Agenda ramadan

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta melalui Masjid Walidah Dahlan menyiapkan 15 agenda Ramadan 1447 H yang akan digelar sepanjang Februari hingga Maret 2026. Rangkaian kegiatan ini mencakup program ibadah, kajian, sosial, hingga penguatan kepemimpinan.

Ketua Panitia Ramadan UNISA Yogyakarta, Dr. Askuri, M.Si., mengatakan agenda Ramadan tahun ini mengusung tema “Equal Piety: Mewujudkan Kesalehan yang Menyatukan Kesetaraan dan Kemajuan.” Tema tersebut menjadi ajakan agar Ramadan tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga membangun kepedulian sosial dan semangat bergerak maju.

“Kegiatan Ramadan ini kami rancang sebagai ruang bersama untuk memperkuat iman, membina karakter, dan menghadirkan kesalehan yang menyatukan. Ramadan mengajarkan kita tentang kesetaraan sekaligus mendorong kemajuan,” ujar Dr. Askuri.

Ia menambahkan, seluruh kegiatan terbuka bagi civitas akademika UNISA Yogyakarta maupun masyarakat umum.

Jadwal Lengkap Agenda Ramadan UNISA Yogyakarta 1447 H

Berikut agenda Ramadan di Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta:

  1. Pengajian Sangaji Songsong Ramadhan (31 Januari 2026)
  2. Shalat Tarawih dan Kuliah Ramadhan (17 Februari – 18 Maret 2026)
  3. Serial Kuliah Kebangsaan Ramadhan (18 & 25 Februari 2026)
  4. Ramadhan Islamic Leadership Training (12 – 13 Maret 2026)
  5. Buka Puasa Bersama (18 Februari – 19 Maret 2026)
  6. Tadarus Al-Qur’an (17 Februari – 18 Maret 2026)
  7. Ramadhan Stage (18 Februari – 19 Maret 2026)
  8. Ta’awun Ramadhan (20 Februari 2026)
  9. Kuliah Subuh (18 & 23 Februari 2026)
  10. Narasi Senja (19 & 24 Februari 2026)
  11. Dialog Ruang Ketiga (26 – 27 Februari 2026)
  12. Senja Berkisah (7 Maret 2026)
  13. Ramadhan I’tikaf Camp (RAICA) (9 – 19 Maret 2026)
  14. Shalat Idul Fitri (20 Maret 2026)
  15. Syawalan (31 Maret 2026)

Dr. Askuri berharap rangkaian agenda ini dapat menjadi ruang penguatan nilai Ramadan di kampus, sekaligus menghadirkan manfaat sosial yang lebih luas.

“Kami mengundang seluruh jamaah untuk hadir dan memakmurkan Masjid Walidah Dahlan. Semoga Ramadan ini menjadi Ramadan yang lebih baik untuk semua,” tutupnya.

Kuliah ramadan

Rektor Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., mengisi Kuliah Ramadan dalam rangkaian Sholat Tarawih di Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta, Senin (17/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembuka agenda Ramadan di Masjid Walidah Dahlan yang berlangsung sepanjang bulan suci.

Kuliah Ramadan

Dalam ceramahnya, Dr. Warsiti menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh jamaah yang terus memakmurkan masjid. Ia menekankan bahwa suasana Ramadan selalu membawa kebahagiaan, terlihat dari antusiasme masyarakat di berbagai ruang publik.

“Terima kasih kepada seluruh jamaah yang terus memakmurkan masjid. Ramadan disambut dengan hati yang bahagia. Vibes Ramadan ada di mana-mana, bahkan di mall dan pasar pun semua menyambut dengan suka cita,” ujarnya.

Dr. Warsiti menjelaskan bahwa Ramadan merupakan momentum penting untuk menyucikan diri, memperkuat iman, serta memperbaiki kualitas keislaman secara utuh. Ia mengingatkan bahwa seluruh ibadah Ramadan seharusnya diawali dengan niat yang tulus, sekaligus menjadi ruang membina karakter.

“Ramadan adalah momentum untuk memperkuat iman dan memperbaiki diri. Semua berawal dari niat yang tulus. Ramadan ini juga ruang yang sangat besar untuk membina karakter,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Warsiti turut mengangkat tema besar Ramadan UNISA Yogyakarta, yaitu “Equal Piety: Mewujudkan Kesalehan yang Menyatukan Kesetaraan dan Kemajuan.” Menurutnya, tema ini sangat relevan karena Ramadan mengajarkan nilai kesetaraan, tanpa membedakan jabatan, pangkat, maupun latar belakang.

“Ramadan mengajarkan kepada kita bahwa kita semua sama, tidak memandang pangkat, jabatan, atau posisi apa pun. Equal piety adalah kesalehan yang tidak membedakan, namun menyatukan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Dr. Warsiti mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum bergerak maju dengan menetapkan target pribadi. Ia mengingatkan bahwa Ramadan adalah kesempatan terbaik untuk memperbarui tekad dan membangun kualitas diri yang lebih baik.

