Pasien

Tim Kemanusiaan UNISA Yogyakarta yang tergabung dalam program DIKTI Berdampak kembali melanjutkan pelayanan kepada pasien di wilayah terdampak bencana. Pada hari kelima layanan kesehatan, Minggu (21/12/2025), tim mencatat lonjakan signifikan jumlah penerima manfaat di Desa Sibuluan Indah, Kecamatan Sibuluan.

Pasien

Sebanyak 165 pasien medis dan 65 pasien fisioterapi berhasil dilayani, sehingga total mencapai 230 pasien, jauh melampaui target awal yang ditetapkan hanya 50 pasien. Kondisi lingkungan di lokasi pelayanan dilaporkan relatif kondusif dan terkendali.

Shofal Jamil selaku koordinator lapangan menyampaikan bahwa lonjakan pasien mencapai hampir 300 persen dari estimasi awal, sehingga tim harus melakukan pengambilan ulang stok obat dari gudang logistik untuk memastikan pelayanan tetap berjalan optimal. Temuan ini menjadi evaluasi penting agar kapasitas logistik obat ditingkatkan pada lokasi pelayanan berikutnya. Pasien yang di dominasi oleh lansia dan ibu-ibu tampak antusias untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

Dari hasil pemeriksaan medis, tim menemukan prevalensi kasus hipertensi yang cukup tinggi di kalangan warga. “Jumlah total penyakit tidak sama dengan jumlah total pasien (165 orang) karena mayoritas pasien memiliki Multi-Diagnosis (satu pasien memiliki lebih dari satu jenis penyakit), Tingginya angka penyakit kulit (Dermatitis/Alergi) dan pernapasan (ISPA) seringkali muncul bersamaan pada pasien yang juga memiliki riwayat Hipertensi kronis” ujar dr Joko. Kondisi tersebut diduga kuat berkaitan dengan pola konsumsi masyarakat yang selama beberapa minggu terakhir banyak mengandalkan mi instan pasca-bencana. Tim menilai perlu adanya edukasi gizi sebagai bagian dari layanan lanjutan untuk menekan risiko penyakit tidak menular di wilayah terdampak.

Selain layanan medis umum, tim juga memberikan layanan fisioterapi kepada 65 pasien yang membutuhkan pemulihan fisik pasca-bencana. Namun demikian, evaluasi internal mencatat perlunya Standar Operasional Prosedur (SOP) khusus fisioterapi di situasi bencana agar pelayanan dapat dilakukan secara lebih profesional, proporsional, dan terukur.

Pendekatan psikososial juga menjadi perhatian tim. Selama layanan fisioterapi, banyak pasien menunjukkan kebutuhan untuk berbagi cerita dan mendapatkan dukungan mental. Hal ini menegaskan pentingnya integrasi dukungan psikologis awal dalam setiap tindakan pemulihan fisik di area bencana.

Dalam aspek logistik, penyaluran bantuan sembako dilakukan dengan skema satu paket per Kepala Keluarga (KK). Sebagai tindak lanjut, Tim Kemanusiaan UNISA Yogyakarta merekomendasikan peningkatan edukasi gizi masyarakat, finalisasi SOP layanan fisioterapi bencana, serta penguatan komunikasi alur pelayanan di bagian registrasi agar tidak terjadi penumpukan pasien.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen UNISA Yogyakarta dalam mendukung pemulihan kesehatan dan psikis masyarakat terdampak bencana melalui pelayanan terpadu yang adaptif dan berkelanjutan.

Tumbuh kembang

Masa emas pertumbuhan anak (Golden Age) tak boleh dilewatkan dengan santai. mengubah si kecil tumbuh optimal adalah harga mati bagi orang tua dan pendidik. Sadar akan hal ini, Kelompok Bermain (KB) ‘Aisyiyah Surya Melati mengambil langkah sigap dengan menggandeng Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menggelar kegiatan Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK), Minggu (02/11/25).

