Guna memperkuat barisan relawan di bidang medis dan kegawatdaruratan, Federation Rescue Health Team (FRESHT) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta sukses menggelar regenerasi kepengurusan. Organisasi kemahasiswaan ini resmi melantik Dewan Pembimbing Organisasi (DPO) Angkatan 11 sekaligus mengukuhkan Anggota Baru Angkatan 14.
Relawan
Acara pelantikan yang berlangsung khidmat ini turut dihadiri oleh jajaran pembina, pengurus FRESHT, Wakil Rektor III UNISA Yogyakarta, serta jajaran Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) UNISA Yogyakarta.
Kepala BKA UNISA Yogyakarta, Yekti Satriyandari, S.ST., M.Kes., menekankan bahwa penyegaraan kelembagaan ini adalah langkah vital.
“Pelantikan Dewan Pembimbing ini merupakan langkah strategis. Kehadiran mereka diharapkan mampu memberi arahan, masukan, dan dukungan konkret agar FRESHT berjalan lebih terarah dan profesional,” jelas Yekti.
Tidak hanya DPO, anggota baru angkatan 14 yang dikukuhkan pun merupakan kader tangguh yang telah digembleng lewat proses seleksi dan pembinaan ketat. Lewat pelantikan ini, FRESHT kembali menegaskan komitmennya untuk terus hadir sebagai organisasi yang responsif, sigap, dan berdedikasi tinggi dalam pengabdian masyarakat. Rangkaian kegiatan pelantikan ini ditutup dengan kehangatan sesi foto bersama seluruh peserta.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/04/relawan.jpeg9601280adminhttps://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2020/12/logo_berita_unisa_bg.pngadmin2026-04-14 08:20:072026-05-05 10:42:56Cetak Relawan Tanggap Darurat, FRESHT UNISA Yogyakarta Resmi Kukuhkan Anggota Baru
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Syawalan di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan pada Selasa (31/03/2026). Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta sukses menggelar hajatan besar Silaturahim Idul Fitri 1447 H yang dihadiri oleh seluruh jajaran karyawan aktif hingga pegawai purna tugas.
Syawalan
Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., menegaskan bahwa tradisi syawalan ini adalah motor penggerak kampus. “Silaturahim ini bukan sekadar seremoni, tapi momen strategis. Kebersamaan, sinergi, dan kolaborasi adalah kekuatan utama institusi. Tidak akan ada kemajuan tanpa kebersamaan,” tegas Warsiti.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan Badan Pembina Harian (BPH) UNISA Yogyakarta, Mohammad Adam Jerusalem, Ph.D., menyebut halalbihalal sebagai ajang membersihkan hati.
“Nilai persaudaraan ini menjadi fondasi penting untuk memperkuat integritas dan memacu semangat kontribusi positif,” ujarnya.
Dr. H. Kasiyarno, M. Hum. memberikan tausiah tentang hikmah Syawalan yaitu semangat halal bihalal ini, berharap dapat memperkuat tekad untuk terus berbuat kebajikan, meningkatkan kualitas diri dan institusi, serta bersama-sama memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
“Semoga kebersamaan yang terjalin dalam momentum ini menjadi energi positif yang menggerakkan langkah kita menuju masa depan yang lebih baik,” ucap Kasiyarno.
Momen syawalan tahun ini pun sukses ditutup dengan kejutan haru nan membahagiakan. Sebagai bentuk apresiasi nyata, UNISA Yogyakarta resmi memberangkatkan umroh bagi 9 pegawai berdedikasi yang telah mengabdi selama 15 tahun. Tak hanya itu, kampus juga memberikan bantuan dana haji bagi 4 pegawai yang bersiap menunaikan panggilan ibadah ke Tanah Suci.
Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menyelenggarakan Sholat Idul Fitri 1447 H pada Jumat, 20 Maret 2026, di Halaman Gedung Siti Walidah. Ratusan jamaah yang terdiri dari civitas akademika dan masyarakat umum memadati lokasi sejak pagi hari untuk bersama-sama merayakan hari kemenangan.
