10 Reduced Inequalities

Idul Fitri 1447 H dan Homo Deos

, ,
Idul fitri 1447 h

Kita Sedang menyongsong Idul Fitri 1447 H di tahun 2025. Sebulan penuh umat muslim berpuasa Ramadhan. Dalam tradisi bangsa-bangsa bulan ramadhan selalu di sambut dengan aneka rupa aktifitas sebagai wujud kegembiraan budaya. Dari penyiapan makan khusus, perlengkapan ibadah khusus atau bahkan baru, acara-acara khusus seperti silaturahmi, saling mengirim makanan dan membatalkan puasa bersama komunitas ketika adzan berkumandang. Bahkan dinegara-negara dengan budaya barat kristiani dimana komunitas muslim berada biasanya pendatang, pelajar dan mungkin turis mereka berkumpul disuatu tempat seperti alun-alaun atau meeting point untuk berbagi makanan berbuka. Acaranya berlangsung santai dan tidak mendapatkan penolakan dari penduduk loka. Tentu ini sangat mengembirakan.

Idul Fitri 1447 H

Bagi kaum muslim bulan Ramadhan salah satu dari empat shahrul hurum (bulan mulia) sangatlah istimewa. Bulan dimana amal baik dilipat gandakan pahalanya, lapar siang menjadi istimewa dan malam harinya menjadi mulia karena ibadah dan kontemplasi. Bahkan bau mulut orang yang berpuasa bagaikan wangi kasturi dari syurga. Inilah metafor bahwa Ramadhan memang istimewa. Saat Ramadhan tiba maka sisi spiritualitas manusia menjadi makin tinggi dan sifat keduniaan menjadi semakin rendah. Dengan begitu puasa akan mencapai tujuannya yaitu manusia taqwa (Qs: Al-Baqarah: 183). Ciri manusia taqwa tentu tidak saja tercermin dalam ritual ibadah akan tetapi juga akan nampak dalam kehidupan nyata ditengah-tengah masyarakat. Kata Taqwa bukanlah prilaku yang menggantung di langit akan tetapi harus berpijak di bumi.

Yuval Noah Harari dalam bukunya “Homo Deos: A brief History of Tomorrow”, dengan melihat perkembangan teknologi informasi yang makin cepat, Yuval menggambarkan bahwa di abad 21, Manusia tidak akan puas menjadi manusia biasa. Dengan penguasaan teknologi berbasis data seperti bioteknologi, rekayasa genetika dan kecerdasan buatan manusia akan berusaha untuk mengalahkan kematian, menciptakan kebahagian abadi dan meningkatkan kemampuan. Dengan mengagabungkan teknologi maka manusia dibayangkan akan memiliki kemampuan seperti dewa-dewa dalam mitos Yunani yang memiliki kekuatan yang melebihi manusia biasa. Yuval menyebutnya “Homo Deus” yang bermakna “manusia dewa” akan tetapi tidak dalam makna dewa yang magis lebih pada”manusia nyata” yang dengan teknologi seolah memeiliki kekeuatan seperti dewa. Sesuatu yang secara nyata hari ini mulai terlihat. Pertanyaan mendasarnya adalah apakah betul menjadi “Homo Deus “adalah yang dibutuhkan manusia?

Ramadhan tahun ini kita juga menikmatinya dengan keprihatinan mendalam serangan Amerika Serikat dan Israel atas nergara Iran mengharu biru emosi kita. Gedung luluh lantak dan ribuan orang meninggal karenanya dan tentu saja ada anak -anak penerus generasi manusia. Perang ini adalah perang dengan penggunaan teknologi tercanggih yang ada dimuka bumi. Perang di mana Manusia tidak perlu saling berhadapan. Dengan teknologi yang ada ditangan bertonton Rudal yang digerakkan oleh kecanggihan teknologi diluncurkan dan dikendalikan hanya dengan sebuah tombol. Dan merekapun saling menghancurkan. Merngerikan ! .

Melihat Perang ini dari layer kaca saya jadi ingat “ Homo deus” nya  Yuval seperti  tulisan diatas. Manusia dengan teknologi berperang seperti dewa-dewa berperang dengan kesaktiannya tanpa harus bertatap muka. Dengan tobol mereka saling menghancurkan. Perang yang merobek kesucian bulan Ramadhan dan nilai kemanusian kita.  Bukan sesuatu yang megis tetapi nyata.

Puasa Ramadhan apabila dijalankan satu bulan penuh sedikit banyak akan mampu merubah perilaku seseorang. Mengacu pada penelitian Maxwell Maltz dalam psycho-Cybernetics (1960) yang menyimpulkan bahwa untuk mendapatkan mental baru orang memelukan 21 hari melakukan dan merasakan hal yang sama. Meskipun penelitian ini kemudian dibantah oleh penelitian lain yang menyebutkan orang memerlukan 66 hari rata-rata untuk menerima kebiasan baru. Puasa dijalankan 29/30 hari dengan kegiatan positif baik berdemensi dunia maupuan akherat. Kita optimis karena 30 hari tentu lebih lama dibanding dengan 21 harinya Maxwell, puasa akan mampu mencapai tujuannya yaitu lahirnya manusia taqwa. Ukuran taqwa juga telah dinformasikan oleh al-qur’an dalam surat Ali Imron 133-135. Orang yang bertaqwa akan memiliki karakter utama yaitu dermawan (membagikan infaq/shodaqoh), tidak mudah marah dan pemaaf. Inilah karakter utama penyayang (rahmah) yang dimiliki Oleh Tuhan.   Karakter yang secara sosial akan merekatkan, mensejahterakan dan mendamaikan. Setelah satu bulan berpuasa manusia akan mampu mengekspresikan sifat Tuhan yang penyayang.

 Abad 21 ini jangan jangan yang kita butuhkan bukan “homo deus” manusia dewa yang ternyata masih mengobarkan perang dan saling bunuh untuk menyelesaikan persoalan. Yang kita butuhkan adalah “homo theos”, yaitu manusia yang mampu mengekspresikan sifat-sifat utama Tuhan yaitu kasih-sayang.  Puasa Romadhon telah memberi jalan agar kita bisa menjadi ‘homo theos”. Dan puasa dikenal dalam sejarah peradaban manusia dimanapun dan dalam kepercayaan dan agama manapun

Selamat hari raya Idul Fitri.

Oleh : Dr. M. Ali Imron, M.Fis (Wakil Rektor IV UNISA Yogyakarta)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *