Anestesiologi

Kepedulian sosial tidak mengenal sekat fisik. Semangat inilah yang dibawa oleh mahasiswa Program Studi Keperawatan Anestesiologi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta saat menyambangi Kelurahan Patangpuluhan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Minggu (21/12/2025).

Mahasiswa Anestesiologi

Melalui program Proyek Al-Ma’un, kelompok B10 mahasiswa UNISA Yogyakarta yang didampingi oleh mentor Tohim Supriyanto ini menggelar aksi nyata bersama Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Cabang Kota Yogyakarta. Mereka hadir untuk berbagi ilmu ancaman mengenai gangguan kesehatan yang sering terabaikan, yakni hipertiroid.

Tohim Supriyanto selaku mentor Kelompok B10 menjelaskan, pemilihan topik ini bukan tanpa alasan. Hipertiroid adalah gangguan hormon yang dampaknya bisa mempengaruhi mana-mana, mulai dari jantung berdebar (kardiovaskular), gangguan metabolisme, hingga ketidakstabilan emosi (psikologis).

“Melalui sosialisasi ini, kami ingin meningkatkan kewaspadaan teman-teman difabel. Penting sekali untuk mengenali gejalanya sejak dini agar bisa ditangani dengan tepat,” ujar Tohim.

Sebanyak 31 anggota HWDI tampak antusias mengikuti acara. Mahasiswa UNISA Yogyakarta tidak sekedar memberikan ceramah satu arah. Materi disampaikan dengan cara yang komunikatif, inklusif, dan santai agar mudah dipahami oleh seluruh peserta dengan beragam latar belakang disabilitas.

Mahasiswa mengupas tuntas apa itu hipertiroid, tanda-tanda awal, faktor risiko, hingga cara pencegahannya lewat pola hidup sehat. Suasana semakin hidup saat sesi tanya jawab dibuka. Banyak peserta yang aktif berbagi pengalaman pribadi maupun keluhan kesehatan yang selama ini mereka alami.

Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari teologi Al-Ma’un yang menjadi nafas pergerakan Muhammadiyah/’Aisyiyah: keberpihakan kepada mereka yang rentan. Mahasiswa didorong untuk tidak hanya jago di akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Libur

Momen hari libur tak menyurutkan semangat mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta untuk menebar kebaikan. Sebanyak delapan mahasiswa Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi turun langsung menyapa warga di Posyandu Qolbun Salim, Mlangi Besar, Gamping, Sleman, Kamis (25/12/2025).

Libur dengan Lansia

Mengusung Proyek Al-Ma’un, kelompok yang dipimpin oleh Fahminatul Laily ini menggandeng Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Mlangi Besar untuk menggelar aksi peduli lansia. Kegiatan ini bukan sekedar penyuluhan kesehatan biasa, melainkan sebuah jembatan hati antargenerasi.

Acara dimulai dengan suasana hangat, dipandu MC Baiq Rohalia Juang, kegiatan dibuka dengan doa khidmat oleh Zakiy Bintang Alpian. Tanpa canggung, para mahasiswa membaur sambil membagikan camilan kepada lansia yang hadir.

Sesi inti diisi dengan edukasi bertajuk “Pentingnya Peduli Kesehatan Lansia” yang dibawakan oleh dua mahasiswa, Zakiy Bintang dan Nahya Dita Salsabila. Namun, momen paling menyentuh terjadi setelah materi.

Mahasiswa membuka sesi sharing atau curhat santai. Di sini, sekat usia seolah-olah runtuh. Para lansia dengan antusias membagikan pengalaman hidup berharga mereka, sementara mahasiswa menyimak dengan takzim. Tak mau kalah, Zakiy Bintang mewakili mahasiswa juga berbagi cerita tentang perjuangannya menuntut ilmu.

“Rasanya senang sekali. Adik-adik siswa ini sopan-sopan. Kami jadi semangat memberi nasehat agar mereka lancar kuliahnya,” ujar Khasanah salah satu lansia dengan mata berbinar.

Di penghujung acara, suasana haru kembali terasa saat mahasiswa membagikan paket sembako kepada seluruh peserta lansia. Bantuan ini merupakan wujud nyata pengamalan Surat Al-Ma’un tentang kepedulian terhadap sesama.

