Relawan Unisa Yogyakarta

Sabtu (31/12), Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogya, dengan Tim Siaga Bencana UNISA Yogya,  resmi melepas total 14 mahasiswa Program Studi S1 Psikologi ke Cianjur. Bersama Tim Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat  Muhammadiyah dan MDMC Wilayah DIY, mereka akan terjun tanggal 01 Januari 2023 dan menetap di Cianjur selama satu bulan.

Tim Relawan UNISA Yogya akan terfokus untuk penanganan Rehabilitasi Psikososial terutama pada anak-anak. H. Budi Setiawan, ST., selaku Ketua MDMC PP Muhammadiyah menjelaskan, saat ini tim relawan mahasiswa sudah ada yang terjun di Cianjur dan tim relawan UNISA Yogya nantinya akan melanjutkan program yang telah berjalan dari tim sebelumnya, namun tidak menutup kemungkinan dapat membuat program atau inovasi baru.

“Anak-anak jangan sampai berangsur-angsur dalam kesedihan, mereka harus ceria, namun teman-teman relawan pasti akan melaksanakan pendampingan kepada orang dewasa juga,” jelas Budi Setiawan.

Budi Setiawan juga menjelaskan, bahwa MDMC telah turun di Cianjur sejak tanggal 20 November 2022, serta langsung melakukan asesment guna mempetakan kebutuhan-kebutuhan para penyintas gempa Cianjur. Hingga saat ini MDMC telah mendirikan lima pos pelayanan, yaitu di lokasi Ciherang Rawajaya, Cariu, Ciherang Putri, Sukamulya, dan Cieundeur.

“InsyaAllah nanti rekan-rekan relawan UNISA Yogyakarta akan ditempatkan di pos Cieundeur, dibawah koordinasi MDMC Wilayah DIY,” jelas Budi Setiawan “Untuk lokasi lainnya sudah akan dibantu oleh tim MDMC dari Wilayah Jawa Timur dan juga Jawa Tengah,” pungkas Budi. Wantonoro, Ph.D., selaku ketua Tim Siaga Bencana UNISA Yogya, turut memaparkan bahwa tim relawan mahasiswa akan didampingi oleh satu dosen UNISA Yogya. Sebelumnya, Tim Siaga Bencana UNISA Yogya pernah diterjunkan saat bencana gempa Palu, pengiriman bantuan saat banjir Bantul, dan pengiriman bantuan air di Gunung Kidul.

Klik Dokter

Cuaca dingin selama musim hujan biasanya mudah menimbulkan suatu penyakit, sudah saatnya kita mencegah dengan menjaga ketahanan tubuh dari musim hujan agar terhindar dari penyakit.

Pergantian musim kemarau ke musim penghujan ini biasanya membuat tubuh lebih rentan terhadap gangguan kesehatan, terutama perubahan cuaca yang ekstrem, hal ini disebabkan karena tubuh dipaksa beradaptasi dengan suhu dan kelembapan udara yang berbeda dari sebelumnya.

Deasti Nurmaghupita, M.Kep., Sp.Kep.J yang merupakan ketua program studi S1 Keperawatan dan Profesi Ners membagikan tipsnya disaat musim hujan untuk tetap menjaga kesehatan agar tidak mudah sakit, Kamis (29/12).

Deasti mengatakan meski memang untuk beberapa orang kehujanan beberapa kali tidak berpengaruh pada tubuh mereka, namun ada pula sebagian orang yang hanya sekali terkena hujan langsung demam keesokan harinya. Bahkan ada Sebagian orang yang justru merasa tidak nyaman karena tidak bisa beraktivitas di luar ruangan karena cuaca hujan.

