Es Gabus

Dosen Prodi Gizi Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Diah Puspitasari angkat bicara terkait viralnya kasus Pedagang Es Gabus di Kemayoran, Jakarta Pusat, beberapa waktu terakhir. Dari sudut pandang kesehatan atau pun gizi, Es Gabus bukan sumber gizi utama, meski demikian tidak juga berbahaya bila dibuat dari bahan pangan yang sesuai standar.

Diah mengatakan es gabus termasuk pangan selingan atau jajanan, bukan pangan pokok maupun pangan bergizi lengkap. Artinya, es gabus boleh dikonsumsi sesekali, tetapi tidak untuk menggantikan makanan utama, terutama bagi anak-anak. “Dari sisi gizi, es gabus bukan sumber zat gizi utama, namun tidak otomatis berbahaya bila dibuat dari bahan pangan yang sesuai standar atau diizinkan,” kata Diah, Sabtu (31/1/2026).

Es Gabus

Diah menjelaskan es gabus sendiri merupakan jajanan tradisional atau bahasa lainnya jajanan jadul yang sudah ada sejak lama, dimana es gabus ini umumnya bahan dasarnya adalah tepung hunkwe atau tepung sari pati kacang hijau, gula, air atau santan dan juga pewarna makanan lalu dibekukan.

Diah mengungkapkan yang dipermasalahkan saat ini bentuk es gabus seperti spons, bahkan ketika diperas tidak hancur. Struktur seperti spons pada es gabus merupakan efek proses dari kandungan pati yang berbentuk amilopektin yang ada dalam tepung hunkwe, dimana ketika dipanaskan bersama air, pati tersebut mengalami proses gelatinisasi, yaitu granula pati membengkak, menyerap air, dan membentuk jaringan gel yang kuat.

“Selama pengadukan dan pemasakan, udara ikut terperangkap di dalam matriks gel pati. Udara inilah yang nantinya membentuk rongga-rongga kecil seperti spons. Selanjutnya, pada proses pembekuan, air di dalam jaringan gel membentuk kristal es yang memperkuat struktur berpori tersebut. Kombinasi proses ini menyebabkan tekstur es gabus menjadi berongga dan menyerupai spons. Struktur ini tidak dapat kembali ke bentuk semula sehingga ketika ditekan, yang terjadi hanyalah keluarnya air dari jaringan gel, sementara yang tersisa adalah kerangka pati, bukan karena adanya bahan non-pangan seperti spons,” jelas Diah.

Diah mengingatkan dalam pembuatan Es Gabus ini yang paling penting untuk diperhatikan adalah penggunaan bahan bakunya, karena keamanan pangan dalam pembuatan es gabus bergantung pada penggunaan bahan seperti pewarna, pemanis, air yang digunakan serta kebersihan proses produksi dan penyimpanan. Akan tetapi hal ini pun tidak bisa kita tentukan keamanannya hanya melalui visualnya saja, butuh penilaian secara ilmiah untuk mengetahui apakah pangan tersebut berbahaya/tidak.

“Karena es gabus identik dengan warna yang menarik dan rasanya yang manis, bahan yang paling berpotensi menimbulkan risiko adalah penggunaan bahan pewarna non pangan, serta pemanis buatan yang melebihi batas standar yang telah ditentukan oleh BPOM maupun penggunaan pemanis yang dilarang atau yang paling sederhana adalah penggunaan air yang tidak bersih,” kata Diah.

Diah mengatakan jika ada bahan yang tidak sesuai standar dan dikonsumsi, bisa muncul risiko gangguan pencernaan, paparan bahan kimia berbahaya dalam jangka panjang. Ia juga mengingatkan pedagang untuk menjadi pedagang yang baik dan amanah dengan menggunakan bahan baku dan bahan tambahan pangan yang berlabel serta diizinkan, memastikan penggunaan air, alat dan proses produksi dalam keadaan bersih serta menyimpannya dalam tempat tertutup.

Untuk orang tua, ia berpesan sebaiknya mengedukasi, bukan menakut-nakuti anak. “Kenalkan pada anak sejak dini tentang jenis makanan yang bergizi dan tidak. Ajarkan pula anak untuk mengenali jajanan yang bersih, tidak berwarna terlalu mencolok, dan dikonsumsi secara terbatas. Sebab larangan tanpa edukasi justru bisa menimbulkan ketakutan yang tidak berdasar pada anak,” ucap Diah.

Secara khusus Diah juga menyoroti, isu Es Gabus yang viral ini menunjukkan bahwa disinformasi mengenai informasi pangan yang tidak tepat, dapat berdampak sosial yang serius dari segi rasa aman pada konsumen dan juga sangat merugikan pedagang. “Isu seperti ini sangat perlu disikapi secara rasional dan bijak ya. Kita tidak boleh asal percaya dan asal menyudutkan pihak tertentu sebelum melihat dengan baik apa yang sebenarnya terjadi, sebab keamanan pangan tidak bisa didasarkan hanya dari sebatas asumsi atau visual semata,” ucap Diah.

