Mitigasi dan manajemen logistik kebencanaan menjadi pilar krusial dalam respons tanggap darurat. Merespons kebutuhan tersebut, Pusat Studi Perempuan, Keluarga, dan Bencana (PSPKB) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta bersinergi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Kedutaan Besar Australia menggelar Seminar Nasional secara hybrid, Kamis (23/4/2026).
Kebencanaan
Kegiatan bertajuk “Memahami Logistik Kebencanaan Melalui Pendekatan Komprehensif” ini bertempat di Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah. Menghadirkan enam pakar, seminar strategis ini sukses menyedot animo hingga 1.200 peserta.
Wakil Rektor IV UNISA Yogyakarta, Dr. M. Ali Imron, M.Fis., menegaskan komitmen institusinya. “Sejak 2011, kegawatdaruratan menjadi konsentrasi semua prodi lewat mata kuliah manajemen bencana. Pembentukan PSPKB adalah wujud relevansi UNISA terhadap isu kebencanaan,” paparnya.
Pentingnya kesiapsiagaan juga ditekankan oleh Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan. Menurutnya, pengalaman masa lalu adalah pelajaran agar masyarakat tidak lengah, terutama dalam tata kelola logistik krisis darurat.
Kolaborasi ini menuai apresiasi dari First Secretary for Humanitarian Affairs Kedubes Australia, Catherine Meehan. Ia menilai langkah konkret yang digagas kampus dan MDMC ini sangat esensial. Logistik kemanusiaan, menurut Meehan, merupakan fondasi tak terpisahkan demi mewujudkan penanganan darurat bencana yang efektif.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/04/Kebencanaan.jpg11252000adminhttps://media.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2024/01/Logo-Unisa_Horisontal_bg_putih.pngadmin2026-04-24 11:21:092026-04-24 11:21:12Antisipasi Krisis, MDMC dan Kedubes Australia Gelar Seminar Kebencanaan di UNISA Yogyakarta
Menyambut bulan suci Ramadan, Halal Center Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta berkolaborasi dengan Pusat Inkubasi Bisnis Syariah (PINBAS) MUI DIY menggelar kajian strategis. Mengusung tema “Ramadan Naik Kelas”, acara ini tak sekadar membahas ibadah, tapi juga membeberkan jurus jitu agar UMKM makin cuan lewat ekosistem halal.
Halal Center
Kajian yang digelar di Masjid Walidah Dahlan pada Selasa (3/3/2026) ini berlangsung khidmat. Tercatat, 160 peserta yang terdiri dari pelaku UMKM se-DIY hingga anggota Pimpinan Ranting dan Cabang `Aisyiyah memadati masjid Walidah Dahlan.
Wakil Rektor III UNISA Yogyakarta, Prof. Dr. Mufdlilah, S.SiT., M.Sc, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah perpaduan edukasi dan dakwah ekonomi.
“Kajian ini diharapkan tak hanya meningkatkan spiritualitas ibadah puasa, tapi juga mendorong pelaku usaha meningkatkan daya saing melalui penerapan prinsip halal yang kuat,” ujarnya.
Acara ini menghadirkan dua pakar, yakni Ketua PINBAS MUI DIY Ust. H. Jumarodin, M.M dan Hendrato S. Nugroho dari Halal Center UNISA. Peserta diajak membedah konsep puasa ala Imam Al-Ghazali, strategi penguatan bisnis syariah, hingga pentingnya sertifikasi halal.
Lewat pendampingan langsung dari Halal Center UNISA, produk UMKM lokal diharapkan makin dipercaya konsumen dan siap merajai pasar di bulan Ramadan tahun ini.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/03/halal-center.jpeg9601280adminhttps://media.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2024/01/Logo-Unisa_Horisontal_bg_putih.pngadmin2026-03-05 15:59:512026-03-11 08:59:29Ajak UMKM di Bulan Ramadan Naik Kelas, Halal Center UNISA Gelar Kajian Halal
Dosen Administrasi Publik Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Gerry Katon Mahendra menilai adanya rencana pemerintah mengangkat 32.000 Pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi ASN/PPPK bukan keputusan yang adil. Menurutnya ada urgensi lain yang seharusnya bisa diprioritaskan, salah satunya nasib guru honorer.
