Sistem perekonomian Islam merupakan perekonomian yang terbuka dan berkeadilan, yang dapat mendorong terbukanya pasar dan investasi.” Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perekonomian Ir. H. Hatta Radjasa yang hadir sebagai Keynote Speaker Tanwir ‘Aisyiyah pada sidang Pleno II tanggal 19 Oktober 2012 di Hall 4 lantai 4 kampus terpadu Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Sesuai dengan tema sidang pada siang ini tentang Kebijakan dan Strategi Pemerintahan di Bidang Perekonomian dan Keberpihakan terhadap Kaum Dhu’afa-Mustadl’afin serta Sinerginya dengan ‘Aisyiyah. Hatta juga mengungkapkan bahwa “Manusia dan iptek adalah sumber utama pembangunan bangsa ini. Dalam hal ini, pemerintah memiliki strategi pembangunan di bidang perekonomian diantaranya pro lapangan kerja, pro pengentasan kemiskinan dan pro pemeliharaan lingkungan. Hal tersebut sejalan dengan visi, misi dan strategi ‘Aisyiyah dalam menghadapi berbagai problem keumatan, kebangsaan maupun kemanusiaan”.

Masih dalam sidang yang dihadiri oleh perwakilan daerah ‘Aisyiyah (PDA) dan perwakilan Wilayah Aisyiyah (PWA) dari berbagai provinsi se Indonesia, Hatta juga menyampaikan tentang dua strategi pemerintah untuk mengantisipasi terjadinya lost generation yang disebabkan minimnya generasi muda yang memiliki tingkat pendidikan tinggi di Indonesia. Pertama yaitu dengan membantu serta mendorong putra-putri bangsa untuk melanjutkan dan menempuh pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Strategi yang kedua, melalui kebijakan pemerintah bahwa seluruh hasil sumber daya alam Indonesia tidak boleh dijual dalam keadaan mentah ke luar negeri, melainkan harus diolah oleh putra-putri bangsa Indonesia sendiri, sehingga dapat memberikan nilai tambah dan pemasukan perekonomian bangsa.

Dalam penyampaian terakhirya di sidang Pleno II ini, Hatta menegaskan bahwa “’Aisyiyah merupakan salah satu jembatan yang dapat membantu mewujudkan perekonomian Indonesia maju melalui amal usaha yang bermanfaat bagi kesejahteraan umat.”(www.aisyiyah.or.id)

Ahad (14/10), dalam rangka semarak Tanwir I ‘Aisyiyah yang akan diselenggarakan di Jogjakarta pada 19 hingga 21 Oktober 2012, ribuan warga dan simpatisan ‘Aisyiyah berkumpul di lapangan XT Square Yogyakarta untuk mengikuti jalan sehat. “Selain sebagai sosialisasi Tanwir ‘Aisyiyah, kegiatan ini merupakan bentuk kampanye hidup sehat untuk para perempuan dan anak” ujar Wakil Ketua Panitia Tanwir I, Arnabun.

Sekitar 3.500 warga ‘Aisyiyah melakukan senam dan jalan sehat dengan rute XT Square-Jalan Perintis Kemerdekaan-Jalan Gambiran-Jalan Veteran-Warungboto-Jalan Babaran-Jalan Pandega dan finsh di XT Square lagi. Selain itu, sebanyak 750 murid TK ‘Aisyiyah Busthanul Athfal (TK ABA) di Jogjakarta juga ikut memeriahkan Syiar Tanwir dengan Pawai Ta’aruf menggunakan becak hias dan drumband.

Adapun Pameran Batik Nusantara sebagai kegiatan pendukung Tanwir I ‘Aisyiyah akan mulai berlangsung dari tanggal 18 hingga 21 Oktober 2012 di tempat pelaksanaan Tanwir I ‘Aisyiyah, yakni di Kampus STIKES ‘Aisyiyah Terpadu, Gamping, Sleman Yogyakarta. (www.aisyiyah.or.id)

“Syiar dan dakwah nilai-nilai Islam dapat dilakukan melalui batik dengan merelevansi nilai-nilai budaya yang terdapat dalam motif batik,” hal tersebut disampaikan oleh Dra. Siti Noordjannah Djohantini, M.M.,M.Si, Ketua Umum PP ‘Aisyiyah dalam sambutan Seminar Batik Nusantara yang bertempat di Ruang Prof. Dra. Hj. Siti Baroroh Baried, Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta (18/10). Noordjannah juga menambahkan “batik merupakan salah satu ikon budaya nasional yang dapat digunakan sebagai media komunikasi ke berbagai negara.”

Seminar Batik Nusantara diikuti oleh kurang lebih 250 perwakilan ‘Aisyiyah dari 33 provinsi di Indonesia. Para narasumber yang hadir, yaitu: Drs. Handoyo dari Balai Kesar Kerajinan dan Batik Yogyakarta; Hj. Kaelasha Afiati, pengusaha home industri fashion; dan Imam Nurhidayat, Direktur Pusdiklat Repindo dan Coconut Centre yang berbicara tentang pengutana ekonomi melalui Ranting. Adapun Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno lebih banyak berbicara tentang Peran Batik Kauman Yogyakarta dalam gerak langkah Muhammadiyah-‘Aisyiyah.

