Dehidrasi

Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan 1447 H berarti tubuh tidak akan mendapatkan asupan makanan dan cairan selama lebih dari 12 jam, jika tidak disiasati dengan benar, ancaman dehidrasi, bibir pecah-pecah, sakit kepala, hingga badan lemas siap mengintai umat muslim yang sedang berpuasa.

Dehidrasi

Dehidrasi merupakan salah satu risiko kesehatan yang perlu diwaspadai saat berpuasa. Seringkali, banyak orang yang salah kaprah dengan langsung menenggak air berliter-liter saat sahur atau berbuka. Padahal, cara tersebut justru membuat perut kembung dan ginjal bekerja terlalu keras. Lalu, bagaimana cara memenuhi kebutuhan cairan 8 gelas sehari dengan waktu yang terbatas?

Solusi paling cerdas dan praktis untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi di mana pun kalian berada adalah dengan menerapkan Rumus 2-4-2.

Apa Itu Rumus 2-4-2 dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Pakar kesehatan sangat menyarankan metode pembagian jadwal minum air putih ini. Tujuannya agar cairan diserap secara bertahap dan optimal oleh tubuh. Berikut panduan praktisnya:

  • 2 Gelas Saat Berbuka: Minum 1 gelas air putih hangat sesaat setelah azan maghrib berkumandang untuk membatalkan puasa. Lalu, lanjutkan dengan 1 gelas lagi setelah makan takjil ringan atau selepas salat Maghrib untuk mengembalikan kelembapan tubuh.
  • 4 Gelas Sepanjang Malam: Jangan lupakan hidrasi malam hari! Cicil 4 gelas air putih dengan jadwal: 1 gelas setelah makan malam, 1 gelas sebelum salat Tarawih, 1 gelas setelah Tarawih, dan 1 gelas lagi menjelang tidur malam.
  • 2 Gelas Saat Sahur: Minum 1 gelas saat baru bangun tidur sebelum menyantap hidangan sahur, dan akhiri dengan 1 gelas air putih hangat menjelang waktu imsak tiba sebagai bekal cairan seharian.

Dengan disiplin menerapkan rumus asupan air putih 2-4-2 ini selama bulan puasa, ibadah Anda dijamin lebih lancar, fokus tetap terjaga, dan pastinya anti lemas!

Sumber : Kemenkes

Penulis : Adi Sasmito, S.I.Kom (Humas UNISA Yogyakarta)

Ta`awun sosial

Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta kembali menggelar kegiatan Ta’awun Sosial dengan tema “Equal Piety: Mewujudkan Kesalehan yang Menyatukan Kesetaraan dan Kemajuan” di halaman Convention Hall Unisa Yogyakarta, Jumat (20/2/2026). Agenda ini menjadi wujud nyata kehadiran Unisa Yogyakarta di tengah masyarakat.

Ta`awun Sosial

Kegiatan Ta’awun Sosial 2026 diisi dengan pembagian sembako, cek keseatan gratis, serta pembagian sayuran kepada warga sekitar kampus. Ratusan masyarakat dari berbagai dusun di sekitar Unisa Yogyakarta tampak antusias mengikuti kegiatan yang rutin digelar setiap tahun tersebut.

Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Urusan Internasional Unisa Yogyakarta, Ali Imron, menegaskan bahwa keberadaan Unisa Yogyakarta di Kabupaten Sleman harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

“Unisa menyadari bahwa keberadaan kami di Sleman harus relevan dan bermanfaat bagi wilayah Sleman dan sekitarnya. Maka kegiatan seperti ini bukan hanya hari ini saja, tetapi menjadi bagian dari komitmen kami,” ujarnya.

Ia mencontohkan sejumlah program kolaboratif yang telah dilakukan, diantaranya pemberian beasiswa bagi anak-anak Sleman bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman. Mekanisme pendaftaran dilakukan melalui Pemkab Sleman agar tepat sasaran.