Sholat Idul Fitri
Bertindak sebagai khatib, Prof. Dr. Chairil Anwar menyampaikan khutbah bertema “Membangun Optimisme dalam Kehidupan”. Dalam khutbahnya, ia mengajak umat Islam untuk menjaga nilai-nilai kesalehan yang telah dibangun selama bulan Ramadan.
“Selama sebulan penuh kita telah belajar sabar dan menahan diri dari godaan duniawi. Maka di bulan Syawal, kesalehan itu harus tetap berjalan,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menjadi pribadi yang rendah hati, dermawan, dan ikhlas dalam meningkatkan infaq serta sedekah. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, sehingga semangat berbagi harus terus dijaga, termasuk melalui silaturahmi yang telah terjalin saat buka bersama dan tarawih selama Ramadan.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Chairil juga menyinggung implementasi Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang telah dicanangkan di UNISA Yogyakarta pada 25 Juni 2025 dan mulai diterapkan pada tahun 2026. KHGT menetapkan tiga momen penting umat Islam secara global, yaitu Ramadan, Idul fitri, dan Idul adha.
“Melalui KHGT, rukyat tidak lagi bersifat lokal, tetapi dilakukan secara global. Harapannya, akan membawa banyak dampak positif bagi persatuan umat Islam di dunia,” jelasnya.
Khutbah juga menyoroti berbagai persoalan global, termasuk konflik antara Iran dan Israel yang menelan ribuan korban jiwa dan berdampak luas, termasuk pada kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, bencana alam seperti banjir di Sumatra dan Aceh turut menjadi perhatian, yang hingga kini masih memerlukan penanganan berkelanjutan.
Ia mengingatkan bahwa berbagai ujian tersebut merupakan bagian dari ketetapan Allah, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 155 disebutkan bahwa manusia akan diuji dengan rasa takut, lapar, dan kekurangan, namun Allah memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.
Lebih lanjut, Prof. Chairil mengajak umat untuk tetap optimis dalam menghadapi kehidupan. Ia menegaskan bahwa orang beriman memiliki derajat yang tinggi dan tidak boleh bersikap lemah atau bersedih hati, sebagaimana termaktub dalam Surah Ali Imran ayat 139.
Menurutnya, optimisme harus dibangun secara rasional dan disertai usaha, doa, serta tawakal. Ia membagikan enam langkah membangun optimisme:
Menemukan hal positif dari masa lalu
Menentukan target hidup
Menguraikan target secara terencana
Bertawakal kepada Allah
Mengubah cara pandang terhadap kegagalan
Meyakini pertolongan Allah
“Optimisme akan meningkatkan kinerja, memperkuat amal, dan membantu menyelesaikan persoalan hidup,” tambahnya.
Ia juga menekankan dua elemen penting dalam menatap masa depan, yaitu semangat baru dan optimisme. Umat Islam diajak kembali kepada fitrah manusia sebagaimana dalam Surah At-Tin ayat 4, serta meneladani Rasulullah sebagai problem solver, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Insyirah ayat 1-8.
Menutup khutbahnya, Prof. Chairil mengajak umat Islam Indonesia untuk terus berkontribusi melalui karya-karya positif.
“Umat Islam harus menatap masa depan dengan semangat baru dan optimisme, serta mengisi kehidupan dengan karya nyata bagi kemaslahatan,” pungkasnya.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/03/sholat-idul-fitri-scaled.jpeg19202560adminhttps://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2020/12/logo_berita_unisa_bg.pngadmin2026-03-23 08:13:402026-05-05 10:36:49Sholat Idul Fitri 1447 H di UNISA Yogyakarta: Seruan Optimisme, Kepedulian dan Semangat Baru Umat
Itikaf sepuluh hari terakhir bulan Ramadan selalu menjadi momen yang paling dinanti. Di fase krusial ini, umat muslim berlomba-lomba memburu kemuliaan malam Lailatul Qadar. Salah satu ibadah pamungkas yang paling dianjurkan untuk meraihnya.