Sehat

Sehat itu hak semua orang, tak terkecuali bagi penyandang disabilitas. Semangat inilah yang dibawa oleh sekelompok mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta saat menyambangi Komunitas Difabel Gading di Kalurahan Banyuraden, Gamping, Sleman, Minggu (21/12/2025).

Melalui program kemanusiaan bertajuk Project Al-Ma’un, Mahasiswa Kelompok A6 tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa misi edukasi gizi yang dikemas santai namun penuh makna, membuktikan bahwa kepedulian sosial bisa dimulai dari hal paling sederhana, makanan.

Kenalkan Buah Lokal yang Ramah Kantong

Seringkali, gizi seimbang dikesankan mahal dan rumit. Namun, Khairan Nisya Dewi Azzahra, perwakilan mahasiswa, mematahkan anggapan itu di hadapan para anggota komunitas. Ia memperkenalkan manfaat terbaik dari buah-buahan yang mudah ditemukan di pasar dan harga terjangkau, seperti pisang, pir, apel, dan jeruk.

“Kami ingin menunjukkan bahwa menjaga kesehatan bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Buah-buahan ini mudah didapat di sekitar kita, murah, tapi kaya vitamin,” ujar Fitriyani, anggota kelompok A6, di sela-sela kegiatan.

Edukasi ini bukan sekedar ceramah, suasana berlangsung interaktif dan hangat, para peserta diajak memahami bahwa tubuh bugar adalah aset penting, dan memulainya bisa dari satu buah pisang atau jeruk setiap hari.

Belajar Empati dari Cerita Kehidupan

Kegiatan ini disambut antusias oleh Yuliana, Ketua sekaligus pendamping Komunitas Difabel Gading. Ia mengapresiasi kehadiran mahasiswa yang mau duduk bersama dan berbagi ilmu.

Lebih dari sekedar transfer ilmu gizi, momen ini menjadi ajang pertukaran rasa. Siswa dan teman-teman difabel saling bertukar cerita dan tawa dalam sesi interaksi santai, bagi para mahasiswa, ini adalah pelajaran berharga tentang kesabaran, komunikasi inklusif, dan empati mata kuliah kehidupan yang tak selalu ada di dalam kelas.

Project Al-Ma’un ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UNISA Yogyakarta tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial untuk merangkul semua lapisan masyarakat, memastikan tidak ada yang tertinggal dalam mendapatkan akses informasi kesehatan.

Lansia

Usia senja atau lansia sering kali identik dengan kerentanan fisik. Risiko jatuh di kamar mandi, tiba-tiba pingsan, hingga serangan stroke menjadi momok menakutkan yang bisa datang kapan saja bagi para lansia. Sadar akan bahaya tersebut, sekelompok siswa turun tangan langsung untuk ‘menyekolahkan’ para lansia agar lebih tanggap darurat.

Aksi kepedulian ini digagas oleh Mahasiswa Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang berada di kelompok A6 melalui program Proyek Al-Ma’un. Menggandeng Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Minomartani, kegiatan edukasi kegawatdaruratan ini digelar di Griya Lansia Minomartani, Selasa (16/12/2025).

Kegiatan ini bukan sekedar tugas kuliah, melainkan wujud nyata implementasi nilai kemanusiaan dan keimanan untuk melindungi kelompok rentan.

Dalam sesi edukasi, suasana hangat dan interaktif. Para pelajar tidak menggunakan istilah medis yang membatasi. Sebaliknya, mereka dengan telaten menjelaskan langkah pertolongan pertama untuk kondisi yang paling sering dialami lansia, mulai dari penanganan saat terpeleset atau jatuh, sesak napas, pingsan, hingga mendeteksi gejala awal stroke dan penurunan kesadaran.

Aprinia Dewi Wulandari, salah satu anggota kelompok A6, menekankan pentingnya edukasi ini. Menurutnya, kekhawatiran seringkali memperparah keadaan saat terjadi kecelakaan di rumah.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap lansia dan keluarganya tidak lagi panik, tapi jadi lebih sigap mengenali tanda bahaya. Tahu harus melakukan apa di menit-menit awal sebelum bantuan medis datang adalah kunci keselamatan,” ujar Aprinia yang merupakan mahasiswa Program Studi Keperawatan Anestesi UNISA Yogyakarta ini.

