Tunarungu

Komitmen Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta sebagai kampus ramah difabel bukan sekadar isapan jempol belaka. Hal ini dibuktikan langsung oleh mahasiswa Program Studi Gizi yang menggelar aksi menyentuh hati di Griya Tunarungu Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN), Yogyakarta, Sabtu (20/12/2025).

Dalam suasana yang hangat, para mahasiswa tidak hanya datang membawa materi kuliah, tetapi membawa hati untuk berinteraksi dengan anak-anak istimewa. Kegiatan bertajuk proyek kemanusiaan dan keimanan ini menjadi jembatan inklusivitas yang manis antara dunia akademik dan penyandang disabilitas.

Belajar Bahasa Hati dan Gizi Sehat

Koordinator kegiatan, Dina Riana, menjelaskan bahwa acara ini dirancang untuk mendobrak sekat-sekat eksklusivitas. Mahasiswa diajak keluar dari menara gading kelas teori untuk merasakan langsung denyut nadi kehidupan saudara-saudara tunarungu.

“Kami ingin hadir tidak hanya sebagai pelajar yang belajar teori, tetapi sebagai manusia yang peduli. Di sini kami belajar arti empati dan kesabaran yang sesungguhnya. Interaksi ini mengajarkan kami bahwa komunikasi tak melulu soal suara, tapi juga soal rasa,” ujar Dina.

Acara dikemas sangat seru dan jauh dari kesan kaku. Anak-anak diajak bermain game edukatif, mewarnai, hingga diskusi ringan tentang makanan sehat. Para mahasiswa Gizi UNISA Yogyakarta dengan telaten menjelaskan pentingnya asupan gizi seimbang dengan metode visual yang mudah dipahami oleh anak-anak tunarungu. Gelak tawa pun pecah, meleburkan segala batasan fisik yang ada.

Apresiasi GERKATIN

Perwakilan pengelola Griya Tunarungu GERKATIN Yogyakarta, Hanif Adhi Pratama, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Ia mengapresiasi pendekatan mahasiswa UNISA Yogyakarta yang dinilai sangat menghargai dan tidak membatasi.

“Kami sangat terbantu. Pendekatan adik-adik siswa ini sangat hangat dan inklusif, sehingga anak-anak merasa nyaman dan diperhatikan. Tidak ada rasa canggung,” ungkap Hanif.

Ia berharap kolaborasi manis ini tidak berhenti di sini. Sinergi antara perguruan tinggi dan komunitas penyandang disabilitas seperti ini diharapkan bisa terus berlanjut demi meningkatkan kualitas hidup dan kesadaran masyarakat luas akan pentingnya kesetaraan.

Sehat

Sehat itu hak semua orang, tak terkecuali bagi penyandang disabilitas. Semangat inilah yang dibawa oleh sekelompok mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta saat menyambangi Komunitas Difabel Gading di Kalurahan Banyuraden, Gamping, Sleman, Minggu (21/12/2025).

Melalui program kemanusiaan bertajuk Project Al-Ma’un, Mahasiswa Kelompok A6 tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa misi edukasi gizi yang dikemas santai namun penuh makna, membuktikan bahwa kepedulian sosial bisa dimulai dari hal paling sederhana, makanan.

Kenalkan Buah Lokal yang Ramah Kantong

Seringkali, gizi seimbang dikesankan mahal dan rumit. Namun, Khairan Nisya Dewi Azzahra, perwakilan mahasiswa, mematahkan anggapan itu di hadapan para anggota komunitas. Ia memperkenalkan manfaat terbaik dari buah-buahan yang mudah ditemukan di pasar dan harga terjangkau, seperti pisang, pir, apel, dan jeruk.

“Kami ingin menunjukkan bahwa menjaga kesehatan bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Buah-buahan ini mudah didapat di sekitar kita, murah, tapi kaya vitamin,” ujar Fitriyani, anggota kelompok A6, di sela-sela kegiatan.

Edukasi ini bukan sekedar ceramah, suasana berlangsung interaktif dan hangat, para peserta diajak memahami bahwa tubuh bugar adalah aset penting, dan memulainya bisa dari satu buah pisang atau jeruk setiap hari.

Belajar Empati dari Cerita Kehidupan

Kegiatan ini disambut antusias oleh Yuliana, Ketua sekaligus pendamping Komunitas Difabel Gading. Ia mengapresiasi kehadiran mahasiswa yang mau duduk bersama dan berbagi ilmu.

