Bahas strategi

Memasuki pertengahan tahun akademik, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta langsung tancap gas bahas strategi. Seluruh jajaran pimpinan dari berbagai unit kerja di lingkungan kampus berkumpul di Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah untuk melangsungkan pembukaan Rapat Kerja Tengah Tahun (RKTT) pada hari ini, Senin (23/02/2026).

Bahas Strategi

Rapat strategis yang diagendakan berlangsung selama dua hari, yakni 23 hingga 24 Februari 2026 ini, difokuskan untuk membedah, mengevaluasi, dan menyinergikan program lintas unit. Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat, menegaskan bahwa ego sektoral harus ditekan demi mencapai target kampus secara keseluruhan.

“Berorientasi pada mutu dan keberlanjutan, RKTT ini menjadi penunjuk arah pada pelaksanaan program di semester akhir ini. Kita harus mencermati program antar-unit sehingga terjadi kolaborasi yang menghasilkan capaian jauh lebih baik,” tutur Warsiti dalam sambutannya.

Menariknya, tak hanya berfokus pada target akademik dan tata kelola anggaran, RKTT kali ini juga menyoroti pentingnya fondasi spiritual dalam budaya kerja. Wakil Rektor IV UNISA Yogyakarta, Dr. Ali Imron, M.Fis, mengingatkan pentingnya implementasi nilai tauhid dalam ritme pekerjaan sehari-hari.

“Mari kita bersama-sama mengimplementasikan Tauhid. Segala keputusan organisasi harus kita lakukan dengan baik. Seperti pengelolaan keuangan yang lebih efektif dan efisien, itu adalah bentuk nyata dari Tauhid fungsional dan organisatoris,” tegas Imron.

Melalui RKTT 2026 ini, jajaran pimpinan UNISA Yogyakarta diharapkan semakin solid dan siap mengeksekusi program kerja dengan prinsip tata kelola yang profesional, efisien, serta bernafaskan nilai-nilai keislaman.

Keadilan

Universitas Aisyiyah Yogyakarta menghadirkan mantan Gubernur Jawa Tengah sekaligus politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Ganjar Pranowo, dalam Kuliah Kebangsaan setelah salat Tarawih di Masjid Walidah Dahlan, Rabu (18/2/2026).

Agenda tersebut mengangkat tema “Keadilan Sosial sebagai Ruh Peradaban: Perspektif Keislaman dan Kebangsaan.” Penyelenggaraan Kuliah Kebangsaan ini menjadi momentum strategis penguatan kualitas keimanan, ketakwaan, serta kepedulian sosial jamaah Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta selama Ramadan.

Keadilan Harus Diperjuangkan

Dalam kesempatan tersebut, Ganjar memberikan ceramah seputar keadilan sosial dengan perspektif keislaman dan kebangsaan. Bagi Ganjar, keadilan adalah terbukanya kesempatan yang sama kepada setiap orang tanpa pandang bulu, baik miskin maupun kaya. Momentum Ramadan menjadi pengingat bahwa di sekitar kita masih banyak orang yang tidak mendapatkan haknya.

“Apakah setiap orang punya kesempatan yang sama dalam akses pendidikan? Dalam kesehatan, apakah keadilan berjalan atau tidak?” tanya Ganjar memantik diskusi dengan jamaah. Menurutnya, akses yang terbuka sangat penting untuk memastikan kesejahteraan dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Ganjar menyitir sebuah penelitian skripsi dari pelawak legenda, Dono Warkop DKI. Dalam penelitian tersebut ditemukan fakta bahwa status sosial ekonomi keluarga berbanding lurus dengan prestasi murid di sekolah. Temuan ini membuktikan perlunya akses pendidikan bagi orang miskin tanpa diskriminasi kualitas sedikit pun.

“Jika saya tidak punya akses ke perguruan tinggi, hari ini saya tidak akan diundang di sini,” ucap Ganjar, meyakinkan jamaah bahwa keadilan dalam pendidikan menjadi hal fundamental bagi kemajuan bangsa.

“Apakah kita memiliki akses yg sama terhadap pendidikan? Apakah kita memberikan bantuan kepada siapa pun dengan akses yang sama tanpa membedakan? Maka keadilan sosial ialah memiliki akses pendidikan, kesehatan, dan sosial yang sama. Hak orang kaya dan orang miskin sama. Tidak semuanya harus kaya, tapi tidak ada diskriminasi,” katanya menambahkan.

Ketika seluruh hak masyarakat tidak terpenuhi, Ganjar memastikan akan ada suara-suara yang menuntut keadilan. Ia menyayangkan bahwa keadilan sosial seperti yang tertuang dalam sila kelima Pancasila sampai hari ini belum terlaksana dengan sempurna. Beberapa kebijakan, pada kenyataannya, justru mengorbankan hak rakyat kecil.

