Makanan kekinian

Lobi Gedung Siti Moendjijah Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta tiba-tiba berubah menjadi surga makanan kekinian pada Senin (05/01/2026). Aromanya yang menggiurkan dari puluhan stan makanan sukses menarik perhatian siapa saja yang lewat.

Pemandangan ini merupakan bagian dari gelaran Pameran Produk Pangan yang dihelat oleh Program Studi Gizi UNISA Yogyakarta. Ajang yang rutin digelar tiap semester ini bukan sekadar festival makanan biasa, melainkan etalase kreativitas mahasiswa semester 5 dalam menerjemahkan teori rumit menjadi sajian lezat.

Proyek Berbasis Tim Tantangan

Pameran ini merupakan puncak dari mata kuliah Teknologi Pangan melalui skema pembelajaran Team Based Project. Mahasiswa dituntut untuk memutar otak, menciptakan produk pangan baru dengan menerapkan berbagai metode pemrosesan yang telah dipelajari di kelas.

Ketua Prodi Gizi UNISA Yogyakarta, Agung Nugroho, A.MG., MPH., menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan kebutuhan pasar.

“Mahasiswa ditantang untuk menerapkan teknik pengolahan pangan secara kreatif dan ilmiah. Mulai dari perencanaan konsep, pemilihan bahan, hingga implementasi produk jadi, semuanya harus relevan dengan kebutuhan masyarakat modern,” tutur Agung.

30 Inovasi Kuliner Siap Komersial

Sebanyak 30 jenis produk pangan inovatif dipamerkan kali ini. Pengunjung dimanjakan dengan berbagai varian makanan yang unik, sehat, dan tentu saja instagramable. Tak hanya soal rasa, pameran ini juga menjadi kawah candradimuka bagi mahasiswa untuk belajar berwirausaha.

Mereka mengajarkan bagaimana mengemas produk agar menarik, menentukan harga jual, hingga mempromosikan inovasinya agar memiliki nilai komersial yang tinggi.

Makan Enak Sambil Beramal

Di balik kemeriahan inovasi kuliner tersebut, terselip misi sosial yang menyentuh hati. Diah Puspitasari, selaku dosen penanggung jawab mata kuliah, mengungkapkan bahwa keuntungan dari penjualan produk ini tidak masuk ke kantong pribadi mahasiswa.

“Seluruh hasil penjualan yang diperoleh hari ini akan kami sumbangkan ke Panti Asuhan Yatim Putri `Aisyiyah. Jadi, pengunjung yang membeli produk tidak hanya kenyang, tapi juga ikut berbagi kebahagiaan,” ujar Diah.

Langkah ini membuktikan bahwa mahasiswa Gizi UNISA Yogyakarta tidak hanya dicetak untuk menjadi ahli pangan yang cerdas, tetapi juga insan yang memiliki kepedulian sosial tinggi terhadap sesama.

Al Qur`an

Menghafal Al-Qur’an (tahfidz) bukan sekadar perkara niat yang kuat, melainkan juga butuh stamina otak yang prima. Seringkali, hafalan macet atau mudah lupa bukan karena anak kurang cerdas, melainkan karena asupan bahan bakar untuk otaknya yang kurang tepat.

Fakta menarik inilah yang dibawa oleh sekelompok mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta saat menyambangi Panti Asuhan Al-Amin di Gedongkuning, Kotagede, Yogyakarta, Sabtu (20/12/2025). Melalui program sosial bertajuk Project Al-Ma’un, mereka hadir bukan sekedar memberi santunan, namun membagikan resep rahasia agar para calon Hafiz cilik lebih mudah menjaga hafalannya.

Gizi Tepat, Hafalan Al-Qur`an Cepat

Sebanyak 9 anak asuh dan 4 pengurus panti diajak menyelami dunia gizi dengan cara yang asyik. Mahasiswa menekankan bahwa konsentrasi tinggi saat muroja’ah (mengulang hafalan) sangat bergantung pada apa yang dimakan.

Pengasuh Panti Asuhan Al-Amin, Ustadz Rimawan, mengamini hal tersebut. Menurutnya, tantangan terbesar anak-anak adalah rasa kantuk dan lelah saat belajar.

“Pola makan sehat sangat berpengaruh. Kalau gizinya cukup, anak asuh jadi lebih fokus, tidak mudah lelah, dan siap mental untuk menghafal ayat demi ayat,” ujar Ustadz Rimawan.

