Pesan Cinta Untuk UNISA: Dari Rumah Rantau hingga Kebanggaan Sarjana Pertama
Suasana sarat emosi dan keharuan mewarnai Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-27 Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang digelar di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta, Rabu (30/9/2026).
Di tengah kekhidmatan prosesi purna studi tersebut, ada momen istimewa yang berhasil menyedot perhatian seluruh wisudawan dan orang tua/wali yang hadir. Momen itu adalah ketika jajaran Senat dan Pimpinan Rektorat UNISA Yogyakarta secara bergantian membacakan untaian ‘Surat Cinta untuk UNISA’ yang ditulis langsung oleh para wisudawan dari berbagai program studi.
Surat-surat tersebut mengungkapkan berbagai sudut pandang humanis. Banyak di antara wisudawan yang mengaku bahwa UNISA Yogyakarta awalnya tak pernah ada dalam daftar impian mereka. Namun, perjalanan waktu mengubah tempat ini menjadi ruang tumbuh dan tempat berlabuh yang begitu hangat.
Dari Rumah Rantau hingga Pemeluk Mimpi
Bagi anak-anak rantau dari berbagai penjuru tanah air hingga luar negeri, UNISA Yogyakarta dinilai telah menjelma menjadi rumah kedua yang penuh toleransi, rasa aman, dan kehangatan.
Salah satu pesan yang dibacakan datang dari Ana Claudia da Costa Guterres, wisudawati Program S2 Kebidanan asal Timor-Leste.
“UNISA, kamu bukan sekadar kampus. Tetapi kamu adalah tempat aku jatuh, bangun, menangis, dan akhirnya tumbuh. Terima kasih UNISA karena sudah memeluk mimpiku yang kecil ini menjadi besar. Aku pulang bukan hanya membawa ijazah, tetapi membawa nilai yang akan kujaga seumur hidup: saling menghargai dan bertoleransi.”
Keharuan berlanjut saat dibacakan ungkapan hati Ahsanu Nadiyya Id, lulusan S1 Teknologi Informasi asal Palembang yang menceritakan dinamika masa-masa perantauannya.
“Jujur, awalnya aku nggak pernah menyangka bakal sejauh ini. Sebagai anak rantau, aku datang membawa koper, harapan, dan ketakutan… Tapi pelan-pelan, kamu membuatku merasa punya rumah. Tetaplah jadi rumah yang hangat bagi anak-anak rantau yang datang membawa mimpi.”
Mengangkat Derajat Keluarga dan Kebanggaan Sarjana Pertama
Tak sedikit pula ‘Surat Cinta’ yang menceritakan perjuangan gigih memutus rantai keterbatasan ekonomi hingga berhasil mengukir sejarah sebagai sarjana pertama di keluarga.
Isi surat dari Nur Fauzan, lulusan D4 Keperawatan Anestesi penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), turut menggetarkan suasana Convention Hall:
“Terima kasih ya UNISA, sudah mau menerima, membimbing, dan menghantarkan seorang anak pertama di keluarga yang mustahil untuk bisa kuliah, namun alhamdulillah berhasil menjadi sarjana pertama di keluarga dan membuat mama saya bisa tersenyum hari ini. Terima kasih juga atas bantuan KIP-K yang diamanahkan… Hidup itu pilihan, dan menjadi gagal bukanlah pilihanku.”
Kisah serupa dirasakan oleh Nur Rizka Riyana, lulusan S1 Administrasi Publik yang sempat menempuh gap year sebelum akhirnya melangkah di UNISA Yogyakarta.
“UNISA Yogyakarta merupakan tempat aku mewujudkan mimpiku untuk berkuliah dan menjadi sarjana pertama di keluargaku… Terima kasih telah mengajarkan saya bahwa sebuah mimpi harus diusahakan dibersamai dengan doa, dan hasil dibersamai dengan tawakal.”
Menanamkan Nilai Kemanusiaan dan Muhammadiyah-Aisyiyah
Pembacaan surat ini juga mempertegas bagaimana UNISA tidak hanya menggembleng kecerdasan intelektual, tetapi juga memupuk empati dan keikhlasan pelayanan berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Selna Hamidjun, wisudawati D4 Teknologi Laboratorium Medis, mengungkapkan rasa bangganya sebagai bagian dari perempuan ‘Aisyiyah yang berkemajuan.
“Di lab-mu aku diajarkan teliti, di kelasmu aku diajarkan peduli. Kamu menjadikanku bukan hanya Analis Kesehatan yang terampil, tapi perempuan ‘Aisyiyah yang berkemajuan. Menjadi Analis Kesehatan bukan hanya tentang teliti membaca hasil di balik mikroskop, tapi tentang keikhlasan menjaga harapan hidup seseorang dengan hati.”
Pesan tersebut selaras dengan ungkapan Nuries Zaky Wildana Putra dari S1 Keperawatan yang dibacakan di hadapan senat.
“Menjadi profesional di dunia harus selalu berakar pada nilai Qur’ani, agar setiap langkah kaki dan keahlian yang saya miliki bernilai ibadah di hadapan-Nya.”
Aksi pembacaan ‘Surat Cinta’ oleh jajaran Senat dan Pimpinan Rektorat ini menjadi bukti harmonisnya hubungan emosional antara kampus dan para mahasiswanya. Meski prosesi wisuda menandai perpisahan fisik, nama almamater serta nilai-nilai kebaikan yang didapat dipastikan akan terus melekat dalam setiap langkah pengabdian para lulusan di masyarakat.






































Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!