Baitul Arqam

Menjelang momen kelulusan, mahasiswa tingkat akhir Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta tidak hanya disibukkan dengan revisi skripsi. Sebelum resmi menyandang gelar sarjana pada bulan April mendatang, mereka wajib melewati satu fase krusial: Baitul Arqam Purna (BAP).

Kegiatan pengkaderan pamungkas ini digelar oleh Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UNISA Yogyakarta secara maraton. Tak tanggung-tanggung, acara ini dilaksanakan dalam 7 gelombang, mulai dari 12 Januari hingga 14 Februari 2026. Mengusung konsep hybrid (daring dan luring), BAP tahun ini mengangkat tema besar “Meningkatkan Kapasitas Kader, Menghadirkan Kemanfaatan Untuk Semua”.

Ketua LPPI UNISA Yogyakarta, Dr. M. Nurdin Zuhdi, menegaskan bahwa BAP bukan sekadar formalitas administratif jelang wisuda. Lebih dari itu, forum ini adalah kawah candradimuka terakhir bagi mahasiswa untuk memperkuat fondasi ideologi sebelum terjun ke dunia profesional.

Tujuan utamanya jelas: memastikan setiap lulusan UNISA Yogyakarta memiliki pemahaman ideologi yang kokoh sesuai dengan pemahaman Muhammadiyah.

“Kegiatan ini untuk meningkatkan pemahaman terkait dengan ideologi Muhammadiyah. Kami ingin lulusan UNISA tidak hanya kompeten secara akademik, tapi juga matang secara spiritual dan siap menjadi kader yang bermanfaat,” tutur Nurdin di sela-sela acara pembukaan, Senin (12/01/2026).

Keseriusan UNISA Yogyakarta dalam membekali calon wisudawan terlihat dari deretan narasumber yang dihadirkan. Sebanyak 20 pembicara kompeten siap memberikan wawasan baru. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari unsur internal UNISA, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, PP ‘Aisyiyah, hingga akademisi dan profesional dari luar Muhammadiyah.

Para narasumber ini akan mengupas tuntas bagaimana nilai-nilai Islam Berkemajuan dapat diimplementasikan dalam dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. Dengan bekal ini, para calon wisudawan April 2026 diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa solusi bagi permasalahan umat.

Psikolog

Perjalanan hidup setiap dosen memiliki kisah yang unik dan penuh makna. Hal tersebut tercermin dari sosok Dr. Komarudin, M.Psi., Psikolog, dosen Program Studi Psikologi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, yang dikenal dekat dengan mahasiswa dan sarat inspirasi.

Terlahir dari keluarga sederhana, dengan ibu seorang buruh tani dan ayah seorang PNS di bidang pendidikan, Dr. Komarudin tumbuh dalam lingkungan yang membentuk kemandirian dan semangat eksplorasi diri sejak dini. Keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang, justru mengasah kepekaan sosial dan kreativitasnya.

Psikolog

Pada masa remaja, Dr. Komar aktif di dunia musik. Ia pernah menjadi pemain dalam grup nasyid dan band rock alternatif, bahkan menghasilkan beberapa karya lagu di bawah label indie Yogyakarta. Dunia seni menjadi ruang ekspresi sekaligus sarana bertahan hidup dan belajar memahami manusia dari sisi emosional dan sosial.“Musik mengajarkan saya membaca perasaan orang. Dari situ saya sadar, manusia itu kompleks dan menarik untuk dipelajari,” tuturnya, Jumat (9/1).

Ketertarikannya pada psikologi telah tumbuh sejak bangku SMP. Impian tersebut akhirnya terwujud ketika ia menempuh pendidikan S1 Psikologi di Universitas Wangsa Manggala pada tahun 2003–2008. Selama kuliah, Dr. Komar tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga bekerja sebagai pedagang dan tour guide di perusahaan travel untuk menambah penghasilan.

Usai lulus dan berkeluarga, ia mengawali karier sebagai guru honorer di Sekolah Luar Biasa (SLB) dengan gaji Rp250.000 per bulan. Dari titik inilah empati, ketangguhan, dan komitmen terhadap dunia pendidikan semakin menguat. Bersama sang istri, ia kemudian mendirikan lembaga kursus di rumah sebagai bentuk kecintaan terhadap pendidikan. Tak disangka, lembaga tersebut berhasil menorehkan prestasi hingga tingkat Provinsi DIY.

