IMG

Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta bekerjasama dengan Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (Makes PPA) dan juga Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) menggelar konferensi pers hasil penelitian penggunaan kental manis pada masyarakat marjinal dan dampaknya terhadap status kesehatan balita di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), diselenggarakan di ruang rapat gedung Siti Moendjijah UNISA Yogyakarta, Sabtu (19/08).

Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat Rektor UNISA Yogyakarta yang sekaligus sebagai Ketua Majelis Kesehatan PP `Aisyiyah mengatakan fenomena yang berkaitan dengan kental manis sudah membudaya di masyarakat dan bukan perilaku sehat.

“Karena sudah lama terjadi, banyak masyarakat salah persepsi. Bagaimana kita mengubah persepsi, memaknai kental manis  itu bukan susu yang dianggap menambah nutrisi bagi balita,” ujar Warsiti.

Warsiti menambahkan UNISA Yogyakarta, Makes PP Aisyiyah dan YAICI bersama-sama menjalankan penelitian terkait konsumsi SKM di 4 wilayah (Gunung Kidul, Sleman, Kulon Progo, dan Bantul). Harapanya  semoga penelitian ini memberikan manfaat.

Tindak lanjut dari penelitian ini, menurut Warsiti perlu edukasi yang terus menerus terutama pada kelompok marjinal. UNISA Yogyakarta dengan  menggandeng kader Aisyiyah terutama edukasi terkait gizi seimbang. Selain itu melalui kegiatan pengabdian masyarakat UNISA Yogyakarta akan membekali para kader Aisyiyah sehingga memperluas dakwahnya terkait resiko penggunaan kental manis ke tingkat ranting dan cabang.

Menurut YAICI Provinsi DIY dijadikan sasaran penelitian karena termasuk dalam provinsi termiskin dengan angka kemiskinan di 11,49%, serta provinsi dengan UMP terendah kedua di Indonesia. Selain itu hasil temuan YAICI dan `Aisyiyah, masih banyak kental manis diberikan kepada anak dan orang tua sebagai minuman susu pada masyarakat, padahal kandungan gula yang terdapat pada kental manis sangat tinggi dan membahayakan kesehatan.

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta melakukan penelitian kerjasama dengan mitra Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Makassar yang bertemakan tentang Pemahanan isu Gender Disabilitas dan Sosial inklusi (GEDSI) bagi mahasiswa UNISA Yogyakarta dan UNISMUH Makassar.

Koordinator penelitian ini adalah Dr. Islamiyatur Rokhmah.,S.Ag.,M.S.I dengan anggota tim Dr.Warsiti.,S.Kp.,M.Kep.,SP.Mat dari UNISA Yogyakarta dan Dr. Dahniar, S.ST.,M.Kes dari Prodi Kebidanan FKIK UNISMUH Makassar.

Penelitian ini menghasilkan LoA (Letter Of Agreement) yakni surat kerjasama penelitian. Pada tanggal 7 Agustus 2023 ini dilakukan FGD terhadap beberapa responden dari  mahasiswa UNISA Yogyakarta, sebelumnya sudah dilakukan survey pemahaman GEDSI ke 100 mahasiswa baik di UNISA Yogyakarta maupun UNISMUH Makassar.

Islamiyatur Rokhmah mengatakan penelitian ini sangat penting untuk dilakukan, yakni untuk mengetahui pengetahuan mahasiswa tentang isu-isu GEDSI, apakah GEDSI sudah masuk dalam kurikulum pembelajaran di perguruan tinggi atau belum, dan apakah GEDSI sudah menjadi teori-teori intersexion dalam melakukan penelitian-penelitian tugas akhir mahasiswa.

“Sebagaimana kita ketahui bersama isu GEDSI sangatlah luas, seperti kekerasan terhadap perempuan, pernikahan anak, kekerasan terhadap penyandang disabilitas, diskriminasi berbasis suku, agama dan RAS, stunting dan masih banyak lagi. Oleh karena ini pemahaman GEDSI perlu ditanamkan kepada mahasiswa sebagai alat analisis dalam melakukan penelitian-penelitian tugas akhir,” tutur Islam. Islam berharap kerjasama penelitian ini tidak berhenti disini saja, namun berlanjut dengan program pengabdian masyarakat, yakni menguatkan pemahaman isu GEDSI dikalangan mahasiswa.

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menjalin Kerjasama dengan Pimpinan Cabang Istimewa (PCIM) Muhammadiyah Jepang dalam program pengabdian masyarakat Training Of Trainer Bimbingan Baca Alqur’an dengan menggunakan metode Al-Yusro, metode Al-Yusro ini adalah metode cara cepat baca Al-Qur’an yang didesain oleh TIM LPPI UNISA Yogyakarta. Ada 10 langkah dalam metode ini untuk mencapai kelancaran dalam membaca Alqur’an dengan ditempuh dalam waktu paling lama 3 bulan peserta diharapkan sudah dapat menguasai baca Al-Qur’an.

