Libur

Momen hari libur tak menyurutkan semangat mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta untuk menebar kebaikan. Sebanyak delapan mahasiswa Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi turun langsung menyapa warga di Posyandu Qolbun Salim, Mlangi Besar, Gamping, Sleman, Kamis (25/12/2025).

Libur dengan Lansia

Mengusung Proyek Al-Ma’un, kelompok yang dipimpin oleh Fahminatul Laily ini menggandeng Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Mlangi Besar untuk menggelar aksi peduli lansia. Kegiatan ini bukan sekedar penyuluhan kesehatan biasa, melainkan sebuah jembatan hati antargenerasi.

Acara dimulai dengan suasana hangat, dipandu MC Baiq Rohalia Juang, kegiatan dibuka dengan doa khidmat oleh Zakiy Bintang Alpian. Tanpa canggung, para mahasiswa membaur sambil membagikan camilan kepada lansia yang hadir.

Sesi inti diisi dengan edukasi bertajuk “Pentingnya Peduli Kesehatan Lansia” yang dibawakan oleh dua mahasiswa, Zakiy Bintang dan Nahya Dita Salsabila. Namun, momen paling menyentuh terjadi setelah materi.

Mahasiswa membuka sesi sharing atau curhat santai. Di sini, sekat usia seolah-olah runtuh. Para lansia dengan antusias membagikan pengalaman hidup berharga mereka, sementara mahasiswa menyimak dengan takzim. Tak mau kalah, Zakiy Bintang mewakili mahasiswa juga berbagi cerita tentang perjuangannya menuntut ilmu.

“Rasanya senang sekali. Adik-adik siswa ini sopan-sopan. Kami jadi semangat memberi nasehat agar mereka lancar kuliahnya,” ujar Khasanah salah satu lansia dengan mata berbinar.

Di penghujung acara, suasana haru kembali terasa saat mahasiswa membagikan paket sembako kepada seluruh peserta lansia. Bantuan ini merupakan wujud nyata pengamalan Surat Al-Ma’un tentang kepedulian terhadap sesama.

Sehat

Sehat itu hak semua orang, tak terkecuali bagi penyandang disabilitas. Semangat inilah yang dibawa oleh sekelompok mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta saat menyambangi Komunitas Difabel Gading di Kalurahan Banyuraden, Gamping, Sleman, Minggu (21/12/2025).

Melalui program kemanusiaan bertajuk Project Al-Ma’un, Mahasiswa Kelompok A6 tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa misi edukasi gizi yang dikemas santai namun penuh makna, membuktikan bahwa kepedulian sosial bisa dimulai dari hal paling sederhana, makanan.

Kenalkan Buah Lokal yang Ramah Kantong

Seringkali, gizi seimbang dikesankan mahal dan rumit. Namun, Khairan Nisya Dewi Azzahra, perwakilan mahasiswa, mematahkan anggapan itu di hadapan para anggota komunitas. Ia memperkenalkan manfaat terbaik dari buah-buahan yang mudah ditemukan di pasar dan harga terjangkau, seperti pisang, pir, apel, dan jeruk.

“Kami ingin menunjukkan bahwa menjaga kesehatan bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Buah-buahan ini mudah didapat di sekitar kita, murah, tapi kaya vitamin,” ujar Fitriyani, anggota kelompok A6, di sela-sela kegiatan.

Edukasi ini bukan sekedar ceramah, suasana berlangsung interaktif dan hangat, para peserta diajak memahami bahwa tubuh bugar adalah aset penting, dan memulainya bisa dari satu buah pisang atau jeruk setiap hari.

Belajar Empati dari Cerita Kehidupan

Kegiatan ini disambut antusias oleh Yuliana, Ketua sekaligus pendamping Komunitas Difabel Gading. Ia mengapresiasi kehadiran mahasiswa yang mau duduk bersama dan berbagi ilmu.

Lebih dari sekedar transfer ilmu gizi, momen ini menjadi ajang pertukaran rasa. Siswa dan teman-teman difabel saling bertukar cerita dan tawa dalam sesi interaksi santai, bagi para mahasiswa, ini adalah pelajaran berharga tentang kesabaran, komunikasi inklusif, dan empati mata kuliah kehidupan yang tak selalu ada di dalam kelas.

Project Al-Ma’un ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UNISA Yogyakarta tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial untuk merangkul semua lapisan masyarakat, memastikan tidak ada yang tertinggal dalam mendapatkan akses informasi kesehatan.

Lansia

Usia senja atau lansia sering kali identik dengan kerentanan fisik. Risiko jatuh di kamar mandi, tiba-tiba pingsan, hingga serangan stroke menjadi momok menakutkan yang bisa datang kapan saja bagi para lansia. Sadar akan bahaya tersebut, sekelompok siswa turun tangan langsung untuk ‘menyekolahkan’ para lansia agar lebih tanggap darurat.

Aksi kepedulian ini digagas oleh Mahasiswa Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang berada di kelompok A6 melalui program Proyek Al-Ma’un. Menggandeng Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Minomartani, kegiatan edukasi kegawatdaruratan ini digelar di Griya Lansia Minomartani, Selasa (16/12/2025).

