Unisa Yogyakarta Kembangkan KORSIMU, Kursi Menyusui dengan Pijatan Oksitosin dan Sensor Kesehatan
Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta mengembangkan KORSIMU (Kursi Oksitosin Ibu Menyusui), inovasi kursi menyusui yang menggabungkan desain ergonomis, pijatan oksitosin elektrik, dan sensor pemantau kondisi kesehatan ibu. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan ibu selama menyusui sekaligus mendukung kelancaran pengeluaran air susu ibu (ASI).
Dosen Prodi Kebidanan Unisa Yogyakarta sekaligus Wakil Rektor III Unisa Yogyakarta, Prof. Mufdlilah, S.SiT., M.Sc., menjelaskan pengembangan KORSIMU berangkat dari kebutuhan akan fasilitas menyusui yang tidak hanya nyaman, tetapi juga mampu mendukung proses menyusui melalui pendekatan teknologi.
“KORSIMU kami kembangkan untuk menjawab kebutuhan ibu menyusui terhadap kursi yang ergonomis, nyaman, dan dilengkapi teknologi pendukung. Kami ingin menghadirkan inovasi yang tidak hanya membantu posisi ibu saat menyusui, tetapi juga mendukung relaksasi dan pemantauan kondisi fisiologis ibu,” ujar Mufdlilah, Jumat (16/10/2026).
Pengembangan KORSIMU dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari identifikasi kebutuhan ibu menyusui, perancangan desain, integrasi sensor fisiologis, uji coba laboratorium, hingga uji terbatas pada ibu menyusui. Tim peneliti dalam pengembangan inovasi ini terdiri dari Prof. Mufdlilah bersama Bdn. Yekti Satriyandari, S.ST., M.Kes., Enny Fitriahadi, S.SiT., M.Kes., dan Ir. Agus Jamal, M.Eng., IPM.
Kurangi keluhan pada punggung, leher, dan bahu
Hasil uji fungsional awal menunjukkan KORSIMU memberikan kenyamanan lebih baik dibandingkan kursi konvensional. Penggunaan kursi ini juga menunjukkan berkurangnya keluhan muskuloskeletal, terutama pada bagian punggung, leher, dan bahu.
Fitur pijatan oksitosin elektrik menjadi salah satu komponen utama yang dikembangkan. Stimulasi tersebut ditujukan untuk membantu ibu lebih rileks selama menyusui, yang berpotensi mendukung refleks pengeluaran ASI.
“Selain kenyamanan dari sisi ergonomi, kami juga mengembangkan fitur pijatan oksitosin untuk membantu ibu lebih rileks saat menyusui. Namun, respons setiap ibu bisa berbeda, sehingga efektivitasnya terhadap kelancaran ASI masih perlu dikaji lebih lanjut melalui penelitian yang lebih mendalam,” jelasnya.
Menurut Mufdlilah, kenyamanan ibu menjadi aspek penting dalam mendukung pengalaman menyusui. Posisi duduk yang tepat diharapkan dapat mengurangi ketegangan tubuh sehingga ibu dapat menyusui dengan lebih nyaman.
Dilengkapi sensor pemantau kesehatan ibu
KORSIMU tidak hanya dirancang sebagai kursi menyusui, tetapi juga mengintegrasikan sejumlah sensor untuk memantau kondisi fisiologis ibu. Teknologi tersebut meliputi Heart Rate Variability (HRV), tekanan darah, denyut nadi, dan suhu tubuh.
Berdasarkan hasil pengujian awal, sensor pada purwarupa dapat berfungsi dengan baik dan menghasilkan data yang relatif akurat dibandingkan alat standar. “Integrasi sensor menjadi salah satu nilai tambah KORSIMU. Melalui teknologi ini, kondisi fisiologis ibu dapat dipantau secara langsung. Ke depannya, fitur tersebut diharapkan bisa mendukung tenaga kesehatan dalam memberikan pendampingan dan konseling laktasi,” kata Mufdlilah.
Meski demikian, data yang dihasilkan sensor masih memerlukan validasi lebih lanjut sebelum digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan klinis. Pengujian diperlukan untuk memastikan akurasi pengukuran serta keamanan perangkat.
Umpan balik dari ibu menyusui, bidan, dan tenaga kesehatan menunjukkan potensi manfaat KORSIMU dalam aspek kenyamanan, interaksi ibu dan bayi atau bonding, serta pendampingan proses menyusui.
Perlu uji klinis dan sertifikasi sebelum dipasarkan
Mufdlilah mengatakan pengembangan KORSIMU belum berhenti pada tahap purwarupa. Tim peneliti masih perlu melakukan penyempurnaan desain dan memenuhi persyaratan teknis sebelum produk dapat diproduksi secara massal dan dipasarkan.
“Kami melihat KORSIMU memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Namun, agar dapat digunakan secara luas, produk ini harus melalui tahapan pengujian, pemenuhan standar keselamatan, dan proses sertifikasi sesuai dengan klasifikasinya,” ujarnya.
Berdasarkan konsultasi dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN) di DIY dan Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK), sejumlah aspek yang perlu dipersiapkan meliputi pengujian kelistrikan dan kebocoran arus, pengujian kekuatan rangka, serta pengujian komponen sensor dan pemantau kesehatan sesuai karakteristik perangkat.
Tim juga perlu menyiapkan dokumen manajemen mutu, prosedur operasional standar (SOP), dan instruksi kerja untuk mendukung konsistensi proses produksi. Selain itu, uji klinis terkontrol dibutuhkan untuk mengevaluasi efektivitas pijatan oksitosin terhadap pengeluaran ASI, kenyamanan menyusui, serta respons fisiologis ibu. Persyaratan SNI, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dan izin edar juga perlu dipastikan sesuai klasifikasi produk dan ketentuan yang berlaku.
“Setelah seluruh tahapan pengujian dan persyaratan regulasi terpenuhi, kami berharap KORSIMU dapat dikembangkan bersama mitra industri sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh ibu menyusui dan tenaga kesehatan,” tutup Mufdlilah.
































Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!