Hipertensi atau tekanan darah tinggi kerap disebut sebagai silent killer karena sering muncul tanpa gejala namun mematikan. Sadar akan ancaman serius ini bagi kaum lanjut usia (lansia), mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta tak tinggal diam.
Melalui Proyek Al-Ma’un, mahasiswa Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi (Kelompok C1) turun langsung ke masyarakat. Mereka menggelar aksi “Edukasi dan Pemeriksaan Tekanan Darah Gratis” bagi lansia di Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Banyuraden, Gamping, Sleman, Jumat (26/12/2025).
Sebanyak 20 lansia antusias mengikuti kegiatan ini sejak pagi. Ketua Kelompok, Salsabila, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekedar tugas kuliah, melainkan wujud nyata kepedulian sosial mahasiswa untuk meningkatkan derajat kesehatan lansia di Banyuraden.
Deteksi Dini dan Tips Hidup Sehat
Acara dibuka oleh dosen pembimbing, Sri Lestari Lina Wati yang menekankan pentingnya nilai pengabdian. Tanpa membuang waktu, para siswa langsung mengeluarkan tensimeter. Satu per satu lansia diperiksa kondisi tekanan darahnya sebagai langkah deteksi dini.
Tak hanya memeriksa fisik, pikiran para lansia juga ikut di segarkan. Nabila Putri Irawan , salah satu mahasiswa, memberikan materi daging tentang cara menjinakkan hipertensi. Tipsnya sederhana namun sering dilupakan, kurangi asupan garam, rutin minum obat, dan jangan malas bergerak.
“Pola makan rendah garam dan aktivitas fisik ringan adalah kunci. Jangan tunggu sampai stroke menyerang baru menyesal,” pesan Nabila dalam sesi edukasi yang interaktif.
Tutup dengan Peregangan Anti-Kaku
Para lansia diajak melakukan peregangan khusus penderita hipertensi. Gerakan-gerakan ringan yang dipandu siswa untuk melancarkan peredaran darah dan mengurangi kekakuan otot. Gelak tawa pun pecah melihat semangat para lansia mengikuti gerakan instruktur.
Melalui Proyek Al-Ma’un ini, mahasiswa Keperawatan Anestesiologi UNISA Yogyakarta berharap bisa mencetak calon tenaga kesehatan yang tidak hanya jago teknis medis, tapi juga punya hati yang peka dan empati tinggi terhadap masyarakat. Bagi lansia Banyuraden, ilmu yang didapat hari ini menjadi bekal berharga untuk menikmati masa tua yang lebih sehat dan berkualitas.
Sehat itu hak semua orang, tak terkecuali bagi penyandang disabilitas. Semangat inilah yang dibawa oleh sekelompok mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta saat menyambangi Komunitas Difabel Gading di Kalurahan Banyuraden, Gamping, Sleman, Minggu (21/12/2025).
Melalui program kemanusiaan bertajuk Project Al-Ma’un, Mahasiswa Kelompok A6 tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa misi edukasi gizi yang dikemas santai namun penuh makna, membuktikan bahwa kepedulian sosial bisa dimulai dari hal paling sederhana, makanan.
Kenalkan Buah Lokal yang Ramah Kantong
Seringkali, gizi seimbang dikesankan mahal dan rumit. Namun, Khairan Nisya Dewi Azzahra, perwakilan mahasiswa, mematahkan anggapan itu di hadapan para anggota komunitas. Ia memperkenalkan manfaat terbaik dari buah-buahan yang mudah ditemukan di pasar dan harga terjangkau, seperti pisang, pir, apel, dan jeruk.
“Kami ingin menunjukkan bahwa menjaga kesehatan bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Buah-buahan ini mudah didapat di sekitar kita, murah, tapi kaya vitamin,” ujar Fitriyani, anggota kelompok A6, di sela-sela kegiatan.
Edukasi ini bukan sekedar ceramah, suasana berlangsung interaktif dan hangat, para peserta diajak memahami bahwa tubuh bugar adalah aset penting, dan memulainya bisa dari satu buah pisang atau jeruk setiap hari.
Belajar Empati dari Cerita Kehidupan
Kegiatan ini disambut antusias oleh Yuliana, Ketua sekaligus pendamping Komunitas Difabel Gading. Ia mengapresiasi kehadiran mahasiswa yang mau duduk bersama dan berbagi ilmu.
