Menghafal Al-Qur’an (tahfidz) bukan sekadar perkara niat yang kuat, melainkan juga butuh stamina otak yang prima. Seringkali, hafalan macet atau mudah lupa bukan karena anak kurang cerdas, melainkan karena asupan bahan bakar untuk otaknya yang kurang tepat.
Fakta menarik inilah yang dibawa oleh sekelompok mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta saat menyambangi Panti Asuhan Al-Amin di Gedongkuning, Kotagede, Yogyakarta, Sabtu (20/12/2025). Melalui program sosial bertajuk Project Al-Ma’un, mereka hadir bukan sekedar memberi santunan, namun membagikan resep rahasia agar para calon Hafiz cilik lebih mudah menjaga hafalannya.
Gizi Tepat, Hafalan Al-Qur`an Cepat
Sebanyak 9 anak asuh dan 4 pengurus panti diajak menyelami dunia gizi dengan cara yang asyik. Mahasiswa menekankan bahwa konsentrasi tinggi saat muroja’ah (mengulang hafalan) sangat bergantung pada apa yang dimakan.
Pengasuh Panti Asuhan Al-Amin, Ustadz Rimawan, mengamini hal tersebut. Menurutnya, tantangan terbesar anak-anak adalah rasa kantuk dan lelah saat belajar.
“Pola makan sehat sangat berpengaruh. Kalau gizinya cukup, anak asuh jadi lebih fokus, tidak mudah lelah, dan siap mental untuk menghafal ayat demi ayat,” ujar Ustadz Rimawan.
Musuh Utama: Gula dan Lemak Lebih Banyak
Dalam sesi edukasi, mahasiswa mengenalkan jenis-jenis makanan yang mudah didapat, seperti telur, ikan, sayur-mayur, dan buah-buahan. Jangan lupa, pentingnya minum air putih yang cukup agar otak tidak dehidrasi.
Sebaliknya, anak-anak juga diperingatkan soal makanan yang bisa bikin otak lemot, yakni makanan tinggi gula dan lemak jenuh. Selain aspek medis, mahasiswa juga menyelipkan nilai-nilai spiritual tentang adab makan dalam Islam harus Halal, Thayyib, dan tidak boleh berlebihan (israf).
Melalui kolaborasi antara ilmu kesehatan dan pendidikan agama ini, Panti Asuhan Al-Amin berharap dapat mencetak generasi Qur’ani yang paket lengkap, kuat imannya, otaknya cerdas, dan sehat badannya.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/01/Al-Quran.jpeg7201280adminhttps://media.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2024/01/Logo-Unisa_Horisontal_bg_putih.pngadmin2026-01-06 09:29:562026-01-06 09:30:12Mau Hafalan Al-Qur’an Lancar? Ternyata Ini Rahasia Menu Makanannya
Komitmen Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta sebagai kampus ramah difabel bukan sekadar isapan jempol belaka. Hal ini dibuktikan langsung oleh mahasiswa Program Studi Gizi yang menggelar aksi menyentuh hati di Griya Tunarungu Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN), Yogyakarta, Sabtu (20/12/2025).
Dalam suasana yang hangat, para mahasiswa tidak hanya datang membawa materi kuliah, tetapi membawa hati untuk berinteraksi dengan anak-anak istimewa. Kegiatan bertajuk proyek kemanusiaan dan keimanan ini menjadi jembatan inklusivitas yang manis antara dunia akademik dan penyandang disabilitas.
Belajar Bahasa Hati dan Gizi Sehat
Koordinator kegiatan, Dina Riana, menjelaskan bahwa acara ini dirancang untuk mendobrak sekat-sekat eksklusivitas. Mahasiswa diajak keluar dari menara gading kelas teori untuk merasakan langsung denyut nadi kehidupan saudara-saudara tunarungu.
“Kami ingin hadir tidak hanya sebagai pelajar yang belajar teori, tetapi sebagai manusia yang peduli. Di sini kami belajar arti empati dan kesabaran yang sesungguhnya. Interaksi ini mengajarkan kami bahwa komunikasi tak melulu soal suara, tapi juga soal rasa,” ujar Dina.
Acara dikemas sangat seru dan jauh dari kesan kaku. Anak-anak diajak bermain game edukatif, mewarnai, hingga diskusi ringan tentang makanan sehat. Para mahasiswa Gizi UNISA Yogyakarta dengan telaten menjelaskan pentingnya asupan gizi seimbang dengan metode visual yang mudah dipahami oleh anak-anak tunarungu. Gelak tawa pun pecah, meleburkan segala batasan fisik yang ada.
