Pos

Relawan kesehatan

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mengirimkan tim relawan kesehatan ke Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dalam rangka pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tanggap Darurat Bencana Tahun 2025. Program ini dilaksanakan sebagai respons atas bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut, khususnya di Kecamatan Sorkam, serta didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Tim relawan diberangkatkan pada Selasa, 16 Desember 2025, dan akan menjalankan misi kemanusiaan selama 15 hari hingga 30 Desember 2025. Program ini mengusung tema “Penguatan Kesehatan Komprehensif dan Resiliensi Tanggap Bencana bagi Kelompok Rentan melalui Model Desa Siaga Inklusif di Kabupaten Tapanuli Tengah”. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen UNISA Yogyakarta dalam memperkuat peran perguruan tinggi dalam penanganan bencana berbasis kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.

Relawan Kesehatan

Tim PKM UNISA Yogyakarta terdiri atas dosen dan mahasiswa lintas disiplin ilmu kesehatan, yang dipimpin oleh dr. Joko Murdiyanto, Sp.An-TI., MPH. Tim melibatkan tenaga medis dan tenaga kesehatan dari bidang kedokteran, keperawatan, fisioterapi, dan gizi, serta mahasiswa profesi yang akan terjun langsung mendampingi masyarakat terdampak.

Ketua tim pelaksana, dr. Joko Murdiyanto, menjelaskan bahwa kondisi geografis Tapanuli Tengah yang rawan bencana, ditambah dampak Siklon Tropis Senyar pada akhir 2025, menyebabkan banyak wilayah terisolasi dan minim akses layanan kesehatan. “Fokus utama kami adalah kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil dan menyusui, anak-anak, penyandang disabilitas, serta keluarga miskin yang sangat membutuhkan pendampingan kesehatan secara cepat dan komprehensif,” ujarnya.

Selama pelaksanaan program, tim relawan UNISA Yogyakarta akan melakukan berbagai kegiatan, di antaranya rapid assessment kesehatan bagi kelompok rentan, pendirian posko kesehatan darurat di lokasi pengungsian, pemeriksaan kesehatan holistik, serta penyaluran bantuan obat-obatan dan alat kesehatan ke posko maupun puskesmas terdampak. Selain itu, tim juga memberikan bantuan hygiene kit, alat bantu disabilitas dan lansia, serta membangun bilik laktasi bagi ibu menyusui di pengungsian.

Ketua LPPM UNISA Yogyakarta, Dinar Mindrati Fardhani, S.P., M.Biotech., Ph.D., menegaskan bahwa program ini tidak hanya bersifat tanggap darurat, tetapi juga bertujuan memperkuat resiliensi masyarakat melalui pendekatan Desa Siaga Inklusif. “Kami berharap kehadiran tim UNISA Yogyakarta dapat memberikan manfaat nyata sekaligus memperkuat kolaborasi dengan MDMC/LRB Muhammadiyah dan pemerintah daerah setempat,” jelasnya.

Melalui program PKM Tanggap Darurat Bencana ini, UNISA Yogyakarta menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi berwawasan kesehatan dan islami yang aktif berkontribusi dalam penanganan bencana serta penguatan layanan kesehatan bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Perceraian

Berita tentang perceraian selebriti semakin marak di media selama dua tahun terakhir. Fenomena ini tidak hanya menandai pergeseran dinamika rumah tangga tokoh publik, tetapi juga menunjukkan bagaimana masyarakat mengikuti pola pengasuhan anak yang berkembang setelah pasangan berpisah. Dalam berbagai laporan, selebriti tampak menjalani peran sebagai orang tua tunggal, dan representasi inilah yang diamati publik. Sebagai figur gaya hidup, keluarga para selebriti ini memengaruhi bagaimana masyarakat menafsirkan struktur keluarga modern. Karena media semakin menggambarkan pengasuhan yang berpusat pada ibu, hal ini berkontribusi pada persepsi bahwa berkurangnya keterlibatan ayah merupakan bagian dari pola keluarga yang semakin umum. Pada titik ini, isu fatherless mulai muncul sebagai bagian dari wacana publik yang dibentuk oleh siaran dan liputan berita tentang kehidupan selebriti.