Lebih dari sekedar transfer ilmu gizi, momen ini menjadi ajang pertukaran rasa. Siswa dan teman-teman difabel saling bertukar cerita dan tawa dalam sesi interaksi santai, bagi para mahasiswa, ini adalah pelajaran berharga tentang kesabaran, komunikasi inklusif, dan empati mata kuliah kehidupan yang tak selalu ada di dalam kelas.
Project Al-Ma’un ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UNISA Yogyakarta tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial untuk merangkul semua lapisan masyarakat, memastikan tidak ada yang tertinggal dalam mendapatkan akses informasi kesehatan.
Setiap kata yang terucap membawa jejak hati. Ketika komunikasi dijalani dengan empati, ia tidak lagi berhenti sebagai pertukaran pesan, tetapi menjelma sebagai laku akhlak dan wujud kesalehan sosial.
Ada kalanya luka sosial tidak lahir dari kekerasan fisik, melainkan dari kata-kata yang diucapkan tanpa empati. Ucapan yang tergesa, nasihat yang mempermalukan, atau nada bicara yang merendahkan sering kali meninggalkan bekas lebih dalam daripada yang disadari. Padahal, Islam tidak hanya mengajarkan apa yang harus disampaikan, tetapi juga bagaimana menyampaikannya.
Berbicara dengan hati, menjadi sebuah praktik akhlak yang menautkan empati, adab, dan tanggung jawab sosial. Di sanalah komunikasi empatik menemukan maknanya sebagai cermin akhlak dan kesalehan sosial, hadir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memanusiakan.
Komunikasi
Dalam tradisi Islam berkemajuan yang dirawat Muhammadiyah, keberagamaan tidak berhenti pada ritual dan simbol. Keimanan tidak berhenti pada pengakuan, melainkan diuji dalam laku sosial bagaimana kita bersikap adil, menghargai martabat manusia, dan memperlakukan orang lain secara bermakna.
Tauhid tidak hanya menegaskan hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga menuntut tanggung jawab horizontal dalam hubungan antarmanusia. Di situlah komunikasi empatik menjadi wujud nyata dari kesalehan sosial. Almarhum Buya Syafii Maarif dengan tegas mengingatkan:
“Islam yang tidak membela kemanusiaan akan kehilangan makna moralnya”.
Pernyataan ini menempatkan kemanusiaan sebagai inti ajaran Islam. Dalam konteks komunikasi, membela kemanusiaan berarti memperlakukan setiap orang dengan hormat dan empati, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi, tingkat pendidikan, maupun posisi kekuasaan. Semua manusia, pada hakikatnya hadir sebagai makhluk Allah yang memiliki martabat yang sama, namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, komunikasi sering kali berlangsung tidak setara.
Sejak kelahirannya, Muhammadiyah hadir membawa semangat memerdekakan manusia dari berbagai bentuk ketidakadilan—termasuk ketidakadilan yang tersembunyi dalam bahasa, sikap, dan cara kita berbicara satu sama lain. Cara berbicara yang merendahkan, menghakimi, atau meniadakan suara orang lain bukan hanya persoalan etika sosial, tetapi juga persoalan moral keagamaan. Bahasa dapat menjadi sarana pencerahan, tetapi juga dapat menjadi alat penindasan ketika kehilangan empati.
Islam memberikan panduan yang jelas mengenai etika berkomunikasi. Al-Qur’an tidak hanya mengatur apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana kata-kata itu diucapkan. Perkataan yang baik, jujur, dan lembut berulang kali ditegaskan sebagai bagian dari adab berkomunikasi seorang muslim. Bahkan kepada Fir’aun—penguasa yang dikenal keras dan zalim—Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara dengan kelembutan (QS. Thaha: 44). Pesan ini menegaskan bahwa empati tidak bergantung pada siapa yang dihadapi atau dalam situasi apa kita berada. Ia adalah prinsip akhlak yang mesti dijaga, justru ketika relasi kuasa tidak seimbang.
Dalam urusan memberi nasihat, pelajaran ini menjadi sangat relevan. Kebaikan tidak diajarkan dengan mempermalukan atau merendahkan orang lain. Nasihat yang disampaikan dengan bahasa yang kasar, membuka aib, atau melukai harga diri justru berisiko menutup ruang dialog. Sebaliknya, bahasa yang santun dan beradab memungkinkan pesan kebenaran diterima dengan lebih lapang. Dalam komunikasi yang empatik, kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan jalan untuk menghadirkan perubahan yang lebih tahan lama.
Teladan Rasulullah SAW semakin menegaskan pentingnya komunikasi empatik. Nabi dikenal sebagai pendengar yang baik dan tidak merendahkan siapa pun. Beliau menyesuaikan bahasa dengan kondisi lawan bicara, berbicara dengan penuh perhatian, dan menghadirkan rasa aman bagi siapa pun yang berinteraksi dengannya.
Dalam kajian ilmu komunikasi Barat, empati dipahami sebagai kemampuan memahami pengalaman orang lain secara kognitif dan emosional. Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, menempatkan empati sebagai prasyarat utama terciptanya relasi interpersonal yang sehat dan bermakna. Empati memungkinkan seseorang hadir sepenuhnya dalam percakapan—bukan untuk mendominasi, melainkan untuk memahami. Perspektif ini memiliki irisan yang kuat dengan nilai-nilai Islam tentang adab dan penghormatan terhadap sesama.
Selain itu, Martin Buber melalui konsep relasi I–Thou menekankan pentingnya memandang orang lain sebagai subjek yang utuh, bukan sekadar objek. Relasi dialog yang beradab menuntut lebih dari sekadar kepandaian berbicara. Ia menuntut kesediaan untuk hadir dengan empati dan mengakui martabat orang lain sebagai sesama manusia.
Dalam tradisi dakwah Muhammadiyah, cara pandang ini penting karena dakwah tidak pernah dimaksudkan untuk menundukkan, melainkan untuk mencerahkan dan memanusiakan. Komunikasi empatik bukan sekadar etika personal, melainkan bagian dari dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Tentu saja dakwah tidak hanya berlangsung di mimbar atau forum resmi, tetapi juga hadir dalam percakapan sehari-hari seperti bagaimana kita menyapa orang lain, mendengarkan keluhan masyarakat kecil, atau merespons perbedaan pendapat dengan adab.
Di situlah nilai Islam berkemajuan diuji dan dihidupkan. Cara seseorang berbicara, mendengarkan, dan merespons orang lain merupakan cerminan langsung dari akhlaknya. Kata-kata tidak berdiri sendiri; ia selalu membawa nilai, sikap batin, dan cara pandang terhadap sesama manusia.
Tantangan komunikasi hari ini semakin terasa di tengah suasana sosial yang mudah terbelah. Kata-kata bernada kebencian dengan cepat menyebar, terutama di ruang digital, sering kali empati tidak diberikan kesempatan untuk bekerja. Dalam keadaan seperti ini, akhlak justru diuji melalui cara kita berbicara—apakah kata-kata kita ikut menambah luka, atau justru membuka ruang untuk saling memahami.
Pada akhirnya, berbicara dengan hati adalah ikhtiar untuk menjaga keharmonisan dalam setiap perjumpaan. Ia menuntut kesadaran bahwa kata-kata bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dirasakan. Empati mengajarkan kita untuk menahan diri sebelum menghakimi, memilih bahasa yang merawat martabat, dan menyampaikan kebenaran tanpa melukai.
Dalam komunikasi yang demikian, akhlak tidak lagi sekadar konsep, melainkan hadir sebagai laku hidup sehari-hari. Di sanalah kesalehan sosial menemukan hakikatnya—dalam tutur yang lembut, sikap yang menghormati, dan komitmen untuk terus memanusiakan manusia, sebagaimana Islam mengajarkannya.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/01/komunikasi.jpg887799adminhttps://media.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2024/01/Logo-Unisa_Horisontal_bg_putih.pngadmin2026-01-03 00:00:592026-01-05 13:34:32Berbicara dengan Hati: Komunikasi Empatik sebagai Akhlak dan Kesalehan Sosial
Aksi sosial pelajar biasanya identik dengan pembagian sembako berupa beras atau mie instan. Namun pemandangan berbeda terlihat di Dusun Wanujoyo Kidul, Srimartani, Piyungan, Bantul, pada Minggu (21/12/2025).
Puluhan mahasiswa Program Studi Gizi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang tergabung dalam Kelompok A4, turun ke desa membawa misi kesehatan melalui Project Al-Ma’un. Mereka menyasar kelompok lanjut usia (lansia) untuk diajak hidup lebih sehat dengan cara yang asyik dan tidak membosankan.
Lawan Kolesterol Jahat
Acara dimulai sejak pagi. Halaman desa dipenuhi gelak tawa saat para lansia diajak senam bersama untuk melenturkan otot. Setelah keringat bercucuran, momen ini dimanfaatkan mahasiswa untuk memberikan edukasi penting: Bahaya Kolesterol.
Ketua Kelompok A4, Binar Dewi Luhcinta akrab disapa Cinta, menjelaskan bahwa edukasi ini krusial mengingat lansia sangat rentan terhadap penyakit degeneratif.
“Kami ingin memberikan pemahaman praktis. Kesehatan di usia senja itu sangat bergantung pada apa yang dimakan. Sayur adalah kunci untuk mengontrol kolesterol, bukan obat-obatan kimia melulu,” ujar Cinta.
Serunya Estafet Balon hingga Oleh-oleh Sayur
Suasana makin pecah saat sesi fun game. Para lansia yang biasanya duduk diam di rumah, hari itu terlihat kompetitif mengikuti lomba estafet balon. Permainan ini sengaja dirancang untuk melatih motorik dan kekompakan warga.
Kejutan terjadi di akhir acara. Jika biasanya peserta pulang membawa bingkisan makanan ringan, kali ini panitia membagikan seikat kangkung segar kepada setiap lansia.
Hadiah unik ini bukan tanpa alasan. Pemberian kangkung adalah simbol ajakan nyata agar warga langsung menyebarkan materi yang didapat: masak sayur di rumah hari itu juga!
Project Al-Ma’un ini sejatinya merupakan bagian dari tugas Penilaian Akhir Semester (PAS). Namun, bagi mahasiswa UNISA Yogyakarta, ini lebih dari sekadar nilai akademik. Ini adalah implementasi teologi Al-Ma’un warisan KH. Ahmad Dahlan, bahwa kesalehan sosial harus dibuktikan dengan tindakan nyata menyantuni dan menyehatkan sesama.
Minggu pagi (21/12/2025) di kawasan Perumahan Dayu Permai, Ngaglik, Sleman, tampak berbeda dari biasanya. Suasana di halaman Masjid Al-Jihad mendadak riuh penuh semangat. Puluhan lansia terlihat tertarik menggerakkan badan mengikuti irama senam, dipandu oleh sekelompok anak muda berjaket almamater hitam.
Mereka adalah mahasiswa Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang sedang menggelar aksi nyata bertajuk Proyek Al-Ma’un. Menggandeng Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Sinduharjo, kegiatan ini bertujuan meningkatkan semangat hidup sehat sekaligus membekali para lansia ilmu penting soal kegawatdaruratan.
Edukasi Rumah Bebas Panik
Usai dengan kegiatan senam pagi, para peserta masuk ke serambi masjid untuk sesi yang lebih serius namun santai. Mengusung tema “Rumah Bebas Panik: Ikhtiar Menuju Keluarga Siaga Darurat”, delapan mahasiswa UNISA Yogyakarta berbagi trik menghadapi situasi genting di rumah.
Tim mahasiswa yang terdiri dari Aulia Surya Pratiwi, Satria Adiwignya Hardini, Nayla Aditya Putri, Ahmad Devan Ardiansyah, Raisyah Agista Putri, Iin Juniarti, Alqaf Rayqa Ahmad, dan Salma Hanifa, tampil cekatan di bawah bimbingan mentor Siti Huzaimah.
Materi yang dibawakan sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari para lansia. Alqaf Rayqa Ahmad membuka wawasan soal penanganan kecelakaan rumah tangga, insiden yang sering menimpa lansia. Dilanjutkan oleh Salma Hanifa yang membedah potensi bencana di wilayah Yogyakarta, serta Nayla Aditya Putri yang membagikan daftar nomor darurat vital di Sleman.
Menariknya, edukasi ini tak melulu ceramah. Mahasiswa membagikan panduan lembar yang dilengkapi barcode digital untuk mengakses materi lebih lanjut. Camilan sehat pun ikut sertakan untuk menemani sesi diskusi.
Doorprize Antusiasme Tinggi dan Banjir
Sesi tanya jawab menjadi momen paling hangat. Para lansia tak perlu melontarkan pertanyaan penting seputar kesehatan dan bencana. Tak hanya bertanya, mereka justru balik memberikan motivasi kepada para mahasiswa agar semangat menuntaskan kuliah.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kami jadi tahu harus telepon siapa kalau ada darurat, dan bagaimana cara aman di rumah,” ujar Larjiman salah satu peserta.
Acara ditutup dengan kemeriahan Pembagian doorprize bagi peserta yang aktif dan beruntung. Senyum sumringah terpancar saat sesi foto bersama. Melalui Proyek Al-Ma’un ini, mahasiswa UNISA Yogyakarta berharap nilai kepedulian dan kemanusiaan tidak hanya berhenti dalam teori kampus, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya para lansia di Sinduharjo.