nagasaki

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali melebarkan sayapnya ke kancah internasional, kali ini dosen dan mahasiswa Magister Kebidanan UNISA Yogyakarta terbang ke Jepang untuk melakukan pengabdian masyarakat di School of Biomedical Sciences, Nagasaki University, pada Rabu (26/11/2025).

Misi ini dipimpin langsung oleh Ketua Program Studi Magister Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) UNISA Yogyakarta, Andari Wuri Astuti, S.SiT., MPH., Ph.D. Ia tidak sendirian, melainkan memboyong mahasiswa Magister Kebidanan Angkatan 12 untuk berbagi ilmu di Negeri Sakura.

Kehadiran perwakilan UNISA Yogyakarta disambut antusias oleh mahasiswa, dosen, serta praktisi bidan dan perawat di Nagasaki University. Topik yang dibawakan pun sangat relevan dengan kebutuhan global saat ini: “Memberikan Perawatan Ibu yang Sensitif Secara Budaya kepada Pasien Muslim”.

Pentingnya Privasi dan Makanan Halal di Nagasaki

Dalam pemaparannya, Andari menekankan bahwa merawat pasien Muslim memerlukan kepekaan khusus. Ia membedah aspek-aspek vital yang sering kali menjadi tantangan bagi nakes luar negri, seperti aturan makanan halal, jaminan privasi dan kesopanan tubuh wanita, penyediaan ruang ibadah, hingga budaya pelibatan keluarga besar dalam pengambilan keputusan medis.

“Keterampilan dalam memahami dan menghormati kepercayaan pasien ini diyakini akan meningkatkan kualitas layanan, rasa aman, serta kepuasan pasien dalam proses perawatan ibu,” jelas Andari.

Ia juga memberi persepsi mengenai tindakan medis. Andari menegaskan bahwa dalam kondisi gawat darurat, Islam memperbolehkan pemberian tindakan medis terbaik tanpa batasan termasuk penggunaan obat tertentu selama dikomunikasikan dengan penjelasan yang baik kepada pasien.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang transfer ilmu, tetapi juga memperkuat kolaborasi riset antara Indonesia dan Jepang. Mahasiswa Magister Kebidanan UNISA Yogyakarta ikut aktif dalam diskusi, membuktikan bahwa kampus ini siap menjadi pionir dalam pendidikan kesehatan global dan internasionalisasi pendidikan kebidanan.

Pimnas

Kabar datang dari kampus Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, sebuah inovasi cemerlang lahir dari tangan mahasiswa Program Studi Psikologi yang berhasil menembus panggung kompetisi ilmiah paling bergengsi di Indonesia: Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-38.

Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Sosial Humaniora (RSH) UNISA Yogyakarta siap berlaga melawan kampus-kampus top se-Nusantara. Ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini akan diadakan di Universitas Hasanuddin, Makassar, pada tanggal 23 – 28 November 2025.

Bawa Inovasi Neurosains di PIMNAS

Apa yang membuat mereka lolos seleksi ketat ini? Ternyata, empat mahasiswa Psikologi yang dibimbing oleh dosen Fildzah Malahati, S.Psi., M.Psi., Psikolog ini membawa penelitian yang sangat solutif dan menyentuh sisi kemanusiaan.

Mereka mengangkat proposal berjudul “Intervensi Binaural Beats Sebagai Pendekatan Neurosains untuk Mengurangi Durasi Temper Tantrum Pada Anak Autism Spectrum Disorder”. Riset ini menawarkan pendekatan neurosains menggunakan gelombang suara khusus (binaural beats) untuk membantu menenangkan anak dengan gangguan spektrum autisme yang sedang mengalami tantrum. Sebuah terobosan yang diharapkan menjadi solusi baru bagi orang tua dan terapis.

Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) UNISA Yogyakarta, Bdn. Yekti Satriyandari, S.St., M.Kes., menyambut gembira lolosnya tim UNISA Yogyakarta ke babak final ini. Ia meyakini PIMNAS ke-38 bukan sekadar ajang pamer trofi, tapi wadah adu gagasan cemerlang.