“Ramadan melatih kita untuk bergerak maju. Mari buat target Ramadan ini mau apa. Mari sama-sama menguatkan tekad untuk Ramadan yang lebih baik untuk semua,” ujarnya.

Ia juga memaparkan nilai-nilai karakter yang terbentuk melalui amalan Ramadan. Puasa, menurutnya, melatih integritas. Sholat Tarawih melatih konsistensi. Sedekah melatih empati sosial, sementara membaca Al-Qur’an membangun kedalaman berpikir, ketenangan hati, serta memperkuat kecerdasan spiritual.

“Puasa melatih integritas. Tarawih melatih konsistensi. Sedekah melatih sikap sosial dan empati. Membaca Al-Qur’an melatih berpikir lebih mendalam, menenangkan hati, dan memperkuat kecerdasan spiritual,” jelasnya.

Dr. Warsiti menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut jika dibawa ke kehidupan sehari-hari, khususnya dalam pelayanan kepada masyarakat, akan menghadirkan kemajuan dalam akhlak, etos kerja, serta kualitas amal nyata.

“Kesalehan itu harus terwujud dalam amal nyata kita. Ketika nilai-nilai Ramadan kita bawa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat melayani masyarakat, maka akan menghadirkan kemajuan dalam akhlak dan etos kerja,” tambahnya.

Sementara itu, Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta juga menyiapkan rangkaian kegiatan Ramadan 1447 H yang terbuka untuk jamaah, mulai dari Sholat Tarawih dan Kuliah Ramadan, tadarus Al-Qur’an, buka puasa bersama, kuliah subuh, hingga Ramadhan Islamic Leadership Training serta berbagai agenda inspiratif lainnya.

Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta mengajak seluruh civitas akademika dan masyarakat untuk turut memakmurkan masjid dan mengikuti rangkaian program Ramadan sebagai ruang memperkuat iman, memperluas manfaat sosial, serta membangun karakter menuju kesalehan yang menyatukan.

Penghargaan

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali meraih penghargaan dibidang  komunikasi strategis. Kepala Biro Humas dan Protokol UNISA Yogyakarta, Sinta Maharani, S.Sos., M.I.Kom, meraih penghargaan INSAN PR INDONESIA 2026padaSubkategori Kepala Biro Humasdalam ajang11th PR INDONESIA Awards 2026.

Penghargaan INSAN PR

Penganugerahan PR INDONESIA Awards 2026 berlangsung pada 13 Februari 2026 di Yogyakarta. Penghargaan ini diraih setelah melalui proses penjurian ketat yang dilaksanakan pada 17–18 Desember 2025.

Dewan juri yang terdiri dari praktisi serta pakar komunikasi nasional menilai kompetensi kepemimpinan, konsistensi, serta strategi komunikasi yang dijalankan institusi dalam membangun reputasi dan menjaga kepercayaan publik. Tahun ini, ajang PR INDONESIA Awards diikuti oleh 534 entri dari berbagai kategori kompetisi, dengan total pemenang yang diumumkan berjumlah 269.

Bagi UNISA Yogyakarta, capaian ini bukan sekadar trofi, melainkan pengakuan atas konsistensi institusi perguruan tinggi dalam menjadikan komunikasi sebagai bagian tak terpisahkan dari tata kelola organisasi.

Sinta Maharani menyampaikan bahwa penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus memperkuat peran humas sebagai penghubung strategis antara institusi dan publik.

“Penghargaan ini saya persembahkan untuk UNISA Yogyakarta dan seluruh tim yang selama ini bekerja bersama dalam menjaga kepercayaan publik. Bagi kami, komunikasi bukan sekadar publikasi, tetapi bagian dari tata kelola, pelayanan, dan tanggung jawab institusi kepada masyarakat,” ungkap Sinta.

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut juga mencerminkan komitmen UNISA Yogyakarta untuk menghadirkan komunikasi yang adaptif, akurat, dan berdampak.

“Di tengah dinamika informasi yang begitu cepat, humas perguruan tinggi dituntut untuk hadir bukan hanya sebagai penyampai kabar baik, tetapi juga sebagai pengelola reputasi, pendengar publik, dan penguat nilai institusi. Semoga capaian ini menjadi semangat untuk terus bertumbuh dan memberi manfaat,”tambahnya.