“Tidak adil. Ada urgensi lain yang seharusnya bisa diprioritaskan. Salah satunya adalah urgensi mengenai nasib guru honorer,” ucap Gerry, Sabtu (24/1/2026).
SPPG
Gerry menilai pengangkatan ini akan mempengaruhi pandangan public dan potensi protes publik, khususnya berkaitan dengan prinsip keadilan di mata masyarakat. Disaat yang sama, masih ada guru honorer yang perlu dipikirkan nasibnya.
“Program MBG sudah menghabiskan anggaran yang sangat besar, bahkan pos anggaran Pendidikan juga turut terdampak. Dengan adanya rencana ini, tentu masyarakat akan semakin bertanya, Dimana prinsip keadilan untuk sektor lain khususnya pendidikan,” ujar Gerry.
Kebijakan pemerintah tersebut dinilai akan menjadi preseden buruk bagi tata kelola pemerintah di kebijakan dan program lainnya. Resikonya adalah anomali harapan dan tujuan, jika tidak diatur dengan jelas dan profesional, puluhan ribu calon yang akan diangkat ini berpotensi menjadi tantangan fiskal negara, inefisiensi anggaran, dan mengaburkan merit system itu sendiri.
Dirinya melihat rencana pengangkatan 32.000 pegawai SPPG lebih bertujuan pada penataan birokrasi dan pemenuhan kebutuhan layanan publik, khususnya terkait MBG. Namun jika dilihat dari aspek urgensi dan keadilan, masih cukup banyak ruang dan waktu untuk mengkaji kembali. Saat ini yang terlihat adalah keputusan terlihat sangat cepat dan mungkin saja tidak melalui kajian panjang yang komprehensif.
Gerry menegaskan bahwa kebijakan bukan produk sehari jadi, baiknya harus ada kajian yang komprehensif terutama yang berkaitan dengan dasar hukum, mekanisme, kriteria, dan proses seleksi yang adil. “Selain itu, prinsip keadilan dan urgensi kepentingan juga harus dipertimbangkan mengingat masih ada unsur masyarakat di negara ini yang belum terakomodasi haknya dengan baik,” ungkap Gerry.
Gerry mengajak masyarakat menjadi alat kontrol kebijakan yang baik bagi pemerintah. Alangkah baiknya masyarakat untuk bisa menyuarakan jika memang kurang menyetujui. Meminta ruang diskusi, dan mengkaji ulang dengan melibatkan partsipasi publik dan unsur terkait agar kebijakan yang nantinya dihasilkan lebih dekat dengan keinginan masyarakat, berdampak positif untuk banyak pihak, dan memenuhi prinsip keadilan.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/01/SPPG.jpg735827adminhttps://media.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2024/01/Logo-Unisa_Horisontal_bg_putih.pngadmin2026-01-27 09:59:392026-01-27 09:59:41Rencana Pengangkatan 32 Ribu Pegawai SPPG Jadi ASN/PPPK, Dinilai Tidak Adil
Lobi Gedung Siti Moendjijah Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta tiba-tiba berubah menjadi surga makanan kekinian pada Senin (05/01/2026). Aromanya yang menggiurkan dari puluhan stan makanan sukses menarik perhatian siapa saja yang lewat.
Pemandangan ini merupakan bagian dari gelaran Pameran Produk Pangan yang dihelat oleh Program Studi Gizi UNISA Yogyakarta. Ajang yang rutin digelar tiap semester ini bukan sekadar festival makanan biasa, melainkan etalase kreativitas mahasiswa semester 5 dalam menerjemahkan teori rumit menjadi sajian lezat.
