Menuju Praktik Beragama yang Transformatif
Di dalam Kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam Al-Ghazali diceritakan sebuah kisah yang sarat dengan pelajaran yang bisa kita jadikan renungan tentang pentingnya ibadah berdampak. Suatu ketika, Nabi Musa AS bermunajat kepada Allah SWT seraya bertanya, ‘Wahai Allah, aku telah melaksanakan berbagai ibadah yang Engkau perintahkan. Dari semua ibadah itu, manakah yang paling Engkau cintai? Apakah shalatku?’ Allah SWT menjawab, ‘Bukan. Shalatmu itu manfaatnya kembali kepada dirimu sendiri, karena shalat mampu menjagamu dari perbuatan keji dan mungkar.’
Kemudian Nabi Musa AS bertanya lagi, ‘Apakah dzikirku, ya Allah?’ Allah menjawab, ‘Bukan. Dzikirmu juga untuk dirimu sendiri, karena dengan dzikir itu hatimu menjadi tenang dan tenteram.’ Nabi Musa kembali bertanya, ‘Apakah puasaku, ya Allah?’ Allah SWT menjawab, ‘Bukan. Puasamu juga untuk dirimu sendiri, karena dengan puasa engkau belajar menundukkan hawa nafsumu.’
Lalu Nabi Musa AS bertanya kembali, ‘Kalau begitu, ibadah apakah yang paling Engkau cintai, ya Allah?’ Maka Allah SWT menjawab, ‘Ibadah yang paling Aku cintai adalah ketika engkau menghadirkan kebahagiaan bagi orang yang sedang berada dalam kesusahan.’
Keshalihan yang Seimbang
Setidaknya ada dua pelajaran penting yang dapat kita petik dari kisah kisah yang tertuang di dalam Kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam Al-Ghazali tersebut: Pertama, pentingnya keseimbangan keshalihan individual dan keshalihan sosial. Jangan sampai kita menjadi hamba yang rajin beribadah kepada Allah, tetapi lalai terhadap persoalan sesama manusia. Sebab, orang beriman tidak hanya membangun kesalehan individual, tetapi juga menghadirkan kesalehan sosial.
Dialog Nabi Musa dengan Allah dalam kisah tersebut mengajarkan bahwa shalat, puasa, dan dzikir adalah ibadah yang membentuk kualitas pribadi seorang mukmin. Namun, ibadah itu belum berdampak apabila tidak melahirkan akhlak sosial yang dirasakan manfaatnya oleh orang lain.
Sejumlah penelitian yang diterbitkan di jurnal ilmiah terhadap tema-tema Al-Qur’an menunjukkan bahwa porsi yang sangat besar dari ajaran Al-Qur’an berbicara tentang hubungan antarmanusia—keadilan, kepedulian, menolong yang lemah, menegakkan amanah, dan menebarkan kemaslahatan—sedangkan ayat-ayat tentang ibadah ritual jumlahnya jauh lebih sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya menghendaki hamba yang rajin beribadah, tetapi juga hamba yang menghadirkan manfaat bagi sesama. Sebab itu Nabi saw mengingatkan kita bahwa khairunnās anfa’uhum linnās—sebaik-baik manusia adalah yang paling besar manfaatnya bagi manusia lainnya.
Karena itu, Allah menegaskan bahwa ibadah yang paling dicintai-Nya adalah menghadirkan kebahagiaan bagi orang yang sedang mengalami kesusahan. Sebab itu, orang yang mengabaikan anak yatim dan tidak peduli kepada fakir miskin disebut sebagai sebagai “pendusta agama” (يُكَذِّبُ بِالدِّينِ) dalam Surah Al-Ma’un. Ukuran kebaikan seseorang bukan hanya dilihat dari banyaknya ibadah ritual yang dikerjakan, tetapi sejauh mana ibadah itu melahirkan kebermanfaatan.
