Sleman

Minggu pagi (21/12/2025) di kawasan Perumahan Dayu Permai, Ngaglik, Sleman, tampak berbeda dari biasanya. Suasana di halaman Masjid Al-Jihad mendadak riuh penuh semangat. Puluhan lansia terlihat tertarik menggerakkan badan mengikuti irama senam, dipandu oleh sekelompok anak muda berjaket almamater hitam.

Mereka adalah mahasiswa Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang sedang menggelar aksi nyata bertajuk Proyek Al-Ma’un. Menggandeng Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Sinduharjo, kegiatan ini bertujuan meningkatkan semangat hidup sehat sekaligus membekali para lansia ilmu penting soal kegawatdaruratan.

Edukasi Rumah Bebas Panik

Usai dengan kegiatan senam pagi, para peserta masuk ke serambi masjid untuk sesi yang lebih serius namun santai. Mengusung tema “Rumah Bebas Panik: Ikhtiar Menuju Keluarga Siaga Darurat”, delapan mahasiswa UNISA Yogyakarta berbagi trik menghadapi situasi genting di rumah.

Tim mahasiswa yang terdiri dari Aulia Surya Pratiwi, Satria Adiwignya Hardini, Nayla Aditya Putri, Ahmad Devan Ardiansyah, Raisyah Agista Putri, Iin Juniarti, Alqaf Rayqa Ahmad, dan Salma Hanifa, tampil cekatan di bawah bimbingan mentor Siti Huzaimah.

Materi yang dibawakan sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari para lansia. Alqaf Rayqa Ahmad membuka wawasan soal penanganan kecelakaan rumah tangga, insiden yang sering menimpa lansia. Dilanjutkan oleh Salma Hanifa yang membedah potensi bencana di wilayah Yogyakarta, serta Nayla Aditya Putri yang membagikan daftar nomor darurat vital di Sleman.

Menariknya, edukasi ini tak melulu ceramah. Mahasiswa membagikan panduan lembar yang dilengkapi barcode digital untuk mengakses materi lebih lanjut. Camilan sehat pun ikut sertakan untuk menemani sesi diskusi.

Doorprize Antusiasme Tinggi dan Banjir

Sesi tanya jawab menjadi momen paling hangat. Para lansia tak perlu melontarkan pertanyaan penting seputar kesehatan dan bencana. Tak hanya bertanya, mereka justru balik memberikan motivasi kepada para mahasiswa agar semangat menuntaskan kuliah.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kami jadi tahu harus telepon siapa kalau ada darurat, dan bagaimana cara aman di rumah,” ujar Larjiman salah satu peserta.

Acara ditutup dengan kemeriahan Pembagian doorprize bagi peserta yang aktif dan beruntung. Senyum sumringah terpancar saat sesi foto bersama. Melalui Proyek Al-Ma’un ini, mahasiswa UNISA Yogyakarta berharap nilai kepedulian dan kemanusiaan tidak hanya berhenti dalam teori kampus, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya para lansia di Sinduharjo.

Lansia

Usia senja atau lansia sering kali identik dengan kerentanan fisik. Risiko jatuh di kamar mandi, tiba-tiba pingsan, hingga serangan stroke menjadi momok menakutkan yang bisa datang kapan saja bagi para lansia. Sadar akan bahaya tersebut, sekelompok siswa turun tangan langsung untuk ‘menyekolahkan’ para lansia agar lebih tanggap darurat.

Aksi kepedulian ini digagas oleh Mahasiswa Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang berada di kelompok A6 melalui program Proyek Al-Ma’un. Menggandeng Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Minomartani, kegiatan edukasi kegawatdaruratan ini digelar di Griya Lansia Minomartani, Selasa (16/12/2025).

Kegiatan ini bukan sekedar tugas kuliah, melainkan wujud nyata implementasi nilai kemanusiaan dan keimanan untuk melindungi kelompok rentan.

Dalam sesi edukasi, suasana hangat dan interaktif. Para pelajar tidak menggunakan istilah medis yang membatasi. Sebaliknya, mereka dengan telaten menjelaskan langkah pertolongan pertama untuk kondisi yang paling sering dialami lansia, mulai dari penanganan saat terpeleset atau jatuh, sesak napas, pingsan, hingga mendeteksi gejala awal stroke dan penurunan kesadaran.

Aprinia Dewi Wulandari, salah satu anggota kelompok A6, menekankan pentingnya edukasi ini. Menurutnya, kekhawatiran seringkali memperparah keadaan saat terjadi kecelakaan di rumah.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap lansia dan keluarganya tidak lagi panik, tapi jadi lebih sigap mengenali tanda bahaya. Tahu harus melakukan apa di menit-menit awal sebelum bantuan medis datang adalah kunci keselamatan,” ujar Aprinia yang merupakan mahasiswa Program Studi Keperawatan Anestesi UNISA Yogyakarta ini.

Menanamkan Empati Lansia

Lebih dari sekedar bagi-bagi ilmu medis, acara ini juga menjadi ajang menanamkan nilai empati. Lansia diajak menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk hidup aman dan mendapatkan perlindungan.

Para peserta tampak antusias melakukan rekreasi simulasi pertama yang diajarkan. Proyek kemanusiaan ini menjadi bukti bahwa semangat Al-Ma’un membantu mereka yang lemah masih menyala terang di kalangan generasi muda. Harapannya, ilmu yang diterapkan hari ini bisa menjadi bekal berharga untuk meningkatkan kualitas hidup dan keselamatan para lansia di Minomartani.

natal dan tahun baru

Perayaan Natal dan Tahun Baru merupakan momen istimewa yang dinanti banyak orang. Kebersamaan dengan keluarga dan kerabat sering dirayakan melalui berbagai hidangan lezat yang menggugah selera. Namun, tanpa disadari, perubahan pola makan dan gaya hidup selama masa liburan dapat berdampak pada kesehatan, terutama meningkatnya kadar kolesterol dan asam urat. Lonjakan kedua kondisi ini setelah liburan merupakan fenomena yang cukup sering ditemui di layanan kesehatan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami penyebab, mengenali tanda peringatan, serta menerapkan langkah pencegahan agar perayaan tetap menyenangkan tanpa mengorbankan kesehatan.

Natal dan Tahun Baru

Selama perayaan Natal dan Tahun Baru, pola makan cenderung berubah dibandingkan hari-hari biasa. Frekuensi makan meningkat, porsi menjadi lebih besar, dan jenis makanan yang dikonsumsi pun umumnya tinggi lemak jenuh dan kolesterol. Hidangan seperti daging merah, makanan bersantan, saus krim, mentega, keju, serta aneka kue dan dessert manis menjadi menu yang kerap tersaji. Di sisi lain, konsumsi jeroan dan beberapa jenis seafood yang tinggi purin dapat memicu peningkatan kadar asam urat dalam darah. Minuman manis yang mengandung fruktosa serta alkohol, terutama bir, juga berperan dalam memperburuk produksi dan pengeluaran asam urat dari tubuh. Kondisi ini semakin diperparah oleh berkurangnya aktivitas fisik dan waktu istirahat yang tidak teratur selama liburan.

Kolesterol tinggi sering disebut sebagai silent disease karena jarang menimbulkan gejala secara langsung. Banyak orang baru menyadari kolesterolnya meningkat setelah menjalani pemeriksaan darah atau ketika muncul komplikasi seperti nyeri dada, sesak napas, maupun gangguan jantung dan pembuluh darah. Berbeda dengan kolesterol, peningkatan asam urat umumnya muncul dalam bentuk serangan akut atau gout flare. Keluhan yang sering dirasakan berupa nyeri sendi mendadak, disertai pembengkakan, kemerahan, dan rasa panas, yang paling sering terjadi pada sendi ibu jari kaki. Jika gejala tersebut muncul, pasien dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Bagi masyarakat yang memiliki riwayat kolesterol tinggi atau asam urat, diperlukan strategi khusus agar tetap aman selama perayaan. Kepatuhan mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter perlu dijaga dan tidak dihentikan tanpa konsultasi. Selain itu, pengendalian porsi makan menjadi kunci penting. Tidak semua hidangan perlu dicicipi dalam satu waktu. Pemilihan sumber protein yang lebih aman, seperti ayam tanpa kulit, tahu, tempe, atau ikan dengan kandungan purin lebih rendah dalam jumlah moderat, dapat membantu menekan risiko. Konsumsi alkohol dan minuman manis sebaiknya dibatasi, serta tetap menyempatkan aktivitas fisik ringan meskipun hanya berjalan santai.

Menikmati hidangan Natal dan Tahun Baru tidak berarti harus menghindari semua makanan favorit. Kuncinya terletak pada kebijaksanaan dalam memilih jenis makanan dan mengatur porsi. Sayur dan buah sebaiknya menjadi komponen utama di piring. Cara memasak yang lebih sehat, seperti merebus, mengukus, atau memanggang, dapat dipilih dibandingkan menggoreng. Penggunaan saus berbasis tomat atau kaldu rendah lemak lebih dianjurkan daripada saus krim atau keju berlebihan. Konsumsi jeroan, daging merah berlemak, serta seafood tinggi purin perlu dibatasi, sementara dessert dapat diganti dengan pilihan yang lebih ringan seperti buah segar atau yoghurt rendah lemak dalam porsi kecil.

Pengaturan porsi dan frekuensi makan memiliki pengaruh besar terhadap total asupan kalori harian. Makan berlebihan, terutama jika dilakukan berulang dalam waktu singkat, dapat memicu kenaikan berat badan, gangguan profil lipid, dan peningkatan asam urat. Strategi sederhana seperti menggunakan piring berukuran kecil, mengambil porsi sedikit terlebih dahulu, serta memberi jeda sebelum menambah makanan terbukti membantu mengontrol asupan tanpa mengurangi kenikmatan makan.

Selain pola makan, faktor lain yang sering diabaikan selama liburan adalah kualitas tidur, hidrasi, dan aktivitas fisik. Kurang tidur dan stres dapat memengaruhi hormon metabolik yang berperan dalam pengaturan rasa lapar dan penyimpanan lemak. Dehidrasi juga dapat memicu serangan asam urat. Aktivitas fisik ringan hingga sedang, seperti berjalan kaki bersama keluarga selama 10–15 menit setelah makan, dapat membantu meningkatkan metabolisme, memperbaiki profil kolesterol, dan menurunkan risiko kekambuhan asam urat.

Perayaan Natal dan Tahun Baru sejatinya adalah waktu untuk bersyukur, berbagi kebahagiaan, dan mempererat hubungan dengan keluarga. Menjaga kesehatan bukan berarti menghilangkan kenikmatan, melainkan menikmati segala sesuatu dengan lebih bijak dan seimbang. Dengan pengaturan porsi yang tepat, pemilihan makanan yang sehat, tetap aktif bergerak, cukup beristirahat, serta patuh pada pengobatan, masyarakat dapat merayakan Natal dan Tahun Baru dengan aman dan nyaman tanpa khawatir kolesterol dan asam urat meningkat.

Apabila memiliki riwayat penyakit metabolik atau mengalami keluhan selama masa liburan, masyarakat dianjurkan untuk tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Oleh: dr. Uswatun Aortatika Khasanah, Sp.PD.
(Dosen Fakultas Kedokteran Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta)

Layanan kesehatan

Tim Kemanusiaan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, melalui program DIKTI Berdampak, terus memperluas layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Tapanuli Tengah. Selama periode 18–22 Desember 2025, tim telah melayani ratusan pasien di berbagai desa, termasuk Bona Lumban, Tanabolan, Sorkam Kiri, Sibuluan Indah, dan Sitiris-tiris, dengan fokus pada pemeriksaan medis, fisioterapi, edukasi gizi, serta penanganan kasus berisiko tinggi. Tim ini melaksanakan kegiatan kemanusiaan hingga 30 Desember 2025.

Layanan Kesehatan

Analisis epidemiologi dari 384 pasien menunjukkan dominasi masalah kesehatan seperti hipertensi (43 persen) dan gangguan muskuloskeletal (29 persen), disusul penyakit kulit serta infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Fenomena multi-morbidity menjadi sorotan, di mana satu pasien sering memiliki lebih dari satu diagnosis, terutama dipicu oleh pola konsumsi makanan tinggi natrium seperti mi instan pasca-bencana, stres psikologis, dan kondisi lingkungan lembap. Kelompok perempuan mendominasi pasien (68 persen), dengan usia dewasa (18–59 tahun) mencapai 55 persen dan lansia 30 persen. Layanan fisioterapi menangani 170 pasien, dengan keluhan utama nyeri punggung bawah (low back pain) hingga 70 persen, berkaitan dengan aktivitas pembersihan material banjir dan kondisi tidur di pengungsian. 

dr. Joko Moerdiyanto, tenaga medis sekaligus koordinator lapangan tim, menjelaskan, “Jumlah total penyakit tidak sama dengan jumlah total pasien karena mayoritas pasien memiliki multidiagnosis, di mana tingginya angka penyakit kulit dan pernapasan sering muncul bersamaan dengan riwayat hipertensi kronis, yang diduga berkaitan dengan pola konsumsi mi instan pasca-bencana.”

Pada 21 Desember di Desa Sibuluan Indah, tim melayani 165 pasien medis dan 65 fisioterapi, total 230 orang, melebihi target awal 50 pasien hingga hampir 300 persen. Lonjakan ini memerlukan pengambilan stok obat tambahan, dengan prevalensi hipertensi tinggi di kalangan lansia dan ibu-ibu. Selain itu, pendekatan psikososial terintegrasi dalam fisioterapi, di mana pasien sering berbagi cerita untuk dukungan mental.

