STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta bersama organisasi kemahasiswaan memperingati hari raya Idul Adha dengan penyembelihan dan pemberian hewan kurban ke beberapa daerah di wilayah Yogyakarta. Pemberian hewan kurban dilakukan mulai Kamis (25/10). Hewan kurban tersebut dihimpun dari para dosen, karyawan dan mahasiswa.

 

Acara penyembelihan di kampus terpadu STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta, Jumat (26/10) dilakukan oleh para mahasiswa dan dipimpin oleh Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan, Dra Umu Hani, M.Kes. Selain penyembelihan, digelar pula lomba memasak untuk para karyawan dengan bahan utama daging sapi.

 

Beberapa wilayah yang menerima hewan kurban antara lain Masjid Uswatun Khasanah Serangan, Musholla Assalafi Mbalong Nogotirto, Pondok Pesentren dan Panti Asuhan Yatim-Piatu Abdul ‘Alim Muhammadiyah Imogiri, SD Muhammadiyah Temon Kulonprogo, TK ABA Derman Bambanglipuro Bantul, Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Wates Kulon Progo, Mushola Darunnajah Gamping Sleman, PKL Mahasiswa D III Stikes ‘Aisyiyah di Desa Ambarketawang Gamping Sleman, Masjid Darul Khoirot Trimulyo, Sleman (PRM Trimulyo), Masjid Nur Huda Serangan Yogyakarta, Masjid Al Jannah Wukirsari Cangkringan Sleman (PCM Cangkringan), Masjid Al-Irsyad Wukirsari Cangkirngan Sleman (PCM Cangkringan), SD Muhammadiyah Jelok Gunungkidul, SD Muhammadiyah Wonodoya, Masjid At-Taqwa Lendah Kulonprogo (PCM Lendah) Mushola Al-Barokah Terbah Patuk Gunungkidul (PCM Patuk), Taman Pendidikan Al-Quran Fitri Insani, Nogotirto Gamping Sleman.


Keterangan foto:

Penyerahan hewan kurban

Para dosen mengikuti lomba memasak

 

 

 

Selalu bersungguh-sungguh dalam melakukan suatu pekerjaan, mengantarkan Pustakawan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) ‘Aisyiyah Yogyakarta, Irkhamiyati, SIP., terpilih sebagai pustakawan berprestasi tingkat nasional dalam Seleksi Nasional Pustakawan Berprestasi Nasional. Kegiatan tersebut diselenggarakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) pada 11 oktober lalu di Jakarta. Irkhamiyati berhasil memperoleh anugerah Nugra Jasadarma Pustaloka 2012 dari Perpusnas RI.

Perpustakaan Nasional memberikan penghargaan kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa mengenalkan perpustakaan sebagai bagian penting di bidang pendidikan dan memasyarakatkan minat baca. Kategori penerima penghargaan antara lain tokoh masyarakat, birokrat, penulis terbaik, perpustakaan desa terbaik, pustakawan berprestasi dan pemenang lomba bercerita tingkat SD/MI tingkat nasional 2012.

Dalam ajang ini, Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk Propinsi yang banyak meraih penghargaan, sebab selain memperoleh anugerah untuk kategori Pustakawan Berprestasi Nasional, Perpustakaan Desa, juga ada yang mendapat penghargaan Juara harapan I lomba bercerita anak SD/MI, yakni Salsabila dari SD Muhammadiyah Tegalrejo. Selain itu insan media yang juga mendapat penghargaan adalah Bp. Nudi M dari Jogja TV.

Acara pemberian hadiah dikemas dalam siaran media televisi dengan nama Gemilang Perpustakaan Nasional yang ditayangkan pada hari Ahad (21/10). Anugerah yang diperoleh merupakan award agar terus berkarya dan lebih memberi manfaat dalam pengembangan dunia perpustakaan dan minat baca untuk menunjang tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Beberapa prestasi yang pernah diraih Irkhamiyati antara lain Juara I Lomba Penulisan Artikel Kesehatan Se-DIY (2008), Peserta Lomba Penulisan Artikel KB-BKKBN (2009), Finalis Pustakawan Berprestasi Naional (2010), Juara I Pustakawan Berprestasi-Kopertis V (2011) dan Juara I Lomba Penulisan Artikel Perpustakaan SE-DIY (2011) yang diadakan oleh Perpustakaan Kota Yogyakarta, Juara III Pustakawan Berprestasi Nasional yang digelar oleh Dirjen Dikti (2011).

 

ket foto: Irkamiyati berfoto bersama para peraih award dari DIY

Aisyiyah sebagai organisasi otonom khusus tak terpisahkan dengan Muhammadiyah sebagai sebuah Gerakan. Muhammadiyah terus bergerak, dalam konteks ini Muhammadiyah adalah sebuah gerakan dan ‘Aisyiyah pun seperti itu. Gerakan yang harus terus dibangun, harus memiliki keyakinan dan komitmen yang kuat. Selain itu harus bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, yang terpenting juga harus rajin-rajin silaturahim (networking).  Pernyataan itu disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Drs. H. Abdul Malik Fadjar dalam Sidang Tanwir I ‘Aisyiyah di STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta siang tadi (21/10).

Menurut mantan Mendiknas RI itu, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah bukan orang pas-pasan, tapi orang-orang Muhammadiyah – ‘Aisyiyah adalah orang yang menatap ke depan. Pesan kepada Ketua Stikes, Komunikasi ke siapa saja itu lebih hebat dari pada leaflet, ibu-ibu juru bicara yang bagus, juru bicara Stikes Aisyiyah, Juru Bicara ‘Aisyiyah.