Proyek Berbasis Tim Tantangan
Pameran ini merupakan puncak dari mata kuliah Teknologi Pangan melalui skema pembelajaran Team Based Project. Mahasiswa dituntut untuk memutar otak, menciptakan produk pangan baru dengan menerapkan berbagai metode pemrosesan yang telah dipelajari di kelas.
Ketua Prodi Gizi UNISA Yogyakarta, Agung Nugroho, A.MG., MPH., menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan kebutuhan pasar.
“Mahasiswa ditantang untuk menerapkan teknik pengolahan pangan secara kreatif dan ilmiah. Mulai dari perencanaan konsep, pemilihan bahan, hingga implementasi produk jadi, semuanya harus relevan dengan kebutuhan masyarakat modern,” tutur Agung.
30 Inovasi Kuliner Siap Komersial
Sebanyak 30 jenis produk pangan inovatif dipamerkan kali ini. Pengunjung dimanjakan dengan berbagai varian makanan yang unik, sehat, dan tentu saja instagramable. Tak hanya soal rasa, pameran ini juga menjadi kawah candradimuka bagi mahasiswa untuk belajar berwirausaha.
Mereka mengajarkan bagaimana mengemas produk agar menarik, menentukan harga jual, hingga mempromosikan inovasinya agar memiliki nilai komersial yang tinggi.
Makan Enak Sambil Beramal
Di balik kemeriahan inovasi kuliner tersebut, terselip misi sosial yang menyentuh hati. Diah Puspitasari, selaku dosen penanggung jawab mata kuliah, mengungkapkan bahwa keuntungan dari penjualan produk ini tidak masuk ke kantong pribadi mahasiswa.
“Seluruh hasil penjualan yang diperoleh hari ini akan kami sumbangkan ke Panti Asuhan Yatim Putri `Aisyiyah. Jadi, pengunjung yang membeli produk tidak hanya kenyang, tapi juga ikut berbagi kebahagiaan,” ujar Diah.
Langkah ini membuktikan bahwa mahasiswa Gizi UNISA Yogyakarta tidak hanya dicetak untuk menjadi ahli pangan yang cerdas, tetapi juga insan yang memiliki kepedulian sosial tinggi terhadap sesama.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/01/makanan-kekinian.jpg13332000adminhttps://media.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2024/01/Logo-Unisa_Horisontal_bg_putih.pngadmin2026-01-06 13:42:532026-01-06 13:42:55Mahasiswa Gizi UNISA Yogyakarta Sulap Teori Jadi 30 Makanan Kekinian
Sejumlah Kasus Kelalaian Teknis Bangunan Gedung yang terjadi akhir-akhir ini, seperti kebakaran di dalam bangunan yang berujung 22 nyawa menghilang, bangunan pondok pesantren yang menelan 61-67 korban jiwa dan kejadian bangunan gedung tiba-tiba runtuh, menunjukan bangunan gedung yang seharusnya menjadi tempat manusia melakukan 90% aktifitas harian dengan perasaan aman dapat menjadi maut untuk manusia. Kejadian tersebut disebabkan sebagian besar masyarakat masih belum memprioritaskan kebutuhan teknis perencanaan bangunan gedung yang dapat memberikan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan bagi pengguna gedung. Padahal di dalam Undang-Undang No.28 tahun 2002 dan 2005 dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.26 tahun 2008 telah menjadi dasar hukum agar setiap pemilik gedung wajib memenuhi kelaikan fungsi bangunan gedung. Namun, hingga saat ini kelaikan fungsi bangunan gedung dianggap masih sebatas regulasi dan administrasi semata yang memberatkan pemilik bangunan gedung.
