Inovasi UKS Siaga Bencana: Mentransformasi Sekolah Dasar Menjadi Benteng Tangguh Kebencanaan
Berada tepat di kaki Gunung Merapi yang aktif membuat wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, senantiasa bersiap menghadapi potensi bencana alam. Ancaman erupsi vulkanik, guncangan gempa bumi, hingga risiko kebakaran permukiman mengintai setiap saat. Di tengah ancaman tersebut, anak-anak sekolah dasar kerap menjadi kelompok paling rentan. Sayangnya, skema keselamatan di lingkungan sekolah sering kali terabaikan.
Sekolah Dasar
Selama ini, Unit Kesehatan Sekolah (UKS) di tingkat SD umumnya baru dimaknai secara sempit. UKS seolah sekadar ruang pasif tempat siswa menumpang istirahat saat pusing atau meminta plester luka ringan. Fungsi vital ini belum pernah dihubungkan secara sistematis dengan manajemen kesiapsiagaan dan mitigasi bencana di lingkungan sekolah.
Melihat celah krusial tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta menginisiasi langkah pembaruan melalui program “Inovasi Model UKS Siaga Bencana” di SDIT Nurul Islam, Sleman. Program ini dirancang khusus untuk menggeser paradigma lama, mengubah UKS dari sekadar ruang penanganan medis dasar menjadi pusat kendali mitigasi bencana terintegrasi.
Inisiatif terobosan ini berhasil meraih dukungan pendanaan dari Ditjen Diktiristek melalui skema Diktisaintek Berdampak senilai Rp43.480.000. Pelaksanaannya dipimpin langsung oleh pakar kesehatan UNISA, Astika Nur Rohmah, S.Kep., Ns., M.Biomed, dengan didampingi oleh dua akademisi, Bdn. Evi Wahyuntari, S.ST., M.Keb, dan Ellyda Rizki Wijhati, S.ST., M.Keb.
Guna membangun sistem pertahanan terpadu, tim UNISA merajut kolaborasi erat bersama para guru, pengelola sekolah, hingga murid melalui empat pilar intervensi utama:
- Pembentukan Tim Siaga Bencana Sekolah: Menyusun jalur komando dan pemetaan peran spesifik saat kondisi darurat, seperti tim evakuasi dan P3K.
- Pelatihan Pertolongan Pertama: Pengelola UKS, guru, dan kader siswa dibekali keterampilan praktis merawat luka, membebat patah tulang, hingga menangani pingsan sebelum bantuan medis profesional tiba.
- Edukasi Mitigasi Partisipatif: Materi kebencanaan disampaikan lewat nyanyian interaktif, peragaan visual, dan simulasi evakuasi mandiri yang menyenangkan bagi anak-anak.
- Penguatan Kesehatan Fisik dan Mental: Pembekalan ketahanan psikologis (psychological first aid) berikan untuk mencegah trauma mendalam pada anak pascabencana.
Selain pelatihan, fasilitas penunjang seperti Alat Pemadam Api Ringan (APAR), tandu lipat, kit P3K, stiker jalur evakuasi, hingga buku modul panduan keselamatan turut diserahkan untuk menunjang operasional sekolah.
Dampak nyata dari program ini terlihat dari evaluasi terukur melalui pre-test dan post-test. Rerata skor literasi kebencanaan warga sekolah melonjak tajam dari 78,8 menjadi 95,8. Program ini juga melahirkan tiga luaran legal, yakni Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk video safety briefing, manuskrip ilmiah, serta dokumentasi publik.
Melalui perpaduan SOP yang matang dan kelengkapan fasilitas medis, SDIT Nurul Islam kini resmi mentransformasi UKS-nya menjadi benteng pertahanan yang tangguh demi melindungi keselamatan generasi penerus dari ancaman bencana.







































Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!