Hilirisasi Inclusion App UNISA Dorong Kemandirian Ekonomi dan Efisiensi Kesehatan Pedesaan
Riset perguruan tinggi kerap diidentikkan dengan tumpukan berkas dan publikasi ilmiah yang berdebu di lemari akademis. Namun, pendekatan berbeda ditunjukkan oleh Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta melalui penguatan Project Inclusion. Lewat aplikasi digital Inclusion App, riset inovasi kesehatan tidak hanya berhenti di meja seminar, melainkan ditranslasikan menjadi solusi sosio-ekologis nyata yang memotong beban ekonomi masyarakat pedesaan.
Dalam kerangka strategis yang sejalan dengan Asta Cita pemerintah (khususnya Asta Cita 2, 4, dan 5), penerapan Inclusion App di Kabupaten Bantul meliputi Puskesmas Sanden, Srandakan, hingga Bambanglipuro menjadi bukti konkret bagaimana digitalisasi kesehatan primer dapat menciptakan efisiensi sistemis.
Tantangan Akses Fisioterapi di Pedesaan
Kehadiran Inclusion App bermula dari realitas sosial di mana banyak warga pedesaan kesulitan mendapatkan layanan fisioterapi. Keterbatasan jumlah tenaga fisioterapis, dipadukan dengan kendala biaya dan jarak tempuh ke rumah sakit rujukan di kota kabupaten, menjadi tantangan besar bagi masyarakat.
Melihat kenyataan tersebut, para peneliti UNISA Yogyakarta berkolaborasi dengan mitra internasional, seperti Physitrack UK dan Physiotools Finland, untuk merancang Inclusion App. Aplikasi digital ini memungkinkan kader kesehatan desa mendampingi warga dalam melakukan latihan rehabilitasi dasar. Selain mempermudah akses layanan kesehatan, inovasi ini juga memberdayakan kader perempuan desa sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat komunitas.
Memangkas Beban Biaya Kesehatan Keluarga hingga 30%
Selama ini, rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut (tertier) menyerap biaya transportasi dan waktu yang tidak sedikit bagi warga desa. Hadirnya Inclusion App membawa perubahan signifikan pada struktur pengeluaran kesehatan masyarakat.
Berdasarkan valuasi ekonomi program, intervensi rehabilitasi berbasis komunitas yang dibantu oleh kader kesehatan terbukti mampu menekan beban biaya transportasi dan rawat jalan pasien. Proyeksi penurunan beban ekonomi keluarga diperkirakan mencapai 20% hingga 30%.
Dosen Fisioterapi UNISA Yogyakarta sekaligus peneliti program ini, Hilmi Zadah Faidullah, S.St., M.Sc., Ph.D. (PT), saat wawancara (16/10) menegaskan pentingnya hilirisasi riset yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat bawah.
“Ini bukti bahwa riset bukan hanya untuk kebutuhan jurnal atau berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar hadir untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Hilirisasi riset menjadi aplikasi digital ini memberikan nilai tambah ekonomi melalui efisiensi biaya kesehatan warga, sekaligus menekan beban operasional fasilitas kesehatan rujukan,” ujar Hilmi Zadah Faidullah.
Menopang Ekonomi Biru dan Pariwisata Pesisir
Sudut pandang menarik lain dari implementasi Inclusion App adalah keterkaitannya dengan ekosistem ekonomi lokal di kawasan pesisir Bantul. Masyarakat Sanden yang berdekatan dengan destinasi wisata pantai membutuhkan fisik yang prima untuk menggerakkan sektor pariwisata dan perikanan.
Melalui latihan rehabilitasi dasar yang dipandu kader lokal via aplikasi, warga dapat menjaga ketahanan fisik tanpa harus kehilangan jam kerja produktif akibat perjalanan jauh ke rumah sakit kota. Hal ini secara tidak langsung mendukung keberlanjutan ekonomi biru dan ekonomi hijau di kawasan pesisir.
Investasi Strategis dan Pengakuan Diktisaintek
Komitmen UNISA Yogyakarta dalam menjamin keberlanjutan program ini dibuktikan dengan alokasi pendanaan internal dan jejaring eksternal. UNISA menyiapkan roadmap internasionalisasi dan pengembangan riset terapan dengan komitmen anggaran mencapai Rp 4,5 Miliar untuk periode 2025–2030.
Inisiatif kolaboratif yang melibatkan mitra internasional (seperti JAMK University Finlandia, Physiotools, dan Physitrack UK) serta puskesmas daerah ini berhasil membawa UNISA Yogyakarta meraih penghargaan dalam Anugerah Kerja Sama Diktisaintek (AKD) 2025 untuk Kategori Perguruan Tinggi dengan Kerja Sama Government/LSM Terbaik.
Model rehabilitasi digital ini membuktikan bahwa hilirisasi riset tidak selalu berbentuk produk manufaktur berat, melainkan berupa ekosistem digital health berbasis komunitas yang siap direplikasi secara nasional guna memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan.








































Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!