“Ada sila ke lima, tapi jarak si kaya dan miskin makin jauh. Maka, treatment-nya yang miskin harus diperhatikan. Kebijakan publik mesti menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Pertanyaannya, apakah kita masih punya adab untuk memperlakukan manusia dengan setara?” ucap Ganjar.

Untuk mengatasi masalah keadilan ini, Ganjar mengingatkan para pemangku kebijakan agar menegakkan keadilan dengan setegak-tegaknya. Korupsi, kolusi, dan nepotisme perlu disingkirkan agar keadilan sosial bagi seluruh rakyat dapat terwujud. Ganjar memberi contoh bahwa Rasulullah saw. menegaskan jika anaknya, Fatimah ra., mencuri, maka beliau sendiri yang akan memotong tangannya. Sabda Nabi ini harus menjadi panutan bagi pemimpin.

Selain itu, Ganjar juga mengajak setiap orang menanamkan nilai-nilai keadilan dalam dirinya masing-masing.

“Kita harus adil dimulai dari diri sendiri. Bahkan kita harus adil walau itu merugikan diri sendiri,” katanya.

Sebagai negara yang disebut paling dermawan di dunia, Ganjar meyakini bahwa masyarakat Indonesia pasti bisa mewujudkan keadilan sosial sebaik-baiknya. Baginya, Indonesia tidak kekurangan orang baik. Dalam momentum Ramadan, misalnya, kita jamak menemukan orang-orang saling berbagi dan bersedekah. Fenomena ini menunjukkan bahwa kita masih saling peduli untuk mewujudkan keadilan dan mengentaskan ketimpangan.

“Keadilan sosial adalah cita-cita yang harus diperjuangkan. Jika kita diam, keadilan itu tidak akan terwujud,” tambah Ganjar.

bidan

Perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara gading. Semangat inilah yang dibuktikan oleh mahasiswa Program Studi Profesi Bidan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Selama satu bulan penuh, mulai 5 Januari hingga 7 Februari 2026, mereka terjun langsung ke tengah masyarakat Padukuhan Karang Tengah, Nogotirto, Gamping, Sleman.

Mahasiswa Bidan

Melalui program Praktik Kebidanan Komunitas, para calon bidan profesional ini melakukan penelitian membenahi kualitas kesehatan warga. Tak tanggung-tanggung, mereka menyasar seluruh siklus kehidupan, mulai dari bayi hingga lansia.

Koordinator kegiatan, Ellyda Rizki Wijhati, S.ST.,M.Keb., mengungkapkan bahwa mahasiswa mengawali kegiatan dengan mendata 609 Kepala Keluarga (KK). Dari data tersebut, dipilih 140 KK untuk mendapatkan pendampingan intensif one-on-one.

“Fokus kami menyeluruh. Untuk bayi dan balita, mahasiswa melakukan skrining tumbuh kembang menggunakan KPSP kepada 99 anak. Hasilnya menggembirakan, 100 persen tumbuh kembang mereka sesuai usia,” ujar Ellyda.

Selain balita, mahasiswa juga memantau ketat ibu hamil risiko tinggi. Tiga bumil yang mengalami Kekurangan Energi Kronik (KEK) dan risiko perdarahan mendapatkan intervensi khusus agar persalinan nanti berjalan aman.

Salah satu terobosan penting dalam praktik kali ini adalah edukasi kesehatan reproduksi. Mahasiswa berhasil mengajak 36 Pasangan Usia Subur (PUS) untuk melakukan pemeriksaan HPV DNA di Puskesmas Gamping II. Langkah ini krusial sebagai deteksi dini kanker serviks yang menjadi pembunuh nomor satu wanita di Indonesia.

Tak hanya orang dewasa, 68 remaja putri juga dilatih melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) untuk mencegah kanker payudara, serta edukasi mengenai nyeri haid (dismenore).

Di sektor penyakit tidak menular, mahasiswa menggelar cek kesehatan gratis yang diikuti antusias oleh warga. Sebanyak 88,2 persen dari 229 warga yang dikaji berhasil diskrining terkait risiko hipertensi dan diabetes melitus.

Kegiatan yang didukung penuh oleh Puskesmas Gamping II ini membuktikan bahwa lulusan UNISA Yogyakarta tidak hanya jago kandang di klinik, tapi juga tangguh di lapangan. Mereka mampu berbaur, mulai dari urusan medis hingga aktif di kegiatan pengajian warga, menegaskan profil lulusan yang kompeten dan berjiwa sosial.