Ucap janji

Program Studi Keperawatan Anestesiologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) menyelenggarakan kegiatan Ucap Janji Mahasiswa dan Pembekalan Pra-Klinik sebagai langkah awal sebelum mahasiswa memasuki tahap praktik klinik di rumah sakit.

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam membangun kesiapan mahasiswa, baik secara akademik, keterampilan klinis, maupun integritas profesional sebagai calon perawat anestesi yang akan terlibat langsung dalam pelayanan perioperative, perawatan pasien bedah dan kritis.

Ucap Janji sebagai Komitmen Moral dan Profesional

Kegiatan ucap janji dipandang bukan sekadar seremoni, tetapi merupakan bentuk komitmen moral mahasiswa sebelum memasuki dunia klinik.

Kaprodi Keperawatan Anestesiologi UNISA, Heri Puspito, S.Kep., Ns., MKM, menyampaikan bahwa ucap janji menjadi simbol kesiapan mahasiswa dalam menjalankan praktik keperawatan anestesiologi dengan menjunjung tinggi etika profesi dan keselamatan pasien.

“Ucap janji ini menjadi bentuk tanggung jawab moral mahasiswa untuk menjalankan praktik klinik secara profesional. Setiap tindakan yang dilakukan nantinya berkaitan langsung dengan keselamatan pasien, sehingga integritas dan etika harus selalu menjadi dasar utama,” ungkap Heri Puspito.

Pembekalan Pra-Klinik untuk Penguatan Kompetensi

Pembekalan pra-klinik dirancang untuk menekankan berbagai kompetensi dasar yang wajib dimiliki mahasiswa Keperawatan Anestesiologi. Materi yang diberikan mencakup penguatan kemampuan klinis dasar anestesiologi, patient safety, komunikasi terapeutik, serta kolaborasi dalam tim bedah dan anestesi.

Mahasiswa juga dibekali pemahaman mengenai kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit, standar pelayanan anestesi, serta kesiapan menghadapi situasi klinik yang dinamis.

Persiapan Menghadapi Tantangan Etika dan Profesionalisme

Dalam praktik klinik, mahasiswa tidak hanya dituntut terampil secara teknis, tetapi juga mampu menunjukkan sikap profesional dan etis. Pembekalan ini memberikan arahan tentang batas kewenangan mahasiswa, pentingnya menjaga kerahasiaan pasien, serta membangun sikap disiplin dan empati dalam pelayanan.

“Mahasiswa harus siap menghadapi tantangan nyata di ruang operasi maupun unit kritis. Profesionalisme dan integritas adalah kunci utama dalam praktik keperawatan anestesiologi,” tambah Kaprodi.

Dukungan Fakultas Kesehatan UNISA

Dekan Fakultas Kesehatan UNISA, Dr. Dewi Rokhanawati, S.Si.T., M.P.H., turut memberikan arahan dan motivasi kepada mahasiswa. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental, sikap humanis, serta komitmen pelayanan dalam menjalani praktik klinik.

“Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi harus mampu menunjukkan kompetensi sekaligus karakter sebagai tenaga kesehatan yang beretika. Praktik klinik bukan hanya tentang keterampilan teknis, tetapi juga tentang empati, komunikasi, dan pelayanan yang berorientasi pada keselamatan pasien,” ujar Dr. Dewi Rokhanawati.

Fokus Pembekalan Tahun Ini

Tahun ini, pembekalan pra-klinik difokuskan pada penguatan aspek keselamatan pasien, pembaruan standar anestesi perioperatif, simulasi keterampilan klinis dasar, serta kesiapan mental mahasiswa dalam menghadapi tekanan kerja di lingkungan rumah sakit.

Program studi juga menyesuaikan materi dengan perkembangan teknologi anestesi serta kebutuhan layanan kesehatan modern.

Peran Dosen dan Instruktur Klinik

Kesiapan mahasiswa dipastikan melalui pendampingan intensif oleh dosen dan instruktur klinik. Evaluasi dilakukan melalui simulasi praktik, OSCE, pembinaan karakter, serta koordinasi dengan lahan praktik agar mahasiswa siap secara menyeluruh sebelum diterjunkan.

“Dosen dan instruktur klinik memiliki peran penting untuk memastikan mahasiswa tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga matang secara mental dan etika,” jelas Kaprodi.

Harapan Program Studi

Program studi berharap mahasiswa dapat menunjukkan sikap disiplin, tanggung jawab, empati, serta mampu menjaga nama baik institusi dan profesi selama menjalani praktik klinik.