Musuh Utama: Gula dan Lemak Lebih Banyak

Dalam sesi edukasi, mahasiswa mengenalkan jenis-jenis makanan yang mudah didapat, seperti telur, ikan, sayur-mayur, dan buah-buahan. Jangan lupa, pentingnya minum air putih yang cukup agar otak tidak dehidrasi.

Sebaliknya, anak-anak juga diperingatkan soal makanan yang bisa bikin otak lemot, yakni makanan tinggi gula dan lemak jenuh. Selain aspek medis, mahasiswa juga menyelipkan nilai-nilai spiritual tentang adab makan dalam Islam harus Halal, Thayyib, dan tidak boleh berlebihan (israf).

Melalui kolaborasi antara ilmu kesehatan dan pendidikan agama ini, Panti Asuhan Al-Amin berharap dapat mencetak generasi Qur’ani yang paket lengkap, kuat imannya, otaknya cerdas, dan sehat badannya.

Tunarungu

Komitmen Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta sebagai kampus ramah difabel bukan sekadar isapan jempol belaka. Hal ini dibuktikan langsung oleh mahasiswa Program Studi Gizi yang menggelar aksi menyentuh hati di Griya Tunarungu Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN), Yogyakarta, Sabtu (20/12/2025).

Dalam suasana yang hangat, para mahasiswa tidak hanya datang membawa materi kuliah, tetapi membawa hati untuk berinteraksi dengan anak-anak istimewa. Kegiatan bertajuk proyek kemanusiaan dan keimanan ini menjadi jembatan inklusivitas yang manis antara dunia akademik dan penyandang disabilitas.

Belajar Bahasa Hati dan Gizi Sehat

Koordinator kegiatan, Dina Riana, menjelaskan bahwa acara ini dirancang untuk mendobrak sekat-sekat eksklusivitas. Mahasiswa diajak keluar dari menara gading kelas teori untuk merasakan langsung denyut nadi kehidupan saudara-saudara tunarungu.

“Kami ingin hadir tidak hanya sebagai pelajar yang belajar teori, tetapi sebagai manusia yang peduli. Di sini kami belajar arti empati dan kesabaran yang sesungguhnya. Interaksi ini mengajarkan kami bahwa komunikasi tak melulu soal suara, tapi juga soal rasa,” ujar Dina.

Acara dikemas sangat seru dan jauh dari kesan kaku. Anak-anak diajak bermain game edukatif, mewarnai, hingga diskusi ringan tentang makanan sehat. Para mahasiswa Gizi UNISA Yogyakarta dengan telaten menjelaskan pentingnya asupan gizi seimbang dengan metode visual yang mudah dipahami oleh anak-anak tunarungu. Gelak tawa pun pecah, meleburkan segala batasan fisik yang ada.

Apresiasi GERKATIN

Perwakilan pengelola Griya Tunarungu GERKATIN Yogyakarta, Hanif Adhi Pratama, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Ia mengapresiasi pendekatan mahasiswa UNISA Yogyakarta yang dinilai sangat menghargai dan tidak membatasi.

“Kami sangat terbantu. Pendekatan adik-adik siswa ini sangat hangat dan inklusif, sehingga anak-anak merasa nyaman dan diperhatikan. Tidak ada rasa canggung,” ungkap Hanif.

Ia berharap kolaborasi manis ini tidak berhenti di sini. Sinergi antara perguruan tinggi dan komunitas penyandang disabilitas seperti ini diharapkan bisa terus berlanjut demi meningkatkan kualitas hidup dan kesadaran masyarakat luas akan pentingnya kesetaraan.

Silent killer

Hipertensi atau tekanan darah tinggi kerap disebut sebagai silent killer karena sering muncul tanpa gejala namun mematikan. Sadar akan ancaman serius ini bagi kaum lanjut usia (lansia), mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta tak tinggal diam.

Melalui Proyek Al-Ma’un, mahasiswa Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi (Kelompok C1) turun langsung ke masyarakat. Mereka menggelar aksi “Edukasi dan Pemeriksaan Tekanan Darah Gratis” bagi lansia di Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Banyuraden, Gamping, Sleman, Jumat (26/12/2025).