Kampus

Reputasi Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta sebagai kampus berwawasan kesehatan unggulan dan tata kelola kualitas kembali diakui. Pada Selasa (10/02/2026), dua perguruan tinggi besar, yakni Universitas Gunadarma Jakarta dan Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong, jauh-jauh datang ke UNISA Yogyakarta untuk silaturahmi dan studi banding.

Kampus Unggul

Acara Open Day Studi Banding ini diadakan di Ruang Rapat Fakultas Kedokteran, Gedung Siti Bariyah. Kedua tamu ini memiliki misi khusus untuk membedah dapur keunggulan UNISA Yogyakarta.

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) UNISA Yogyakarta, Dr. Dewi Rokhanawati, S.SiT., M.PH, menyambut langsung rombongan tersebut. Dalam sambutannya, Dewi menegaskan bahwa UNISA selalu terbuka untuk berbagi praktik baik (best practice) demi kemajuan pendidikan Indonesia.

“Terima kasih telah mempercayakan kami sebagai tempat silaturahmi. Ini momen yang tepat untuk saling bertukar ilmu dan strategi dalam mengembangkan institusi pendidikan kita masing-masing,” tutur Dewi dengan hangat.

Wakil Dekan III Universitas Gunadarma, Dr. Rini Damayanti, MPH, blak-blakan mengungkapkan alasan memilih UNISA Yogyakarta. Pihaknya secara khusus ingin melakukan studi banding ke Prodi Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan.

UNISA Yogyakarta memiliki berbagai wahana dan pengalaman matang di bidang kesehatan, khususnya kebidanan. Kami ingin mengimplementasikan sistem penjaminan mutu dan kurikulum yang ada di sini ke institusi kami,” ujar Rini.

Sementara itu, Kabid Perencanaan dan Pengembangan UNIMUDA Sorong, Dr. Nouval Rumaf, M.Pd., fokus pada aspek tata kelola manajerial. Ia dan tim menyasar Badan Penjaminan Mutu (BPM) UNISA untuk mempelajari Manajemen Risiko.

“Pengendalian Mutu Internal dan Manajemen Risiko adalah hal strategis. Kami ingin belajar bagaimana UNISA mengelolanya untuk persiapan akreditasi institusi ke depan,” jelas Nouval.

Usai seremoni pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi teknis yang intensif. Para delegasi dibagikan ke dalam ruangan yang berbeda sesuai tujuan masing-masing Prodi Kebidanan dan BPM untuk menggali ilmu lebih dalam.

Skripsi

Siapa bilang lulus kuliah harus pusing memikirkan skripsi? Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menawarkan jalur sakti bagi mahasiswanya. Lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026, ratusan mahasiswa diajak berkompetisi untuk meraih tiket emas Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).

Tanpa Skripsi

Antusiasme tinggi terlihat di Gedung Siti Moendjijah, Sabtu (07/02/2026). Sebanyak 190 mahasiswa memadati ruang kelas untuk menyimak strategi lolos pendanaan dalam acara Sosialisasi PKM yang digelar oleh Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA).

Koordinator sekaligus narasumber acara, Silvi Lailatul Mahfida, S.Gz., MPH menegaskan bahwa UNISA Yogyakarta tidak main-main dalam mendorong budaya prestasi. Menurutnya, PKM bukan sekadar lomba, tapi ladang cuan dan nilai.

“Keuntungan ikut PKM itu banyak. Mahasiswa bisa dapat Poin dan Koin. Poinnya berupa konversi nilai mata kuliah (AKKM), sedangkan Koin adalah reward uang tunai dari universitas jika proposal didanai,” ungkap Silvi.

Namun, daya tarik utamanya bukan hanya uang. Silvi menambahkan, bagi tim yang sukses menembus panggung PIMNAS, kampus memberikan apresiasi tertinggi berupa Bebas Skripsi.

Kisah Sukses Tembus PIMNAS

Agar mahasiswa punya gambaran nyata, acara ini menghadirkan Septiyaningsih, anggota tim UNISA yang sukses lolos PIMNAS ke-38 di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Septiyaningsih membagikan tips menyusun proposal yang kompetitif dan menceritakan pengalaman serunya berkompetisi di level nasional.

“Lolos PIMNAS adalah pengalaman yang tak terlupakan. Yang paling melegakan, kami benar-benar mendapatkan reward bebas skripsi sebagai apresiasi kampus,” ujarnya yang disambut tepuk tangan peserta.

Melalui pembekalan strategi ini, BKA UNISA Yogyakarta berharap ide-ide liar dan kreatif mahasiswa dapat teralisasi menjadi karya nyata yang berdampak bagi masyarakat, sekaligus mengharumkan nama kampus di kancah nasional.