“Kami berpesan kepada seluruh mahasiswa, jadikan ucap janji ini sebagai pedoman dalam setiap tindakan. Masuklah ke dunia klinik dengan niat belajar, melayani dengan hati, dan selalu mengutamakan keselamatan pasien,” pesan Heri Puspito.

Mendukung Visi Lulusan Profesional dan Beretika

Kegiatan ucap janji dan pembekalan pra-klinik ini merupakan langkah strategis dalam mendukung visi Program Studi Keperawatan Anestesiologi UNISA untuk menghasilkan lulusan yang kompeten, profesional, beretika, serta siap memberikan pelayanan anestesi berkualitas sesuai standar nasional dan kebutuhan layanan kesehatan modern.

Gizi

Kualitas pendidikan kesehatan Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali menjadi magnet bagi perguruan tinggi lain. Kali ini, dua institusi kesehatan asal Jawa Timur, yakni Akademi Gizi Karya Husada dan STIKES Karya Husada Kediri, melakukan kunjungan studi banding ke kampus UNISA di Sleman, Senin (26/01/2026).

Ahli Gizi

Bertempat di Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah, rombongan tamu disambut langsung oleh Ketua Program Studi Gizi UNISA Yogyakarta, Agung Nugroho, A.MG., MPH. Dalam pertemuan hangat tersebut, Agung mengajak para tamu mengenal lebih dekat dapur pendidikan gizi UNISA, mulai dari sejarah, fasilitas laboratorium, hingga proses pembelajaran yang selama ini diterapkan. Agung menekankan bahwa pertemuan ini bukan sekadar seremonial, melainkan ajang tukar ilmu.

“Harapan dengan adanya kunjungan ini, kita bisa saling berbagi pengalaman dari masing-masing institusi. Tujuannya satu, untuk kemajuan pendidikan gizi kita bersama,” ujar Agung.

Sementara itu, Ketua Prodi Sarjana Gizi STIKES Karya Husada Kediri, Frenky Arif Budiman, S.Gz., M.Gizi, tak menampik bahwa pihaknya ingin belajar dan mencari solusi. Menurutnya, UNISA Yogyakarta dipilih sebagai rujukan karena dinilai memiliki tata kelola yang mapan.

“Tujuan kami datang untuk belajar menjadi institusi yang lebih baik. Ilmu yang kami dapat dari sini akan menjadi bekal berharga untuk disampaikan kepada pimpinan dan diterapkan di Kediri,” ungkap Frenky.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi intens antar-prodi. Kedua belah pihak membedah kurikulum dan strategi manajemen akademik guna mencetak lulusan ahli gizi yang siap bersaing di dunia kerja.

Workshop

Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta menggelar Workshop Internasional bertema “ Article Writing & Publication Strategy in Reputable International Journals” bekerja sama dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Kamis (29/1/2026).

Workshop Internasional

Kegiatan yang berlangsung di Meeting Room SM. 2.11, Gedung Siti Moendjijah Lantai 2, Kampus Terpadu UNISA Yogyakarta ini menghadirkan dua narasumber dari UiTM Malaysia, yakni Dr. Wan Norbani Wan Noordin, Head of Center of Strategic Communication UiTM Malaysia, serta Assoc. Prof. Dr. Tengku Elena Tengku Mahamad, Deputy Dean (Research and Industrial Linkages) UiTM Malaysia.

Pelaksanaan Workshop ini bertujuan meningkatkan kapasitas dosen dan mahasiswa Unisa Yogyakarta dalam menulis artikel ilmiah dan strategi publikasi pada jurnal internasional bereputasi. Para peserta dibekali wawasan mulai dari pengembangan budaya riset kampus, penyusunan artikel sesuai standar jurnal internasional, sampai strategi memilih jurnal yang tepat dan meningkatkan peluang lolos publikasi.

Wakil Dekan Fakultas Ekonomi, Ilmu Sosial, dan Humaniora, Nur Fitri Mutmainah, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan workshop internasional tersebut. Perempuan yang akrab disapa Iin tersebut mengakui masih rendahnya publikasi riset tingkat internasional dari akademisi Unisa Yogyakarta sehingga perlu upaya mengatasi masalah tersebut.

“Agenda workshop ini penting, kita bisa lihat publikasi riset Unisa Yogyakarta masih cukup rendah. Dengan workshop ini kita bisa belajar dan termotivasi agar mencapai luaran publikasi internasional,” ujar Iin dalam sambutannya.

Membangun Budaya Riset

Tengku Elena Tengku Mahamad, dalam pemaparan materinya menyampaikan pentingnya budaya riset di dalam universitas sebagai pijakan menuju peningkatan publikasi internasional sivitas akademika. Elena mengajak seluruh akademisi Unisa Yogyakarta untuk produktif melakukan riset, caranya dengan meluangkan waktu setidaknya satu jam untuk penelitian.