Menurut Handoyo, ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan yang memiliki jaringan luas hingga ke berbagai daerah di seluruh Indonesia, dapat menjadi kekuatan untuk melalukan penguatan ekonomi melalui pelestarian Batik. Hal tersebut, ungkap Handoyo, dikarenakan ‘Aisyiyah telah memiliki lebih dari 6000 ranting ‘Aisyiyah yang berada di seluruh daerah Indonesia dan didukung oleh infrastruktur yang kuat sehingga memudahkan pencapaian penguatan ekonomi. (www.aisyiyah.or.id)

Tanwir I ‘Aisyiyah (19-21/10) resmi dibuka oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Dien Syamsuddin. Selain itu, dalam kesempatan yang sama dilakukan juga Peresmian Kampus Terpadu Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Dra. Noordjannah Djohantini, MM., M.Si. Pembukaan Tanwir dan Peresmian Kampus Terpadu Stikes ‘Aisyiyah dihadiri juga oleh Menteri Kehutanan RI, H. Zulkifli Hasan, SE, MM; Bupati Sleman, Drs. H. Sri Purnomo, M.Si; Wakil Bupati Gunung Kidul, Drs. Immawan Wahyudi; Ketua Kopertis Wilayah V, Ketua APTISI, serta 1000 orang dari Pimpinan ‘Aisyiyah se Indonesia.

 

Dien mengungkapkan bahwa kesuksesan penyelenggaran Tanwir terletak pada kemauan dan kemampuan ‘Aisyiyah untuk melakukan substansiasi atau pemaknaan terhadap keputusan Muktamar ‘Aisyiyah serta kontekstualisasinya dengan dinamika zaman. Tema Tanwir “’Aisyiyah Jelang Satu Abad: Gerakan Praksis Sosial Al-Ma’un untuk Kemajuan Bangsa”, menurut Dien, semakin menegaskan kontribusi ‘Aisyiyah bagi kemajuan bangsa berbasis gerakan praksis Al-Ma’un yang merupakan watak gerakan ‘Aisyiyah-Muhammadiyah. Dari asal katanya, tambah Dien, Al-Ma’un berarti hal yang berguna, sehingga gerakan Al-Ma’un merupakan gerakan yang menyebarkan manfaat dengan membangun dan memperkuat landasan budaya kehidupan masyarakat. Itulah yang membedakan watak gerakan Muhammadiyah dengan gerakan struktural yang banyak dilakukan oleh partai politik.

Pada kesempatan tersebut, Noordjanah Djohantini juga mengatakan bahwa kekuatan ‘Aisyiyah yang berbasis jamaah dan amal usaha yang tersebar di seluruh Indonesia ini menjadi kekuatan strategis untuk memajukan bangsa. ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan muslim Muhammadiyah telah menempuh perjalanan panjang berkiprah bagi bangsa dan peradaban Islam selama hampir 1 abad dengan membawa misi Amar Ma’ruf Nahi Munkar. “Kontribusi ‘Aisyiyah dilakukan melalui dakwah dan jihad di berbagai bidang, antara lain pendidikan, ekonomi, kesehatan, pendidikan politik maupun usaha lain dengan berbasis pada gerakan Keluarga Sakinah dan Qoryah Thoyyibah,” tambahnya. Berkat kontribusinya, ‘Aisyiyah telah memperoleh penghargaan 3 (tiga) penghargaan, antara lain dari Kementrian Kehutanan, Anugerah Peduli Pendidikan, dan MDG’s Award atas peran strategis ‘Aisyiyah bagi kemajuan bangsa yang sejatinya telah dimulai sejak ‘Aisyiyah berdiri.(www.asiyiyah.or.id)

“Kesenjangan antara kaum kaya dan miskin masih menjadi penyebab kemiskinan di Indonesia.” Hal tersebut disampaikan oleh Dien Syamsudin dalam Konferensi Pers pada Jum’at (19/10) di lokasi Sidang Tanwir I ‘Aisyiyah, Kampus Terpadu Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, Muhammadiyah-‘Aisyiyah dapat berkontribusi dengan melakukan revitalisasi gerakan Muhammadiyah-‘Aisyiyah melalui Gerakan Praksis Sosial Al-Ma’un.

Noordjannah Djohantini kemudian menyampaikan, bahwa salah satu bentuk Gerakan Praksis Sosial Al-Ma’un sudah dilakukan ‘Aisyiyah dengan mengembangkan Bina Usaha Ekonomi Keluarga (BUEKA) serta memproduksi detergen MELIN. ‘Aisyiyah juga melakukan investasi penanaman pohon sebagai strategi pendanaan organisasi. Di bidang pendidikan, selain mengelola amal usaha pendidikan dari TK hingga perguruan tinggi, ‘Aisyiyah juga mengelola 4000 Keaksaran Fungsional hingga ke daerah-daerah pelosok.(www.aisyiyah.or.id)