Apresiasi GERKATIN
Perwakilan pengelola Griya Tunarungu GERKATIN Yogyakarta, Hanif Adhi Pratama, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Ia mengapresiasi pendekatan mahasiswa UNISA Yogyakarta yang dinilai sangat menghargai dan tidak membatasi.
“Kami sangat terbantu. Pendekatan adik-adik siswa ini sangat hangat dan inklusif, sehingga anak-anak merasa nyaman dan diperhatikan. Tidak ada rasa canggung,” ungkap Hanif.
Ia berharap kolaborasi manis ini tidak berhenti di sini. Sinergi antara perguruan tinggi dan komunitas penyandang disabilitas seperti ini diharapkan bisa terus berlanjut demi meningkatkan kualitas hidup dan kesadaran masyarakat luas akan pentingnya kesetaraan.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/01/tunarungu.jpg7511404adminhttps://media.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2024/01/Logo-Unisa_Horisontal_bg_putih.pngadmin2026-01-05 14:04:472026-01-05 14:04:49Tanpa Suara Tapi Penuh Makna, Rangkul Anak Tunarungu Lewat Aksi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi kerap disebut sebagai silent killer karena sering muncul tanpa gejala namun mematikan. Sadar akan ancaman serius ini bagi kaum lanjut usia (lansia), mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta tak tinggal diam.
Melalui Proyek Al-Ma’un, mahasiswa Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi (Kelompok C1) turun langsung ke masyarakat. Mereka menggelar aksi “Edukasi dan Pemeriksaan Tekanan Darah Gratis” bagi lansia di Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Banyuraden, Gamping, Sleman, Jumat (26/12/2025).
Sebanyak 20 lansia antusias mengikuti kegiatan ini sejak pagi. Ketua Kelompok, Salsabila, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekedar tugas kuliah, melainkan wujud nyata kepedulian sosial mahasiswa untuk meningkatkan derajat kesehatan lansia di Banyuraden.
Deteksi Dini dan Tips Hidup Sehat
Acara dibuka oleh dosen pembimbing, Sri Lestari Lina Wati yang menekankan pentingnya nilai pengabdian. Tanpa membuang waktu, para siswa langsung mengeluarkan tensimeter. Satu per satu lansia diperiksa kondisi tekanan darahnya sebagai langkah deteksi dini.
Tak hanya memeriksa fisik, pikiran para lansia juga ikut di segarkan. Nabila Putri Irawan , salah satu mahasiswa, memberikan materi daging tentang cara menjinakkan hipertensi. Tipsnya sederhana namun sering dilupakan, kurangi asupan garam, rutin minum obat, dan jangan malas bergerak.
“Pola makan rendah garam dan aktivitas fisik ringan adalah kunci. Jangan tunggu sampai stroke menyerang baru menyesal,” pesan Nabila dalam sesi edukasi yang interaktif.
Tutup dengan Peregangan Anti-Kaku
Para lansia diajak melakukan peregangan khusus penderita hipertensi. Gerakan-gerakan ringan yang dipandu siswa untuk melancarkan peredaran darah dan mengurangi kekakuan otot. Gelak tawa pun pecah melihat semangat para lansia mengikuti gerakan instruktur.
Melalui Proyek Al-Ma’un ini, mahasiswa Keperawatan Anestesiologi UNISA Yogyakarta berharap bisa mencetak calon tenaga kesehatan yang tidak hanya jago teknis medis, tapi juga punya hati yang peka dan empati tinggi terhadap masyarakat. Bagi lansia Banyuraden, ilmu yang didapat hari ini menjadi bekal berharga untuk menikmati masa tua yang lebih sehat dan berkualitas.
Sehat itu hak semua orang, tak terkecuali bagi penyandang disabilitas. Semangat inilah yang dibawa oleh sekelompok mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta saat menyambangi Komunitas Difabel Gading di Kalurahan Banyuraden, Gamping, Sleman, Minggu (21/12/2025).
Melalui program kemanusiaan bertajuk Project Al-Ma’un, Mahasiswa Kelompok A6 tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa misi edukasi gizi yang dikemas santai namun penuh makna, membuktikan bahwa kepedulian sosial bisa dimulai dari hal paling sederhana, makanan.
Kenalkan Buah Lokal yang Ramah Kantong
Seringkali, gizi seimbang dikesankan mahal dan rumit. Namun, Khairan Nisya Dewi Azzahra, perwakilan mahasiswa, mematahkan anggapan itu di hadapan para anggota komunitas. Ia memperkenalkan manfaat terbaik dari buah-buahan yang mudah ditemukan di pasar dan harga terjangkau, seperti pisang, pir, apel, dan jeruk.