Dari hasil mengajar dan berwirausaha, Dr. Komar mampu melanjutkan studi S2 Psikologi hingga akhirnya diterima sebagai dosen di UNISA Yogyakarta. Karier akademiknya terus berkembang, hingga ia meraih beasiswa S3 penuh dari UNISA Yogyakarta, dan menyandang gelar doktor di bidang psikologi.

Di lingkungan kampus, Dr. Koma yang akrab disapa “Pak Komardikenal sebagai dosen yang dekat dengan mahasiswa. Metode pengajarannya khas: aktif memantik diskusi, mengaitkan teori psikologi dengan isu-isu sosial yang aktual, serta membuka ruang dialog yang setara dan reflektif. Kedekatan tersebut lahir dari pengalaman hidup yang membumi dan penuh perjuangan.

Melalui kisah hidupnya, Dr. Komarudin menyampaikan pesan sederhana namun mendalam:
“Selesaikan apa yang sudah kamu mulai. Teruslah berkarya, karena karyamu merupakan investasi amal jariyah sebagai bekal pulangmu nanti.”

Kiprah dan perjalanan Dr. Komarudin menjadi bukti bahwa latar belakang bukanlah batasan, melainkan pijakan untuk melompat lebih tinggi. Sosoknya merepresentasikan nilai UNISA Yogyakarta sebagai kampus yang menumbuhkan insan berkarakter, berdaya, dan berdampak bagi masyarakat.

unisa yogyakarta

Reputasi Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta dalam tata kelola perguruan tinggi kembali menarik perhatian. Kali ini, tamu jauh dari Pulau Kalimantan, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), datang khusus untuk melakukan studi banding dan penandatanganan kerja sama strategis, Jumat (09/01/2026).

Kunjungan ini bukan sekedar silaturahmi biasa. Fokus utama pertemuan ini adalah strategi bedah pengelolaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UMKT menilai UNISA Yogyakarta memiliki resep jitu dalam manajemen penelitian yang krusial untuk mendongkrak status akreditasi kampus.

Ketua LPPM UMKT, Paula Mariana Kustiawan, S.Hut., M.Sc., Ph.D , tidak menampik bahwa kedatangannya membawa misi besar. Ia secara terang-terangan menyebut ingin berguru kepada UNISA Yogyakarta mengenai langkah-langkah konkret persiapan menuju Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) Unggul.

“Jadi kedatangan kami ke sini memang niatnya untuk berguru ke UNISA Yogyakarta. Kami ingin tahu bagaimana tata kelola yang sudah diterapkan di sini. Selain belajar, kami juga datang membawa dokumen Memorandum of Agreement (MoA) untuk bersinergi dalam meningkatkan kualitas penelitian dan pengabdian dosen UMKT,” ungkap Paula dengan antusias.

Menanggapi semangat kolaborasi tersebut, Koordinator Penelitian LPPM UNISA Yogyakarta, Dinar Mindrati Fardhani, SP, M.Biotech., Ph.D , menyambut hangat rombongan UMKT. Menurutnya, sesama Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) sudah selayaknya saling bahu-membahu.

“Kami sangat terbuka sekali. Kita sama-sama dari keluarga besar PTMA, pastinya sangat senang bisa saling bersinergi. UNISA pun sebenarnya masih terus belajar. Semoga diskusi kita hari ini menghasilkan poin-poin penting yang bisa langsung dikerjasamakan demi kemajuan penelitian kedua kampus,” ujar Dinar.

Profesi Arsitek

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta resmi memperoleh izin pembukaan Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr). Izin tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 1182/B/O/2025 tentang Izin Pembukaan Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek Program Profesi pada Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Profesi Arsitek

Dengan terbitnya keputusan ini, PPAr UNISA Yogyakarta tercatat sebagai Pendidikan Profesi Arsitek ke-25 di Indonesia dan ke-4 di Daerah Istimewa Yogyakarta, sekaligus memperkuat kontribusi UNISA Yogyakarta dalam pengembangan pendidikan profesi dan penyediaan arsitek profesional nasional.