Beragama yang Berdampak
Kedua, dalam praktik beragama jangan hanya terjebak pada ranah ritual dan seremonial semata, tetapi harus melahirkan perubahan sosial. Pelajaran kedua ini yang sangat relevan bagi bangsa kita hari ini bahwa praktik beragama kita masih sering kali masih lebih menonjolkan aspek ritual dan seremonial daripada dampak sosialnya. Mari kita lihat bersama, hari ini banyak masjid semakin megah, jamaah haji dan umrah terus bertambah, majelis taklim semakin ramai, dan berbagai kegiatan keagamaan berlangsung dengan begitu meriah dan semarak. Bahkan berbagai survei menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling religius di dunia. Semua itu patut disyukuri.
Namun ironisnya, mengapa di tengah tingginya religiositas masyarakat, korupsi, penyalahgunaan wewenang, ketidakjujuran, kekerasan, dan berbagai penyimpangan masih menjadi persoalan besar di negeri ini? Indeks Persepsi Korupsi Transparency International 2025 hanya memberi Indonesia skor 34/100 dan menempatkannya di peringkat 109 dari 182 negara. Ini adalah tanda bahwa masih ada jarak antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Dengan demikian, keberhasilan ibadah tidak hanya diukur dari seberapa rajin kita pergi ke masjid, tetapi dari seberapa besar dampak dan perubahan yang kita hadirkan setelah pulang dari masjid.
Karena itu, Muhammadiyah tidak hanya membangun masjid, tetapi juga mendirikan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, lembaga zakat, pelayanan kebencanaan, dan berbagai amal usaha yang menjawab kebutuhan masyarakat. Dakwah tidak cukup hanya disampaikan melalui mimbar saja, tetapi harus diwujudkan dalam karya nyata yang dirasakan langsung manfaatnya oleh umat.
Cendekiawan muslim, almarhum Prof. Azyumardi Azra mengingatkan bahwa agama tidak boleh berhenti pada doktrin dan ritual semata. Agama harus menghadirkan kasih sayang, keadilan, dan perdamaian dalam kehidupan. Sebab, semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin besar pula manfaat yang ia berikan kepada sesama manusia dan lingkungannya. Itulah hakikat ibadah yang berdampak.
Beragama yang Tranformatif
Pada akhirnya, keberagamaan tidak boleh berhenti pada implementasi, tetapi harus bergerak menuju transformasi. Kita tentu patut bersyukur melihat orang-orang yang rajin shalat, berpuasa, menunaikan zakat, berhaji dan berumrah, bahkan berqurban dengan hewan yang besar dan mahal. Namun, kita juga perlu bertanya dengan jujur: sejauh mana semua itu mengubah perilaku dan kehidupan kita? Sebab, di sekitar kita masih mudah ditemukan orang yang tampak saleh secara ritual, tetapi tetap korup, tidak disiplin, tidak amanah, berlaku sewenang-wenang, menyalahgunakan jabatan, merugikan orang lain, bahkan terus melakukan berbagai kemaksiatan. Di sinilah agama harus menghadirkan transformasi: shalat harus mentransformasi perilaku menjadi lebih berintegritas, puasa mentransformasi diri menjadi lebih mampu mengendalikan hawa nafsu, zakat dan sedekah mentransformasi kepedulian sosial, haji dan umrah mentransformasi orientasi hidup, serta seluruh ibadah mentransformasi manusia menjadi pribadi yang semakin jujur, adil, amanah, disiplin, rendah hati, dan bermanfaat bagi sesama.
Jika ritual semakin banyak tetapi korupsi tidak berkurang, ibadah semakin semarak tetapi ketidakadilan tetap berlangsung, dan simbol-simbol kesalehan semakin tampak tetapi akhlak tidak mengalami perubahan, maka kita perlu melakukan refleksi yang mendalam: jangan-jangan kita baru menjalankan agama pada level ritual dan implementasi, tetapi belum sampai pada level transformasi. Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan keberagamaan bukan hanya seberapa banyak ibadah yang kita kerjakan, melainkan seberapa jauh ibadah itu mengubah diri kita dan menghadirkan perubahan bagi kehidupan orang lain.
Oleh : Dr. M. Nurdin Zuhdi, S.Th.I., M.S.I. (Ketua LPPI UNISA Yogyakarta)








