Lebih dari sekedar transfer ilmu gizi, momen ini menjadi ajang pertukaran rasa. Siswa dan teman-teman difabel saling bertukar cerita dan tawa dalam sesi interaksi santai, bagi para mahasiswa, ini adalah pelajaran berharga tentang kesabaran, komunikasi inklusif, dan empati mata kuliah kehidupan yang tak selalu ada di dalam kelas.

Project Al-Ma’un ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UNISA Yogyakarta tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial untuk merangkul semua lapisan masyarakat, memastikan tidak ada yang tertinggal dalam mendapatkan akses informasi kesehatan.

Sembako

Aksi sosial pelajar biasanya identik dengan pembagian sembako berupa beras atau mie instan. Namun pemandangan berbeda terlihat di Dusun Wanujoyo Kidul, Srimartani, Piyungan, Bantul, pada Minggu (21/12/2025).

Puluhan mahasiswa Program Studi Gizi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang tergabung dalam Kelompok A4, turun ke desa membawa misi kesehatan melalui Project Al-Ma’un. Mereka menyasar kelompok lanjut usia (lansia) untuk diajak hidup lebih sehat dengan cara yang asyik dan tidak membosankan.

Lawan Kolesterol Jahat

Acara dimulai sejak pagi. Halaman desa dipenuhi gelak tawa saat para lansia diajak senam bersama untuk melenturkan otot. Setelah keringat bercucuran, momen ini dimanfaatkan mahasiswa untuk memberikan edukasi penting: Bahaya Kolesterol.

Ketua Kelompok A4, Binar Dewi Luhcinta akrab disapa Cinta, menjelaskan bahwa edukasi ini krusial mengingat lansia sangat rentan terhadap penyakit degeneratif.

“Kami ingin memberikan pemahaman praktis. Kesehatan di usia senja itu sangat bergantung pada apa yang dimakan. Sayur adalah kunci untuk mengontrol kolesterol, bukan obat-obatan kimia melulu,” ujar Cinta.

Serunya Estafet Balon hingga Oleh-oleh Sayur

Suasana makin pecah saat sesi fun game. Para lansia yang biasanya duduk diam di rumah, hari itu terlihat kompetitif mengikuti lomba estafet balon. Permainan ini sengaja dirancang untuk melatih motorik dan kekompakan warga.

Kejutan terjadi di akhir acara. Jika biasanya peserta pulang membawa bingkisan makanan ringan, kali ini panitia membagikan seikat kangkung segar kepada setiap lansia.

Hadiah unik ini bukan tanpa alasan. Pemberian kangkung adalah simbol ajakan nyata agar warga langsung menyebarkan materi yang didapat: masak sayur di rumah hari itu juga!

Project Al-Ma’un ini sejatinya merupakan bagian dari tugas Penilaian Akhir Semester (PAS). Namun, bagi mahasiswa UNISA Yogyakarta, ini lebih dari sekadar nilai akademik. Ini adalah implementasi teologi Al-Ma’un warisan KH. Ahmad Dahlan, bahwa kesalehan sosial harus dibuktikan dengan tindakan nyata menyantuni dan menyehatkan sesama.

Yogyakarta

Alarm bahaya kesehatan sedang berbunyi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Provinsi ini mencatat angka prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM) yang jauh di atas rata-rata nasional. Situasi ini memaksa kaum ibu untuk turun tangan menjadi “Perempuan Tangguh” sebagai garda terdepan penyelamat keluarga.

Hal ini terungkap dalam aksi pengabdian masyarakat yang digelar Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta bersama Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Maguwoharjo, Sabtu (20/12/2025). Mengusung tema “Peran Ibu dalam Keluarga untuk Cegah PTM”, acara ini bukan sekadar seminar biasa, melainkan panggilan darurat bagi kesehatan keluarga.

Data Kesehatan D.I Yogyakarta

Fakta di lapangan memang cukup mengerikan. Data menunjukkan DIY menduduki peringkat tinggi nasional untuk kasus PTM. Angka Diabetes Melitus di DIY mencapai 4,5% (nasional hanya 2,4%), Hipertensi tembus 10,7% (nasional 8,4%), dan kasus kanker mencapai 10,7 per mil.

“Kondisi ini bukan hanya mengancam kesehatan individu, tetapi juga bisa bikin ekonomi keluarga guncang karena biaya berobat yang mahal,” ungkap Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UNISA, Yuyun Nailufar, S.Si., M.Biomed.

Bersama rekannya, Indriani SKM., MSc Dosen Prodi Fisioterapi dan tim mahasiswa, UNISA Yogyakarta menekankan bahwa ibu adalah kunci. Ibulah yang mengatur menu di meja makan, menjadi alarm minum obat, hingga manajer gaya hidup sehat di rumah.

