UNISA Peduli Kespro Remaja Difabel

Universitas  ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta melakukan sosialisasi pentingnya kesehatan reproduksi remaja difabel (tunagrahita) melalui pembentukan kelompok motivator kesehatan reproduksi remaja difabel (tunagrahita) di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bantul, Kamis (2/2).

Menurut Dosen UNISA yang melakukan pengabdian ini, Islamiyatur Rokhmah, M.Ag., kegiatan ini merupakan program pengabdian masyarakat mengenai kesehatan reproduksi (Kespro)  UNISA Yogyakarta. Latar belakang dilakukannya pengabdian ini antara lain Masih sangat sedikit guru yang pernah mengikuti pelatihan kesehatan reproduksi 5 dari 77 (0,6 %) guru, sehingga sebagian guru mengatakan canggung dan malu kalau mendiskusikan masalah seksualitas dengan muridnya. Menurut informasi sekolah belum ada kurikulum khusus tentang kesehatan reproduksi untuk anak difabel sampai saat ini, sehingga materi kesehatan reproduksi hanya diberikan di sela sela pelajaran lainnya.

Peran orang tua juga masih kurang, mereka menganggap bahwa anak Tunagrahita tidak dapat memahami mengenai kebutuhan seksual, dan tidak memiliki dorongan atau keinginan terhadap seks selain karena pengetahuan orang tua yang kurang tentang kesehatan repoduksi.

Melihat permasalahan tersebut perlu dirancang suatu pendekatan untuk mentrasfer pengetahuan dan ketrampilan komunikasi terkait kesehatan reproduksi remaja difabel bagi masyarakat (guru, orang tua dan siswa). Kelompok motivator dapat diterapkan karena pada kedua mitra ini sudah  memiliki guru yang sudah mengikuti pelatihan kesehatan reproduksi, dan juga memiliki program pertemuan dengan wali murid secara berkala yang dapat dimanfaatkan untuk pelaksanaan kelompok motivator kesehatan reproduksi remaja.

Lebih lanjut Islam mengatakan Prosedur kerja dimulai dengan menyiapkan panduan tentang kesehatan reproduksi dan media pembelajaran. Selanjutkan dilakukan seleksi motivator yang terdiri dari kelompok guru, kelompok orang tua dan kelompok siswa. Pelatihan bagi Motivator terseleksi dan kemudian langkah terakhir adalah pendampingan. Para motivator dari masing masing kelompok dibagi 3 kelompok lagi. Kemudian masing masing kelompok akan membentuk dan mencari anggota baru sehingga terbentuk lagi kelompok baru (model multi level marketing). Dengan kelompok baru mereka ini, mereka akan didampingi untuk melakukan diskusi dengan menggunakan panduan dan media yang sudah disiapkan Jenis luaran yang dihasilkan adalah panduan kesehatan reproduksi remaja difabel dan terbentuknya kelompok motivator.

Harapannya, metode ini akan membantu masyarakat (guru, orang tua, remaja difabel)  dalam mengenal masalah kesehatan reproduksi remaja tunagrahita, sehingga mereka dapat melakukan upaya upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative terhadap masalah kesehatan reproduksi remaja. Melalui kelompok motivator ini mendorong peserta berpartisipasi secara aktif dan diskusi lebih terfokus, juga dapat menanamkan sikap yang positif dan dapat merubah perilaku seseorang.

 
 
 
 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *