Halal center

Menyambut bulan suci Ramadan, Halal Center Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta berkolaborasi dengan Pusat Inkubasi Bisnis Syariah (PINBAS) MUI DIY menggelar kajian strategis. Mengusung tema “Ramadan Naik Kelas”, acara ini tak sekadar membahas ibadah, tapi juga membeberkan jurus jitu agar UMKM makin cuan lewat ekosistem halal.

Halal Center

Kajian yang digelar di Masjid Walidah Dahlan pada Selasa (3/3/2026) ini berlangsung khidmat. Tercatat, 160 peserta yang terdiri dari pelaku UMKM se-DIY hingga anggota Pimpinan Ranting dan Cabang `Aisyiyah memadati masjid Walidah Dahlan.

Wakil Rektor III UNISA Yogyakarta, Prof. Dr. Mufdlilah, S.SiT., M.Sc, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah perpaduan edukasi dan dakwah ekonomi.

“Kajian ini diharapkan tak hanya meningkatkan spiritualitas ibadah puasa, tapi juga mendorong pelaku usaha meningkatkan daya saing melalui penerapan prinsip halal yang kuat,” ujarnya.

Acara ini menghadirkan dua pakar, yakni Ketua PINBAS MUI DIY Ust. H. Jumarodin, M.M dan Hendrato S. Nugroho dari Halal Center UNISA. Peserta diajak membedah konsep puasa ala Imam Al-Ghazali, strategi penguatan bisnis syariah, hingga pentingnya sertifikasi halal.

Lewat pendampingan langsung dari Halal Center UNISA, produk UMKM lokal diharapkan makin dipercaya konsumen dan siap merajai pasar di bulan Ramadan tahun ini.

Produktif kerja

Bulan suci Ramadan tentu membawa perubahan rutinitas bagi umat Islam, tak terkecuali bagi para pekerja atau karyawan agar produktif kerja. Salah satu tantangan terbesarnya adalah menerapkan manajemen waktu saat Ramadan yang tepat agar tubuh tidak lemas seharian.

Produktif Kerja

Perubahan siklus akibat kewajiban bangun sahur sering kali membuat kita didera rasa kantuk yang luar biasa di siang hari, khususnya saat sedang menatap layar laptop di kantor. Mengapa hal ini bisa terjadi? Pemotongan durasi istirahat di malam hari serta menurunnya kadar gula darah menjadi biang kerok utama yang bisa merusak fokus dan produktivitas kerja sahabat UNISA Yogyakarta.

Lantas, bagaimana cara mengatur jam tidur agar tidak mengantuk saat bekerja? Coba terapkan strategi berikut:

  • Tidur Lebih Awal: Hindari scrolling media sosial tanpa arah. Usahakan langsung tidur setelah salat Tarawih agar tubuh mendapat jatah istirahat minimal 4-5 jam sebelum sahur.
  • Sempatkan Power Nap: Manfaatkan waktu istirahat siang di kantor untuk memejamkan mata sejenak selama 15-20 menit. Ini sangat ampuh mengembalikan energi.
  • Hindari Kafein Saat Sahur: Kurangi minum kopi atau teh saat sahur karena sifat diuretiknya justru memicu dehidrasi dan lemas di siang hari.

Dengan kedisiplinan mengatur jam tidur, sahabat UNISA Yogyakarta bisa tetap segar dan fokus mengeksekusi deadline tanpa harus menguap seharian. Selamat berpuasa dan tetap semangat!

Sumber: MSIG, Hello Sehat

Penulis: Adi Sasmito, S.I.Kom (Humas UNISA Yogyakarta)

Mustajab untuk berdoa

Bulan suci Ramadan senantiasa dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia, selain menunaikan kewajiban berpuasa, bulan penuh berkah ini menjadi momen emas karena menyimpan banyak waktu mustajab untuk berdoa. Mengapa demikian? Sebab pada bulan Ramadan, Allah SWT membuka pintu rahmat lebar-lebar sehingga doa hamba-Nya lebih cepat terkabul.

Mustajab Untuk Berdoa

Lantas, kapan saja waktu terbaik tersebut dan bagaimana cara kita memaksimalkannya di mana pun kita berada? Agar ibadah makin nendang dan hajat lekas terwujud, sahabat UNISA Yogyakarta wajib tahu daftarnya!

Berikut 7 waktu paling mustajab untuk berdoa di bulan Ramadhan yang pantang untuk dilewatkan:

  1. Sepertiga Malam Terakhir (Waktu Sahur): Momen hening yang sangat dianjurkan untuk memohon ampunan dan hajat.
  2. Menjelang Berbuka Puasa: Waktu di mana rasa lapar dan dahaga memuncak, doa orang yang berpuasa dijamin tidak akan ditolak!
  3. Sepanjang Waktu Berpuasa: Dari terbit fajar hingga tenggelam matahari adalah waktu penuh kebaikan.
  4. Jeda Antara Adzan dan Iqamah: Kesempatan emas di setiap sela waktu salat wajib.
  5. Malam Lailatul Qadar: Malam spesial di 10 hari terakhir yang lebih mulia dari seribu bulan.
  6. Saat Sujud dalam Salat: Momen posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya.
  7. Hari Jumat: Khususnya setelah waktu Ashar hingga menjelang Maghrib.

Nah, sahabat UNISA Yogyakarta, jangan sampai rugi! Yuk, maksimalkan tujuh waktu di atas dengan doa terbaikmu. Semoga segala harapan di Ramadan tahun ini segera diijabah oleh Allah SWT. Amin!