Perceraian

Tren yang terlihat dalam pemberitaan selebriti sejalan dengan kondisi nasional. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024, terdapat lebih dari 394 ribu perceraian di Indonesia, dengan 78 persen di antaranya adalah cerai gugat (Fajar.co.id., 10 November 2025) Angka ini menunjukkan pergeseran peran keluarga, khususnya karena ibu semakin menjadi pengasuh utama setelah perceraian. Fenomena ini juga mencerminkan meningkatnya jumlah anak yang tumbuh dengan keterlibatan ayah yang semakin terbatas dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kompas.id (9 Oktober 2025) melaporkan data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) bahkan mencatat bahwa lebih dari 15 juta anak di Indonesia berpotensi menjadi anak fatherless, baik karena perceraian maupun struktur keluarga yang tidak stabil.

Di tengah meningkatnya angka perceraian, media memainkan peran penting dalam membentuk persepsi publik tentang keluarga. Liputan tentang selebriti memiliki pengaruh khusus karena minat publik yang besar terhadap kehidupan pribadi tokoh publik. Liputan tentang perjalanan selebriti pasca-perceraian, rutinitas harian, dan aktivitas mereka sebagai pengasuh tunggal banyak dikonsumsi. Dalam berbagai liputan media hiburan, selebriti digambarkan menghadapi momen-momen penting, seperti hari libur besar, sebagai orang tua tunggal. Penggambaran ini cenderung menekankan stabilitas dan kemampuan beradaptasi individu, tetapi kurang memberi ruang bagi perubahan peran ayah dalam keluarga.

Penelitian tentang framing laporan berita infotainment juga menunjukkan tren serupa. Media lebih tertarik menyoroti konflik, proses perceraian, dan respons emosional tokoh publik. Dampak jangka panjang pada anak-anak, dinamika pengasuhan, dan pergeseran peran ayah mendapat ruang yang relatif lebih sedikit. Akibatnya, wacana publik tentang perceraian lebih dibentuk oleh narasi pribadi yang dramatis daripada diskusi struktural tentang hubungan keluarga. Situasi ini memiliki implikasi terhadap persepsi publik tentang fatherless, yang secara bertahap diakui sebagai kondisi umum dalam keluarga pasca-perceraian.

Dalam literatur psikologi, keterlibatan ayah memainkan peran penting dalam perkembangan anak. Berbagai studi menegaskan bahwa kehadiran ayah terkait dengan pembentukan identitas diri, keterampilan pengaturan emosi, dan perkembangan sosial. Absennya ayah, baik secara fisik maupun dalam peran pengasuhan, dapat memengaruhi perkembangan anak, terutama selama masa remaja. Oleh karena itu, peningkatan representasi keluarga fatherless dalam pemberitaan tentang tokoh publik berpotensi memengaruhi bagaimana masyarakat memahami pentingnya peran ayah dalam struktur keluarga modern.

Paparan publik terhadap dinamika keluarga selebriti tidak hanya membentuk persepsi individu tetapi juga memengaruhi konstruksi sosial peran orang tua. Selebriti, sebagai panutan dalam banyak aspek kehidupan, memiliki pengaruh signifikan dalam menetapkan standar baru untuk pengasuhan anak. Ketika pengasuhan anak oleh orang tua tunggal dianggap sebagai pola umum di kalangan tokoh publik, publik mungkin menganggap situasi ini sebagai bagian alami dari perkembangan keluarga modern, terlepas dari konsekuensi psikososial bagi anak-anak.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perceraian selebriti tidak hanya berdampak pada kehidupan pribadi tokoh publik tetapi juga berkontribusi pada pembentukan pemahaman kolektif tentang keluarga. Melalui liputan intensif dan seringkali pembingkaian yang berpusat pada individu, publik menganggap fatherless sebagai kondisi yang semakin umum. Tantangannya adalah memperluas wacana publik untuk mencakup pentingnya keterlibatan ayah, daripada hanya mengikuti representasi media yang menekankan peran ibu sebagai pengasuh utama.

oleh : Baiq Hizmiatul Yastri (Mahasiswa Administrasi Publik UNISA Yogyakarta)

bencana

Hidup di atas Ring of Fire dengan 127 gunung berapi aktif menjadikan bencana sebagai menu harian di Indonesia. Sadar akan ancaman nyata ini, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta tak mau mencetak perawat yang hanya jago teori.

Sebanyak 260 mahasiswa Keperawatan semester 7 diberikan pengetahuan dalam Studium Generale bertajuk “Rumah Sakit Siaga Bencana dan Rumah Sakit Lapangan” di gedung Siti Moendjijah UNISA Yogyakarta, Jumat (5/12/2025). Materi ini bukan sekedar kuliah biasa, melainkan persiapan hidup dan mati bagi tenaga medis.

