Khatam Al-Qur`an

Momen bulan suci selalu menjadi ajang berlomba-lomba meraup pahala, salah satu target utama umat muslim tentu saja ingin bisa khatam Al-Qur’an 30 juz. Sayangnya, semangat yang menggebu di awal sering kali kendor di pertengahan bulan karena merasa berat membaca berlembar-lembar ayat sekaligus.

Khatam Al-Qur`an

Namun jangan khawatir, ada trik jitu yang bisa Anda terapkan di rumah maupun di sela waktu kerja setiap harinya. Rahasianya adalah menerapkan metode One Day One Juz (ODOJ) dengan sistem cicil.

Satu juz dalam mushaf Al-Qur’an standar rata-rata terdiri dari 20 halaman (10 lembar). Membacanya dalam satu waktu duduk mungkin menyita durasi panjang. Trik cerdasnya, cukup bagi 20 halaman tersebut ke dalam 5 waktu salat fardu.

Berikut simulasi pembagiannya agar terasa super ringan:

  • Subuh: Baca 2 lembar (4 halaman) sebelum atau sesudah salat.
  • Dzuhur: Baca 2 lembar (4 halaman) di sela jam istirahat siang.
  • Ashar: Baca 2 lembar (4 halaman) setelah salat Ashar.
  • Maghrib: Baca 2 lembar (4 halaman) sembari menunggu waktu Isya.
  • Isya/Tarawih: Baca 2 lembar (4 halaman) sebagai penutup hari.

Dengan rumus cicil 2 lembar per waktu salat ini, target 1 juz per hari dijamin tercapai mulus tanpa terasa membebani. Kuncinya hanya satu: konsistensi!

Sumber : Detik, Muslim.or.id

Penulis : Adi Sasmito, S.I.Kom (Humas UNISA Yogyakarta)

Asam lambung

Bulan suci Ramadhan selalu identik dengan beragam hidangan lezat buka puasa yang menggugah selera saat azan maghrib berkumandang, namun, bagi Anda penderita maag atau asam lambung (GERD), momen berbuka puasa bisa jadi bumerang menyakitkan jika kalap memilih makanan.

Asam Lambung

Perut yang kosong selama lebih dari 12 jam memiliki kondisi dinding lambung yang sangat sensitif. Asal menyantap hidangan secara sembarangan saat waktu berbuka puasa, baik di rumah maupun di tempat bukber, justru bisa memicu nyeri perut hebat, mual, hingga dada terasa panas terbakar (heartburn).

Agar ibadah puasamu tetap lancar dan nyaman seharian penuh, ada pantangan ketat yang wajib dipatuhi. Lalu, bagaimana cara menyiasatinya dan apa saja hidangan yang harus segera dicoret dari meja makan? Berikut daftar makanan dan minuman yang pantang disentuh saat perut kosong:

  • Gorengan dan Makanan Berlemak

Bakwan, tahu isi, hingga gorengan pinggir jalan memang menggoda. Sayangnya, makanan tinggi lemak sangat lambat dicerna tubuh. Akibatnya, lambung harus bekerja ekstra keras sehingga memicu produksi asam lambung berlebih.

  • Makanan Pedas dan Asam

Langsung menghajar perut kosong dengan sambal, es jeruk asam, kuah asinan, atau pempek adalah mimpi buruk bagi lambung. Kandungan asam dan capsaicin (pada cabai) akan mengiritasi langsung dinding lambung yang sedang rentan.

  • Minuman Berkafein dan Bersoda

Es kopi susu, teh kental manis, atau minuman bersoda bisa menyebabkan produksi gas meningkat dan perut menjadi kembung. Kafein juga berisiko melemahkan otot katup lambung, membuat asam lambung mudah naik ke kerongkongan.

Sebagai gantinya, manjakan perut Anda dengan segelas air putih hangat dan makanan lunak seperti kurma, buah naga, atau pisang. Jangan biarkan salah pilih menu merusak kekhusyukan Ramadhan Anda!

Sumber : Detik Health, Halodoc, Alodoc

Penulis : Adi Sasmito, S.I.Kom (Humas UNISA Yogyakarta)

`aisyiyah

Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta menggelar agenda Silaturahmi dengan tajuk Hari Ber’Aisyiyah bersama Badan Pembina Harian (BPH) Unisa Yogyakarta di Masjid Walidah Dahlan, Jumat (13/2/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penguatan nilai ideologis Muhammadiyah-‘Aisyiyah sekaligus refleksi peran sivitas akademika dalam memajukan kampus.

Ketua BPH Unisa Yogyakarta, Siti Noordjannah, menegaskan bahwa Hari Ber’Aisyiyah dimaknai sebagai upaya terus-menerus memperkuat dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah melalui kiprah di Unisa Yogyakarta, siapa pun dan di mana pun berada.

