Dosen Unisa Kembangkan Stimulasi Listrik dan Metcovazin untuk Percepat Penyembuhan Luka Diabetes
Dosen Prodi Keperawaatan, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Lutfi Nurdian Asnindari mengembangkan kombinasi Metcovazin dan stimulasi listrik yang berpotensi menjadi terapi adjuvan (pengobatan tambahan) untuk mempercepat penyembuhan luka akut pada kondisi diabetes.
Inovasi tersebut dikembangkan Lutfi melalui penelitian praklinis yang dipaparkan dalam ujian terbuka Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM).
Stimulasi Listrik
Lutfi mengatakan inovasi tersebut berpeluang dikembangkan sebagai terapi tambahan dalam perawatan luka diabetes, khususnya untuk membantu mempercepat fase proliferasi dan remodeling dalam proses penyembuhan.
“Alat stimulasi listrik ini dapat dijadikan salah satu alternatif terapi adjuvan untuk merawat luka akut pada kondisi diabetes karena terbukti mengaktifkan jalur pensinyalan intraseluler VGCC tipe Cav1.2-PDGF-BB/PDGFRβ, sehingga fase proliferasi dan remodeling dalam penyembuhan luka diabetes dapat berlangsung optimal dan luka lebih cepat sembuh,” kata Lutfi saat di wawancara pada Jumat (18/9/2026).
Menurut dia, manfaat inovasi tersebut tidak hanya dilihat dari kemampuannya mendukung proses penyembuhan, tetapi juga dari aspek keamanan dan kemudahan pengembangan alat untuk penggunaan di masa mendatang. Metcovazin, kata Lutfi, telah banyak digunakan di Indonesia dan sejauh ini aman digunakan. Sementara parameter stimulasi listrik yang digunakan dalam penelitian telah disesuaikan sehingga tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan.
“Metcovazin sudah banyak digunakan oleh perawat luka di Indonesia dan sejauh ini aman digunakan. Untuk stimulasi listrik yang saya gunakan sudah disesuaikan parameternya sehingga tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan, seperti luka bakar, nyeri, dan lain-lain,” katanya.
Meski demikian, Lutfi menegaskan inovasi tersebut belum dapat langsung diterapkan kepada pasien karena penelitian masih berada pada tahap praklinis dan belum melibatkan subjek manusia. “Penelitian kami belum menggunakan subyek manusia, karena penelitian praklinis. Berdasarkan tikus model yang kami buat, luka yang dapat diintervensi dengan inovasi stimulasi listrik ini adalah luka akut pada kondisi diabetes mellitus atau kadar glukosa darah tinggi,” kata dia.
Karena masih berada pada tahap praklinis, penerapan inovasi tersebut pada manusia masih membutuhkan penelitian translasional dan klinis. Lutfi juga menilai penggunaan teknologi tersebut nantinya perlu melibatkan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dalam perawatan luka.
“Inovasi ini masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut untuk dapat diterapkan pada manusia melalui penelitian translasional dan klinis. Namun, intervensi ini meskipun relatif aman, sebaiknya dilakukan oleh perawat yang terlatih dalam perawatan luka,” katanya.
Penelitian tersebut menggunakan tikus model diabetes untuk melihat efektivitas kombinasi Metcovazin dan stimulasi listrik dalam proses penyembuhan luka. Sejumlah indikator biologis penyembuhan luka menunjukkan hasil yang lebih baik pada kelompok yang mendapatkan kombinasi intervensi tersebut.
Lutfi berharap penelitian itu dapat dikembangkan lebih lanjut hingga menghasilkan alat stimulasi listrik yang memiliki parameter teruji secara ilmiah, tetapi tetap terjangkau dan mudah digunakan.
“Indikator keberhasilan yang ingin kami capai adalah hadirnya terapi adjuvan alternatif berupa alat stimulasi listrik dengan parameter yang sudah teruji secara ilmiah serta murah dan mudah digunakan untuk mempercepat penyembuhan luka pada kondisi diabetes,” tutupnya.









































Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!