Kolaborasi apik ini melibatkan Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Profesi Bidan UNISA Yogyakarta. Tak tanggung-tanggung, tim pelaksana dipimpin langsung oleh dosen ahli, Ellyda Rizki Wijhati, S.ST., M.Keb., dan Bdn. Belian Anugrah Estri, S.ST., M.MR. Mereka juga membawa dua mahasiswa semester 5, Della Adellia dan Eva Nurul Hidayah, untuk turun langsung ke lapangan.

Cek Fisik Hingga Mental

Pemeriksaan yang dilakukan tidak main-main. Tim kesehatan melakukan penyisiran secara sistematis dan menyeluruh. Dimulai dari pengukuran fisik dasar seperti berat badan, tinggi badan, dan lingkar lengan atas untuk memantau status gizi.

Tak berhenti di fisik, aspek kecerdasan dan perkembangan mental anak juga dikupas menggunakan instrumen Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Instrumen ini menilai empat domain krusial: motorik kasar, motorik halus, kemampuan bicara dan bahasa, serta kemandirian sosial.

Ellyda Rizki Wijhati menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar formalitas. Menurutnya, deteksi dini adalah kunci.

“Melalui deteksi dini, kita dapat mengenali potensi gangguan perkembangan lebih cepat sehingga intervensi dapat segera dilakukan. Peran orang tua dan pendidik dalam stimulasi harian juga sangat menentukan keberhasilan tumbuh kembang anak,” ujar Ellyda di sela kegiatan.

Tumbuh Kembang

Suasana kegiatan berlangsung ceria dan jauh dari kesan menakutkan. Anak-anak tampak senang mengikuti pos pemeriksaan. Sementara itu, para orang tua memanfaatkan momen ini untuk curhat dan berkonsultasi gratis. Tim UNISA Yogyakarta memberikan edukasi seputar gizi seimbang, stimulasi psikososial, hingga pola asuh yang tepat.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa KB ‘Aisyiyah Surya Melati tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga kesejahteraan emosional dan kesehatan anak secara holistik. Di sisi lain, ini menjadi wujud pengabdian masyarakat (Tri Dharma) UNISA Yogyakarta dalam mencetak generasi sehat bebas masalah tumbuh kembang.

Karantina

Pemandangan tak biasa terlihat di Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Bukan mahasiswa, kali ini giliran rombongan dari Badan Karantina Indonesia Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur yang menuju ke ruang sidang gedung Siti Moendjijah, Jumat (14/11/25).

Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan

Kedatangan rombongan BKHIT Jatim ini bukan tanpa alasan. Mereka datang khusus untuk studi banding dan mengintip rahasia dapur Biro Humas dan Protokol (BHP) UNISA Yogyakarta, yang dianggap sukses dalam mengelola konten pemberitaan dan media sosial.

Kepala BHP UNISA Yogyakarta, Sinta Maharani, S.Sos., M.I.Kom, menyambut hangat kunjungan ini. Menurutnya, ini adalah momen yang pas untuk saling bertukar informasi dan praktik terbaik di dunia kehumasan yang serba dinamis.

“Sejatinya humas itu membangun kepercayaan di era saat ini yang serba cepat. Digitalisasi sangat luar biasa, karena media sosial menjadi salah satu jendela untuk mengetahui siapa kita,” tutur Sinta saat membuka diskusi.

Yang menarik, Koordinator Humas BKHIT Jawa Timur, Ike Yustia Aprini, blak-blakan mengakui alasan mereka memilih UNISA Yogyakarta. Ternyata, ini semua gara-gara Google.

“Kami datang kemari ingin menambah wawasan dan belajar bersama. Setelah kami survei di Google, ternyata UNISA Yogyakarta memiliki banyak prestasi di bidang kehumasan,” ungkap Ike.

Ia menegaskan, BKHIT Jatim serius ingin mempelajari strategi pengelolaan humas dari UNISA. “Kami ingin mengetahui bagaimana UNISA dalam mengelola kehumasan,” ujarnya.

Pertemuan ini pun tak sekadar seremonial. Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi intensif, di mana kedua belah pihak saling membongkar strategi pengelolaan media sosial dan taktik produksi konten pemberitaan di website agar efektif menjangkau masyarakat.