Haedar Nashir Dorong Unisa Yogyakarta Jadi Role Model Kampus Perempuan Berkemajuan
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mendorong Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta memperkuat perannya sebagai teladan perguruan tinggi yang dikelola organisasi perempuan. Selain unggul secara akademik, Unisa Yogyakarta diharapkan menjadi pengayom bagi perguruan tinggi ‘Aisyiyah lainnya sekaligus memperluas kontribusi bagi umat dan bangsa.
Haedar Nashir
Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam Sidang Terbuka Senat Unisa Yogyakarta dalam rangka milad Unisa ke-35, yang digelar di Convention Hall UNISA Yogyakarta, Rabu (14/10/2026). Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum penyampaian Laporan Tahunan Rektor Tahun Akademik 2025/2026 dengan tema Menguatkan Dampak, Harmoni untuk Semesta.
Haedar menyebut capaian Unisa Yogyakarta sebagai universitas yang dikelola organisasi perempuan dan telah meraih akreditasi Unggul merupakan prestasi yang patut diapresiasi. Namun, capaian tersebut perlu diikuti dengan penguatan peran strategis dalam pengembangan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan gerakan perempuan berkemajuan.
“Universitas ini sebagaimana sudah diperankan harus menjadi role model dari universitas organisasi perempuan berkemajuan,” ujar Haedar.
Haedar menekankan, peran Unisa Yogyakarta tidak cukup hanya menjadi representasi gerakan ‘Aisyiyah melalui pendidikan tinggi. Universitas ini juga diharapkan menjadi pengayom bagi perguruan tinggi ‘Aisyiyah yang masih berkembang.
Menurutnya, Unisa Yogyakarta dapat mengambil peran sebagai induk bagi perguruan tinggi ‘Aisyiyah lainnya. Saat ini, terdapat 16 Perguruan Tinggi ‘Aisyiyah (PTA), termasuk yang berada di Surakarta, Bandung, dan Palembang.
Ia menilai hubungan antarkampus yang dibangun melalui kolaborasi dan pendampingan dapat mendorong kemajuan bersama. Dengan pengalaman dan capaian yang dimiliki, Unisa Yogyakarta diharapkan mampu memperkuat kapasitas perguruan tinggi ‘Aisyiyah lainnya.
“Biasanya relasi yang dibangun antara yang sudah maju dengan yang sedang berkembang itu akan membawa kemajuan bagi semua,” katanya.
Selain penguatan jejaring, Haedar mendorong UNISA Yogyakarta memperluas cakrawala gerakan melalui pengembangan pemikiran keagamaan, akademik, pengabdian kepada masyarakat, hingga riset. Dengan demikian, perguruan tinggi ‘Aisyiyah dapat mengambil peran lebih besar dalam menjawab persoalan umat dan bangsa.
Perkuat Advokasi Kekerasan terhadap Perempuan
Haedar juga menyoroti pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam merespons persoalan kekerasan terhadap perempuan. Ia mendorong Unisa Yogyakarta bersama ‘Aisyiyah memperkuat gerakan advokasi dan partisipasi masyarakat untuk mencegah serta menangani kekerasan.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan hak dan kesetaraan perempuan, tetapi juga menyangkut penghormatan terhadap martabat manusia secara keseluruhan.
“Unisa tentu dengan ‘Aisyiyah perlu bikin gerakan advokasi. Dan sudah punya itu, agar problem-problem kekerasan terhadap perempuan juga bisa menjadi bagian dari gerakan partisipatorisnya,” ujarnya.
Ia menegaskan, perguruan tinggi perlu memiliki kepekaan terhadap persoalan kekerasan, baik yang dialami perempuan, laki-laki, maupun anak-anak. Karena itu, kampus tidak hanya berperan sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi bagian dari upaya menciptakan kehidupan yang aman dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Unisa Yogyakarta Perluas Dampak Pendidikan dan Riset
Sementara itu, Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti, menegaskan komitmen universitas untuk memperluas kontribusi bagi kemanusiaan dan kebangsaan melalui pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Komitmen tersebut tercermin dalam pembaruan visi Unisa Yogyakarta mulai 2026, yakni menjadi universitas unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dengan karakter utama berkhidmat pada kemanusiaan dan kebangsaan berdasarkan Islam Berkemajuan.
“Pengembangan universitas tidak hanya diarahkan pada peningkatan mutu akademik, tetapi juga menghasilkan inovasi dan program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Warsiti.
Implementasi komitmen itu dilakukan melalui berbagai program pengabdian, termasuk pemberdayaan masyarakat di 12 kelurahan, program Tangkas Gizi, serta pengembangan aplikasi dan situs web penunjang kesehatan. Unisa Yogyakarta juga berupaya membangun lingkungan kampus yang aman dan inklusif melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD) serta Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT).
Kedua layanan tersebut menjadi bagian dari upaya universitas dalam mendukung kesetaraan akses pendidikan sekaligus menyediakan mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.
Dari sisi penelitian dan pengabdian, Warsiti memaparkan bahwa sepanjang Tahun Akademik 2025/2026, UNISA Yogyakarta menghasilkan 113 judul penelitian dengan perolehan dana hibah lebih dari Rp3 miliar. Sementara itu, pendanaan pengabdian kepada masyarakat mencapai Rp1,5 miliar.
“Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya UNISA Yogyakarta memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi bagi persoalan masyarakat,” ujarnya.








































Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!