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNISA Yogyakarta , Ar. Tika Ainunnisa F, ST., MT., Ph.D., IAI, menyampaikan bahwa pembukaan PPAr ini merupakan langkah strategis dalam menjawab kebutuhan dunia profesional arsitektur yang menuntut kompetensi, etika, dan tanggung jawab sosial.

“Pendidikan Profesi Arsitek di UNISA Yogyakarta dirancang untuk mencetak arsitek profesional yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas, kepekaan sosial, serta komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan PPAr menjadi jembatan penting bagi lulusan sarjana arsitektur untuk memperoleh pengakuan profesi sesuai regulasi yang berlaku, sekaligus meningkatkan kualitas praktik arsitektur di Indonesia.

“Sebagai PPAr ke-25 di Indonesia, UNISA Yogyakarta hadir membawa kekhasan nilai keislaman, kemuhammadiyahan, dan perspektif keberlanjutan yang menjadi ciri institusi. Harapannya, lulusan PPAr UNISA mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” tambah Ar. Tika.

Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek UNISA Yogyakarta diselenggarakan oleh Fakultas Sains dan Teknologi dengan dukungan sumber daya dosen, jejaring profesional, serta kurikulum yang mengacu pada standar pendidikan profesi arsitek nasional.

Pembukaan PPAr ini juga menjadi bagian dari komitmen UNISA Yogyakarta sebagai perguruan tinggi yang terus berinovasi dalam menghadirkan program pendidikan relevan dengan kebutuhan zaman, serta berorientasi pada penguatan kualitas lulusan dan daya saing global.

Ghana

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali menorehkan catatan penting dalam penguatan internasionalisasi dan kaderisasi mahasiswa, seorang mahasiswa asing asal Ghana, Sulemana Abdul Majeed, resmi bergabung sebagai anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Sains dan Teknologi UNISA Yogyakarta periode 2025/2026. Kehadiran Sulemana menjadi tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya mahasiswa internasional bergabung dalam organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah di lingkungan UNISA Yogyakarta.

Mahasiswa Ghana

Sulemana Abdul Majeed, mahasiswa laki-laki kelahiran Ghana, 7 Desember 2003, saat ini tinggal di Asrama UNISA Yogyakarta. Ia dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan dan memiliki latar belakang organisasi yang kuat sejak di negara asalnya. Sebelum menempuh studi di Indonesia, Sulemana pernah menjabat sebagai President sekaligus Imam Ghana Muslim Students Association (GMSA) Tamasco Branchpada periode 2021–2022, serta menjadi Treasurer The Council of African Students pada 2022–2023.

Ketertarikan Sulemana untuk bergabung dengan IMM didorong oleh keinginannya memperdalam pemahaman keislaman, ideologi Muhammadiyah, serta mengembangkan kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Ia menyampaikan bahwa IMM merupakan ruang strategis untuk membentuk karakter mahasiswa yang berintegritas dan berdaya guna bagi masyarakat.

“Motivasi saya mengikuti Darul Arqam Dasar dan bergabung dengan IMM adalah untuk memperkuat iman dan pemahaman saya tentang Islam dan Muhammadiyah, mengembangkan kepemimpinan, kedisiplinan, serta berpikir kritis, dan mempersiapkan diri menjadi kader IMM yang aktif dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Sulemana, Selasa (6/1).

Menurutnya, nilai-nilai pembaruan Islam yang diusung Muhammadiyah sejalan dengan semangatnya sebagai mahasiswa internasional yang ingin berkontribusi secara global. Ia memandang Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang menekankan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah, mendorong kemajuan pendidikan, serta kepedulian sosial dalam menjawab tantangan zaman.

Keterlibatan Sulemana dalam IMM Fakultas Sains dan Teknologi UNISA Yogyakarta juga mencerminkan komitmen kampus dalam membangun lingkungan inklusif, multikultural, dan terbuka bagi mahasiswa dari berbagai negara. Kehadirannya diharapkan dapat memperkaya dinamika organisasi, memperluas perspektif global kader IMM, serta memperkuat diplomasi kultural Muhammadiyah di tingkat internasional.

Dengan bergabungnya mahasiswa asal Ghana ini, IMM UNISA Yogyakarta tidak hanya menjadi wadah kaderisasi ideologis dan kepemimpinan mahasiswa, tetapi juga ruang perjumpaan lintas bangsa yang menegaskan nilai Islam berkemajuan dalam bingkai global.