Itikaf
Bagi sahabat UNISA Yogyakarta yang baru pertama kali merencanakan i’tikaf, bayangan menginap di masjid mungkin terasa sedikit menantang. Padahal, dengan persiapan yang tepat, ibadah ini justru menjadi sarana detoks spiritual yang sangat luar biasa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Agar i’tikaf perdana sahabat UNISA Yogyakarta berjalan lancar, nyaman, dan tetap fokus, simak panduan praktis berikut ini:
Luruskan Niat
Semua ibadah bergantung pada niatnya. Saat melangkah masuk ke area masjid, bacalah niat: “Nawaitu an a’takifa fi hadzal masjidi sunnatan lillahi ta’ala” (Aku berniat i’tikaf sunnah di masjid ini karena Allah ta’ala). Tinggalkan sejenak urusan duniawi di luar pagar masjid.
Persiapan Fisik dan Mental
Mengisi malam dengan qiyamul lail, tilawah, dan zikir tentu menguras stamina. Pastikan tubuh dalam kondisi fit. Atur jam tidur siang dengan baik agar tidak mudah tumbang saat malam hari.
Barang Bawaan Wajib (Anti Ribet)
Jangan membawa barang layaknya orang pindahan! Bawa perlengkapan tempur secukupnya:
Alat salat (sajadah tipis/mukena) dan pakaian ganti yang menyerap keringat.
Alat mandi ukuran travel size dan handuk kecil.
Al-Qur’an saku, tasbih, dan buku zikir pagi-petang.
Botol minum (tumbler) dan suplemen/obat-obatan pribadi (termasuk tolak angin atau vitamin).
Jaket atau selimut tipis jika masjid ber-AC dingin.
Kunci utama i’tikaf adalah meminimalisir distraksi. Jadi, tahan godaan untuk scrolling media sosial. Selamat berburu Lailatul Qadar!
Penulis: Adi Sasmito, S.I.Kom (Humas UNISA Yogyakarta)
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/03/Gemini_Generated_Image_gm5dfwgm5dfwgm5d-1.png7681408adminhttps://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2020/12/logo_berita_unisa_bg.pngadmin2026-03-12 14:22:002026-05-05 10:38:553 Panduan Itikaf untuk Pemula: Persiapan, Niat, dan Perlengkapan yang Perlu Dibawa
Bulan suci Ramadan senantiasa dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia, selain menunaikan kewajiban berpuasa, bulan penuh berkah ini menjadi momen emas karena menyimpan banyak waktu mustajab untuk berdoa. Mengapa demikian? Sebab pada bulan Ramadan, Allah SWT membuka pintu rahmat lebar-lebar sehingga doa hamba-Nya lebih cepat terkabul.
Mustajab Untuk Berdoa
Lantas, kapan saja waktu terbaik tersebut dan bagaimana cara kita memaksimalkannya di mana pun kita berada? Agar ibadah makin nendang dan hajat lekas terwujud, sahabat UNISA Yogyakarta wajib tahu daftarnya!
Berikut 7 waktu paling mustajab untuk berdoa di bulan Ramadhan yang pantang untuk dilewatkan:
Sepertiga Malam Terakhir (Waktu Sahur): Momen hening yang sangat dianjurkan untuk memohon ampunan dan hajat.
Menjelang Berbuka Puasa: Waktu di mana rasa lapar dan dahaga memuncak, doa orang yang berpuasa dijamin tidak akan ditolak!
Sepanjang Waktu Berpuasa: Dari terbit fajar hingga tenggelam matahari adalah waktu penuh kebaikan.
Jeda Antara Adzan dan Iqamah: Kesempatan emas di setiap sela waktu salat wajib.
Malam Lailatul Qadar: Malam spesial di 10 hari terakhir yang lebih mulia dari seribu bulan.
Saat Sujud dalam Salat: Momen posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya.
Hari Jumat: Khususnya setelah waktu Ashar hingga menjelang Maghrib.
Nah, sahabat UNISA Yogyakarta, jangan sampai rugi! Yuk, maksimalkan tujuh waktu di atas dengan doa terbaikmu. Semoga segala harapan di Ramadan tahun ini segera diijabah oleh Allah SWT. Amin!
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/03/mustajab-untuk-berdoa.jpg7681408adminhttps://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2020/12/logo_berita_unisa_bg.pngadmin2026-03-03 09:43:392026-05-05 10:46:08Jangan Sampai Terlewat! 7 Waktu Mustajab untuk Berdoa di Bulan Ramadan