Pneumonia

Pneumonia atau radang paru-paru masih menjadi momok menakutkan bagi anak-anak di seluruh dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2023 mencatat fakta kelam: sekitar 700.000 balita meninggal setiap tahun akibat penyakit ini. Yang mengejutkan, Indonesia menduduki peringkat keempat global penyumbang kematian balita akibat pneumonia.

Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Melalui Kementerian Kesehatan, target bertekad untuk menekan angka kematian dan meningkatkan vaksinasi PCV hingga 90%. Namun, pertarungan pembunuh senyap ini di lapangan ternyata memiliki dinamika tersendiri, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

DIY Jitu Deteksi

DIY mencatat prestasi unik. Pada tahun 2024, provinsi ini menjadi juara nasional dalam hal penemuan kasus pneumonia balita dengan persentase mencapai 86%. Namun, tingginya angka penemuan ini juga mengungkap fakta lain: pneumonia menjadi pembunuh balita nomor dua di DIY setelah tifus.

Sayangnya, upaya cepat penemuan kasus belum sepenuhnya diimbangi dengan kualitas pengobatan yang sempurna. Cakupan tata laksana standar di DIY baru menyentuh angka 86%, masih di bawah target nasional 95%. Artinya, meskipun jago mendeteksi, DIY masih harus berjuang keras untuk memastikan setiap balita yang sakit mendapatkan penanganan sesuai standar emas.

MTBS: Senjata Andalan Puskesmas

Di garda terdepan, Puskesmas mengandalkan metode Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Ini adalah protokol ‘sakti’ bagi tenaga kesehatan untuk mendeteksi penyakit mematikan seperti pneumonia, malaria, hingga demam berdarah secara cepat, bahkan di tengah keterbatasan alat.

Studi analisis kebijakan oleh Mahasiswa Magister Kebidanan UNISA di Puskesmas Gamping I membuktikan keampuhan metode ini. Penerapan MTBS yang konsisten di sana tidak hanya meningkatkan deteksi dini, tetapi juga mengantarkan puskesmas tersebut meraih Juara Provinsi Inovasi Tumbuh Kembang Balita.

Tantangan dan Transformasi Digital

Meski efektif, penerapan MTBS di lapangan masih menghadapi kendala Deteksi Pasif tugasnya cenderung menunggu pasien datang. Akibatnya, risiko missing cases atau kasus yang tidak terdeteksi masih tinggi, terutama jika orang tua kurang peka terhadap gejala awal.

Kini, transformasi digital menjadi solusi mutlak. Digitalisasi MTBS terbukti mampu memangkas waktu pelayanan dari 25 menit menjadi hanya 10 menit. Integrasi sistem digital dengan kecerdasan buatan (AI) juga memungkinkan pemantauan data secara real-time , sehingga tidak ada lagi balita yang luput dari pantauan.

Ke depan, perang melawan pneumonia tidak bisa hanya bergantung pada dokter. Kolaborasi antara teknologi canggih, kader posyandu yang dilatih, serta orang tua yang waspada, adalah benteng pertahanan terbaik untuk menyelamatkan nyawa generasi penerus bangsa.

Oleh :

Izza Fitrotun Nisa Mahasiswa : UNISA Yogyakarta

Alya Nursyifa Perwata : Mahasiswa UNISA Yogyakarta

Dr. Sulistyaningsih, M.H.Kes., Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

Lawan kuman

Kebersihan tangan sering dianggap sepele, padahal ini adalah benteng pertahanan pertama tubuh dari serangan penyakit untuk lawan kuman. Menyadari pentingnya hal tersebut, sekumpulan mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menyulap edukasi kesehatan menjadi pesta permainan yang seru di Panti Asuhan Yatim Putri ‘Aisyiyah Notoprajan, Ngampilan, Kota Yogyakarta.

Lawan Kuman

Aksi sosial yang berlangsung pada Senin (22/12/2025) ini diinisiasi oleh mahasiswa Program Studi Keperawatan Anestesiologi yang tergabung dalam Kelompok AIK B8. Kegiatan ini merupakan realisasi Proyek Al-Ma’un, sebuah program pengabdian masyarakat yang menjadi ciri khas kampus UNISA Yogyakarta.

Ketua Kelompok B8, Muhammad Zahid Rahiman, menjelaskan bahwa timnya sengaja menggunakan metode pendekatan fun games. Tujuannya agar pesan-pesan kesehatan mudah dicerna dan diingat oleh anak-anak panti.