Kelayakan Gedung
Salah satu urgensi dari kelayakan fungsi bangunan gedung salah satunya aspek keselamatan bangunan gedung. Banyak kesalahan di system keselamatan gedung yang seharusnya ada dan dapat menyelamatkan penghuni, dianggap sepele dan menjadi malapetaka saat terjadi bencana. Sebagai contoh yang pertama, bangunan gedung bertingkat banyak di desain dengan satu bahkan hanya dengan tangga umum yang bersifat terbuka di dalam bangunan. Sementara fungsi tangga darurat yaitu tangga yang dilengkapi proteksi dinding untuk mencegah kebakaran masuk ke jalur evakuasi. Ketika terjadi kebakaran tangga umum menjadi perantara paling cepat untuk menyebarkan asap dan api ke setiap lantai bangunan secara vertikal karena tidak memiliki system proteksi sehingga penghuni sulit untuk melakukan evakuasi. Kendati demikian, 60-80% kematian terjadi karena inhalasi asap (Pitts, 2001).
Kedua, Jumlah tangga darurat yang minim pada bangunan yang terlalu panjang atau terlalu tinggi, dengan penghuni yang banyak dapat mengakibatkan crowded saat proses evakuasi melalui pintu evakuasi dan tangga darurat, bahkan menelan korban jiwa karena berdesakan seperti Tragedi Victoria Hall (1883).
Ketiga, Tangga darurat atau pintu evakuasi yang mengarah keluar bangunan gedung, berjumlah hanya satu di setiap lantai bangunan gedung dapat menyebabkan “deadlock” atau kondisi jalan buntu, dimana penghuni tidak memiliki pilihan jalan lain untuk evakuasi diri.
Keempat, Keberadaan perangkat aktif (sensor) untuk mendeteksi asap dan api juga menjadi penting, perangkat yang terhubung dengan alarm dapat memberikan peringatan dini untuk evakuasi segera dan perangkat yang terhubung dengan sprinkler dapat bekerja otomatis untuk memadamkan api. Jika bangunan gedung hanya dilengkapi dengan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) maka butuh penyesuaian antara jenis zat pemadam dan jenis benda yang akan dipadamkan. Ketidaktahuan terkait zat APAR tidak dapat memadamkan api bahkan memperbesar nyala api (Kasus Tetra Drone, 2025).
Kelima, posisi titik evakuasi sebaiknya berada di lokasi yang aman dan terbuka, jangan terlalu dekat dengan bangunan gedung sehingga dapat berisiko terdampak bahaya langsung. Titik Evakuasi juga dapat terlihat jelas serta tidak disarankan berada di area parkir aktif. Jika lahan terbuka tempat bangunan gedung terlalu sempit untuk membuat titik kumpul evakuasi, pemilik gedung dapat membuat titik evakuasi kawasan bersama masyarakat disekitarnya dengan penanda yang jelas.
Beberapa poin di atas yang menjadi perhatian bersama, pentingnya sistem keselamatan bangunan gedung sebagai jaminan dini keselamatan setiap pengguna bangunan gedung. Pemilik gedung sudah sewajarnya memiliki tanggung jawab moral terhadap sistem keselamatan gedung yang dimiliki dan dipergunakan untuk banyak orang dan tidak melihat standar keselamatan hanya pada sisi regulasi. Selain itu para ahli Teknik Bangunan Gedung yang terlibat dalam proses pembangunan memiliki kode etik untuk bersikap professional dan penuh tanggung jawab terhadap kepakarannya.
Oleh : Ar. Riri Chairiyah, S.T., M.Arch.
Dosen Program Studi Arsitektur dari Lab.Health Technology and Development(HTD-Lab) Program Studi Arsitektur UNISA Yogyakarta
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2025/12/gedung.jpg757827adminhttps://media.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2024/01/Logo-Unisa_Horisontal_bg_putih.pngadmin2025-12-30 06:06:472025-12-30 06:06:50Stop Anggap Remeh! 90% Hidup Kita di Dalam Gedung, Pastikan 5 Standar Keselamatan Ini Terpenuhi