Guru Besar Emiritus ini berpesan Semua gerakan Persyarikatan harus berkesinambungan, menyiapkan generasi-generasi penerusnya. Muhammadiyah 2015 harus sudah dipikir, Cita-cita Muhammadiyah. Gerakan Muhammadiyah berserta ortom-ortomnya tidak boleh berhenti. Ia mengingatkan Ketika kita sudah memiliki AUM Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Perguruan Tinggi ‘Aisyiyah (PTA) harus selalu dirawat baik-baik.

“Dalam memimpin AUM dan organisasi harus memiliki Manajemen ilmu dan seni,  makin besar STIKES, makin kompleks, bisa tidak berbarokah, kalo kita tidak merawatnya dengan barokah. Jangan ada konflik, konflik itu tidak akan memberi kemajuan. Saya ingatkan jangan ada konflik dalam Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Seorang pemimpin harus bisa mengemong, itulah seni dalam mempimpin AUM” tambah Mantan Rektor UMM dan UMS ini.

Acara Sidang Tanwir I ‘Aisyiyah sendiri sudah dilaksanakan selama 4 hari sejak Kamis (18/10) dan dibuka oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin, M.A. Jumat (1910) sekaligus peresmian Kampus Terpadu Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Sejak dibukanya Bazar Tanwir I ‘Aisyiyah Kamis (18/10) yang lalu. Bazar hingga hari ini (21/10)  tetap berlangsung meriah. Bazar yang diikuti oleh warga ‘Aisyiyah dari berbagai daerah di seluruh Indonesia ini menjual baju batik bermacam motif, makanan ringan khas daerah, cindera mata, asesoris, serta berbagai souvenir.

“Harganya relatif sama, bahkan di sini lebih dekat dan praktis,” komentar Warsiti, M.Kep., Sp.Mat, Ketua Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta yang kebetulan sedang berbelanja bahan batik, sandal, masker, dan gantungan kunci di Bazar. Di arena Bazar juga terdapat stand makanan yang menyediakan berbagai jenis makanan. Dari sekian stand yang ada, Rujak Gobet menjadi stand paling laris. Rujak Gobet sebenarnya tidak jauh beda dengan jenis rujak pada umumnya. Hanya saja ia memakai nama yang berbeda sehingga menarik minat banyak pembeli.

Menurut salah satu peserta stand Bazar, pemasukan tiap harinya terbilang lumayan walaupun tidak semeriah saat Muktamar Muhammadiyah tahun lalu. Bazar kali ini dimeriahkan juga dengan berbagai lomba, seperti lomba kuliner dan lomba kreasi jilbab, serta live performent akustik dari mahasiswa UGM. Bazar akan ditutup pada hari minggu (21/10/2012) bersamaan dengan Penutupan Sidang Tanwir I ‘Aisyiyah.(www.muhammadiyah.or.id)

Eksistensi ‘Aisyiyah dalam membangun peradaban bangsa Indonesia sudah tidak diragukan lagi. Sejak berdiri pada tahun 1917, sampai saat ini ‘Aisyiyah telah memiliki cabang hampir di seluruh pelosok Indonesia dan berkontribusi melalui dakwah dan jihad di berbagai bidang, antara lain pendidikan, ekonomi, kesehatan, pendidikan politik maupun usaha lain dengan berbasis pada gerakan Keluarga Sakinah dan Qoryah Thoyyibah.

Dalam kesempatan Tanwir I ‘Aisyiyah yang dilaksanakan di Kampus Terpadu Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta selama tiga ini (19-21/10/2012), Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah mengungkapkan bahwa dalam menjalankan dakwah dan jihadnya, ‘Aisyiyah membutuhkan sarana yang berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara organisasi dan anggota, maupun antara organisasi dan stakeholder eksternal lainnya, dalam hal ini adalah suara ‘Aisyiyah, Sabtu, (20/10).

Majalah Suara ‘Aisyiyah yang berdiri sejak 1926 pada mulanya terbit dengan menggunakan bahasa Jawa dan berisi tentang masalah pendidikan, praktis kewanitaan, psikologi populer, ajaran agama, berita organisasi, pergerakan wanita, pengetahuan umum dan penyebaran agama Islam, seperti seruan untuk kaum wanita agar menutup auratnya, memakai kerudung, menjauhi pergaulan bebas, mentaati adab sopan santun ke-Islaman dan sebagainya.

Guru Besar Filologi Fakultas Ilmu Budaya UGM ini menyampaikan bahwa Majalah Suara ‘Aisyiyah masa kini, berbahasa Indonesia, dengan materi organisasi dan kehidupan islam serta tersebar secara nasional sehingga apa yang dilakukan gerakan ‘Aisyiyah dapat terkomunikasikan diseluruh Indonesia.

Diakhir penyampaiannya, iamenegaskan bahwa “Suara ‘Aisyiyah saat ini memiliki fungsi strategis yaitu sebagai salah satu sarana dakwah melalui media massa dan merupakan perpanjangan tangan ‘Aisyiyah dalam mewujudkan cita-citanya. Suara ‘Aisyiyah juga berfungsi sebagai media informasi dan komunikasi pimpinan anggota di seluruh Indonesia, yang sangat strategis dalam memberikan perluasan pengetahuan dan penyadaran bagi peran perempuan dalam dunia domestik dan publik”. (www.muhammadiyah.or.id)