“Kami mengemas materi cuci tangan ini serealistis dan seinteraktif mungkin. Melalui games, anak-anak jadi lebih tertarik mempraktikkan 6 langkah cuci tangan yang benar menggunakan sabun dan air mengalir. Jadi, mereka tahu kapan waktu krusial harus cuci tangan, tapi dengan cara yang gembira,” ujar Zahid.

Keseruan tidak berhenti di wastafel. Usai memastikan tangan adik-adik panti bersih dan bebas kuman, para mahasiswa melanjutkan kegiatan dengan berdialog hangat bersama Ibu Pengurus Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah. Momen ini menjadi ajang perekat silaturahmi sekaligus diskusi mengenai kondisi kesehatan di lingkungan panti.

Mahasiswa juga diajak berkeliling melihat asrama dan fasilitas panti untuk lebih memahami dinamika kehidupan sehari-hari para santriwati.

Proyek Al-Ma’un ini diharapkan bukan sekadar seremonial belaka. Lebih jauh, kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai empati dan kepekaan sosial di hati para calon tenaga medis muda UNISA Yogyakarta. Dengan turun langsung ke lapangan, mahasiswa belajar bahwa kepedulian sekecil apa pun seperti mengajarkan cara mencuci tangan bisa berdampak besar bagi kesehatan masyarakat.

Al Qur`an

Menghafal Al-Qur’an (tahfidz) bukan sekadar perkara niat yang kuat, melainkan juga butuh stamina otak yang prima. Seringkali, hafalan macet atau mudah lupa bukan karena anak kurang cerdas, melainkan karena asupan bahan bakar untuk otaknya yang kurang tepat.

Fakta menarik inilah yang dibawa oleh sekelompok mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta saat menyambangi Panti Asuhan Al-Amin di Gedongkuning, Kotagede, Yogyakarta, Sabtu (20/12/2025). Melalui program sosial bertajuk Project Al-Ma’un, mereka hadir bukan sekedar memberi santunan, namun membagikan resep rahasia agar para calon Hafiz cilik lebih mudah menjaga hafalannya.

Gizi Tepat, Hafalan Al-Qur`an Cepat

Sebanyak 9 anak asuh dan 4 pengurus panti diajak menyelami dunia gizi dengan cara yang asyik. Mahasiswa menekankan bahwa konsentrasi tinggi saat muroja’ah (mengulang hafalan) sangat bergantung pada apa yang dimakan.

Pengasuh Panti Asuhan Al-Amin, Ustadz Rimawan, mengamini hal tersebut. Menurutnya, tantangan terbesar anak-anak adalah rasa kantuk dan lelah saat belajar.

“Pola makan sehat sangat berpengaruh. Kalau gizinya cukup, anak asuh jadi lebih fokus, tidak mudah lelah, dan siap mental untuk menghafal ayat demi ayat,” ujar Ustadz Rimawan.

Musuh Utama: Gula dan Lemak Lebih Banyak

Dalam sesi edukasi, mahasiswa mengenalkan jenis-jenis makanan yang mudah didapat, seperti telur, ikan, sayur-mayur, dan buah-buahan. Jangan lupa, pentingnya minum air putih yang cukup agar otak tidak dehidrasi.

Sebaliknya, anak-anak juga diperingatkan soal makanan yang bisa bikin otak lemot, yakni makanan tinggi gula dan lemak jenuh. Selain aspek medis, mahasiswa juga menyelipkan nilai-nilai spiritual tentang adab makan dalam Islam harus Halal, Thayyib, dan tidak boleh berlebihan (israf).

Melalui kolaborasi antara ilmu kesehatan dan pendidikan agama ini, Panti Asuhan Al-Amin berharap dapat mencetak generasi Qur’ani yang paket lengkap, kuat imannya, otaknya cerdas, dan sehat badannya.

Tunarungu

Komitmen Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta sebagai kampus ramah difabel bukan sekadar isapan jempol belaka. Hal ini dibuktikan langsung oleh mahasiswa Program Studi Gizi yang menggelar aksi menyentuh hati di Griya Tunarungu Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN), Yogyakarta, Sabtu (20/12/2025).

Dalam suasana yang hangat, para mahasiswa tidak hanya datang membawa materi kuliah, tetapi membawa hati untuk berinteraksi dengan anak-anak istimewa. Kegiatan bertajuk proyek kemanusiaan dan keimanan ini menjadi jembatan inklusivitas yang manis antara dunia akademik dan penyandang disabilitas.

