Pertemuan Wali Mahasiswa Baru

SAY Kampus Terpadu STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta (SAY) dipenuhi warna yang beragam dari berbagai penjuru Nusantara, dari Sabang hingga Merauke. Para Orang tua wali mahasiswa baru datang ke SAY untuk bersilaturahmi dan menjalin komunikasi dengan pimpinan dan para dosen, Sabtu (29/8).

Ketua STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta, Warsiti, S.Kp.,M.Kep.,Sp.Mat., menjelaskan bahwa tahun ini terseleksi 943 mahasiswa dari 1912 pendaftar. Mereka berasal dari 33 propinsi di Indonesia. Lebih lanjut Warsiti, menyampaikan beberapa prestasi SAY diantaranya akreditasi institusi B dan semua program studi yang ada di SAY juga sudah terakreditasi B.

Silaturahmi yang diadakan SAY sangatlah efektif. Karena banyak orang tua yang tidak paham tentang perkuliahan anaknya. Dengan silaturrahmi ini semua dapat dipahami dan SAY telah berhasil menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua/wali mahasiswa.

Lulusan SAY Siap Hadapi MEA

Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah didepan mata, Yang bekerja di Indonesia tidak hanya tenaga kerja dari Indonesia, demikian pula sebaliknya. Dengan perkembangan fisik serta di dukung dengan SDM yang mumpunii, STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta (SAY) harus siap menghadapi era MEA. Hal tersebut di ungkapkan oleh Koordinator KOPERTIS Wilayah V DIY, Dr. Ir Bambang Supriyadi, CES., DEA saat wisuda SAY,di auditorium baru SAY, Sabtu (29/8).

Senada dengan hal tersebut, Ketua STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta, Warsiti, S.Kp.,M.Kep.Sp.Mat, berpesan kepada para lulusan bahwa untuk memenangkan persaingan di era MEA, para lulusan harus meningkatkan kompetensi, karena ilmu yang sekarang akan dirasa usang 4-5 tahun mendatang. Dan tingkatkan kemampuan menjadi tenaga kesehatan professional qurani, karena itu yang akan menjadi pembeda dengan lulusan sekolah tinggi kesehatan lainnya.

Lebih lanjut Warsiti berharap agar para lulusan menjadi pribadi inovatif dan kreatif serta menjadi kader persyarikatan Muhammadiyah/’Aisyiyah.

Pada wisuda tahun ajaran 2014-2015 ini tercatat jumlah lulusan 681 orang yang terdiri dari program sarjana 124 orang dan diploma 517 serta program profesi ners sejumlah 40 orang. Rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang diperoleh adalah 3.32 dan 3.35 untuk program diploma. Rata-rata masa studi tepat waktu adalah 88%. Total jumlah lulusan dengan predikat dengan pujian (cumlaude) adalah 142 (20.8%).

Wawasan Bekerja di Jepang untuk Alumni SAY

Unit kemahasiswaan dan alumni STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta menggelar pembekalan untuk para alumni yang akan wisuda 29 Agustus mendatang. Pembekalan yang diisi oleh BP3TKI Yogyakarta ini dilaksanakan di hall 4 SAY, Selasa(25/8).

Ari Roesmayani, Kasi Kelembagaan dan Pemasyarakatan Program BP3TKI ini menjelaskan kepada alumni SAY mengenai peluang kerja TKI nurse dan careworker di Jepang. Dalam kesempatan itu secara rinci Roesmayani menjelaskan tentang jenjang karier kerja di jepang, gaji dan tunjangan dan prosedur penempatan. 

Sejumlah 700 alumni SAY yang terdiri dari prodi kebidanan D3, Kebidanan D4, Keperawatan S1 dan Fisioterapi S1 mengikuti acara tersebut. Harapannya para alumni mendapat wawasan dan gambaran bekerja di luar negeri khususnya Jepang.

Rosalia: Bidan Harus Tingkatkan Mutu

Fenomena yang ada saat ini tentang pendidikan Kebidananadalah jumlah institusi yang terlalu banyak, lulusan DIII Kebidanan yang sulit mencari pekerjaan dan animo masyarakat yang menurun terhadap pendidikan Kebidanan. Sedangkan situasi dipelayanan adalah lulusan tidak terampil, lulusan tidak terserap, bargaining gaji menjadi sulit, upah gaji dibawah minimum, lulusan banyak melamar di Rumah Bersalin, Rumah Sakit dan yang mempengaruhi dipelayanan adalah perubahan sistem Jaminan Kesehatan nasional berupa BPJS, hal ini menjadi kunjungan pasien ke bidan menurun drastis. Berdasarkan hal tersebut, Program Magister Kebidanan SAY menggelar diskusi terbatas tentang bidan di era JKN dalam perspektif antropologi kesehatan, di Kampus terpadu SAY, Senin (24/8).

Wakil Ketua bidang akademik, Ismarwati, MPH., dalam sambutannya menjelaskan bahwa kesiapan Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dari beberapa aspek perlu kesiapan tersendiri. Secara kuantitas tenaga kesehatan kita khususnya bidan sudah cukup banyak dan era MEA persaingan semakin ketat. Melalui diskusi ini diharapkan bisa dipaparkan berbagai permasalahan dan mendapatkan strategi menghadapi era JKN bagi bidan.

Dalam kesempatan tersebut Associate Profesor Rosalia Sciortino dari Mahidol Universty Thailand memaparkan bahwa perspektif antropologi kesehatan tentang tantangan tenaga kesehatan di era JKN berkaitan dengan ketersediaan kualitas dan akuntabilitas. Indonesia masih jauh tertinggal dari Vietnam dan Filipina. Kondisi tenaga kesehatan yang perlu dilirik lainnya adalah promosi kesehatan, ahli gizi dan lainnya. Perlu kajian ilmu sosial, analisis kebijakan dan advokasi kesehatan untuk mensikapi bagaiamanakah peran bidan di era JKN ini.

Lebih lanjut Rosalia menegaskan bahwa tantangan ke depan pelaksaan JKN bagi tenaga kesehatan bidan adalah mengintegrasikan pelayanan bidan dalam JKN. Bidan perlu mengidentifikasi peran dalam JKN dengan meningkatkan mutu,distribusi dan akuntabilitas. Selain itu bidan perlu merefresh kembali peran promotif dan preventif serta memperjuangkan dalam konsep JKN.