Agar tetap sehat, berikut tips dari Deasti untuk menjaga kesehatan di musim hujan :

  1. Setelah kehujanan segera mandi dan keramas.
  2. Usahakan tubuh selalu hangat.
  3. Tidur cukup dan tidak begadang.
  4. Banyak minum air putih.
  5. Konsumsi makanan sehat dan jaga makanan agar selalu hygienis.
  6. Jaga kebersihan rumah dan lingkungan.
  7. Asupan Vitamin C untuk mendukung daya tahan tubuh juga sangat kita perlukan.
  8. Berolahraga secara rutin.
  9. Menjaga kebersihan rumah

Jangan lupa tetap menjaga suasana tetap happy di musim hujan agar jiwa selalu sehat :

  1. Nyalakan lampu ruangan.
  2. Nikmati suasana hujan di luar ruangan.
  3. Lakukan kegiatan menyenangkan.
  4. Cobalah untuk tetap berolahraga walau di dalam ruangan.
  5. Habiskan waktu bersama keluarga atau teman.

Sumber Foto : KlikDokter.com

Dedikasi dan Loyalitas

Dedikasi serta Loyalitas merupakan suatu pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi sebuah keberhasilan disertai kesetiaan di suatu usaha atau tempat demi tujuan mulia.

Dedikasi dan loyalitas tinggi ditunjukkan oleh Sri Rejeki, yang merupakan seorang tenaga kependidikan di Universitas `Aisyiyah Yogyakarta, membidangi bagian perpustakaan dan telah mengabdikan dirinya selama 36 tahun.

Sri Rejeki juga menjadi salah satu saksi sejarah tranformasi Unisa Yogyakarta, dari tahun 1986 ketika masih menjadi Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), lalu berubah menjadi Akademi Perawat (Akper) `Aisyiyah, tahun 1998 sempat di konversi menjadi Akademi Bidan (Akbid) `Aisyiyah, akhirnya pada tahun 2003 berkembang menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) `Aisyiyah Yogyakarta, dan di 2016 mendapatkan Surat Keputusan (SK) untuk menjadi Universitas sampai sekarang ini.

Pada acara seremonial pelepasan yang dihadiri seluruh jajaran pimpinan Unisa Yogyakarta beserta kaprodi dan kepala biro, Sri Rejeki berbicara tentang suka dukanya serta hubungan kekeluargaan selama mengabdi 36 tahun di Unisa Yogyakarta. Selain itu Sri Rejeki juga memberikan pesan kepada karyawan Unisa Yogyakarta untuk terus berjuang dan semangat untuk memajukan kampus tercinta.

Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat selaku Rektor Unisa Yogyakarta dalam sambutanya mengatakan bahwa pengabdian selama 36 tahun yang dilakukan oleh Sri Rejeki ini merupakan bagian dari amal ibadah yang dilakukan dengan sungguh sungguh, dan bisa menjadi contoh karyawan yang lain. “Mbak Sri ini sudah ada disini semenjak saya masih menjadi mahasiswa, beliau sudah banyak berkontribusi dalam memajukan Unisa Yogyakarta, dan saya pribadi mengucapkan banyak terimakasih atas dedikasinya selama ini, semoga tali silaturrahim dengan kami tetap terjaga,” ucap Warsiti.

Mahasiswa Unisa

Ali Purnomo Aji mahasiswa program studi Radiologi UNISA Yogyakarta yang berjuang keras untuk menyelesaikan studinya. Kehidupan memaksanya untuk menerima kenyataan bahwa orang tuanya harus berpisah 

Ditengah kondisi itu ia hampir menyerah untuk melanjutkan studinya demi meringankan beban ibunya, tetapi ia sadar bahwa takdir bukanlah sebuah kesalahan, justru kenyataan pahit itu membuat ia bangkit dan yakin untuk kembali memperjuangkan cita- citanya. 

Ali mencoba mencari penghasilan tambahan dengan berjualan baju online. Ali berpikir dengan upayanya tersebut ia dapat memenuhi kebutuhan dirinya dan ibunya, tetapi ternyata tidak. Keadaan semakin memburuk, ia terpaksa harus menggantungkan biaya hidup kepada ibunya yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah di Banyuwangi, ibunya pun harus berjuang keras untuk membiayai Ali, dari mengajar, berjualan gorengan, hingga meminjam uang. 