Keesokan harinya, 22 Desember, mobile clinic di Desa Sitiris-tiris melayani 33 pasien medis dan 20 fisioterapi. Meski jumlah lebih sedikit, kompleksitas kasus tinggi, termasuk suspect Leptospirosis pada pemuda 21 tahun yang dirujuk ke RSUD Pandan, dugaan Tuberkulosis (TB) pada anak, serta masalah gizi seperti stunting, underweight, dan delay development. Edukasi gizi intensif diberikan kepada keluarga, sementara fisioterapi menangani kasus HNP Cervical dengan gangguan fungsi ekstremitas atas, selain nyeri otot umum.

dr. Joko Moerdiyanto menekankan pentingnya edukasi, pencegahan, dan evaluasi internal. “Tingginya hipertensi dan ISPA sering berkaitan dengan pola makan pasca-bencana, sementara kasus anak memerlukan pemantauan berkelanjutan. Lonjakan pasien di Sibuluan Indah mengajarkan kami tingkatkan logistik obat dan SOP fisioterapi. Kami tidak hanya obati, tapi juga edukasi agar masyarakat mandiri. Rekomendasi kami termasuk edukasi gizi rendah natrium, triase ketat untuk kasus berisiko, dan integrasi dukungan psikologis untuk cegah disabilitas jangka panjang,” ujarnya.

Tim juga menyalurkan sembako per kepala keluarga dan merekomendasikan peningkatan stok obat antihipertensi serta promosi ergonomi tubuh. Kegiatan ini menegaskan komitmen UNISA Yogyakarta dalam pemulihan terpadu, adaptif, dan berkelanjutan bagi masyarakat dengan akses kesehatan terbatas.

Pasien

Tim Kemanusiaan UNISA Yogyakarta yang tergabung dalam program DIKTI Berdampak kembali melanjutkan pelayanan kepada pasien di wilayah terdampak bencana. Pada hari kelima layanan kesehatan, Minggu (21/12/2025), tim mencatat lonjakan signifikan jumlah penerima manfaat di Desa Sibuluan Indah, Kecamatan Sibuluan.

Pasien

Sebanyak 165 pasien medis dan 65 pasien fisioterapi berhasil dilayani, sehingga total mencapai 230 pasien, jauh melampaui target awal yang ditetapkan hanya 50 pasien. Kondisi lingkungan di lokasi pelayanan dilaporkan relatif kondusif dan terkendali.

Shofal Jamil selaku koordinator lapangan menyampaikan bahwa lonjakan pasien mencapai hampir 300 persen dari estimasi awal, sehingga tim harus melakukan pengambilan ulang stok obat dari gudang logistik untuk memastikan pelayanan tetap berjalan optimal. Temuan ini menjadi evaluasi penting agar kapasitas logistik obat ditingkatkan pada lokasi pelayanan berikutnya. Pasien yang di dominasi oleh lansia dan ibu-ibu tampak antusias untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

Dari hasil pemeriksaan medis, tim menemukan prevalensi kasus hipertensi yang cukup tinggi di kalangan warga. “Jumlah total penyakit tidak sama dengan jumlah total pasien (165 orang) karena mayoritas pasien memiliki Multi-Diagnosis (satu pasien memiliki lebih dari satu jenis penyakit), Tingginya angka penyakit kulit (Dermatitis/Alergi) dan pernapasan (ISPA) seringkali muncul bersamaan pada pasien yang juga memiliki riwayat Hipertensi kronis” ujar dr Joko. Kondisi tersebut diduga kuat berkaitan dengan pola konsumsi masyarakat yang selama beberapa minggu terakhir banyak mengandalkan mi instan pasca-bencana. Tim menilai perlu adanya edukasi gizi sebagai bagian dari layanan lanjutan untuk menekan risiko penyakit tidak menular di wilayah terdampak.

Selain layanan medis umum, tim juga memberikan layanan fisioterapi kepada 65 pasien yang membutuhkan pemulihan fisik pasca-bencana. Namun demikian, evaluasi internal mencatat perlunya Standar Operasional Prosedur (SOP) khusus fisioterapi di situasi bencana agar pelayanan dapat dilakukan secara lebih profesional, proporsional, dan terukur.

Pendekatan psikososial juga menjadi perhatian tim. Selama layanan fisioterapi, banyak pasien menunjukkan kebutuhan untuk berbagi cerita dan mendapatkan dukungan mental. Hal ini menegaskan pentingnya integrasi dukungan psikologis awal dalam setiap tindakan pemulihan fisik di area bencana.

Dalam aspek logistik, penyaluran bantuan sembako dilakukan dengan skema satu paket per Kepala Keluarga (KK). Sebagai tindak lanjut, Tim Kemanusiaan UNISA Yogyakarta merekomendasikan peningkatan edukasi gizi masyarakat, finalisasi SOP layanan fisioterapi bencana, serta penguatan komunikasi alur pelayanan di bagian registrasi agar tidak terjadi penumpukan pasien.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen UNISA Yogyakarta dalam mendukung pemulihan kesehatan dan psikis masyarakat terdampak bencana melalui pelayanan terpadu yang adaptif dan berkelanjutan.