“PIMNAS tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah kolaborasi, pertukaran ide, dan inspirasi bagi seluruh peserta untuk terus berinovasi dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa,” ujar Yekti.

Ia pun menaruh harapan besar pada tim Psikologi ini. “Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal menuju masa depan yang lebih cerah, penuh prestasi, dan berdampak positif bagi dunia akademik maupun masyarakat luas,” tutupnya.

global

Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh, Arab Saudi, di Kampus Terpadu Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Sabtu (22/11/2025). Melalui kerja sama ini diharap menguatkan kiprah PTMA di tingkat global.

Unisa Yogyakarta menjadi salah satu perguruan tinggi yang menandatangani nota kesepahaman. “Nota kesepahaman ini sangat penting, mudah-mudahan mendapat berkah. Kami bahagia diberi mandat, jadi tuan rumah,” kata Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti.

Kiprah Global

Warsiti mengharapkan melalui kerja sama ini dapat mengembangkan berbagai hal dari perguruan tinggi, mulai dari kapasitas dosen, riset kolaboratif, hingga pengabdian masyarakat yang berdampak pada masyarakat global. Tidak hanya berhenti pada Tridharma perguruan tinggi, kerja sama ini diharap juga membuka peluang kerja bagi para lulusan Unisa Yogyakarta.

“Diharapkan lulusan kami juga mendapat kesempatan berkarya, bekerja di Arab Saudi. Diharapkan bisa diluaskan juga bentuk kerja sama yang bisa kita lakukan. Momentum ini kita bangun betul, tidak hanya menandatangani seremonial tapi terimplementasi program nyata. Memberi manfaat masyarakat luas,” ungkap Warsiti.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh Arab Saudi, Prof. Muhammad Irfan Helmy memaparkan lanskap di Arab Saudi telah mengalami perubahan besar. Banyak peluang yang bisa disenergikan dengan PTMA untuk mengembangkan perguruan tinggi melalui pengabdian, riset, hingga peluang kerja bagi lulusan.

“Sejak dilaunching visi 2030 (rencana strategis yang bertujuan mengurangi ketergantungan negara pada minyak dengan mendiversifikasi ekonomi). Sudah mengalami perubahan sesungguhnya, termasuk pendidikan,” kata Irfan Helmy.

Ia mengatakan melalui penandatanganan nota kesepahaman ini bisa terbangun berbagai sinergi kolaborasi. “Ini menjadi awal yang baik untuk tahapan berikutnya,” ungkapnya.

Senada, Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Ahmad Muttaqin mengatakan melalui sinergi ini dapat berkembang memberi dampak lebih luas. “Internasionalisasi saya rasa bukan hanya retorika gagah-gagahan, harus ada bentuk implementasi. MoU yang ditindaklanjuti dengan kerja sama, secara nyata,” ungkapnya.

Ketua Pengurus Pusat KKN MAs, Ahmad Darmawan mengharapkan kerja sama yang terjalin bisa dalam semua sektor. “Mulai dari riset, magang, pengabdian masyarakat, dan yang lainnya. Ini peluang bersama, PTMA maju bersama,” tegasnya.

Pengembangan

Pimpinan Perguruan Tinggi yang terdiri dari Rektor dan Wakil Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) mengikuti Leadership Training ke-XI di Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Sabtu (22/11/2025). Kegiatan ini sebagai wadah untuk berbagi cerita pengalaman pengembangan perguruan tinggi.

“Pada kesempatan ini, kami mendapat kesempatan, diberi mandat untuk sharing pengalaman baik. Kami juga terus belajar menguatkan, mengembangkan kampus ini,” ujar Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti.

Warsiti juga mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi proses pembelajaran kepemimpinan, sekaligus menjadi ruang berbagi praktik baik. “Melalui kegiatan ini juga kami belajar dari perguruan tinggi lain. Namanya sharing, tidak hanya dari kami,” ucap Warsiti.