Hari ber `Aisyiyah

“Hari Ber’Aisyiyah ingin terus memaknai kehidupan kita dalam ber-Unisa, dalam rangka menguatkan dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Kita tidak hanya hadir, tetapi juga menapaki dan membuat sejarah yang kelak bisa ditengok dan dibaca kader serta masyarakat, hari ini maupun masa depan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kontribusi setiap individu di Unisa harus dirajut menjadi kekuatan kolektif. “Kontribusi masing-masing harus dijahit dengan nilai-nilai ideologis Muhammadiyah yang berjuang untuk Islam rahmatan lil ‘alamin. Kalau tidak dirawat dan dijahit dengan baik,” tegasnya.

Menurut Noordjannah, di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tidak dikenal istilah pensiun dalam pengabdian. Ia juga mengajak seluruh pegawai untuk tidak menyerahkan masa depan Unisa hanya pada tokoh-tokoh masa lalu, tetapi bersama-sama memikirkan langkah ke depan. “Ke depan seperti apa dan sekarang harus melakukan apa, itu menjadi tanggung jawab kita semua. Harapannya, kontribusi Unisa Jogja bisa memancar ke seantero Indonesia,” katanya.

Silaturahmi ini juga menjadi bagian dari persiapan menyambut Ramadan. Momentum tersebut diharapkan menjadi hari meneguhkan komitmen bersama untuk memperkuat amal jariyah dan meningkatkan kualitas institusi.

Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti, dalam sambutannya menyampaikan bahwa silaturahmi bukan sekadar pertemuan formal, melainkan sarana memperpanjang umur dan memperluas rezeki. “Mari kita merasakan bekerja di Unisa bukan sebagai beban, tetapi sebagai makna. Kita bergembira dan berkhidmat di Unisa Jogja, tanpa melupakan tujuan besar yang kita emban,” ujarnya.

Warsiti mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak akan semakin ringan. Karena itu, diperlukan kebersamaan dan ikhtiar kolektif untuk menjaga dan menguatkan Unisa sebagai perguruan tinggi berbasis nilai Islam berkemajuan.

“Ke depan tantangan akan semakin kompleks. Namun dengan kebersamaan dan saling menguatkan, kita bisa menjaga Unisa. Tugas kita juga memastikan bahwa aktivitas dan tanggung jawab tidak mengurangi kualitas ibadah kita,” tambahnya.

Dalam silaturahmi ini Dekan Fakultas Kedokteran Unisa Yogyakarta, Joko Murdiyanto, juga berbagi pengalamannya selama mengabdi di Unisa Yogyakarta. Ia menyampaikan bahwa cita-cita Unisa tidak berhenti pada capaian saat ini. Ia mendorong seluruh sivitas akademika untuk mengantarkan Unisa menjadi perguruan tinggi yang tidak hanya diakui di tingkat nasional, tetapi juga internasional.

“Hidup kita tidak hanya sampai di sini. Kita harus semaksimal mungkin mengantarkan Unisa menjadi perguruan tinggi yang unggul, dengan layanan yang responsif dan berkualitas sebagai tolok ukur,” ujarnya.

Pasien

Tim Kemanusiaan UNISA Yogyakarta yang tergabung dalam program DIKTI Berdampak kembali melanjutkan pelayanan kepada pasien di wilayah terdampak bencana. Pada hari kelima layanan kesehatan, Minggu (21/12/2025), tim mencatat lonjakan signifikan jumlah penerima manfaat di Desa Sibuluan Indah, Kecamatan Sibuluan.

Pasien

Sebanyak 165 pasien medis dan 65 pasien fisioterapi berhasil dilayani, sehingga total mencapai 230 pasien, jauh melampaui target awal yang ditetapkan hanya 50 pasien. Kondisi lingkungan di lokasi pelayanan dilaporkan relatif kondusif dan terkendali.

Shofal Jamil selaku koordinator lapangan menyampaikan bahwa lonjakan pasien mencapai hampir 300 persen dari estimasi awal, sehingga tim harus melakukan pengambilan ulang stok obat dari gudang logistik untuk memastikan pelayanan tetap berjalan optimal. Temuan ini menjadi evaluasi penting agar kapasitas logistik obat ditingkatkan pada lokasi pelayanan berikutnya. Pasien yang di dominasi oleh lansia dan ibu-ibu tampak antusias untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

Dari hasil pemeriksaan medis, tim menemukan prevalensi kasus hipertensi yang cukup tinggi di kalangan warga. “Jumlah total penyakit tidak sama dengan jumlah total pasien (165 orang) karena mayoritas pasien memiliki Multi-Diagnosis (satu pasien memiliki lebih dari satu jenis penyakit), Tingginya angka penyakit kulit (Dermatitis/Alergi) dan pernapasan (ISPA) seringkali muncul bersamaan pada pasien yang juga memiliki riwayat Hipertensi kronis” ujar dr Joko. Kondisi tersebut diduga kuat berkaitan dengan pola konsumsi masyarakat yang selama beberapa minggu terakhir banyak mengandalkan mi instan pasca-bencana. Tim menilai perlu adanya edukasi gizi sebagai bagian dari layanan lanjutan untuk menekan risiko penyakit tidak menular di wilayah terdampak.