“Pernah saya alami sudah tidak punya uang saku selama hampir dua minggu” tutur Ali.

Kesulitan itu mendorong dirinya untuk bekerja menjadi tukang parkir hingga kuli bangunan, ia kesampingkan semua rasa malunya demi bertahan hidup.

Ketertarikan pada pencak silat

Sejak kelas enam sekolah dasar (SD) Ali sudah tertarik mengikuti olahraga pencak silat, ketertarikannya itu dia lanjutkan hingga jenjang kuliah. Ditengah hambatannya, Ali tetap berprestasi, dan berhasil mendapatkan Juara 3 pencak silat dalam piala rektor seJawa dan Bali. 

Segala rintangan perlahan Ali selesaikan, hingga kini dia berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu dan mendapatkan kesempatan melaksanakan wisuda periode pertama.  Dari Ali kita bisa belajar, Ali mungkin kehilangan masa mudanya, tetapi sejatinya dia sedang dibentuk dan di ajarkan untuk menjadi lebih tangguh.

Pengab bu ika

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak yang disebabkan kekurangan gizi pada 1000 hari pertama dari kehidupan anak. Hingga saat ini, permasalahan stunting masih menjadi isu nasional. Indonesia masuk dalam tiga besar negara dengan kejadian stunting tertinggi di Kawasan Asia Tenggara. Kejadian stunting di Kabupaten Sleman Provinsi DI Yogyakarta masih menjadi prioritas utama bagi Pemerintah. Salah satunya di Kalurahan Nogotirto yang berada di Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman memiliki tingkat kejadian stunting yang cukup tinggi. Menyikapi permasalahan tersebut, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (Unisa) Yogyakarta bekerja sama dengan Posyandu Qolbun Salim mengadakan edukasi dan pelatihan kepada Kader Posyandu dan Ibu balita di Padukuhan Sawahan, Kalurahan Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut dilaksanakan selama 2 hari, yaitu tanggal 6 dan 10 Desember 2022 di Posyandu Qolbun Salim. Pada hari pertama, peserta pengabdian diberikan edukasi mengenai stunting dan pelatihan pembuatan MPASI (Makanan Pendamping ASI). Sedangkan pada hari kedua, kegiatan berfokus pada edukasi dan pelatihan Budikdamber (Budidaya Ikan dan Tanaman Dalam Ember).

Menurut Ika Afifah Nugraheni, S.P., M.Biotech. selaku ketua tim pengabdian masyarakat, pencegahan dan penanganan kejadian stunting harus dilakukan lintas sektor karena stunting merupakan permasalahan kompleks. Sehingga pendekatan yang dilakukan juga harus dari dua sisi yaitu secara langsung seperti intervensi gizi spesifik pada pemberian MPASI maupun secara tidak langsung salah satunya penyediaan pangan keluarga seperti penerapan Budikdamber, tambahnya. Pelaksanaan pengabdian masyarakat dilakukan dengan anggota tim lainnya yaitu Enny Fitriahadi, S.SiT., M.Kes. yang memiliki kompetensi keilmuan di bidang kebidanan. Kegiatan pengabdian ini didanai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Program Insentif Pengabdian Masyarakat Terintegrasi dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka Berbasis Kinerja Indikator Kinerja Utama Bagi Perguruan Tinggi Swasta Tahun 2022. Peserta pengabdian masyarakat sangat antusias selama mengikuti rangkaian kegiatan. “Kegiatan edukasi dan pelatihan mengenai stunting sangat dibutuhkan di Posyandu Qolbun Salim karena di Kalurahan Nogotirto sendiri tingkat stunting masih sekitar 31,2%”, ujar Mar’atul Musyarofah, sekretaris Posyandu Qolbun Salim. Mar’atul berharap kegiatan yang telah diberikan oleh tim pengabdian masyarakat dari Unisa Yogyakarta mampu mencegah peningkatan kejadian stunting.