“Kami ingin menunjukkan bahwa menjaga kesehatan bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Buah-buahan ini mudah didapat di sekitar kita, murah, tapi kaya vitamin,” ujar Fitriyani, anggota kelompok A6, di sela-sela kegiatan.
Edukasi ini bukan sekedar ceramah, suasana berlangsung interaktif dan hangat, para peserta diajak memahami bahwa tubuh bugar adalah aset penting, dan memulainya bisa dari satu buah pisang atau jeruk setiap hari.
Belajar Empati dari Cerita Kehidupan
Kegiatan ini disambut antusias oleh Yuliana, Ketua sekaligus pendamping Komunitas Difabel Gading. Ia mengapresiasi kehadiran mahasiswa yang mau duduk bersama dan berbagi ilmu.
Lebih dari sekedar transfer ilmu gizi, momen ini menjadi ajang pertukaran rasa. Siswa dan teman-teman difabel saling bertukar cerita dan tawa dalam sesi interaksi santai, bagi para mahasiswa, ini adalah pelajaran berharga tentang kesabaran, komunikasi inklusif, dan empati mata kuliah kehidupan yang tak selalu ada di dalam kelas.
Project Al-Ma’un ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UNISA Yogyakarta tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial untuk merangkul semua lapisan masyarakat, memastikan tidak ada yang tertinggal dalam mendapatkan akses informasi kesehatan.
Setiap kata yang terucap membawa jejak hati. Ketika komunikasi dijalani dengan empati, ia tidak lagi berhenti sebagai pertukaran pesan, tetapi menjelma sebagai laku akhlak dan wujud kesalehan sosial.
Ada kalanya luka sosial tidak lahir dari kekerasan fisik, melainkan dari kata-kata yang diucapkan tanpa empati. Ucapan yang tergesa, nasihat yang mempermalukan, atau nada bicara yang merendahkan sering kali meninggalkan bekas lebih dalam daripada yang disadari. Padahal, Islam tidak hanya mengajarkan apa yang harus disampaikan, tetapi juga bagaimana menyampaikannya.
Berbicara dengan hati, menjadi sebuah praktik akhlak yang menautkan empati, adab, dan tanggung jawab sosial. Di sanalah komunikasi empatik menemukan maknanya sebagai cermin akhlak dan kesalehan sosial, hadir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memanusiakan.
Komunikasi
Dalam tradisi Islam berkemajuan yang dirawat Muhammadiyah, keberagamaan tidak berhenti pada ritual dan simbol. Keimanan tidak berhenti pada pengakuan, melainkan diuji dalam laku sosial bagaimana kita bersikap adil, menghargai martabat manusia, dan memperlakukan orang lain secara bermakna.
Tauhid tidak hanya menegaskan hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga menuntut tanggung jawab horizontal dalam hubungan antarmanusia. Di situlah komunikasi empatik menjadi wujud nyata dari kesalehan sosial. Almarhum Buya Syafii Maarif dengan tegas mengingatkan:
“Islam yang tidak membela kemanusiaan akan kehilangan makna moralnya”.
Pernyataan ini menempatkan kemanusiaan sebagai inti ajaran Islam. Dalam konteks komunikasi, membela kemanusiaan berarti memperlakukan setiap orang dengan hormat dan empati, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi, tingkat pendidikan, maupun posisi kekuasaan. Semua manusia, pada hakikatnya hadir sebagai makhluk Allah yang memiliki martabat yang sama, namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, komunikasi sering kali berlangsung tidak setara.
Sejak kelahirannya, Muhammadiyah hadir membawa semangat memerdekakan manusia dari berbagai bentuk ketidakadilan—termasuk ketidakadilan yang tersembunyi dalam bahasa, sikap, dan cara kita berbicara satu sama lain. Cara berbicara yang merendahkan, menghakimi, atau meniadakan suara orang lain bukan hanya persoalan etika sosial, tetapi juga persoalan moral keagamaan. Bahasa dapat menjadi sarana pencerahan, tetapi juga dapat menjadi alat penindasan ketika kehilangan empati.