Melalui penghargaan ini, UNISA Yogyakarta menegaskan komitmennya dalam membangun komunikasi yang profesional, terpercaya, serta selaras dengan visi kampus sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan berkemajuan.

mbg

Kebijakan dan program pemerintah MBG, selayaknya rutin mendapatkan monitoring dan evaluasi berkala agar esensi dan tujuan dari kebijakan tersebut dapat tercapai maksimal. Tak terkecuali dalam konteks program Makan Bergizi Gratis (MBG), monitoring dan evaluasi berkala harus dilaksanakan agar dapat memaksimalkan tujuan program tersebut. Pembahasan yang menarik akhir-akhir ini adalah terkait dengan rencana pelaksanaan program MBG selama bulan Ramadan. Rencana ini mendapatkan respon beragam dari beberapa pihak, tentu ada yang setuju dan tidak setuju. Pembahasan menjadi menarik karena seperti kita ketahui bersama bahwa selama bulan Ramadan, umat muslim yang berpuasa memiliki pola makan yang unik dan berbeda. Sahur saat sebelum waktu subuh, berpuasa selama satu hari penuh, dan dilanjutkan dengan berbuka puasa saat waktu maghrib tiba. Pola konsumsi makan yang berubah salam bulan tersebut tentu menimbulkan pertanyaan, apakah pelaksanaan MBG selama bulan Ramadan masih relevan ? mengingat terdapat perbedaan waktu dan pola konsumsi. Apabila tidak dikalkulasi dengan baik, dikhawatirkan program MBG selama Ramadan menjadi tidak optimal dan dampak penyerapan anggaran yang tidak tepat sasaran.

Jika merujuk pada niat tujuan awal program MBG adalah upaya meningkatkan dan menjamin asupan gizi masyarakat (anak dan kelompok rentan) terpenuhi dengan baik. Secara teknis kemudian diwujudkan dengan pemberian menu makanan yang standar gizinya sudah diatur oleh masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun pelaksanaan program MBG selama bulan Ramadan tentu berpotensi menghadapi tantangan yang cukup fundamental. Relevansi distribusi akan lebih maksimal apabila menu matang yang disajikan, dikirimkan saat menjelang waktu sahur atau berbuka puasa. Hal tersebut secara teknis memungkinkan, namun akan memberikan dampak signifikan terhadap jaminan kualitas makanan, penyediaan logistik, dan anggaran yang meningkat. Hal ini tentu semakin membebani anggaran harian / bulanan pelaksanaan MBG (inefisiensi anggaran). Pun sebaliknya, jika diganti dengan menu kering kemasan yang dianggap lebih tahan lama dikhawatirkan justru esensi pemenuhan gizi yang tidak maksimal dan tidak tepat sasaran. Kita ketahui bersama, pemenuhan gizi yang baik dan maksimal akan lebih tepat terwujud melalui bahan realfood yang segar dan dimasak sesuai waktu konsumsi penerima MBG.

Masyarakat Indonesia memiliki budaya dan tradisi yang kuat selama bulan Ramadan. Buka puasa bersama, berbagi takjil, dan bantuan bahan/makanan kepada berbagai kelompok masyarakat sudah menjadi konstruksi sosial yang mengakar kuat. Baik melalui masjid, organisasi Masyarakat, maupun swadaya. Kegiatan ini rutin dilakukan selama bulan Ramdan dan relatif cepat dan tepat sasaran. Aktivasi program MBG selama Ramadan justru memunculkan kekhawatiran menciptakan program yang tumpah tindih. Oleh karena itu, realokasi anggaran dan program MBG selama Ramadan harapannya tidak dimaknai sebagai uapaya pengurangan perlindungan sosial bagi anak dan kelompok rentan, melainkan upaya rasionalisasi kebijakan demi menciptakan efektivitas dan efisiensi anggaran serta tetap memberikan ruang bagi mekanisme penyediaan bantuan informal dari masyarakat yang sudah mengakar kuat selama bulan Ramadan.

Relokasi Anggaran MBG untuk Penguatan Struktural selama Ramadan

MBG memiliki tujuan dan manfaat yang tentu dapat dirasakan oleh para penerima maanfaat, namun selama bulan Ramadan masih terdapat urgensi lain menyangkut hajat hidup publik yang juga penting untuk diperhatikan.

Pertama, stabilisasi harga kebutuhan pokok selama Ramadan. Realokasi sementara anggaran MBG dapat digunakan untuk subsidi harga, operasi pasar, dan penguatan distribusi bahan pokok terutama di daerah yang rawan terjadi inflasi. Intervensi menggunakan anggaran tersebut diharapkan dapat menjaga bahkan meningkatkan daya beli Masyarakat selama bulan Ramadan dan Idul Fitri. Stabilitas harga kebutuhan pokok juga diharapkan dapat berperan dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi negara selama periode puncak konsumsi masyarakat.