Suasana ruangan tiba-tiba hening saat narasumber, Indra Prasetyantoro, S.Kep.Ners., M.Kep., dari RS PKU Muhammadiyah Bantul, menceritakan kisah nyata yang membuat bulu kuduk berdiri sekaligus heroik saat Gempa Yogyakarta 2006 silam.

Parkir Jadi Ruang Triase Darurat Bencana

Indra mengenang betapa kacaunya situasi saat gempa dahsyat merenggut lebih dari 5.700 nyawa itu. Gedung rumah sakit retak parah, plafonnya berjatuhan, namun pasien terus membanjir tanpa henti.

“Kami tidak punya waktu untuk panik. Gedung tidak aman, kami pindah operasional ke area terbuka. Area parkir berubah jadi ruang darurat triase. Taman rumah sakit Didirikan tenda-tenda yang berfungsi sebagai ICU lapangan,” kenang Indra yang membuat para mahasiswa merinding.

Ia menegaskan, dalam situasi kacau, Hospital Disaster Preparedness (HDP) adalah kuncinya. HDP bukan sekedar dokumen di lemari, tapi kesiapan mental dan infrastruktur. Rumah sakit yang tidak siap, bisa berubah dari tempat penyelamatan menjadi kuburan massal.

Bahaya Silent Killer di Rumah Sakit

Selain kisah heroik, Indra juga menyoroti aspek teknis yang sering luput dari perhatian: keamanan non-struktural. Lemari obat yang tidak dibaut ke dinding bisa menghancurkan persediaan penting. Tabung oksigen yang tidak terikat bisa meledak bak rudal saat guncangan terjadi.

“Semua detail kecil ini terdengar sepele, tapi saat gempa mengguncang, detail inilah yang menentukan apakah rumah sakit lumpuh total atau tetap bisa menyelamatkan nyawa,” tegasnya.

Kuliah umum ini menjadi bekal mahal bagi 260 calon perawat UNISA Yogyakarta yang sebentar lagi terjun ke dunia kerja. Bagi mereka, menghadapi bencana bukan lagi soal “jika”, melainkan “kapan”. Dengan ilmu ini, diharapkan mereka siap menjadi benteng pertolongan terakhir saat ibu pertiwi sedang tidak baik-baik saja.

Bencana

Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang tiga provinsi di Pulau Sumatra, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyisakan duka yang teramat dalam. Data BNPB terbaru mencatat angka 836 nyawa melayang.

Namun, di balik statistik kematian dan kerusakan infrastruktur yang mendominasi berita utama media, ada tragedi kemanusiaan yang hampir tidak terdengar. Tragedi itu bernama: nasib perempuan dan anak-anak di pengungsian.

Di tengah ratusan ribu warga yang mengungsi, kaum ibu dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan yang sering kali terabaikan kebutuhannya. Banjir memang tak terlihat, namun dampaknya jelas tak sama bagi semua orang.

Mie Instan Melimpah, Pembalut dan Susu Langka

Pola bantuan bencana di Indonesia seolah-olah memiliki template baku: mie instan, beras, dan air mineral. Penting, memang. Namun, bantuan umum ini melupakan fakta mendasar tentang biologis.

Bayangkan seorang ibu menyusui di Tapanuli Tengah atau Agam yang baru saja kehilangan rumah dan anggota keluarga. Stress yang berlebihan dan kurangnya asupan gizi membuat produksi ASI mereka terhenti. Di saat yang sama, bantuan yang datang hanyalah mie instan. Akibatnya? Bayi-bayi menangis kelaparan karena tidak ada asupan pengganti, sementara sang ibu hanya bisa memeluknya dalam rasa bersalah.

“Truk bantuan datang membawa karung beras, tapi berapa banyak yang memikirkan pembalut untuk perempuan atau vitamin untuk ibu hamil?” Ini adalah kenyataan yang pahit. Di banyak titik pengungsian di Aceh dan Sumut, perempuan terpaksa menahan rasa malu dan tidak nyaman karena tidak adanya akses pembalut dan fasilitas sanitasi yang tertutup.

Pengungsian yang ‘Gelap’ Bagi Anak dan Perempuan

Masalah tak berhenti di urusan perut. Desain posko pengungsian yang asal muat sering kali menjadi mimpi buruk bagi keamanan perempuan dan anak.

Minimnya penerangan dan toilet yang bercampur antara laki-laki dan perempuan bukan sekadar kenyamanan, tapi ancaman keamanan. Di mana ibu bisa menyusui dengan tenang tanpa ditonton orang banyak? Di mana remaja putri bisa mengganti pakaian dengan aman? Ruang privasi adalah barang mewah yang hilang, merenggut martabat mereka di saat paling rapuh.