Islam memberikan panduan yang jelas mengenai etika berkomunikasi. Al-Qur’an tidak hanya mengatur apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana kata-kata itu diucapkan. Perkataan yang baik, jujur, dan lembut berulang kali ditegaskan sebagai bagian dari adab berkomunikasi seorang muslim. Bahkan kepada Fir’aun—penguasa yang dikenal keras dan zalim—Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara dengan kelembutan (QS. Thaha: 44). Pesan ini menegaskan bahwa empati tidak bergantung pada siapa yang dihadapi atau dalam situasi apa kita berada. Ia adalah prinsip akhlak yang mesti dijaga, justru ketika relasi kuasa tidak seimbang.
Dalam urusan memberi nasihat, pelajaran ini menjadi sangat relevan. Kebaikan tidak diajarkan dengan mempermalukan atau merendahkan orang lain. Nasihat yang disampaikan dengan bahasa yang kasar, membuka aib, atau melukai harga diri justru berisiko menutup ruang dialog. Sebaliknya, bahasa yang santun dan beradab memungkinkan pesan kebenaran diterima dengan lebih lapang. Dalam komunikasi yang empatik, kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan jalan untuk menghadirkan perubahan yang lebih tahan lama.
Teladan Rasulullah SAW semakin menegaskan pentingnya komunikasi empatik. Nabi dikenal sebagai pendengar yang baik dan tidak merendahkan siapa pun. Beliau menyesuaikan bahasa dengan kondisi lawan bicara, berbicara dengan penuh perhatian, dan menghadirkan rasa aman bagi siapa pun yang berinteraksi dengannya.
Dalam kajian ilmu komunikasi Barat, empati dipahami sebagai kemampuan memahami pengalaman orang lain secara kognitif dan emosional. Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, menempatkan empati sebagai prasyarat utama terciptanya relasi interpersonal yang sehat dan bermakna. Empati memungkinkan seseorang hadir sepenuhnya dalam percakapan—bukan untuk mendominasi, melainkan untuk memahami. Perspektif ini memiliki irisan yang kuat dengan nilai-nilai Islam tentang adab dan penghormatan terhadap sesama.
Selain itu, Martin Buber melalui konsep relasi I–Thou menekankan pentingnya memandang orang lain sebagai subjek yang utuh, bukan sekadar objek. Relasi dialog yang beradab menuntut lebih dari sekadar kepandaian berbicara. Ia menuntut kesediaan untuk hadir dengan empati dan mengakui martabat orang lain sebagai sesama manusia.
Dalam tradisi dakwah Muhammadiyah, cara pandang ini penting karena dakwah tidak pernah dimaksudkan untuk menundukkan, melainkan untuk mencerahkan dan memanusiakan. Komunikasi empatik bukan sekadar etika personal, melainkan bagian dari dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Tentu saja dakwah tidak hanya berlangsung di mimbar atau forum resmi, tetapi juga hadir dalam percakapan sehari-hari seperti bagaimana kita menyapa orang lain, mendengarkan keluhan masyarakat kecil, atau merespons perbedaan pendapat dengan adab.
Di situlah nilai Islam berkemajuan diuji dan dihidupkan. Cara seseorang berbicara, mendengarkan, dan merespons orang lain merupakan cerminan langsung dari akhlaknya. Kata-kata tidak berdiri sendiri; ia selalu membawa nilai, sikap batin, dan cara pandang terhadap sesama manusia.
Tantangan komunikasi hari ini semakin terasa di tengah suasana sosial yang mudah terbelah. Kata-kata bernada kebencian dengan cepat menyebar, terutama di ruang digital, sering kali empati tidak diberikan kesempatan untuk bekerja. Dalam keadaan seperti ini, akhlak justru diuji melalui cara kita berbicara—apakah kata-kata kita ikut menambah luka, atau justru membuka ruang untuk saling memahami.
Pada akhirnya, berbicara dengan hati adalah ikhtiar untuk menjaga keharmonisan dalam setiap perjumpaan. Ia menuntut kesadaran bahwa kata-kata bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dirasakan. Empati mengajarkan kita untuk menahan diri sebelum menghakimi, memilih bahasa yang merawat martabat, dan menyampaikan kebenaran tanpa melukai.
Dalam komunikasi yang demikian, akhlak tidak lagi sekadar konsep, melainkan hadir sebagai laku hidup sehari-hari. Di sanalah kesalehan sosial menemukan hakikatnya—dalam tutur yang lembut, sikap yang menghormati, dan komitmen untuk terus memanusiakan manusia, sebagaimana Islam mengajarkannya.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/01/komunikasi.jpg887799adminhttps://media.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2024/01/Logo-Unisa_Horisontal_bg_putih.pngadmin2026-01-03 00:00:592026-01-05 13:34:32Berbicara dengan Hati: Komunikasi Empatik sebagai Akhlak dan Kesalehan Sosial