Selain layanan medis umum, tim juga memberikan layanan fisioterapi kepada 65 pasien yang membutuhkan pemulihan fisik pasca-bencana. Namun demikian, evaluasi internal mencatat perlunya Standar Operasional Prosedur (SOP) khusus fisioterapi di situasi bencana agar pelayanan dapat dilakukan secara lebih profesional, proporsional, dan terukur.

Pendekatan psikososial juga menjadi perhatian tim. Selama layanan fisioterapi, banyak pasien menunjukkan kebutuhan untuk berbagi cerita dan mendapatkan dukungan mental. Hal ini menegaskan pentingnya integrasi dukungan psikologis awal dalam setiap tindakan pemulihan fisik di area bencana.

Dalam aspek logistik, penyaluran bantuan sembako dilakukan dengan skema satu paket per Kepala Keluarga (KK). Sebagai tindak lanjut, Tim Kemanusiaan UNISA Yogyakarta merekomendasikan peningkatan edukasi gizi masyarakat, finalisasi SOP layanan fisioterapi bencana, serta penguatan komunikasi alur pelayanan di bagian registrasi agar tidak terjadi penumpukan pasien.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen UNISA Yogyakarta dalam mendukung pemulihan kesehatan dan psikis masyarakat terdampak bencana melalui pelayanan terpadu yang adaptif dan berkelanjutan.

Tumbuh kembang

Masa emas pertumbuhan anak (Golden Age) tak boleh dilewatkan dengan santai. mengubah si kecil tumbuh optimal adalah harga mati bagi orang tua dan pendidik. Sadar akan hal ini, Kelompok Bermain (KB) ‘Aisyiyah Surya Melati mengambil langkah sigap dengan menggandeng Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menggelar kegiatan Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK), Minggu (02/11/25).

Kolaborasi apik ini melibatkan Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Profesi Bidan UNISA Yogyakarta. Tak tanggung-tanggung, tim pelaksana dipimpin langsung oleh dosen ahli, Ellyda Rizki Wijhati, S.ST., M.Keb., dan Bdn. Belian Anugrah Estri, S.ST., M.MR. Mereka juga membawa dua mahasiswa semester 5, Della Adellia dan Eva Nurul Hidayah, untuk turun langsung ke lapangan.

Cek Fisik Hingga Mental

Pemeriksaan yang dilakukan tidak main-main. Tim kesehatan melakukan penyisiran secara sistematis dan menyeluruh. Dimulai dari pengukuran fisik dasar seperti berat badan, tinggi badan, dan lingkar lengan atas untuk memantau status gizi.

Tak berhenti di fisik, aspek kecerdasan dan perkembangan mental anak juga dikupas menggunakan instrumen Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Instrumen ini menilai empat domain krusial: motorik kasar, motorik halus, kemampuan bicara dan bahasa, serta kemandirian sosial.

Ellyda Rizki Wijhati menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar formalitas. Menurutnya, deteksi dini adalah kunci.

“Melalui deteksi dini, kita dapat mengenali potensi gangguan perkembangan lebih cepat sehingga intervensi dapat segera dilakukan. Peran orang tua dan pendidik dalam stimulasi harian juga sangat menentukan keberhasilan tumbuh kembang anak,” ujar Ellyda di sela kegiatan.

Tumbuh Kembang

Suasana kegiatan berlangsung ceria dan jauh dari kesan menakutkan. Anak-anak tampak senang mengikuti pos pemeriksaan. Sementara itu, para orang tua memanfaatkan momen ini untuk curhat dan berkonsultasi gratis. Tim UNISA Yogyakarta memberikan edukasi seputar gizi seimbang, stimulasi psikososial, hingga pola asuh yang tepat.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa KB ‘Aisyiyah Surya Melati tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga kesejahteraan emosional dan kesehatan anak secara holistik. Di sisi lain, ini menjadi wujud pengabdian masyarakat (Tri Dharma) UNISA Yogyakarta dalam mencetak generasi sehat bebas masalah tumbuh kembang.