Program PKM ini diketuai oleh Dr.Islamiyatur Rokhmah.,S.Ag.,M.S.I dengan anggota Royan Utsany,Lc.,M.H.I. program  PKM ini didanai sepenuhnya oleh LPPM UNISA Yogyakarta. Dalam pelaksanaannya PKM ini dibantu oleh TIM BAQ UNISA Yogyakarta.

Ridwan Wicaksono S.T., M.Eng., Ph.D. selaku ketua PCIM Jepang menyampaikan bahwa Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Jepang bekerja sama dengan komunitas dan

organisasi muslim sudah mendampingi warga Jepang yang masuk islam (Muallaf), sekalipun mereka juga warga asli Indonesia. Kondisi masyarakat di kota Chiba di Jepang yang rutinitas sehari-hari bekerja menjadikan kesulitan untuk membagi waktu dalam menekuni pembelajaran baca Al-Qur’an. Dari sekitar 10 warga muslim yang muallaf, setiap pertemuan pembimbingan kurang lebih hanya dihadiri 2 sampai 4 orang saja, dan kehadirannya pun bergantian tiap diantara ke-10 warga tersebut. Sedangkan pengurus pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Jepang terdiri dari ketua, sekertaris, bendahara dan bidang-bidang. Bidang keagamaan menjadi bidang unggulan yang diutamakan dalam menggerakkan aktifitas kegiatan di wilayah Chiba Jepang. Kondisi letak geografis tempat tinggal diantara pengurus yang berjauhan mengakibatkan kesulitan pertemuan secara fisik. Kondisi pandemi diuntungkan dengan model pertemuan melalui singkronus yakni bisa memalui zoom atau gmeet untuk mengadakan pertemuan ranting, demikian pula dalam melakukan pendampingan bimbingan baca alqur’an dilakukan secara daring/online. Mellihat kondisi tersebut maka PKM ini diharapkan menjadi solusi bagi UNISA Yogyakarta dan PCIM Jepang untuk mempercepat cara baca Al-Qur’an bagi dampingan PCIM Jepang. Maka yang diutamakan dalam program ini adalah para pengurus PCIM Jepang, agar diharapkan mereka dapat menerapkannya kepada dampingannya yakni baik warga muslim maupun muallaf di wilayah Chiba Jepang.

Responsive feeding (RF) menjadi salah satu intervensi perbaikan gizi balita yang didukung oleh WHO dan UNICEF untuk mengatasi permasalahan gizi pada balita. RF berhubungan dengan ketertarikan anak terhadap makanan yang mempengaruhi asupan dari segi kualitas dan kuantitas pemenuhan makan. Namun, praktik ini ternyata tidak semudah yang dikira. Faktor pengetahuan dan ekonomi, menjadi faktor dominan yang mempengaruhi  pelaksanaan responsive feeding. Oleh karenanya, tim penelitian dari Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta yang diketuai oleh Dewi Rokhanawati dan beranggotakan Rosmita Nuzuliana, Ellyda Rizki Wijhati serta mahasiswa Program Studi DIII Kebidanan Fitri Maria Ulfa, tertarik meneliti tentang Pelaksanaan Responsive Feeding Pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Sewon 2.

 Penelitian dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam pada ibu-ibu yang memiliki anak usia balita. Hasil penelitian menyebutkan tingkat pengetahuan dan praktik RF oleh ibu balita masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil jawaban beberapa responden yang menyebutkan bahwa rutinitas makan anak mereka masih tidak terjadwal dengan baik, terutama makan siang. Beberapa kegiatan atau aktifitas anak mengganggu proses pemberian makan seperti, anak minum susu sebelum jadwal makan utama, sehingga anak merasa kenyang dan akibatnya menolak untuk makan. Selain itu, pola tidur anak tidak terjadwal, anak sering melewatkan jam makan karena masih tertidur.  Sebagian kecil responden berhasil menerapkan pola makan yang terjadwal, seperti makan utama 2 kali sehari, dimana untuk pemberian sarapan pada pukul 8-9. 

