Kisah Alumni Radiologi: Perjalanan Ari Dampingi Pasien Kanker
Perjalanan karier tidak selalu berjalan mulus. Hal itulah yang dialami Ari Dwi Octabri, alumni D3 Radiologi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta angkatan 2019. Setelah menyelesaikan studinya, Ari harus melalui masa pencarian kerja selama lima bulan sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan berkarier sebagai radioterapis yang mendampingi pasien kanker dalam proses pengobatan.
Radiologi
Kesempatan tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Namun, pekerjaan yang dijalani ternyata berada pada bidang yang saat kuliah hanya dipelajari secara dasar. Ari harus beradaptasi dengan cepat untuk memahami dunia radioterapi yang memiliki kompleksitas tinggi dan tanggung jawab besar terhadap keselamatan pasien.
“Setelah diterima bekerja, tantangan terbesar bukan hanya beradaptasi dengan lingkungan kerja, tetapi juga mengejar banyak hal baru yang sebelumnya belum saya kuasai secara mendalam,” ungkap Ari.
Di awal kariernya, Ari harus mempelajari berbagai aspek mulai dari alur pelayanan radioterapi, keterampilan teknis pengoperasian alat, hingga pemahaman komprehensif mengenai penanganan pasien kanker. Ia juga harus mampu bekerja secara teliti dan fokus karena setiap tindakan yang dilakukan berkaitan langsung dengan keselamatan pasien.
Menurut Ari, tantangan terberat justru datang dari dirinya sendiri. Ia harus mengejar ketertinggalan pengetahuan dan pengalaman dibandingkan rekan-rekan kerja yang telah lebih lama berkecimpung di bidang radioterapi.
“Teman-teman hadir untuk mendukung saya, bukan untuk menjadi guru saya. Saya harus belajar sendiri, lebih keras, dan lebih fokus,” ujarnya.
Semangat belajar tersebut membuahkan hasil. Seiring waktu, Ari semakin memahami perannya sebagai tenaga kesehatan yang mendampingi pasien kanker menjalani terapi. Baginya, pekerjaan ini tidak hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga tentang kemanusiaan dan empati.
Setiap hari ia berinteraksi dengan pasien yang sedang berjuang melawan kanker. Momen yang paling berkesan baginya adalah ketika pasien yang telah menyelesaikan rangkaian terapi datang mengucapkan terima kasih.
“Pasien radioterapi datang hampir setiap hari selama proses treatment. Ketika mereka mengucapkan terima kasih setelah selesai menjalani terapi, itu menjadi momen yang sangat berarti bagi saya,” tutur Ari.
Pengalaman tersebut membuatnya menyadari besarnya tanggung jawab profesi tenaga kesehatan. Ketelitian, fokus, dan komitmen untuk terus belajar menjadi bekal utama dalam menjalankan pekerjaan yang berdampak langsung pada kualitas hidup pasien.
Kisah Ari menjadi salah satu wujud nyata semangat UNISA Berdampak, di mana lulusan tidak hanya berkontribusi di dunia kerja, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat melalui profesi yang dijalani. Dedikasinya dalam mendampingi pasien kanker menunjukkan bahwa pendidikan yang diperoleh di bangku kuliah dapat menjadi fondasi untuk terus berkembang, belajar, dan memberikan pelayanan terbaik bagi sesama.
Di akhir pesannya kepada mahasiswa dan calon tenaga kesehatan, Ari mengingatkan pentingnya menjaga kerendahan hati dalam belajar.
“Selalu jadi gelas kosong. Belajar bukan hanya di kampus atau saat praktikum, tetapi bisa dari siapa saja, kapan saja, dan di mana saja,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa dunia kerja adalah ruang pembelajaran tanpa batas, dan semangat untuk terus bertumbuh merupakan kunci bagi setiap lulusan untuk memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.








































Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!