Dari Pangan Lokal ke Tren Kuliner Modern Mengenal Potensi Kimpul di Unisafest 2026
“Di Tengah Tren Kuliner Modern, Seberapa Besar Potensi Kimpul sebagai Alternatif Sumber Karbohidrat?”
Di tengah perkembangan tren kuliner modern dan meningkatnya perhatian generasi muda terhadap gizi seimbang, pangan lokal memiliki peluang untuk kembali mendapat tempat di meja makan. Salah satunya adalah kimpul, jenis umbi yang berpotensi menjadi alternatif sumber karbohidrat sekaligus diolah menjadi beragam hidangan kreatif.
Semangat tersebut turut dihadirkan dalam Unisa Festival 2026 yang mengusung tema “Mlampah Sesarengan”. Melalui kegiatan ini, Suratini atau yang akrab dikenal sebagai “Bu Kimpul” hadir untuk mengenalkan potensi bahan pangan lokal, khususnya kepada generasi muda. Pengenalan ini menjadi upaya untuk mengajak peserta melihat bahwa pangan lokal tidak hanya berkaitan dengan tradisi, tetapi juga dapat dikembangkan mengikuti kreativitas dan perkembangan kuliner masa kini.
Di tengah beragam pilihan makanan modern, pengenalan kembali pangan lokal menjadi penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, semakin mengenal kekayaan bahan pangan yang tersedia di Indonesia. Kimpul menjadi salah satu contoh bagaimana bahan pangan yang mungkin belum banyak dimanfaatkan dalam menu sehari-hari dapat diolah menjadi hidangan yang lebih menarik dan akrab dengan selera anak muda.
Melanjutkan Warisan Pangan Lokal untuk Masa Depan
Di balik beragam inovasi yang ditampilkan, terdapat pesan penting dari Bu Kimpul mengenai keberlanjutan pemanfaatan pangan lokal. “Ini bukan permulaan, tetapi meneruskan apa yang sudah ada,” ujar Bu Kimpul dalam kegiatan Unisa Festival 2026, di Kampus Terpadu Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Jumat (9/10/2026).
Pesan tersebut menegaskan bahwa pengembangan pangan lokal bukan sekadar menciptakan tren baru, melainkan melanjutkan pemanfaatan bahan pangan yang telah tersedia agar tetap dikenal dan relevan dengan perkembangan zaman. Generasi muda memiliki peran dalam proses ini, baik melalui pengenalan bahan pangan, eksplorasi resep, maupun dukungan terhadap produk lokal.
Selain memperluas pilihan konsumsi, inovasi olahan kimpul juga berpotensi membuka peluang ekonomi bagi petani dan pelaku usaha pangan. Apabila produk berbahan kimpul memperoleh minat pasar yang berkelanjutan, kebutuhan terhadap bahan baku dapat berkembang dan menciptakan peluang nilai tambah. Meski demikian, manfaat ekonomi tersebut tetap bergantung pada permintaan konsumen, ketersediaan bahan baku, dan keberlanjutan usaha.
Dari Kimpul dan Kacang Benguk Menjadi Sajian Kreatif
Pada kesempatan Unisa Festival 2026, Bu Kimpul juga membuat olahan makanan dari kimpul. Dalam kesempatan tersebut, ia memperkenalkan Japanese kimpul salad, sebuah kreasi salad yang memadukan kimpul dengan saus salad bercita rasa asam dan manis. Sajian ini memperlihatkan bagaimana bahan pangan lokal dapat diolah dengan inspirasi kuliner modern menjadi hidangan yang berbeda dari penyajian umbi pada umumnya.
Selain demonstrasi memasak, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai produk olahan, seperti pastry benguk dan bitterballen kimpul. Kehadiran produk-produk tersebut menunjukkan bahwa kimpul dan kacang benguk dapat dieksplorasi melalui beragam teknik pengolahan dan penyajian. Bahan pangan lokal tidak harus selalu disajikan dengan cara tradisional, tetapi dapat dikreasikan menjadi produk yang memiliki daya tarik tersendiri.
Kegiatan ini sekaligus memberikan gambaran bahwa inovasi pangan tidak selalu harus dimulai dari bahan yang baru. Bahan yang telah lama dikenal dapat dikembangkan kembali melalui kreativitas resep, perpaduan rasa, teknik memasak, dan tampilan produk yang lebih modern.