“Alokasikan satu jam khusus untuk riset. Tidak harus setiap hari, satu jam sekali atau dua kali dalam seminggu. Anggap waktu tersebut seperti meeting. Usaha kecil tersebut akan mengarahkan ke progres yang mantap,” ucapnya menjelaskan.

Elena juga mengingatkan agar para peserta percaya diri untuk memulai ide penelitian dimiliki. Baginya, budaya riset itu adalah berkembang bersama-sama. Riset yang baik bukanlah yang sempurna, tapi yang memiliki progres. Agar semua itu tercapai, Elena menyarankan terciptanya kolaborasi erat antar-individu di universitas.

“Setiap orang memiliki titik awal yang berbeda-beda. Dengan menulis bersama membantu individu untuk fokus dan termotivasi. Dengan bekerja sama bisa mengurangi tekanan dalam riset. Seiring waktu, kegiatan riset menjadi budaya bersama,” ujar Elena.

Sementara itu, Wan Norbani Wan Noordin, selaku narasumber berikutnya lebih menekankan pentingnya perhatian dalam membuat karya tulis ilmiah. Norbani menyebut tulisan artikel untuk publikasi internasional mesti memenuhi standar Scopus, baik dari segi metodologi, struktur, referensi, hingga kejelasan.

“Pastikan naskah artikel memenuhi kriteria jurnal dengan tepat. Selain itu, sebaiknya naska sudah di-review terlebih dahulu sebelum dikirim,” ucap Norbani memberi tips. Pada kesempatan tersebut ia juga mengulas kiat-kiat bagaimana memilih jurnal internasional dan mengatasi tantangan agar naskah diterima.

Para peserta dengan antusias mengikuti paparan kedua narasumber dari UiTM Malaysia. Acara hari itu kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, penyerahan cendera mata, lalu ditutup dengan foto bersama.

Digital

Dosen Administrasi Publik Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Gerry Katon Mahendra menilai adanya rencana pemerintah mengangkat 32.000 Pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi ASN/PPPK bukan keputusan yang adil. Menurutnya ada urgensi lain yang seharusnya bisa diprioritaskan, salah satunya nasib guru honorer.

“Tidak adil. Ada urgensi lain yang seharusnya bisa diprioritaskan. Salah satunya adalah urgensi mengenai nasib guru honorer,” ucap Gerry, Sabtu (24/1/2026). 

SPPG

Gerry menilai pengangkatan ini akan mempengaruhi pandangan public dan potensi protes publik, khususnya berkaitan dengan prinsip keadilan di mata masyarakat. Disaat yang sama, masih ada guru honorer yang perlu dipikirkan nasibnya. 

“Program MBG sudah menghabiskan anggaran yang sangat besar, bahkan pos anggaran Pendidikan juga turut terdampak. Dengan adanya rencana ini, tentu masyarakat akan semakin bertanya, Dimana prinsip keadilan untuk sektor lain khususnya pendidikan,” ujar Gerry.

Kebijakan pemerintah tersebut dinilai akan menjadi preseden buruk bagi tata kelola pemerintah di kebijakan dan program lainnya. Resikonya adalah anomali harapan dan tujuan, jika tidak diatur dengan jelas dan profesional, puluhan ribu calon yang akan diangkat ini berpotensi menjadi tantangan fiskal negara, inefisiensi anggaran, dan mengaburkan merit system itu sendiri.

Dirinya melihat rencana pengangkatan 32.000 pegawai SPPG lebih bertujuan pada penataan birokrasi dan pemenuhan kebutuhan layanan publik, khususnya terkait MBG. Namun jika dilihat dari aspek urgensi dan keadilan, masih cukup banyak ruang dan waktu untuk mengkaji kembali. Saat ini yang terlihat adalah keputusan terlihat sangat cepat dan mungkin saja tidak melalui kajian panjang yang komprehensif. 

Gerry menegaskan bahwa kebijakan bukan produk sehari jadi, baiknya harus ada kajian yang komprehensif terutama yang berkaitan dengan dasar hukum, mekanisme, kriteria, dan proses seleksi yang adil. “Selain itu, prinsip keadilan dan urgensi kepentingan juga harus dipertimbangkan mengingat masih ada unsur masyarakat di negara ini yang belum terakomodasi haknya dengan baik,” ungkap Gerry.

Gerry mengajak masyarakat menjadi alat kontrol kebijakan yang baik bagi pemerintah. Alangkah baiknya masyarakat untuk bisa menyuarakan jika memang kurang menyetujui. Meminta ruang diskusi, dan mengkaji ulang dengan melibatkan partsipasi publik dan unsur terkait agar kebijakan yang nantinya dihasilkan lebih dekat dengan keinginan masyarakat, berdampak positif untuk banyak pihak, dan memenuhi prinsip keadilan.