bencana

Hidup di atas Ring of Fire dengan 127 gunung berapi aktif menjadikan bencana sebagai menu harian di Indonesia. Sadar akan ancaman nyata ini, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta tak mau mencetak perawat yang hanya jago teori.

Sebanyak 260 mahasiswa Keperawatan semester 7 diberikan pengetahuan dalam Studium Generale bertajuk “Rumah Sakit Siaga Bencana dan Rumah Sakit Lapangan” di gedung Siti Moendjijah UNISA Yogyakarta, Jumat (5/12/2025). Materi ini bukan sekedar kuliah biasa, melainkan persiapan hidup dan mati bagi tenaga medis.

Suasana ruangan tiba-tiba hening saat narasumber, Indra Prasetyantoro, S.Kep.Ners., M.Kep., dari RS PKU Muhammadiyah Bantul, menceritakan kisah nyata yang membuat bulu kuduk berdiri sekaligus heroik saat Gempa Yogyakarta 2006 silam.

Parkir Jadi Ruang Triase Darurat Bencana

Indra mengenang betapa kacaunya situasi saat gempa dahsyat merenggut lebih dari 5.700 nyawa itu. Gedung rumah sakit retak parah, plafonnya berjatuhan, namun pasien terus membanjir tanpa henti.

“Kami tidak punya waktu untuk panik. Gedung tidak aman, kami pindah operasional ke area terbuka. Area parkir berubah jadi ruang darurat triase. Taman rumah sakit Didirikan tenda-tenda yang berfungsi sebagai ICU lapangan,” kenang Indra yang membuat para mahasiswa merinding.

Ia menegaskan, dalam situasi kacau, Hospital Disaster Preparedness (HDP) adalah kuncinya. HDP bukan sekedar dokumen di lemari, tapi kesiapan mental dan infrastruktur. Rumah sakit yang tidak siap, bisa berubah dari tempat penyelamatan menjadi kuburan massal.

Bahaya Silent Killer di Rumah Sakit

Selain kisah heroik, Indra juga menyoroti aspek teknis yang sering luput dari perhatian: keamanan non-struktural. Lemari obat yang tidak dibaut ke dinding bisa menghancurkan persediaan penting. Tabung oksigen yang tidak terikat bisa meledak bak rudal saat guncangan terjadi.

“Semua detail kecil ini terdengar sepele, tapi saat gempa mengguncang, detail inilah yang menentukan apakah rumah sakit lumpuh total atau tetap bisa menyelamatkan nyawa,” tegasnya.

Kuliah umum ini menjadi bekal mahal bagi 260 calon perawat UNISA Yogyakarta yang sebentar lagi terjun ke dunia kerja. Bagi mereka, menghadapi bencana bukan lagi soal “jika”, melainkan “kapan”. Dengan ilmu ini, diharapkan mereka siap menjadi benteng pertolongan terakhir saat ibu pertiwi sedang tidak baik-baik saja.

Bootcamp

Suasana sejuk lereng Gunung Merapi pada Senin pagi (8/12) menjadi latar dimulainya Bootcamp Tim Penyusun Rencana Strategis (RENSTRA) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta 2026–2030. Kegiatan yang digelar di Kalyana Resort, Kaliurang, ini diikuti oleh seluruh unsur pimpinan universitas, pimpinan fakultas, serta tim pengembang institusi yang selama dua hari ke depan akan merumuskan arah strategis UNISA Yogya untuk lima tahun mendatang.

Bootcamp

Sejak pukul 08.00 WIB, peserta telah memasuki ruang pertemuan utama untuk memulai rangkaian agenda yang disusun secara intensif. Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., hadir membuka kegiatan sekaligus memberikan arahan strategis terkait pentingnya penyusunan RENSTRA fase berkembang 2026–2030.

Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa periode perencanaan ini memiliki makna penting bagi UNISA Yogyakarta, terutama setelah capaian akreditasi Unggul.

“Tanggung jawab kita bersama adalah menyiapkan peta jalan UNISA Yogyakarta untuk lima tahun ke depan. Karena itu, saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan ini secara penuh selama dua hari. Kita berada di sini untuk menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Tambahan (IKT) yang akan menjadi dasar pengambilan keputusan strategis universitas,” ujarnya.

Dr. Warsiti juga mengingatkan bahwa dokumen RENSTRA yang disusun dalam bootcamp ini memiliki batas waktu penting untuk dapat segera dibahas bersama Badan Pembina Harian (BPH).