Belajar Bahasa Hati dan Gizi Sehat

Koordinator kegiatan, Dina Riana, menjelaskan bahwa acara ini dirancang untuk mendobrak sekat-sekat eksklusivitas. Mahasiswa diajak keluar dari menara gading kelas teori untuk merasakan langsung denyut nadi kehidupan saudara-saudara tunarungu.

“Kami ingin hadir tidak hanya sebagai pelajar yang belajar teori, tetapi sebagai manusia yang peduli. Di sini kami belajar arti empati dan kesabaran yang sesungguhnya. Interaksi ini mengajarkan kami bahwa komunikasi tak melulu soal suara, tapi juga soal rasa,” ujar Dina.

Acara dikemas sangat seru dan jauh dari kesan kaku. Anak-anak diajak bermain game edukatif, mewarnai, hingga diskusi ringan tentang makanan sehat. Para mahasiswa Gizi UNISA Yogyakarta dengan telaten menjelaskan pentingnya asupan gizi seimbang dengan metode visual yang mudah dipahami oleh anak-anak tunarungu. Gelak tawa pun pecah, meleburkan segala batasan fisik yang ada.

Apresiasi GERKATIN

Perwakilan pengelola Griya Tunarungu GERKATIN Yogyakarta, Hanif Adhi Pratama, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Ia mengapresiasi pendekatan mahasiswa UNISA Yogyakarta yang dinilai sangat menghargai dan tidak membatasi.

“Kami sangat terbantu. Pendekatan adik-adik siswa ini sangat hangat dan inklusif, sehingga anak-anak merasa nyaman dan diperhatikan. Tidak ada rasa canggung,” ungkap Hanif.

Ia berharap kolaborasi manis ini tidak berhenti di sini. Sinergi antara perguruan tinggi dan komunitas penyandang disabilitas seperti ini diharapkan bisa terus berlanjut demi meningkatkan kualitas hidup dan kesadaran masyarakat luas akan pentingnya kesetaraan.

Sehat

Sehat itu hak semua orang, tak terkecuali bagi penyandang disabilitas. Semangat inilah yang dibawa oleh sekelompok mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta saat menyambangi Komunitas Difabel Gading di Kalurahan Banyuraden, Gamping, Sleman, Minggu (21/12/2025).

Melalui program kemanusiaan bertajuk Project Al-Ma’un, Mahasiswa Kelompok A6 tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa misi edukasi gizi yang dikemas santai namun penuh makna, membuktikan bahwa kepedulian sosial bisa dimulai dari hal paling sederhana, makanan.

Kenalkan Buah Lokal yang Ramah Kantong

Seringkali, gizi seimbang dikesankan mahal dan rumit. Namun, Khairan Nisya Dewi Azzahra, perwakilan mahasiswa, mematahkan anggapan itu di hadapan para anggota komunitas. Ia memperkenalkan manfaat terbaik dari buah-buahan yang mudah ditemukan di pasar dan harga terjangkau, seperti pisang, pir, apel, dan jeruk.

“Kami ingin menunjukkan bahwa menjaga kesehatan bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Buah-buahan ini mudah didapat di sekitar kita, murah, tapi kaya vitamin,” ujar Fitriyani, anggota kelompok A6, di sela-sela kegiatan.

Edukasi ini bukan sekedar ceramah, suasana berlangsung interaktif dan hangat, para peserta diajak memahami bahwa tubuh bugar adalah aset penting, dan memulainya bisa dari satu buah pisang atau jeruk setiap hari.

Belajar Empati dari Cerita Kehidupan

Kegiatan ini disambut antusias oleh Yuliana, Ketua sekaligus pendamping Komunitas Difabel Gading. Ia mengapresiasi kehadiran mahasiswa yang mau duduk bersama dan berbagi ilmu.

Lebih dari sekedar transfer ilmu gizi, momen ini menjadi ajang pertukaran rasa. Siswa dan teman-teman difabel saling bertukar cerita dan tawa dalam sesi interaksi santai, bagi para mahasiswa, ini adalah pelajaran berharga tentang kesabaran, komunikasi inklusif, dan empati mata kuliah kehidupan yang tak selalu ada di dalam kelas.

Project Al-Ma’un ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UNISA Yogyakarta tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial untuk merangkul semua lapisan masyarakat, memastikan tidak ada yang tertinggal dalam mendapatkan akses informasi kesehatan.