AIK Partisipatif Unisa, Belajar Agama Lewat Ibadah dan Aksi Nyata
Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta mengajak mahasiswa membangun karakter keislaman belajar agama melalui program Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Partisipatif. Program ini mendorong mahasiswa tidak hanya memahami ajaran agama di ruang kelas, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari dan kegiatan sosial di masyarakat.
Belajar Agama
Salah satu kegiatan yang digelar untuk mendukung program tersebut adalah Ifthor Akbar atau buka puasa bersama di Masjid Walidah Dahlan Unisa Yogyakarta, Senin (19/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari penerapan ibadah puasa sunah Senin & Kamis sekaligus upaya mengenalkan pembelajaran AIK yang lebih menyenangkan bagi mahasiswa.
Koordinator Mata Kuliah AIK Unisa Yogyakarta, Iwan Setiawan, mengatakan AIK Partisipatif merupakan program pembelajaran yang mengintegrasikan aktivitas ibadah mahasiswa ke dalam penilaian mata kuliah.
“Tujuannya untuk membangun karakter mahasiswa berkaitan dengan ibadah, khususnya salat lima waktu dan sebagainya. Salah satunya, hari ini kita melaksanakan puasa Senin Kamis, kemudian mengadakan buka puasa akbar atau Ifthor Akbar,” ujar Iwan.
Sekitar 2.500 mahasiswa semester satu mengikuti AIK Partisipatif
Iwan menjelaskan, program AIK Partisipatif menjadi salah satu pendekatan Unisa Yogyakarta untuk membiasakan mahasiswa menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Pada semester ini, sekitar 2.500 mahasiswa semester satu mengikuti program tersebut sebagai bagian dari pembelajaran AIK.
Mahasiswa semester tiga juga diperbolehkan mengikuti kegiatan serupa, meskipun tidak diwajibkan. Sementara itu, mahasiswa nonmuslim tetap menjalankan AIK Partisipatif melalui aktivitas keagamaan sesuai dengan keyakinan masing-masing, termasuk kegiatan di gereja, pura, serta aktivitas sosial.
Menurut Iwan, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya kampus untuk membangun karakter mahasiswa secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga kedisiplinan beribadah dan akhlak.
Dalam pelaksanaannya, Ifthor Akbar tidak hanya diisi dengan buka puasa bersama. Panitia juga menghadirkan pengajian, bintang tamu, dan pertunjukan komedi tunggal atau stand-up comedy.
Iwan berharap kegiatan tersebut dapat mengubah pandangan mahasiswa terhadap mata kuliah agama yang kerap dianggap kurang menarik. “Makanya, kami mengajak mahasiswa bahwa AIK juga merupakan mata kuliah yang menggembirakan. Metode pembelajarannya menggunakan active learning, sehingga mahasiswa tidak hanya belajar secara teori,” katanya.
Ia menambahkan, penilaian AIK tidak hanya bertumpu pada ujian tengah semester (UTS) dan ujian akhir semester (UAS). Aktivitas ibadah dan proyek yang dilakukan mahasiswa juga menjadi bagian penting dalam proses penilaian.
Proyek AIK mendorong mahasiswa berkontribusi kepada masyarakat
Selain pembiasaan ibadah, AIK Partisipatif dilengkapi dengan proyek pembelajaran yang diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Sejumlah proyek yang dikembangkan antara lain Fikih Hijau, Al-Ma’un, serta digitalisasi.
Fikih Hijau merupakan konsep dan program pembelajaran berbasis aksi nyata yang mengintegrasikan nilai-nilai pelestarian lingkungan dengan ajaran Islam. Sementara itu, proyek Al-Ma’un mendorong mahasiswa menerapkan nilai kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Iwan menjelaskan, pelaksanaan proyek tersebut dilakukan di luar lingkungan kampus. Bentuk kegiatannya menyerupai kuliah kerja nyata (KKN) dalam skala lebih kecil karena mahasiswa menerapkan ilmu yang diperoleh melalui kegiatan langsung di masyarakat.
“Setiap semester ada AIK Partisipatif dan proyek. Ada proyek Fikih Hijau, Al-Ma’un, digitalisasi, dan sebagainya. Itu untuk kebermanfaatan masyarakat. Pelaksanaannya di masyarakat, hampir seperti KKN mini,” jelasnya.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan pemahaman keislaman dengan persoalan nyata di lingkungan sekitar, mulai dari kepedulian terhadap sesama hingga pelestarian lingkungan.
Mahasiswa merasakan manfaat dari pembiasaan ibadah
Salah satu mahasiswa S1 Akuntansi Unisa Yogyakarta, Binar Dewi Luhcita, mengaku program AIK Partisipatif membantunya membangun kebiasaan beribadah secara lebih disiplin. Ia memanfaatkan waktu jeda perkuliahan untuk melaksanakan salat lima waktu di Masjid Walidah Dahlan yang berada di lingkungan kampus.
Selain itu, ia mengikuti kegiatan puasa sunah Senin dan Kamis yang difasilitasi kampus, termasuk kegiatan buka puasa bersama. Menurutnya, jadwal kajian yang diselenggarakan secara rutin juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperdalam pengetahuan agama.
Ia merasakan manfaat dari materi kajian yang membahas tata cara salat hingga tafsir Al-Qur’an. Kebiasaan tersebut turut mendorongnya untuk lebih memperhatikan waktu salat.
“Alhamdulillah, dari ilmu-ilmu kajian itu cukup banyak yang didapat. Mulai dari bagaimana cara salat yang baik dan benar, kemudian tafsir Al-Qur’an. Selain itu, kita jadi terbiasa salat di awal waktu, lebih disiplin, dan insyaallah salat tidak pernah ketinggalan,” ungkapnya.
Binar menambahkan, implementasi AIK juga memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan sosial. Ia menyebut, mahasiswa dapat membantu sesama yang membutuhkan melalui proyek yang dijalankan selama perkuliahan.
Sementara itu, dari sisi program studi, mahasiswa Gizi, Binar Dewi Luhcinta juga melaksanakan kegiatan pengabdian di desa-desa mitra. Kegiatan tersebut di antaranya berupa penyuluhan mengenai gizi, edukasi bersama kelompok ibu-ibu, serta pembagian sayuran.





































Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!