“Pada pertengahan Januari 2026, rencana strategis ini akan kita plenokan bersama BPH. Maka, dua hari ini harus kita optimalkan untuk memastikan setiap aspek tersusun dengan baik.”

Lebih lanjut, Rektor menekankan bahwa keunggulan khas Aisyiyah yang bernafaskan nilai-nilai inklusif akan menjadi ruh utama dalam arah strategis berikutnya.

“Kita harus menggali dan menegaskan kembali keunggulan Aisyiyah. Kekhasan inklusif yang menjadi identitas kita harus diwujudkan dalam program dan indikator strategis. Karena itu, mari fokus pada kegiatan ini. Tugas-tugas lain dapat kita sisihkan sejenak,” tegasnya.

Kegiatan Bootcamp Penyusunan RENSTRA 2026–2030 dijadwalkan berlangsung selama dua hari dengan berbagai sesi pembahasan yang melibatkan analisis capaian, pemetaan tantangan, dan penyusunan indikator kinerja utama serta indikator kinerja turunan. Dengan semangat kolaboratif dan komitmen penuh, forum ini diharapkan menghasilkan dokumen RENSTRA yang visioner, relevan, dan mampu mengarahkan UNISA Yogyakarta menuju fase perkembangan baru yang lebih progresif.

Kegiatan pun resmi dimulai dengan harapan besar bahwa hasil perumusan ini menjadi fondasi kuat bagi masa depan UNISA Yogyakarta sebagai perguruan tinggi yang unggul, inklusif, dan berdaya saing.

Profesi arsitek

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta semakin mantap melebarkan sayap akademiknya, kali ini, giliran Program Studi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknologi (FST) yang tengah berjuang melahirkan Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr).

Langkah besar ini ditandai dengan dilaksanakannya Evaluasi Lapangan Usul Pembukaan Program Studi baru tersebut oleh Direktorat Kelembagaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Tim Evaluator Lapangan. Proses ini digelar secara daring di ruang sidang gedung Siti Moendjijah, Selasa (02/12/25).

Wakil Rektor I UNISA Yogyakarta, Dr. Sulistyaningsih, S.KM., MH.Kes. menegaskan bahwa pembukaan prodi ini bukan sekedar menambah daftar jurusan. Menurutnya, hal ini sangat selaras dengan visi besar UNISA sebagai kampus unggul yang berwawasan kesehatan dan berlandaskan nilai-nilai Islam berkemajuan.

“Kami ingin menghasilkan arsitek yang mampu merancang ruang dan fasilitas yang sehat, aman, nyaman, inklusif serta mendukung kualitas hidup masyarakat,” ujar Sulis penuh optimisme.

Selangkah Lagi Profesi Arsitek

Sinyal positif pun datang dari pihak kementerian. Lingga Kresna Adiputra, perwakilan Direktorat Kelembagaan, menyebut kunjungan ini adalah tahapan vital.

“Dengan adanya kunjungan ke lapangan secara daring ini, tinggal beberapa langkah lagi bagi UNISA Yogyakarta untuk mendapatkan akreditasi minimum dari kami,” ungkap Lingga.

Apresiasi tinggi juga datang dari Kepala LLDIKTI Wilayah V DIY, Prof. Setyabudi Indartono, MM, Ph.D. Ia menyoroti posisi strategis UNISA Yogyakarta yang sudah berpredikat Unggul.

“Kami memberikan apresiasi kepada UNISA Yogyakarta yang termasuk ke dalam 9 PTS di DIY dari 100 PTS yang sudah terakreditasi Unggul. Di DIY sendiri baru ada enam PTS yang menyelenggarakan program profesi Arsitek, dan baru dua yang sudah berjalan,” jelas Setyabudi.

Dalam evaluasi ini, tim evaluator melakukan pemeriksaan menyeluruh, mulai dari pemeriksaan berkas, wawancara mendalam dengan calon dosen, pengecekan dokumen kurikulum, hingga pemeriksaan fisik sarana dan prasarana penunjang pembelajaran. Jika lolos, UNISA Yogyakarta siap menjadi pencetak arsitek profesional yang tidak hanya jago desain, tapi juga peduli kesehatan lingkungan.

Pimnas

Kabar datang dari kampus Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, sebuah inovasi cemerlang lahir dari tangan mahasiswa Program Studi Psikologi yang berhasil menembus panggung kompetisi ilmiah paling bergengsi di Indonesia: Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-38.

Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Sosial Humaniora (RSH) UNISA Yogyakarta siap berlaga melawan kampus-kampus top se-Nusantara. Ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini akan diadakan di Universitas Hasanuddin, Makassar, pada tanggal 23 – 28 November 2025.