Pengembangan Kampus

Warsiti menyinggung bahwa saat ini perguruan tinggi swasta perlu beradaptasi dengan berbagai perubahan. Menurutnya dunia pendidikan sangat dinamis. Diharapkan dengan forum ini juga bisa menghadapi berbagai tantangan yang ada. “Banyak hal bisa kita dapat di forum ini. Semoga senantiasa memberi keberkahan, mengembangkan, menguatkan kampus PTMA,” ungkapnya.

Tim Pengembang Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Ghoffar Ismail mengharapkan melalui kegiatan ini dapat memberi dampak positif bagi PTMA. “Kami atas nama Majelis Diktilitbang mengucapkan terima kasih kepada Unisa Yogyakarta. Semoga kegiatan ini mendapat hasil maksimal untuk semua,” ucapnya.

Ghoffar Ismail turut mengapresiasi capaian Unisa Yogyakarta selama ini. Menurutnya sivitas akademika Unisa Yogyakarta mampu mengelola dengan baik. Diharapkan pengalaman capaian tersebut bisa dibagikan ke kampus lain.

Wakil Rektor I Bidang Akademik Unisa Yogyakarta, Sulistyaningsih memaparkan perkembangan Unisa Yogyakarta dari awal berdiri hingga mencapai posisi Unggul. Ia juga berbagai bagaimana program Unisa Yogyakarta terkait internalisasi nilai-nilai ideologi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

Selain itu, Sulis juga berbagi cerita tentang pengembangan kelembagaan dan akademik, penguatan sistem penjaminan mutu. Kemudian, strategi keunggulan bersaing dan diminati, serta strategi marketing, branding dan medsos Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB).

Seusai pengenalan dan pemaparan seputar Unisa Yogyakarta, agenda dilanjutkan dengan diskusi. Adapun peserta Leadership Training Angkatan ke-XI ini, pimpinan dari Universitas Islam Ahmad Dahlan Sinjai, Universitas Muhammadiyah Palopo, Universitas Muhammadiyah Sorong, Universitas Ahmad Dahlan Aceh. Kemudian, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Universitas Muhammadiyah Kudus, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, dan Universitas Muhammadiyah Pontianak.

Logandeng

Bukan sekadar teori, mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta turun gunung ke Kelurahan Logandeng, Gunungkidul. Mereka menggelar pelatihan teknis budidaya ikan lele, membuktikan gerakan mahasiswa yang berdampak langsung ke masyarakat, Minggu (09/11/25).

BEM UNISA ke Logandeng

Aksi ini merupakan bagian dari program SI-LEMPENG dan Program Mahasiswa Berdampak (PM-BEM), sebuah inisiasi dari Kemendikitsaintek yang mendorong BEM aktif dalam pengabdian. Tujuannya jelas: meningkatkan keterampilan warga dalam budidaya ikan yang produktif dan berkelanjutan.

BEM KM UNISA Yogyakarta menggandeng pakar, Purwono Aji, Kepala BPPTB Perikanan Gunungkidul. Purwono membeberkan rahasia dapur budidaya lele dari A sampai Z. Ia menekankan, kunci sukses terbesar ada pada kualitas air, bukan sekadar pakan.

“Keberhasilan budidaya ikan lele bergantung pada kualitas air. Kondisi ideal air memiliki pH 6,5–8,5, suhu 26–30°C, dan kadar oksigen minimal 5 mg/L,” ungkap Purwono di hadapan warga.

Ia juga membongkar teknis pematangan air yang wajib dilakukan minimal tiga hari, lengkap dengan perlakuan penggaraman, pemupukan organik, dan pengapuran.

Pelatihan ini tak hanya membahas cara sukses, tapi juga cara mengatasi masalah menakutkan bagi para peternak, seperti kanibalisme antar ikan, air kolam berbau, dan infeksi penyakit. Uniknya, peserta diajarkan menggunakan resep alami.

“Penggunaan probiotik, serta pengobatan alami dengan daun pepaya, bawang putih, dan tanaman herbal sangat direkomendasikan sebagai langkah perawatan ramah lingkungan,” jelas Purwono.

Sesi tanya jawab pun berlangsung, warga tampak antusias dan berharap pendampingan dari BEM KM UNISA Yogyakarta ini terus berlanjut.