Kegiatan ini bukan sekedar tugas kuliah, melainkan wujud nyata implementasi nilai kemanusiaan dan keimanan untuk melindungi kelompok rentan.

Dalam sesi edukasi, suasana hangat dan interaktif. Para pelajar tidak menggunakan istilah medis yang membatasi. Sebaliknya, mereka dengan telaten menjelaskan langkah pertolongan pertama untuk kondisi yang paling sering dialami lansia, mulai dari penanganan saat terpeleset atau jatuh, sesak napas, pingsan, hingga mendeteksi gejala awal stroke dan penurunan kesadaran.

Aprinia Dewi Wulandari, salah satu anggota kelompok A6, menekankan pentingnya edukasi ini. Menurutnya, kekhawatiran seringkali memperparah keadaan saat terjadi kecelakaan di rumah.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap lansia dan keluarganya tidak lagi panik, tapi jadi lebih sigap mengenali tanda bahaya. Tahu harus melakukan apa di menit-menit awal sebelum bantuan medis datang adalah kunci keselamatan,” ujar Aprinia yang merupakan mahasiswa Program Studi Keperawatan Anestesi UNISA Yogyakarta ini.

Menanamkan Empati Lansia

Lebih dari sekedar bagi-bagi ilmu medis, acara ini juga menjadi ajang menanamkan nilai empati. Lansia diajak menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk hidup aman dan mendapatkan perlindungan.

Para peserta tampak antusias melakukan rekreasi simulasi pertama yang diajarkan. Proyek kemanusiaan ini menjadi bukti bahwa semangat Al-Ma’un membantu mereka yang lemah masih menyala terang di kalangan generasi muda. Harapannya, ilmu yang diterapkan hari ini bisa menjadi bekal berharga untuk meningkatkan kualitas hidup dan keselamatan para lansia di Minomartani.

Yogyakarta

Alarm bahaya kesehatan sedang berbunyi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Provinsi ini mencatat angka prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM) yang jauh di atas rata-rata nasional. Situasi ini memaksa kaum ibu untuk turun tangan menjadi “Perempuan Tangguh” sebagai garda terdepan penyelamat keluarga.

Hal ini terungkap dalam aksi pengabdian masyarakat yang digelar Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta bersama Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Maguwoharjo, Sabtu (20/12/2025). Mengusung tema “Peran Ibu dalam Keluarga untuk Cegah PTM”, acara ini bukan sekadar seminar biasa, melainkan panggilan darurat bagi kesehatan keluarga.

Data Kesehatan D.I Yogyakarta

Fakta di lapangan memang cukup mengerikan. Data menunjukkan DIY menduduki peringkat tinggi nasional untuk kasus PTM. Angka Diabetes Melitus di DIY mencapai 4,5% (nasional hanya 2,4%), Hipertensi tembus 10,7% (nasional 8,4%), dan kasus kanker mencapai 10,7 per mil.

“Kondisi ini bukan hanya mengancam kesehatan individu, tetapi juga bisa bikin ekonomi keluarga guncang karena biaya berobat yang mahal,” ungkap Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UNISA, Yuyun Nailufar, S.Si., M.Biomed.

Bersama rekannya, Indriani SKM., MSc Dosen Prodi Fisioterapi dan tim mahasiswa, UNISA Yogyakarta menekankan bahwa ibu adalah kunci. Ibulah yang mengatur menu di meja makan, menjadi alarm minum obat, hingga manajer gaya hidup sehat di rumah.

Outbound Seru hingga Cek Kesehatan Gratis

Acara yang berlangsung di Maguwoharjo ini dikemas jauh dari kata membosankan. Ratusan anggota ‘Aisyiyah diajak outbound seru untuk pemanasan fisik dan mempererat ukhuwah, sebelum masuk ke sesi serius tapi santai.

Indriani memberikan tips praktis yang mudah diterapkan: kurangi garam dan penyedap, perbanyak sayur, jalan pagi 30 menit, hingga tidur cukup 6-8 jam sehari.

“Ibu-ibu juga diajari cara mengajak suami dan anak hidup sehat tanpa terkesan memerintah atau ngomel,” tambahnya.

Tak hanya teori, tim UNISA Yogyakarta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Fisioterapi serta Teknologi Laboratorium Medis (TLM) langsung menggelar pemeriksaan kesehatan. Sebanyak 100 ibu-ibu menjalani skrining lengkap, mulai dari cek tensi, gula darah, kolesterol, asam urat, hingga tes keseimbangan dan fleksibilitas tubuh.

Ketua PRA Maguwoharjo, Siti Almagfirroh, S.Ag, menyambut positif gerakan ini. Baginya, ini adalah momen untuk merapikan barisan perjuangan ‘Aisyiyah sekaligus refreshing fisik dan pikiran.

Ke depannya, kolaborasi UNISA Yogyakarta dan PRA Maguwoharjo ini tak akan berhenti di sini. Rencana pembentukan kelas memasak sehat hingga pendampingan keluarga aktif sedang disiapkan agar gerakan “Ibu Tangguh Cegah PTM” benar-benar menjadi budaya baru di masyarakat Sleman.