Bawa Inovasi Neurosains di PIMNAS

Apa yang membuat mereka lolos seleksi ketat ini? Ternyata, empat mahasiswa Psikologi yang dibimbing oleh dosen Fildzah Malahati, S.Psi., M.Psi., Psikolog ini membawa penelitian yang sangat solutif dan menyentuh sisi kemanusiaan.

Mereka mengangkat proposal berjudul “Intervensi Binaural Beats Sebagai Pendekatan Neurosains untuk Mengurangi Durasi Temper Tantrum Pada Anak Autism Spectrum Disorder”. Riset ini menawarkan pendekatan neurosains menggunakan gelombang suara khusus (binaural beats) untuk membantu menenangkan anak dengan gangguan spektrum autisme yang sedang mengalami tantrum. Sebuah terobosan yang diharapkan menjadi solusi baru bagi orang tua dan terapis.

Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) UNISA Yogyakarta, Bdn. Yekti Satriyandari, S.St., M.Kes., menyambut gembira lolosnya tim UNISA Yogyakarta ke babak final ini. Ia meyakini PIMNAS ke-38 bukan sekadar ajang pamer trofi, tapi wadah adu gagasan cemerlang.

“PIMNAS tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah kolaborasi, pertukaran ide, dan inspirasi bagi seluruh peserta untuk terus berinovasi dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa,” ujar Yekti.

Ia pun menaruh harapan besar pada tim Psikologi ini. “Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal menuju masa depan yang lebih cerah, penuh prestasi, dan berdampak positif bagi dunia akademik maupun masyarakat luas,” tutupnya.

Ajang internasional

Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, tak tanggung-tanggung, empat mahasiswa sekaligus berhasil unjuk gigi dan memborong gelar juara dalam ajang internasional, Ahmad Dahlan Youth Camp (ADIYC) 2025.

Perhelatan yang digelar di Khayangan Adventure Park, Kulon Progo, DIY, pada 28–30 Oktober 2025 ini bukanlah sesuatu yang biasa. ADIYC 2025 merupakan kawah candradimuka yang menggabungkan seminar, kompetisi akademik, outbound, hingga pertukaran budaya.

Ajang Internasional

Kegiatan ADIYC 2025 diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Mahasiswa (Puspresma) Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, bekerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Dengan tema “Empowering Global Youth Leadership for Sustainable Futures”, ADIYC 2025 diikuti oleh 770 mahasiswa dari berbagai negara, di antaranya Indonesia, China, Ghana, Guinea GN, Kenya, Korea, Madagascar, Malaysia, Mesir, Myanmar, Pakistan, Sudan, Suriname, Thailand, East Timor, dan Yaman.

Sorotan utama muncul pada M. Refco Refliyani Hakim, mahasiswa D4 Keperawatan Anestesiologi. Ia tampil sebagai bintang dengan menyapu bersih empat penghargaan sekaligus! Refco membuktikan keseimbangan otak kiri dan kanan dengan meraih 1st Winner Essay (Advances in Science and Technology), 1st Winner Best Critical Thinker, serta Honorable Mention di kategori Presenter dan Menari (Dancing).

Tak mau kalah, tiga rekannya juga menorehkan prestasi: Raja Ageng Adila (S1 Keperawatan): Menunjukkan jiwa kepemimpinan dengan menyabet 1st Winner Best Leader dan Juara 1 Kategori Menyanyi, Lukmannul Hakim (S1 Fisioterapi): Menonjolkan nalar kritis dan seni dengan meraih Juara 1 Menyanyi dan 2nd Winner Best Critical Thinker, Abdul Muhaimin (S1 Akuntansi): Jagoan public speaking ini sukses menjadi 1st Winner Best Presenter dan Juara 2 Pembacaan Puisi.

Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) UNISA Yogyakarta, Bdn. Yekti Satriyandari, S.St., M.Kes., tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Menurutnya, kemenangan ini membuktikan mahasiswa UNISA bukan jago kandang.

“Capaian ini adalah bukti nyata bahwa mahasiswa UNISA Yogyakarta mampu bersaing di level global. Mereka tidak hanya unggul secara akademik, namun juga memiliki soft skill mumpuni dalam kepemimpinan dan komunikasi internasional,” ujar Yekti.

Ia berharap, semangat juang Refco dan kawan-kawan di ADIYC 2025 ini bisa menular dan memotivasi mahasiswa lain untuk terus berprestasi membawa nama baik almamater dan bangsa di kancah dunia.