Masalah lain yang dihadapi adalah  anak tidak fokus pada saat makan. Hal ini dikarenakan aktifitas makan teralihkan oleh bermain  atau menonton TV maupun gadged serta kondisi kesehatan yang kurang fit. Beberapa anak seringkali menyimpan makanan dalam mulut dalam waktu yang lama, atau bahkan anak sama sekali tidak mau makan (Gerakan Tutup Mulut) karena sedang tumbuh gigi, sariawan dan anemia. Selain itu, kurangnya fokus ini diduga juga karena kurangnya ketertarikan anak pada makanan karena kurangnya variasi makan. Dalam memberikan makanan, beberapa ibu lebih memilih untuk membeli bubur organik yang dijual disekitar rumah tanpa penambahan protein hewani. Beberapa ibu yang menyiapkan makanan sendiri untuk anak, jenis makananya berupa nasi, sayur dan lauk (lele, ayam, telur, tempe, bandeng). Beberapa kasus yang dijumpai ibu tidak selalu memberikan protein. Selain makanan utama ibu senantiasa memberikan makanan selingan/ camilan berupa roti, biskuit, ciki. Tidak semua ibu memberikan buah secara rutin pada anaknya..

Hasil penelitian terlihat bahwa mayoritas ibu balita belum   memberikan makan secara responsif. Jika pengetahuan ibu mengenai RF cukup/baik, ibu akan mampu menyiapkan, menerapkan kebiasaan makan yang sehat, menyusun jadwal makan anak, mengetahui respon anak pada saat pemberian makan. Selain itu ibu juga bisa memberikan makan anak dengan menyenangkan dan  tanpa paksaan , tanpa distraksi/ pengalihan perhatian berupa pemberian telepon genggam atau mainan. Dari permasalahan tersebut, langkah yang disiapkan oleh peneliti dan tim adalah menyusun buku “Responsive Feeding untuk Buah Hati”. Buku ini berisi terkait pelaksanaan pemberian makan yang responsif  pada bayi. Buku ini rencananya akan ditujukan pada ibu balita yang sedang atau dalam pemberian makanan pendamping ASI, agar ibu bisa menemukan pola yang baik dalam pemberian makan pada anaknya. Upaya ini diharapkan agar balita bisa terbebas dari gizi buruk sehingga tumbuh kembang optimal.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Badan Pembina Harian (BPH) dan pimpinan UNISA Yogyakarta  meninjau langsung proses pembangunan Masjid Walidah Dahlan dan Convention Hall UNISA Yogyakarta, Rabu (16/08).

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si mengapresiasi berbagai capaian yang berhasil diukir oleh UNISA Yogyakarta sebagai Universitas pertama milik ‘Aisyiyah adalah bukti dari etos perempuan berkemajuan.

Etos tersebut menjelma dalam wujud-wujud gedung megah yang hidup jiwanya, untuk memberi manfaat bagi kemajuan masyarakat. Haedar sangat detail meminta supaya gedung-gedung milik persyarikatan harus dibangun dengan indah, seperti masjid Walidah Dahlan dan Convention Hall yang rencananya sudah mulai bisa digunakan pada 2023 ini. “Keindahan adalah salah satu ciri dari 99 nama Allah SWT maka gedung yang indah bagian dari manifestasi pengagungan kepada Allah SWT sekaligus menjalankan sunah Nabi Muhhamad,” ungkapnya.

 Haedar berharap UNISA Yogyakarta akan semakin banyak melahirkan kemanfaatan, terkhusus membangun motivasi keberhasilan bagi para mahasiswa dan civitasnya dalam mengarahkan mereka menjadi manusia-manusia terbaik.

Sementara itu, Ketua BPH UNISA Yogyakarta Dr. Siti Noordjanah Djohantini, MM., M.Si menyampaikan pembangunan gedung ini di mulai pada tahun 2020 tepatnya 14 agustus 2020, kami terus bertekad awalnya diharapkan awal 2021 atau pertengahan 2022 selesai namun terdapat kendala sehingga kami harus berfikir keras agar mahasiswa di tahun 2023 bisa menempati ruangan ini. UNISA Yogyakarta sebagai perguruan tinggi pertama ‘Aisyiyah selalu mendapatkan kesempatan yang luar biasa dari Muhammadiyah bahwa perempuan harus maju. Bukti kemajuannya salah satunya yaitu dengan pembangunan masjid ini.

 “Kalau kita bisa membangun gedung maka masjid harus jauh lebih baik dari pada gedung-gedung yang lain, karena disitulah amanah yang diberikan masyarakat, maka kita hadirkan Convention dan Masjid Walidah Dahlan ini” kata Noordjannah. Noordjanah berharap pembangunan ini segera selesai dan mengajak civitas akademik untuk  semakin kuat memanjatkan doa-doa kita,  mendoakan seluruh para pekerja proyek ini mendapatkan keselamatan, keberkahan, dan nantinya dapat digunakan menjadi tempat pembinaan generasi peradaban.