Menanamkan Empati Lansia

Lebih dari sekedar bagi-bagi ilmu medis, acara ini juga menjadi ajang menanamkan nilai empati. Lansia diajak menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk hidup aman dan mendapatkan perlindungan.

Para peserta tampak antusias melakukan rekreasi simulasi pertama yang diajarkan. Proyek kemanusiaan ini menjadi bukti bahwa semangat Al-Ma’un membantu mereka yang lemah masih menyala terang di kalangan generasi muda. Harapannya, ilmu yang diterapkan hari ini bisa menjadi bekal berharga untuk meningkatkan kualitas hidup dan keselamatan para lansia di Minomartani.

Yogyakarta

Alarm bahaya kesehatan sedang berbunyi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Provinsi ini mencatat angka prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM) yang jauh di atas rata-rata nasional. Situasi ini memaksa kaum ibu untuk turun tangan menjadi “Perempuan Tangguh” sebagai garda terdepan penyelamat keluarga.

Hal ini terungkap dalam aksi pengabdian masyarakat yang digelar Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta bersama Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Maguwoharjo, Sabtu (20/12/2025). Mengusung tema “Peran Ibu dalam Keluarga untuk Cegah PTM”, acara ini bukan sekadar seminar biasa, melainkan panggilan darurat bagi kesehatan keluarga.

Data Kesehatan D.I Yogyakarta

Fakta di lapangan memang cukup mengerikan. Data menunjukkan DIY menduduki peringkat tinggi nasional untuk kasus PTM. Angka Diabetes Melitus di DIY mencapai 4,5% (nasional hanya 2,4%), Hipertensi tembus 10,7% (nasional 8,4%), dan kasus kanker mencapai 10,7 per mil.

“Kondisi ini bukan hanya mengancam kesehatan individu, tetapi juga bisa bikin ekonomi keluarga guncang karena biaya berobat yang mahal,” ungkap Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UNISA, Yuyun Nailufar, S.Si., M.Biomed.

Bersama rekannya, Indriani SKM., MSc Dosen Prodi Fisioterapi dan tim mahasiswa, UNISA Yogyakarta menekankan bahwa ibu adalah kunci. Ibulah yang mengatur menu di meja makan, menjadi alarm minum obat, hingga manajer gaya hidup sehat di rumah.

Outbound Seru hingga Cek Kesehatan Gratis

Acara yang berlangsung di Maguwoharjo ini dikemas jauh dari kata membosankan. Ratusan anggota ‘Aisyiyah diajak outbound seru untuk pemanasan fisik dan mempererat ukhuwah, sebelum masuk ke sesi serius tapi santai.

Indriani memberikan tips praktis yang mudah diterapkan: kurangi garam dan penyedap, perbanyak sayur, jalan pagi 30 menit, hingga tidur cukup 6-8 jam sehari.

“Ibu-ibu juga diajari cara mengajak suami dan anak hidup sehat tanpa terkesan memerintah atau ngomel,” tambahnya.

Tak hanya teori, tim UNISA Yogyakarta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Fisioterapi serta Teknologi Laboratorium Medis (TLM) langsung menggelar pemeriksaan kesehatan. Sebanyak 100 ibu-ibu menjalani skrining lengkap, mulai dari cek tensi, gula darah, kolesterol, asam urat, hingga tes keseimbangan dan fleksibilitas tubuh.

Ketua PRA Maguwoharjo, Siti Almagfirroh, S.Ag, menyambut positif gerakan ini. Baginya, ini adalah momen untuk merapikan barisan perjuangan ‘Aisyiyah sekaligus refreshing fisik dan pikiran.

Ke depannya, kolaborasi UNISA Yogyakarta dan PRA Maguwoharjo ini tak akan berhenti di sini. Rencana pembentukan kelas memasak sehat hingga pendampingan keluarga aktif sedang disiapkan agar gerakan “Ibu Tangguh Cegah PTM” benar-benar menjadi budaya baru di masyarakat Sleman.