Selain itu, Unisa Yogyakarta juga terus mengembangkan layanan kesehatan untuk masyarakat. “Kami baru membangun rumah sakit di Panjatan (Kulon Progo). Ada juga klinik di kampus ini yang jangkauannya akan kami perluas,” kata Imron.

Imron menambahkan, semangat ta’awun atau tolong-menolong merupakan bagian dari ajaran Muhammadiyah yang diwariskan KH Ahmad Dahlan. Menurutnya, ibadah tidak hanya dimaknai sebatas salat, puasa, dan haji. “Tapi termasuk kita bekerja di masyarakat, membangun masyarakat bersama-sama,” ujar Imron.

Menyadari hidup berdampingan dengan masyarakat, Imron berharap Unisa Yogyakarta terus memberi kontribusi positif. Ia pun memintaa maaf jika ada suatu hal yang tidak berkenan di masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dusun Cambahan, Solihin Nurcahyo, mewakili para kepala dusun di sekitar Unisa Yogyakarta, menyampaikan apresiasi atas konsistensi kampus tersebut dalam menggelar kegiatan sosial. “Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Unisa Yogyakarta yang tiap tahun mengadakan ta’awun sosial,” ungkapnya.

Ia berharap cita-cita mewujudkan kesalehan dan kemajuan dapat terlaksana dengan baik serta mendapat ridha Allah SWT. “Semoga menjadi kebaikan dan menjauhkan kita dari larangan-Nya. Mari senantiasa meningkatkan iman dan takwa, agar kewajiban kita bisa dijalankan dengan baik,” katanya.

Solihin juga menyebutkan bahwa masyarakat menerima kehadiran mahasiswa Unisa yang tinggal di kos dan kontrakan di wilayah sekitar kampus sebagai bagian dari ekosistem sosial yang perlu dijaga bersama. “Semoga apa yang mereka cita-citakan bisa terwujud dengan baik,” kata Solihin.

Senada, salah satu warga Karangtengah, Sumiyani, mengaku senang dengan adanya kegiatan Ta’awun Sosial. “Masyarakat gembira, senang ada kegiatan seperti ini setiap tahun. Sangat membantu, apalagi menjelang Lebaran,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin, karena dinilai membantu warga. Termasuk membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan persiapan hari raya.

Puasa

Ramadhan selalu dipahami sebagai bulan pengendalian diri. Lapar dan dahaga bukan sekedar ritual fisik, melainkan latihan etis untuk menata hasrat, menguatkan empati, dan menumbuhkan solidaritas sosial. Namun dalam praktik sosial modern, bulan yang sarat dengan pesan kesederhanaan ini justru kerap menjadi puncak konsumsi tahunan. Meja makan semakin penuh, belanja kebutuhan meningkat, dan perputaran ekonomi melonjak tajam. Di sinilah muncul ironi, puasa mengajarkan kesederhanaan, tetapi praktik sosial sering kali menunjukkan kecenderungan ekspansi konsumsi.

Puasa Ramadhan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pola yang hampir berulang setiap tahun. Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, harga bahan pangan meningkat. Beras, telur, daging ayam, bawang, dan cabai menjadi penyumbang inflasi musiman. Permintaan melonjak dalam waktu singkat. Secara ekonomi, hal ini dianggap wajar bahkan positif karena mendorong perputaran uang. Namun di balik angka-angka itu, ada realitas yang lebih sunyi, yaitu keluarga yang harus mengurangi belanja karena harga naik.

Ramadhan seharusnya menjadi bulan solidaritas, ketika rasa lapar menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan, namun ketika konsumsi berlebihan justru mendorong kenaikan harga bahan pokok, kelompok rentanlah yang paling merasakan dampaknya. Bagi mereka, kenaikan harga berarti harus mengurangi belanja bahkan menekan kebutuhan lainnya. Persoalan konsumsi di bulan suci ini bukan sekadar soal gaya hidup atau tradisi, melainkan menyangkut ketahan pangan dan keadilan akses terhadap kebutuhan dasar.