Bagi anak-anak, trauma ini lebih dari sekedar kehilangan mainan. Sekolah hancur, rutinitas hilang, dan kenangan tentang longsor atau banjir bandang di Pesisir Selatan akan membekas bertahun-tahun. Video viral anak-anak bermain air banjir sering kali disalahartikan sebagai keceriaan, padahal bisa jadi itu adalah mekanisme mengatasi ketakutan yang tak bisa mereka ungkapkan.

Waktunya Ubah Pola Pikir!

Bencana di Sumatra harus menghasilkan solusi bagi manajemen bencana kita. Penanganan darurat tak boleh lagi buta gender.

Solusinya sebenarnya sederhana namun krusial: libatkan perempuan dalam tim tanggap darurat. Pastikan paket bantuan mencakup pembalut, pakaian dalam, dan nutrisi bayi. Desain pengungsian harus ramah perempuan dengan toilet terpisah dan penerangan yang cukup.

Bencana memang tidak bisa ditolak, namun respons kita bisa lebih manusiawi. Jangan biarkan ibu dan anak-anak di Sumatra berjuang sendirian dalam diam, hanya karena bantuan kita gagal memahami apa yang benar-benar mereka butuhkan untuk bertahan hidup dengan akhirnya.

Oleh : Wawan Febrianto (Dosen UNISA Yogyakarta)

Bootcamp

Suasana sejuk lereng Gunung Merapi pada Senin pagi (8/12) menjadi latar dimulainya Bootcamp Tim Penyusun Rencana Strategis (RENSTRA) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta 2026–2030. Kegiatan yang digelar di Kalyana Resort, Kaliurang, ini diikuti oleh seluruh unsur pimpinan universitas, pimpinan fakultas, serta tim pengembang institusi yang selama dua hari ke depan akan merumuskan arah strategis UNISA Yogya untuk lima tahun mendatang.

Bootcamp

Sejak pukul 08.00 WIB, peserta telah memasuki ruang pertemuan utama untuk memulai rangkaian agenda yang disusun secara intensif. Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., hadir membuka kegiatan sekaligus memberikan arahan strategis terkait pentingnya penyusunan RENSTRA fase berkembang 2026–2030.

Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa periode perencanaan ini memiliki makna penting bagi UNISA Yogyakarta, terutama setelah capaian akreditasi Unggul.

“Tanggung jawab kita bersama adalah menyiapkan peta jalan UNISA Yogyakarta untuk lima tahun ke depan. Karena itu, saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan ini secara penuh selama dua hari. Kita berada di sini untuk menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Tambahan (IKT) yang akan menjadi dasar pengambilan keputusan strategis universitas,” ujarnya.

Dr. Warsiti juga mengingatkan bahwa dokumen RENSTRA yang disusun dalam bootcamp ini memiliki batas waktu penting untuk dapat segera dibahas bersama Badan Pembina Harian (BPH).

“Pada pertengahan Januari 2026, rencana strategis ini akan kita plenokan bersama BPH. Maka, dua hari ini harus kita optimalkan untuk memastikan setiap aspek tersusun dengan baik.”

Lebih lanjut, Rektor menekankan bahwa keunggulan khas Aisyiyah yang bernafaskan nilai-nilai inklusif akan menjadi ruh utama dalam arah strategis berikutnya.

“Kita harus menggali dan menegaskan kembali keunggulan Aisyiyah. Kekhasan inklusif yang menjadi identitas kita harus diwujudkan dalam program dan indikator strategis. Karena itu, mari fokus pada kegiatan ini. Tugas-tugas lain dapat kita sisihkan sejenak,” tegasnya.

Kegiatan Bootcamp Penyusunan RENSTRA 2026–2030 dijadwalkan berlangsung selama dua hari dengan berbagai sesi pembahasan yang melibatkan analisis capaian, pemetaan tantangan, dan penyusunan indikator kinerja utama serta indikator kinerja turunan. Dengan semangat kolaboratif dan komitmen penuh, forum ini diharapkan menghasilkan dokumen RENSTRA yang visioner, relevan, dan mampu mengarahkan UNISA Yogyakarta menuju fase perkembangan baru yang lebih progresif.

Kegiatan pun resmi dimulai dengan harapan besar bahwa hasil perumusan ini menjadi fondasi kuat bagi masa depan UNISA Yogyakarta sebagai perguruan tinggi yang unggul, inklusif, dan berdaya saing.