Pengembangan Keilmuan Bagi Perempuan Berkemajuan di Era Klasik dan Kontemporer

Kalau kita ingin mengetahui transisi era klasik ke era  modern, maka lihatlah Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal Hamka. Tahun 1930-an Hamka sudah jadi tokoh Muhammadiyah di Bukit Tinggi, Padang Panjang. Dia telah menulis “Tenggelamnya Kapal van der Wijck”. Pergumulan klasik – modern ada di diri Hamka. Hal tersebut di sampaikan oleh Prof. Dr. HM Amin Abdullah, dalam kegiatan Pengajian Ramadhan 1442 H di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA),  Rabu (28/4).

Muhammadiyah hadir abad ke-20 (1912) setelah mengenal model pendidikan agama saja (pesantren, dayah, surau) dan pendidikan umum saja (sekolah), Zending-Kristen bersama kehadiran Portugis-Belanda. Kemudian, Muhammadiyah memadukannya menjadi agama-umum (madrasah).

Pandangan keilmuan keislaman di era disruptif yaitu cara atau model pembelajaran, berpikir dan beragama yang mampu: (1) menyatupadukan informasi, data, teknik, alat-alat, perspektif, konsep, (2) untuk memajukan pemahaman fundamental atau (3) untuk memecahkan “permasalahan tertentu” yang pemecahannya berada di luar wilayah jangkauan satu disiplin tertentu atau wilayah praktik penelitian tertentu.

Adapun cara berpikir dan beragama yang bercorak multidisiplin, interdisiplin dan transdisiplin yaitu: (1) Melibatkan berbagai pendekatan, (2) Mampu memecah kebekuan dan kejenuhan disiplin ilmu (sains, social, humaniora, agama) yang berdiri sendiri-sendiri, (3) Mampu melunakkan batas-batas kaku antara berbagai disiplin ilmu, (4) Menciptakan ruang intelektual-spiritual baru.

2 komentar pada "Pengembangan Keilmuan Bagi Perempuan Berkemajuan di Era Klasik dan Kontemporer"

    1. Terimakasih Ibu.
      Alhamdulillah acara berjalan lancar. Dan Unisa Yogyakarta bisa menghadirkan pembicara yang hebat.
      semoga kedepan Unisa yogyakarta semakin unggul dan terdepan.

Komentar ditutup.