Sebanyak 20 lansia antusias mengikuti kegiatan ini sejak pagi. Ketua Kelompok, Salsabila, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekedar tugas kuliah, melainkan wujud nyata kepedulian sosial mahasiswa untuk meningkatkan derajat kesehatan lansia di Banyuraden.

Deteksi Dini dan Tips Hidup Sehat

Acara dibuka oleh dosen pembimbing, Sri Lestari Lina Wati yang menekankan pentingnya nilai pengabdian. Tanpa membuang waktu, para siswa langsung mengeluarkan tensimeter. Satu per satu lansia diperiksa kondisi tekanan darahnya sebagai langkah deteksi dini.

Tak hanya memeriksa fisik, pikiran para lansia juga ikut di segarkan. Nabila Putri Irawan , salah satu mahasiswa, memberikan materi daging tentang cara menjinakkan hipertensi. Tipsnya sederhana namun sering dilupakan, kurangi asupan garam, rutin minum obat, dan jangan malas bergerak.

“Pola makan rendah garam dan aktivitas fisik ringan adalah kunci. Jangan tunggu sampai stroke menyerang baru menyesal,” pesan Nabila dalam sesi edukasi yang interaktif.

Tutup dengan Peregangan Anti-Kaku

Para lansia diajak melakukan peregangan khusus penderita hipertensi. Gerakan-gerakan ringan yang dipandu siswa untuk melancarkan peredaran darah dan mengurangi kekakuan otot. Gelak tawa pun pecah melihat semangat para lansia mengikuti gerakan instruktur.

Melalui Proyek Al-Ma’un ini, mahasiswa Keperawatan Anestesiologi UNISA Yogyakarta berharap bisa mencetak calon tenaga kesehatan yang tidak hanya jago teknis medis, tapi juga punya hati yang peka dan empati tinggi terhadap masyarakat. Bagi lansia Banyuraden, ilmu yang didapat hari ini menjadi bekal berharga untuk menikmati masa tua yang lebih sehat dan berkualitas.

Sehat

Sehat itu hak semua orang, tak terkecuali bagi penyandang disabilitas. Semangat inilah yang dibawa oleh sekelompok mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta saat menyambangi Komunitas Difabel Gading di Kalurahan Banyuraden, Gamping, Sleman, Minggu (21/12/2025).

Melalui program kemanusiaan bertajuk Project Al-Ma’un, Mahasiswa Kelompok A6 tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa misi edukasi gizi yang dikemas santai namun penuh makna, membuktikan bahwa kepedulian sosial bisa dimulai dari hal paling sederhana, makanan.

Kenalkan Buah Lokal yang Ramah Kantong

Seringkali, gizi seimbang dikesankan mahal dan rumit. Namun, Khairan Nisya Dewi Azzahra, perwakilan mahasiswa, mematahkan anggapan itu di hadapan para anggota komunitas. Ia memperkenalkan manfaat terbaik dari buah-buahan yang mudah ditemukan di pasar dan harga terjangkau, seperti pisang, pir, apel, dan jeruk.

“Kami ingin menunjukkan bahwa menjaga kesehatan bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Buah-buahan ini mudah didapat di sekitar kita, murah, tapi kaya vitamin,” ujar Fitriyani, anggota kelompok A6, di sela-sela kegiatan.

Edukasi ini bukan sekedar ceramah, suasana berlangsung interaktif dan hangat, para peserta diajak memahami bahwa tubuh bugar adalah aset penting, dan memulainya bisa dari satu buah pisang atau jeruk setiap hari.

Belajar Empati dari Cerita Kehidupan

Kegiatan ini disambut antusias oleh Yuliana, Ketua sekaligus pendamping Komunitas Difabel Gading. Ia mengapresiasi kehadiran mahasiswa yang mau duduk bersama dan berbagi ilmu.

Lebih dari sekedar transfer ilmu gizi, momen ini menjadi ajang pertukaran rasa. Siswa dan teman-teman difabel saling bertukar cerita dan tawa dalam sesi interaksi santai, bagi para mahasiswa, ini adalah pelajaran berharga tentang kesabaran, komunikasi inklusif, dan empati mata kuliah kehidupan yang tak selalu ada di dalam kelas.

Project Al-Ma’un ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UNISA Yogyakarta tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial untuk merangkul semua lapisan masyarakat, memastikan tidak ada yang tertinggal dalam mendapatkan akses informasi kesehatan.