Mahasiswa KKN Unisa Belajar Potensi UMKM Anyaman Ketupat
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta mengunjungi salah satu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di lokasi KKN Guyangan, Padukuhan Kajor, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Sleman. Kunjungan tersebut dilakukan untuk mendekatkan mahasiswa dengan masyarakat sekaligus mengenali potensi usaha yang berkembang di lingkungan tempat mereka menjalankan program KKN.
KKN
Salah satu mahasiswa KKN Unisa Yogyakarta, Maulana Rendy Pratama Putra mengatakan interaksi langsung dengan pelaku UMKM membuat mahasiswa dapat mengetahui berbagai potensi ekonomi yang dimiliki masyarakat. “Kunjungan ini sekaligus sebagai upaya kami untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Kami juga bisa belajar langsung mengenai potensi UMKM yang ada di sini,” ujar Rendy, Rabu (12/8/2026).
Menurut Rendy, mahasiswa tidak menutup kemungkinan memberikan dukungan terhadap UMKM yang memiliki potensi untuk dikembangkan. “Mungkin juga ada potensi yang bisa kami dukung,” katanya.
Salah satu UMKM yang dikunjungi mahasiswa merupakan usaha pembuatan anyaman ketupat berbahan janur. Usaha tersebut masih bertahan di tengah semakin beragamnya usaha modern dan menjadi salah satu sumber penghasilan bagi masyarakat setempat. Proses pembuatan ketupat masih dilakukan secara manual. Janur kelapa dianyam satu per satu hingga membentuk wadah ketupat yang kemudian dipasarkan kepada pelanggan.
Salah satu pengrajin, Ani Prastiwi mengatakan usaha pembuatan ketupat telah dijalaninya selama beberapa tahun dan turut menopang perekonomian keluarganya. “Usaha ini sudah saya jalankan selama beberapa tahun dan menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga,” ujar Ani.
Ia menjelaskan, kebutuhan ketupat biasanya meningkat menjelang hari raya maupun ketika masyarakat menggelar acara tertentu. “Kalau menjelang hari raya atau ada acara tertentu, biasanya permintaan ketupat meningkat,” katanya.
Meski memiliki pasar tersendiri, Ani mengaku tetap menghadapi sejumlah kendala dalam menjalankan usaha. Salah satunya kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan tenaga kerja. “Kendalanya harga bahan baku yang kadang naik dan tenaga kerja juga terbatas,” ujar Ani.
Ia berharap usaha anyaman ketupat yang dijalankannya dapat terus berkembang. Dukungan dalam pemasaran juga dinilai dapat membantu produknya menjangkau konsumen yang lebih luas. “Harapannya usaha ini bisa terus berkembang dan pemasaran hasil produksi bisa semakin luas,” katanya.
Pengrajin lainnya, Ngatinem juga telah menjalankan usaha pembuatan ketupat selama beberapa tahun. Sama seperti Ani, usaha tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan bagi keluarganya. Ngatinem mengatakan ketupat dibuat menggunakan janur kelapa yang dianyam secara manual. Kerapian menjadi salah satu hal yang diperhatikan agar produk tetap diminati pelanggan. “Ketupat ini dibuat dari janur kelapa dan dianyam secara manual. Kami tetap mengutamakan kerapian dan kualitas,” ujar Ngatinem.
Menurutnya, permintaan paling tinggi biasanya terjadi menjelang Hari Raya Idulfitri, Iduladha, maupun acara hajatan masyarakat. “Biasanya permintaan meningkat menjelang Idulfitri, Iduladha, dan kalau ada acara hajatan,” katanya.
Jumlah produksi pun menyesuaikan pesanan yang masuk. Dalam sehari, Ngatinem menyebut dirinya dapat membuat ratusan bungkus ketupat. “Kalau pesanan banyak, sehari bisa membuat sampai ratusan bungkus ketupat,” ujar dia.
Produk tersebut kemudian dipasarkan kepada pedagang di pasar maupun masyarakat sekitar. Di balik tingginya permintaan pada momen tertentu, pengrajin juga harus menghadapi persoalan bahan baku. Ngatinem menyebut ketersediaan janur berkualitas tidak selalu mudah diperoleh. “Kadang yang menjadi kendala itu mencari janur yang bagus. Harga bahan baku juga bisa naik pada waktu-waktu tertentu,” katanya.
Kondisi tersebut membuat pengrajin harus menyesuaikan proses produksi agar kualitas anyaman tetap terjaga. Menurut Ngatinem, kualitas menjadi salah satu faktor penting agar pelanggan tetap puas dan melakukan pemesanan kembali. “Kami tetap berusaha menjaga kualitas anyaman supaya pelanggan puas dan tetap pesan lagi,” ujar Ngatinem.







