Mengenal Kimpul dari Perspektif Gizi
Dari perspektif gizi, kimpul merupakan salah satu umbi yang mengandung karbohidrat, terutama dalam bentuk pati. Pati tersusun atas amilosa dan amilopektin, dua komponen yang memiliki karakteristik berbeda dan turut memengaruhi sifat pati selama proses pengolahan. Karakteristik tersebut menjadi salah satu hal yang menarik untuk dipelajari dalam pengembangan produk pangan berbahan kimpul.
Kimpul juga berpotensi mendukung diversifikasi pangan, yaitu upaya memperluas pilihan sumber karbohidrat selain nasi. Selama ini, nasi menjadi makanan pokok bagi banyak masyarakat Indonesia. Padahal, terdapat beragam sumber karbohidrat lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pola makan yang bervariasi, termasuk umbi-umbian.
Meski demikian, pemanfaatan kimpul sebagai alternatif sumber karbohidrat tetap perlu mempertimbangkan porsi, kebutuhan energi, serta komposisi makanan secara keseluruhan. Kimpul bukan sekadar pengganti nasi, tetapi juga bagian dari upaya mengenalkan keragaman pangan lokal kepada masyarakat.
Kimpul kerap dikaitkan dengan potensi indeks glikemik yang rendah. Namun, klaim tersebut perlu didukung penelitian yang sesuai karena indeks glikemik dapat dipengaruhi oleh jenis bahan, tingkat kematangan, cara pengolahan, dan komposisi produk. Oleh karena itu, pengembangan olahan kimpul perlu diiringi pemahaman gizi agar inovasi yang dihasilkan tidak hanya menarik dari segi rasa dan tampilan, tetapi juga memperhatikan kualitas gizinya.
Kreativitas Peserta Membawa Kimpul ke Berbagai Olahan
Ketertarikan terhadap pangan lokal juga terlihat melalui beragam kreasi yang dihadirkan dalam lomba inovasi pangan. Kimpul tidak hanya diperkenalkan dalam bentuk umbi atau sajian sederhana, tetapi dikembangkan menjadi berbagai produk yang lebih dekat dengan tren kuliner masa kini.
Beberapa kreasi yang menarik perhatian antara lain brownies dengan topping cokelat, cheesecake stroberi berbahan kimpul, getuk, kroket kimpul, Groodpul Wrap, kimpul brulee, kimbap kimpul, hingga puding kimpul. Ragam olahan tersebut menunjukkan luasnya peluang untuk mengeksplorasi kimpul menjadi makanan dengan bentuk, tekstur, dan karakter rasa yang berbeda.
Kreativitas peserta menjadi salah satu bagian penting dalam pengenalan pangan lokal. Melalui inovasi tersebut, kimpul tidak hanya dipandang sebagai bahan pangan tradisional, tetapi juga sebagai bahan yang dapat dikembangkan menjadi produk kuliner dengan tampilan lebih modern. Perpaduan antara bahan lokal dan inspirasi hidangan populer memberikan cara baru untuk memperkenalkan kimpul kepada generasi muda.
Lebih dari sekadar menghasilkan makanan yang menarik, kegiatan ini juga membuka ruang bagi peserta untuk mengenal karakteristik bahan pangan lokal dan mengeksplorasi kemungkinan pengolahannya. Kegiatan seperti ini dapat menjadi sarana pembelajaran bahwa inovasi pangan membutuhkan kreativitas sekaligus pemahaman mengenai bahan yang digunakan.
Ketika Inovasi Pangan Lokal Bertemu Generasi Muda
Pengenalan kimpul melalui demonstrasi memasak dan lomba inovasi pangan menjadi salah satu cara untuk mendekatkan bahan pangan lokal kepada mahasiswa dan civitas akademika. Pendekatan yang melibatkan pengalaman langsung dapat membantu peserta mengenal bahan pangan tidak hanya melalui penjelasan, tetapi juga melalui proses pengolahan dan hasil produk yang dapat diamati.
Bagi generasi muda, tampilan makanan, variasi rasa, dan kreativitas penyajian dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal bahan pangan yang sebelumnya kurang akrab. Melalui kegiatan Unisa Festival 2026, pengenalan kimpul memperlihatkan bahwa pangan lokal memiliki ruang untuk terus dikembangkan. Inovasi tidak harus menghilangkan identitas bahan aslinya. Sebaliknya, kreativitas dapat menjadi cara untuk mempertahankan keberadaan pangan lokal sekaligus memperkenalkannya kepada konsumen dari generasi yang berbeda. (Fitria Nurul Aisyah)








































Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!