Perceraian

Berita tentang perceraian selebriti semakin marak di media selama dua tahun terakhir. Fenomena ini tidak hanya menandai pergeseran dinamika rumah tangga tokoh publik, tetapi juga menunjukkan bagaimana masyarakat mengikuti pola pengasuhan anak yang berkembang setelah pasangan berpisah. Dalam berbagai laporan, selebriti tampak menjalani peran sebagai orang tua tunggal, dan representasi inilah yang diamati publik. Sebagai figur gaya hidup, keluarga para selebriti ini memengaruhi bagaimana masyarakat menafsirkan struktur keluarga modern. Karena media semakin menggambarkan pengasuhan yang berpusat pada ibu, hal ini berkontribusi pada persepsi bahwa berkurangnya keterlibatan ayah merupakan bagian dari pola keluarga yang semakin umum. Pada titik ini, isu fatherless mulai muncul sebagai bagian dari wacana publik yang dibentuk oleh siaran dan liputan berita tentang kehidupan selebriti.

Perceraian

Tren yang terlihat dalam pemberitaan selebriti sejalan dengan kondisi nasional. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024, terdapat lebih dari 394 ribu perceraian di Indonesia, dengan 78 persen di antaranya adalah cerai gugat (Fajar.co.id., 10 November 2025) Angka ini menunjukkan pergeseran peran keluarga, khususnya karena ibu semakin menjadi pengasuh utama setelah perceraian. Fenomena ini juga mencerminkan meningkatnya jumlah anak yang tumbuh dengan keterlibatan ayah yang semakin terbatas dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kompas.id (9 Oktober 2025) melaporkan data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) bahkan mencatat bahwa lebih dari 15 juta anak di Indonesia berpotensi menjadi anak fatherless, baik karena perceraian maupun struktur keluarga yang tidak stabil.

Di tengah meningkatnya angka perceraian, media memainkan peran penting dalam membentuk persepsi publik tentang keluarga. Liputan tentang selebriti memiliki pengaruh khusus karena minat publik yang besar terhadap kehidupan pribadi tokoh publik. Liputan tentang perjalanan selebriti pasca-perceraian, rutinitas harian, dan aktivitas mereka sebagai pengasuh tunggal banyak dikonsumsi. Dalam berbagai liputan media hiburan, selebriti digambarkan menghadapi momen-momen penting, seperti hari libur besar, sebagai orang tua tunggal. Penggambaran ini cenderung menekankan stabilitas dan kemampuan beradaptasi individu, tetapi kurang memberi ruang bagi perubahan peran ayah dalam keluarga.

Penelitian tentang framing laporan berita infotainment juga menunjukkan tren serupa. Media lebih tertarik menyoroti konflik, proses perceraian, dan respons emosional tokoh publik. Dampak jangka panjang pada anak-anak, dinamika pengasuhan, dan pergeseran peran ayah mendapat ruang yang relatif lebih sedikit. Akibatnya, wacana publik tentang perceraian lebih dibentuk oleh narasi pribadi yang dramatis daripada diskusi struktural tentang hubungan keluarga. Situasi ini memiliki implikasi terhadap persepsi publik tentang fatherless, yang secara bertahap diakui sebagai kondisi umum dalam keluarga pasca-perceraian.

Dalam literatur psikologi, keterlibatan ayah memainkan peran penting dalam perkembangan anak. Berbagai studi menegaskan bahwa kehadiran ayah terkait dengan pembentukan identitas diri, keterampilan pengaturan emosi, dan perkembangan sosial. Absennya ayah, baik secara fisik maupun dalam peran pengasuhan, dapat memengaruhi perkembangan anak, terutama selama masa remaja. Oleh karena itu, peningkatan representasi keluarga fatherless dalam pemberitaan tentang tokoh publik berpotensi memengaruhi bagaimana masyarakat memahami pentingnya peran ayah dalam struktur keluarga modern.

Paparan publik terhadap dinamika keluarga selebriti tidak hanya membentuk persepsi individu tetapi juga memengaruhi konstruksi sosial peran orang tua. Selebriti, sebagai panutan dalam banyak aspek kehidupan, memiliki pengaruh signifikan dalam menetapkan standar baru untuk pengasuhan anak. Ketika pengasuhan anak oleh orang tua tunggal dianggap sebagai pola umum di kalangan tokoh publik, publik mungkin menganggap situasi ini sebagai bagian alami dari perkembangan keluarga modern, terlepas dari konsekuensi psikososial bagi anak-anak.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perceraian selebriti tidak hanya berdampak pada kehidupan pribadi tokoh publik tetapi juga berkontribusi pada pembentukan pemahaman kolektif tentang keluarga. Melalui liputan intensif dan seringkali pembingkaian yang berpusat pada individu, publik menganggap fatherless sebagai kondisi yang semakin umum. Tantangannya adalah memperluas wacana publik untuk mencakup pentingnya keterlibatan ayah, daripada hanya mengikuti representasi media yang menekankan peran ibu sebagai pengasuh utama.

oleh : Baiq Hizmiatul Yastri (Mahasiswa Administrasi Publik UNISA Yogyakarta)