Konsumsi, Ketahanan Pangan, dan Tanggung Jawab Sosial

Ketahanan pangan pada dasarnya menyangkut ketersediaan yang cukup, akses yang adil, serta stabilitas harga. Ketika permintaan meningkat tajam, sistem pangan menghadapi tekanan distribusi dan fluktuasi harga. Pemerintah berupaya menjaga kestabilan harga dan pasokan pangan dengan berbagai cara, seperti menggelar operasi pasar, memperkuat cadangan bahan pokok, dan mengawasi jalur distribusi agar tidak terjadi penimbunan atau lonjakan harga yang tidak wajar. Namun kebijakan stabilisasi tidak dapat bekerja optimal tanpa dukungan perilaku konsumsi yang rasional.

Masalah menjadi lebih kompleks ketika kita melihat fakta pemborosan pangan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2026 mencatat bahwa 40,71% sampah nasional berasal dari sisa makanan, menjadikannya komponen terbesar dalam timbulan sampah Indonesia. Laporan Bappenas (2021) memperkirakan timbulan food loss and waste Indonesia mencapai puluhan juta ton per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa persoalan pangan bukan hanya soal produksi dan distribusi, tetapi juga soal pola konsumsi.

Dalam praktik keseharian Ramadhan, pemborosan kerap terjadi tanpa disadari. Keinginan menyajikan hidangan terbaik, tradisi berbuka bersama, atau dorongan psikologis untuk mengganti rasa lapar sering berujung pada kelebihan porsi. Ketika makanan terbuang, bukan hanya nilai ekonominya yang hilang, tetapi juga sumber daya yang digunakan untuk memproduksinya.

Dengan demikian, paradoks konsumsi selama Ramadhan tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan moral individual. Ia terkait dengan tata kelola sistem pangan secara lebih luas. Perilaku konsumsi masyarakat dan kebijakan publik saling berkelindan membentuk stabilitas atau kerentanannya.

Dimensi Lingkungan dan relevansi Nilai Kesederhanaan

Selain berdampak pada sistem pangan, pemborosan makanan juga berkontribusi terhadap persoalan lingkungan. Limbah organik yang membusuk menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang berperan dalam pemanasan global. Di sisi lain, peningkatan konsumsi selama Ramadhan juga sering diikuti kenaikan penggunaan kemasan sekali pakai dan sampah plastik.

Dalam situasi perubahan iklim dan tekanan terhadap sumber daya alam, pola konsumsi berlebihan memiliki implikasi jangka panjang. Setiap makanan yang terbuang mengandung jejak ekologis seperti air untuk irigasi, energi untuk produksi dan transportasi, serta lahan pertanian yang semakin terbatas.

Di sinilah puasa menemukan relevansinya secara sosial-ekologis. Puasa mengajarkan pengendalian diri dan keseimbangan. Dalam ajaran Islam, larangan berlebih-lebihan (israf) menegaskan pentingnya moderasi dalam konsumsi. Nilai ini sejalan dengan gagasan keberlajutan yang kini menjadi agenda global.

Ramadhan dapat dimaknai sebagai momentum pembelajaran kolektif bahwa kecukupan lebih penting daripada kelimpahan, dan bahwa tanggung jawab terhadap sesama serta lingkungan dimulai dari pilihan-pilihan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Merencanakan belanja secara bijak, memasak sesuai kebutuhan, serta mengelola sisa makanan dengan lebih bertanggung jawab adalah bentuk konkret dari internalisasi nilai tersebut.

Pada titik inilah, puasa dan paradoks konsumsi adalah refleksi tentang bagaimana nilai spiritual bertemu dengan realitas ekonomi modern. Tantangannya bukan pada ritualnya, melainkan pada transformasi perilaku yang mengikutinya. Jika pengendalian diri yang dilatih selama Ramadhan benar-benar hadir dalam kehidupan sosial, maka bulan ini bukan hanya memperkuat spiritualitas individu, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Di tengah dinamika ekonomi dan krisis ekologis global, mungkin inilah makna puasa yang paling kontekstual, yaitu belajar merasa cukup, agar yang lain juga dapat hidup cukup.

