Idul Fitri 1447 H telah usai, saatnya sekarang menjaga kebugaran. Setelah sebulan berpuasa dan ditutup dengan memanjakan lidah menyantap hidangan bersantan seperti opor, rendang, hingga aneka kue kering, kini saatnya masyarakat menghadapi tantangan baru: berat badan yang melonjak tajam. Tubuh yang terasa lebih berat dan perut buncit kini menjadi keluhan sejuta umat.
Jaga Kebugaran
Kalap makan selama perayaan Lebaran memang rentan memicu tumpukan lemak dan kolesterol. Namun, jangan biarkan mode rebahan berlarut-larut. Sahabat UNISA Yogyakarta bisa segera mengembalikan kebugaran dan vitalitas tubuh dengan memulai kebiasaan sehat dari rumah atau fasilitas olahraga di lingkungan sekitar.
Lalu, bagaimana langkah jitu mengatasinya? Cara pertama dan terpenting adalah melakukan detoks pola makan. Segera pangkas asupan gula dan gorengan, perbanyak porsi serat dari sayur segar, serta pastikan tubuh terhidrasi dengan air putih minimal dua liter sehari.
Di samping mengatur nutrisi, panggil kembali semangat untuk berkeringat. Tak perlu langsung olahraga intensitas tinggi. Cukup lakukan aktivitas fisik yang menyenangkan, seperti gowes santai menikmati udara pagi, jogging, atau bermain bulu tangkis dan padel bersama teman kuliah, kerja atau tetangga. Dengan rutin bergerak aktif minimal 30 menit sehari, kalori sisa pesta Lebaran perlahan akan luntur. Yuk, kembali sehat dan bugar!
Ramadhan selalu dipahami sebagai bulan pengendalian diri. Lapar dan dahaga bukan sekedar ritual fisik, melainkan latihan etis untuk menata hasrat, menguatkan empati, dan menumbuhkan solidaritas sosial. Namun dalam praktik sosial modern, bulan yang sarat dengan pesan kesederhanaan ini justru kerap menjadi puncak konsumsi tahunan. Meja makan semakin penuh, belanja kebutuhan meningkat, dan perputaran ekonomi melonjak tajam. Di sinilah muncul ironi, puasa mengajarkan kesederhanaan, tetapi praktik sosial sering kali menunjukkan kecenderungan ekspansi konsumsi.
Puasa Ramadhan
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pola yang hampir berulang setiap tahun. Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, harga bahan pangan meningkat. Beras, telur, daging ayam, bawang, dan cabai menjadi penyumbang inflasi musiman. Permintaan melonjak dalam waktu singkat. Secara ekonomi, hal ini dianggap wajar bahkan positif karena mendorong perputaran uang. Namun di balik angka-angka itu, ada realitas yang lebih sunyi, yaitu keluarga yang harus mengurangi belanja karena harga naik.
Ramadhan seharusnya menjadi bulan solidaritas, ketika rasa lapar menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan, namun ketika konsumsi berlebihan justru mendorong kenaikan harga bahan pokok, kelompok rentanlah yang paling merasakan dampaknya. Bagi mereka, kenaikan harga berarti harus mengurangi belanja bahkan menekan kebutuhan lainnya. Persoalan konsumsi di bulan suci ini bukan sekadar soal gaya hidup atau tradisi, melainkan menyangkut ketahan pangan dan keadilan akses terhadap kebutuhan dasar.
Konsumsi, Ketahanan Pangan, dan Tanggung Jawab Sosial
Ketahanan pangan pada dasarnya menyangkut ketersediaan yang cukup, akses yang adil, serta stabilitas harga. Ketika permintaan meningkat tajam, sistem pangan menghadapi tekanan distribusi dan fluktuasi harga. Pemerintah berupaya menjaga kestabilan harga dan pasokan pangan dengan berbagai cara, seperti menggelar operasi pasar, memperkuat cadangan bahan pokok, dan mengawasi jalur distribusi agar tidak terjadi penimbunan atau lonjakan harga yang tidak wajar. Namun kebijakan stabilisasi tidak dapat bekerja optimal tanpa dukungan perilaku konsumsi yang rasional.
Masalah menjadi lebih kompleks ketika kita melihat fakta pemborosan pangan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2026 mencatat bahwa 40,71% sampah nasional berasal dari sisa makanan, menjadikannya komponen terbesar dalam timbulan sampah Indonesia. Laporan Bappenas (2021) memperkirakan timbulan food loss and waste Indonesia mencapai puluhan juta ton per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa persoalan pangan bukan hanya soal produksi dan distribusi, tetapi juga soal pola konsumsi.
Dalam praktik keseharian Ramadhan, pemborosan kerap terjadi tanpa disadari. Keinginan menyajikan hidangan terbaik, tradisi berbuka bersama, atau dorongan psikologis untuk mengganti rasa lapar sering berujung pada kelebihan porsi. Ketika makanan terbuang, bukan hanya nilai ekonominya yang hilang, tetapi juga sumber daya yang digunakan untuk memproduksinya.
Dengan demikian, paradoks konsumsi selama Ramadhan tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan moral individual. Ia terkait dengan tata kelola sistem pangan secara lebih luas. Perilaku konsumsi masyarakat dan kebijakan publik saling berkelindan membentuk stabilitas atau kerentanannya.
Dimensi Lingkungan dan relevansi Nilai Kesederhanaan
Selain berdampak pada sistem pangan, pemborosan makanan juga berkontribusi terhadap persoalan lingkungan. Limbah organik yang membusuk menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang berperan dalam pemanasan global. Di sisi lain, peningkatan konsumsi selama Ramadhan juga sering diikuti kenaikan penggunaan kemasan sekali pakai dan sampah plastik.
Dalam situasi perubahan iklim dan tekanan terhadap sumber daya alam, pola konsumsi berlebihan memiliki implikasi jangka panjang. Setiap makanan yang terbuang mengandung jejak ekologis seperti air untuk irigasi, energi untuk produksi dan transportasi, serta lahan pertanian yang semakin terbatas.
Di sinilah puasa menemukan relevansinya secara sosial-ekologis. Puasa mengajarkan pengendalian diri dan keseimbangan. Dalam ajaran Islam, larangan berlebih-lebihan (israf) menegaskan pentingnya moderasi dalam konsumsi. Nilai ini sejalan dengan gagasan keberlajutan yang kini menjadi agenda global.
Ramadhan dapat dimaknai sebagai momentum pembelajaran kolektif bahwa kecukupan lebih penting daripada kelimpahan, dan bahwa tanggung jawab terhadap sesama serta lingkungan dimulai dari pilihan-pilihan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Merencanakan belanja secara bijak, memasak sesuai kebutuhan, serta mengelola sisa makanan dengan lebih bertanggung jawab adalah bentuk konkret dari internalisasi nilai tersebut.
Pada titik inilah, puasa dan paradoks konsumsi adalah refleksi tentang bagaimana nilai spiritual bertemu dengan realitas ekonomi modern. Tantangannya bukan pada ritualnya, melainkan pada transformasi perilaku yang mengikutinya. Jika pengendalian diri yang dilatih selama Ramadhan benar-benar hadir dalam kehidupan sosial, maka bulan ini bukan hanya memperkuat spiritualitas individu, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Di tengah dinamika ekonomi dan krisis ekologis global, mungkin inilah makna puasa yang paling kontekstual, yaitu belajar merasa cukup, agar yang lain juga dapat hidup cukup.