Kedua, penguatan jaminan kesehatan melalui skema Bantuan Premi Iuran (BPI) BPJS Kesehatan. Setelah kebijakan penonaktifkan beberapa waktu lalu, realokasi anggaran MBG selama bulan Ramadan dapat kembali digunakan untuk hal urgen di bidang Kesehatan. Dengan dukungan anggaran yang lebih kuat, pemerintah dapat memastikan perlindungan finansial dan kesehatan masyarakat, menciptakan stabilitas sosial, dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Dampak dari kebijakan ini dirasa jauh melampaui bantuan lain yang bersifat sementara.

Ketiga, yang tidak kalah pentingnya adalah realokasi anggaran dapat dimanfaatkan untuk persiapan dan penguatan infrastruktur mudik 2026. Kondisi jalan arteri, jalan tol, Pelabuhan, bandara, stasiun dll wajib dalam kondisi yang prima saat arus mudik berlangsung. Penciptaan kondisi yang prima tersebut tentu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Realokasi anggaran MBG ke perbaikan dan peningkatan kualitas infrastruktur mudik merupakan investasai yang manfaatnya akan dirasakan oleh ratusan juta Masyarakat Indonesia. Infrastruktur yang baik juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi ikutan yang tentu bermanfaat untuk ekonomi negara.

Jika usulan tersebut dirasa rasional, maka realokasi angaran sepatutnya tetap mengedepankan asas transparansi dan akuntabilitas. Pemerintah tetap harus memliki mekanisme pelaporan yang jelas, pemisahan pos anggaran yang valid, dan indikator kinerja yang terukur. Selanjutnya, jika usulan tersebut dinilai rasional realokasi program MBG juga tetap membutuhkan analisis mitigasi sosial yang tepat. Anak dan kelompok rentan yang tidak terjangkau tradisi berbagi saat Ramadan atau yang belum memiliki akses kesehatan yang memadai wajib didata diidentifikasi secara valid. Pemberian bantuan tunai berkolaborasi dengan Lembaga Zakat terpercaya dapat menjadi solusi jangka pendek sebelum nantinya program MBG dimulai kembali setelah Ramadan. Tidak terkecuali juga para pelaksana teknis MBG di level SPPG, mitigasi kebutuhan dan pemenuhan hak juga harus diatur dan dipastikan ketersediaannya agar kesejahteraan tetap terjaga.

Upaya rasionalitas realokasi program MBG selama Ramadan merupakan usul, saran, aspirasi agar seluruh elemen masyarakat mendapatkan manfaat maksimal dari setiap anggaran negara yang dibelanjakan. Saran tersebut bukan untuk menghapus bantuan sosial, melainkan upaya optimalisasi fiscal berbasis konteks dan urgensi. Dengan menentukan skala prioritas dan timbang-timbang cakupan manfaat yang lebih luas, opsi tersebut dapat diambil sebagai bentuk kehadiran negara untuk seluruh elemen Masyarakat di Indonesia.

Oleh : Gerry Katon Mahendra, S.IP., M.I.P. – Dosen Administrasi Publik UNISA Yogyakarta

Ramadhan 1447 H

Aroma bulan suci Ramadhan 1447 H mulai tercium. Tak ingin melewatkan momen emas ini begitu saja, Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menggelar kegiatan bertajuk Kajian Jelang Ramadhan di Masjid Walidah Dahlan, Kamis (12/02/2026).

Kajian Ramadhan 1447 H

Mengusung tema besar “Ramadhan Sebagai Ruang Transformatif”, acara ini menjadi ajang isi ulang energi rohani bagi seluruh civitas akademika sebelum memasuki bulan puasa. Ratusan karyawan UNISA tampak memadati masjid kampus, menyimak tausiyah dengan khidmat.

Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat, dalam sambutannya menekankan bahwa persiapan fisik saja tidak cukup. Kesiapan mental dan spiritual justru menjadi kunci agar ibadah puasa berdampak nyata pada perubahan perilaku.

“Kita mengikuti kajian ini agar semakin siap memasuki bulan suci. Niatnya harus tulus, tekadnya harus kuat. Ramadhan besok harus jadi titik balik untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya,” tutur Warsiti penuh semangat.

Kajian terasa makin istimewa dengan kehadiran narasumber karismatik, Dr. K.H. Tafsir, M.Ag, yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah.

Dalam paparannya, Kiai Tafsir tidak hanya bicara soal pahala. Beliau mengupas tuntas sisi ilmiah dan syari’ah tentang bagaimana Muhammadiyah menentukan awal Ramadhan menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Penjelasan ini memberikan pencerahan bagi jamaah mengenai kepastian waktu ibadah.

Lebih dalam lagi, Tafsir mengajak jamaah merenungi makna puasa sebagai madrasah ruhani. “Puasa itu menahan, dan dari menahan itulah lahir transformasi diri menuju kesalehan,” pesannya.

Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama, menandai kesiapan keluarga besar UNISA Yogyakarta menyambut Ramadhan 1447 H dengan ilmu dan iman yang kokoh.