Oleh: Suprihatin Wijayanti, S.P., M.Sc (BPP UNISA Yogyakarta)

Keadilan

Universitas Aisyiyah Yogyakarta menghadirkan mantan Gubernur Jawa Tengah sekaligus politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Ganjar Pranowo, dalam Kuliah Kebangsaan setelah salat Tarawih di Masjid Walidah Dahlan, Rabu (18/2/2026).

Agenda tersebut mengangkat tema “Keadilan Sosial sebagai Ruh Peradaban: Perspektif Keislaman dan Kebangsaan.” Penyelenggaraan Kuliah Kebangsaan ini menjadi momentum strategis penguatan kualitas keimanan, ketakwaan, serta kepedulian sosial jamaah Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta selama Ramadan.

Keadilan Harus Diperjuangkan

Dalam kesempatan tersebut, Ganjar memberikan ceramah seputar keadilan sosial dengan perspektif keislaman dan kebangsaan. Bagi Ganjar, keadilan adalah terbukanya kesempatan yang sama kepada setiap orang tanpa pandang bulu, baik miskin maupun kaya. Momentum Ramadan menjadi pengingat bahwa di sekitar kita masih banyak orang yang tidak mendapatkan haknya.

“Apakah setiap orang punya kesempatan yang sama dalam akses pendidikan? Dalam kesehatan, apakah keadilan berjalan atau tidak?” tanya Ganjar memantik diskusi dengan jamaah. Menurutnya, akses yang terbuka sangat penting untuk memastikan kesejahteraan dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Ganjar menyitir sebuah penelitian skripsi dari pelawak legenda, Dono Warkop DKI. Dalam penelitian tersebut ditemukan fakta bahwa status sosial ekonomi keluarga berbanding lurus dengan prestasi murid di sekolah. Temuan ini membuktikan perlunya akses pendidikan bagi orang miskin tanpa diskriminasi kualitas sedikit pun.

“Jika saya tidak punya akses ke perguruan tinggi, hari ini saya tidak akan diundang di sini,” ucap Ganjar, meyakinkan jamaah bahwa keadilan dalam pendidikan menjadi hal fundamental bagi kemajuan bangsa.

“Apakah kita memiliki akses yg sama terhadap pendidikan? Apakah kita memberikan bantuan kepada siapa pun dengan akses yang sama tanpa membedakan? Maka keadilan sosial ialah memiliki akses pendidikan, kesehatan, dan sosial yang sama. Hak orang kaya dan orang miskin sama. Tidak semuanya harus kaya, tapi tidak ada diskriminasi,” katanya menambahkan.

Ketika seluruh hak masyarakat tidak terpenuhi, Ganjar memastikan akan ada suara-suara yang menuntut keadilan. Ia menyayangkan bahwa keadilan sosial seperti yang tertuang dalam sila kelima Pancasila sampai hari ini belum terlaksana dengan sempurna. Beberapa kebijakan, pada kenyataannya, justru mengorbankan hak rakyat kecil.

“Ada sila ke lima, tapi jarak si kaya dan miskin makin jauh. Maka, treatment-nya yang miskin harus diperhatikan. Kebijakan publik mesti menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Pertanyaannya, apakah kita masih punya adab untuk memperlakukan manusia dengan setara?” ucap Ganjar.

Untuk mengatasi masalah keadilan ini, Ganjar mengingatkan para pemangku kebijakan agar menegakkan keadilan dengan setegak-tegaknya. Korupsi, kolusi, dan nepotisme perlu disingkirkan agar keadilan sosial bagi seluruh rakyat dapat terwujud. Ganjar memberi contoh bahwa Rasulullah saw. menegaskan jika anaknya, Fatimah ra., mencuri, maka beliau sendiri yang akan memotong tangannya. Sabda Nabi ini harus menjadi panutan bagi pemimpin.