Sumber : Zakat.or.id, Jawapos

Penulis : Adi Sasmito,S.I.Kom (Humas UNISA Yogyakarta)

Tradisi ramadan

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menggelar acara menarik bertajuk Dialog Ruang Ketiga di Masjid Walidah Dahlan, Jumat (27/02/2026), mengusung tema “Puasa Dalam Pengalaman Bangsa-Bangsa”, acara ini membedah ragam budaya dan tradisi Ramadan dari berbagai belahan dunia melalui perspektif mahasiswa internasional.

Tradisi Ramadan

Wakil Rektor IV UNISA Yogyakarta, Dr. M. Ali Imron, M.Fis, mengatakan kegiatan ini digelar sebagai ruang diskusi santai untuk mempererat keberagaman budaya mahasiswa luar negeri yang menempuh pendidikan di UNISA Yogyakarta.

Menurutnya, perbedaan negara, bahasa, hingga tradisi puasa menjadi pengalaman menarik yang dapat memperkuat kolaborasi internasional sekaligus memperluas wawasan mahasiswa tentang praktik Ramadan di berbagai belahan dunia.

“Kami sangat terbuka bagi mahasiswa internasional. Melalui dialog ini, civitas akademika dapat saling mengenal budaya puasa dari berbagai negara,” ujar Imron.

Kegiatan ini menghadirkan enam mahasiswa asing, yakni Musa Zakari dari Nigeria, Nahlah Nabil S. Ahmed asal Yaman, Sulemana A. Majeed dari Ghana, Huzifa Mohamed Ali asal Sudan, Mohammed Arman dari India, serta M. Abdul Salam Dirbal dari Libya.

Sulemana menceritakan bahwa di Ghana, warga kerap menunggu waktu berbuka dengan bermain musik tradisional. Sementara itu, Nahlah dan Ali menyoroti kuliner khas Ramadan di Yaman dan Sudan yang hanya muncul saat sahur dan berbuka.

Acara yang berlangsung hangat ini diakhiri dengan diskusi interaktif antara pembicara dan mahasiswa yang memadati masjid, menciptakan harmoni budaya di tengah suasana Ramadan yang syahdu.

Makna puasa

Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan, Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Dialog Ruang Ketiga bertajuk Puasa dalam Perspektif Agama-Agama di Lantai 2 Masjid Walidah Dahlan bahas makna puasa, Kamis (26/2/2026). Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber dari latar belakang agama yang berbeda serta diikuti oleh mahasiswa Unisa Yogyakarta dari berbagai keyakinan.

Makna Puasa

Empat narasumber yang hadir dalam dialog tersebut yaitu Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Urusan Internasional Unisa Yogyakarta, Moh. Ali Imron, sebagai perwakilan agama Islam. Kemudian, Leonard Chrysostomos Epafras, dari Kristen, lalu Ontran Sumantri Riyanto dari Katolik, serta AKBP (Purn) I Nengah Lotama, dari agama Hindu. Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keterbukaan, dengan antusiasme mahasiswa yang mengikuti jalannya diskusi hingga selesai.

Dialog Ruang Ketiga ini bertujuan untuk membangun pemahaman bersama mengenai makna puasa dari berbagai perspektif agama. Melalui kegiatan ini, peserta diajak melihat bahwa meskipun setiap agama memiliki tata cara yang berbeda, nilai yang diajarkan memiliki kesamaan, yaitu menumbuhkan empati, memperkuat spiritualitas, serta mempererat persaudaraan.

Dalam pemaparannya, I Nengah Lotama menjelaskan bahwa dalam ajaran Hindu, puasa dimaknai sebagai proses pencarian jati diri. Puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi sarana untuk mengendalikan diri dan melakukan introspeksi. “Melalui puasa seseorang diajak untuk menata kembali sikap dan perilakunya agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang,” ujarnya.

Sementara itu, Leonard Chrysostomos Epafras menyampaikan bahwa dalam agama Kristen, puasa lebih bersifat personal dan tidak terlalu terikat oleh aturan yang kaku. Puasa menjadi ruang bagi setiap individu untuk membangun kedekatan dengan Tuhan, salah satunya dengan menahan diri dari kebiasaan tertentu atau hal-hal yang dianggap dapat mengganggu pertumbuhan spiritual.

Pandangan yang tidak jauh berbeda juga disampaikan oleh Ontran Sumantri Riyanto. Ia menjelaskan bahwa dalam agama Katolik, praktik puasa dan pantang dilakukan secara lebih terstruktur. “Umat Katolik dianjurkan untuk berpuasa pada usia 18 sampai 60 tahun, sedangkan pantang dianjurkan mulai usia 14 tahun,” jelasnya.

Menurutnya, puasa dan pantang bertujuan melatih disiplin diri. Selain itu juga puasa juga mengajak umat untuk hidup lebih sederhana dan peduli terhadap sesama.

Dari perspektif Islam, Ali Imron menuturkan bahwa puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi umat muslim yang mampu menjalankannya. Namun, Islam juga memberikan berbagai keringanan. Anak-anak yang belum mampu tidak diwajibkan berpuasa, begitu pula dengan orang lanjut usia, orang sakit, atau mereka yang sedang dalam perjalanan. Bagi yang tidak mampu secara fisik, terdapat ketentuan seperti fidyah sebagai bentuk pengganti. Ia menegaskan bahwa pada dasarnya ajaran Islam tidak memberatkan, melainkan memberikan kemudahan agar umat dapat menjalankan ibadah sesuai dengan kemampuannya.

Melalui pemaparan dari keempat narasumber tersebut, terlihat bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam praktik dan aturan, makna puasa pada setiap agama memiliki tujuan yang sejalan. Puasa menjadi latihan untuk menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas diri.

Diskusi berlangsung interaktif dengan beberapa mahasiswa yang turut mengajukan pertanyaan dan berbagi pandangan. Kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama sebagai bentuk kebersamaan dan simbol harmoni di tengah keberagaman. (Wahyu Hafiz Sakti)