Outbound Seru hingga Cek Kesehatan Gratis

Acara yang berlangsung di Maguwoharjo ini dikemas jauh dari kata membosankan. Ratusan anggota ‘Aisyiyah diajak outbound seru untuk pemanasan fisik dan mempererat ukhuwah, sebelum masuk ke sesi serius tapi santai.

Indriani memberikan tips praktis yang mudah diterapkan: kurangi garam dan penyedap, perbanyak sayur, jalan pagi 30 menit, hingga tidur cukup 6-8 jam sehari.

“Ibu-ibu juga diajari cara mengajak suami dan anak hidup sehat tanpa terkesan memerintah atau ngomel,” tambahnya.

Tak hanya teori, tim UNISA Yogyakarta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Fisioterapi serta Teknologi Laboratorium Medis (TLM) langsung menggelar pemeriksaan kesehatan. Sebanyak 100 ibu-ibu menjalani skrining lengkap, mulai dari cek tensi, gula darah, kolesterol, asam urat, hingga tes keseimbangan dan fleksibilitas tubuh.

Ketua PRA Maguwoharjo, Siti Almagfirroh, S.Ag, menyambut positif gerakan ini. Baginya, ini adalah momen untuk merapikan barisan perjuangan ‘Aisyiyah sekaligus refreshing fisik dan pikiran.

Ke depannya, kolaborasi UNISA Yogyakarta dan PRA Maguwoharjo ini tak akan berhenti di sini. Rencana pembentukan kelas memasak sehat hingga pendampingan keluarga aktif sedang disiapkan agar gerakan “Ibu Tangguh Cegah PTM” benar-benar menjadi budaya baru di masyarakat Sleman.

Bina desa

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Ilmu Sosial, dan Humaniora (BEM FEISHum) Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (Unisa Yogyakarta) sukses melaksanakan program bina desa di Pondok Pesantren Nurul Quran Semojo, Argodadi, Sedayu, Bantul, Ahad (21/12/2025).

Program Bina Desa tersebut mengusung tema “Petualangan Santri Cilik: Eksplorasi Alam, Tebar Ilmu, dan Cinta Baca.” Tema ini dipilih sebagai upaya mengenalkan pentingnya literasi kepada anak-anak sekaligus menumbuhkan budaya gemar membaca sejak usia dini.

Bina Desa

Ketua Pelaksana kegiatan sekaligus anggota Departemen Agama, Sosial, dan Kemasyarakatan BEM FEISHum Unisa Yogyakarta, Salsa Putri, menyampaikan bahwa melalui program ini anak-anak di Pondok Pesantren Nurul Quran semakin termotivasi untuk belajar dan berani bermimpi besar.

“Harapannya, melalui kegiatan ini dapat meningkatkan semangat belajar dan membaca,serta meningkatkan literasi pada anak-anak,” kata Salsa, Ahad (21/12/2025).

Kegiatan bina desa tersebut disambut dengan antusias oleh para santri. Sekitar 50 anak anak yang mayoritas masih berusia sekolah dasar (SD) mengikuti rangkaian kegiatan pengenalan literasi yang meliputi pengajaran pentingnya gemar membaca, semangat belajar, serta motivasi meraih cita-cita.

Agar suasana tetap menyenangkan dan tidak membosankan, kegiatan juga diisi dengan outbound di area terbuka sekitar pondok pesantren. Anak-anak tampak bersemangat mengikuti berbagai permainan dan tantangan edukatif yang dipandu oleh para panitia.

“Kegiatan ini dilakukan guna meningkatkan literasi sejak dini. Kegiatannya meliputi materi tentang literasi, mimpi, serta bermain bersama.” ucap Salsa melanjutkan.

Selain kegiatan belajar dan bermain, BEM FEISHum Unisa Yogyakarta turut menghibahkan pojok baca beserta koleksi buku yang dapat dimanfaatkan oleh para santri Pondok Pesantren Nurul Quran Semojo. Buku-buku tersebut merupakan hasil donasi yang dihimpun Departemen Agama, Sosial, dan Kemasyarakatan BEM FEISHum Unisa dari para donatur, baik yang berasal dari dalam maupun luar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Perwakilan pengajar Pondok Pesantren Nurul Quran Semojo, Walidatul Hidayah, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa agenda bina desa ini memberikan motivasi serta menumbuhkan semangat para santri untuk senang belajar dan gemar membaca.

“Alhamdulillah, terimakasih sudah hadir di Nurul Quran memberikan motivasi dan semangat kepada santri. Acara ini sangat bagus sekali. Semoga ini dapat menambahkan literasi kepada anak-anak ,” ujar Hidayah