Selain itu, Ganjar juga mengajak setiap orang menanamkan nilai-nilai keadilan dalam dirinya masing-masing.

“Kita harus adil dimulai dari diri sendiri. Bahkan kita harus adil walau itu merugikan diri sendiri,” katanya.

Sebagai negara yang disebut paling dermawan di dunia, Ganjar meyakini bahwa masyarakat Indonesia pasti bisa mewujudkan keadilan sosial sebaik-baiknya. Baginya, Indonesia tidak kekurangan orang baik. Dalam momentum Ramadan, misalnya, kita jamak menemukan orang-orang saling berbagi dan bersedekah. Fenomena ini menunjukkan bahwa kita masih saling peduli untuk mewujudkan keadilan dan mengentaskan ketimpangan.

“Keadilan sosial adalah cita-cita yang harus diperjuangkan. Jika kita diam, keadilan itu tidak akan terwujud,” tambah Ganjar.

Menu sahur

Menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H, umat muslim kembali dihadapkan pada rutinitas bangun dini hari untuk siapkan menu sahur. Seringkali, rasa kantuk membuat kita asal pilih makanan. Ujung-ujungnya, baru jam 10 pagi perut sudah keroncongan dan badan lemas tak bertenaga.

Kunci puasa kuat seharian sebenarnya ada di piring sahur Anda. Hindari karbohidrat sederhana yang bikin cepat lapar. Sebaliknya, umat muslim sangat dianjurkan mengonsumsi makanan kaya serat saat waktu sahur di rumah atau kosan. Kenapa serat? Karena serat memperlambat proses pencernaan, menjaga gula darah tetap stabil, dan memberikan efek kenyang lebih lama.

Menu Sahur

Lalu, bagaimana cara menyiapkannya tanpa harus ribet di dapur? Berikut 5 rekomendasi menu sahur praktis, sehat, dan anti lemas yang bisa kalian buat dalam hitungan menit:

  • Oatmeal Susu Kurma dan Pisang

Lupakan nasi sebentar. Oatmeal adalah juara karbohidrat kompleks. Cukup seduh oatmeal dengan susu hangat atau susu almond, lalu beri topping potongan pisang dan 3 butir kurma. Menu ini kaya serat larut yang siap menjaga tangki energi kalian seharian.

  • Roti Gandum Alpukat dan Telur Ceplok (Avocado Toast)

Hanya butuh waktu 5 menit! Panggang 2 lembar roti gandum, olesi dengan lumat alpukat, dan letakkan telur ceplok atau rebus di atasnya. Kombinasi protein dari telur, lemak baik dari alpukat, dan serat gandum adalah senjata ampuh melawan lapar.

  • Sup Sayur Bening dan Dada Ayam Rebus

Kebutuhan cairan saat puasa sangat penting. Sup bening berisi bayam, wortel, dan jagung manis tidak hanya menyumbang serat, tapi juga menghidrasi tubuh. Tambahkan suwiran dada ayam agar asupan protein tercukupi.

  • Tumis Brokoli Jamur Tiram

Bagi yang tetap ingin makan nasi, pastikan nasinya secukupnya (lebih baik nasi merah) dan perbanyak sayur. Brokoli adalah sayuran tinggi serat hijau. Tumis cepat dengan irisan jamur tiram dan bawang putih. Praktis, gurih, dan mengenyangkan.

  • Smoothie Kurma, Pisang, dan Chia Seed

Mata masih mengantuk dan malas mengunyah? Smoothie adalah solusinya. Blender pisang, susu, kurma, dan satu sendok makan chia seed. Biji chia (chia seed) akan mengembang di perut dan menahan rasa lapar lebih lama dari yang kalian bayangkan.

Jangan lupa tutup sahur kalian dengan dua gelas air putih hangat. Selamat mencoba menu sahur praktis ini, dan rasakan bedanya saat berpuasa.

Sumber : Halodoc, dosen Prodi Gizi UNISA Yogyakarta