Sholat Idul Fitri 1447 H di UNISA Yogyakarta: Seruan Optimisme, Kepedulian dan Semangat Baru Umat
Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menyelenggarakan Sholat Idul Fitri 1447 H pada Jumat, 20 Maret 2026, di Halaman Gedung Siti Walidah. Ratusan jamaah yang terdiri dari civitas akademika dan masyarakat umum memadati lokasi sejak pagi hari untuk bersama-sama merayakan hari kemenangan.
Sholat Idul Fitri
Bertindak sebagai khatib, Prof. Dr. Chairil Anwar menyampaikan khutbah bertema “Membangun Optimisme dalam Kehidupan”. Dalam khutbahnya, ia mengajak umat Islam untuk menjaga nilai-nilai kesalehan yang telah dibangun selama bulan Ramadan.
“Selama sebulan penuh kita telah belajar sabar dan menahan diri dari godaan duniawi. Maka di bulan Syawal, kesalehan itu harus tetap berjalan,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menjadi pribadi yang rendah hati, dermawan, dan ikhlas dalam meningkatkan infaq serta sedekah. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, sehingga semangat berbagi harus terus dijaga, termasuk melalui silaturahmi yang telah terjalin saat buka bersama dan tarawih selama Ramadan.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Chairil juga menyinggung implementasi Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang telah dicanangkan di UNISA Yogyakarta pada 25 Juni 2025 dan mulai diterapkan pada tahun 2026. KHGT menetapkan tiga momen penting umat Islam secara global, yaitu Ramadan, Idul fitri, dan Idul adha.
“Melalui KHGT, rukyat tidak lagi bersifat lokal, tetapi dilakukan secara global. Harapannya, akan membawa banyak dampak positif bagi persatuan umat Islam di dunia,” jelasnya.
Khutbah juga menyoroti berbagai persoalan global, termasuk konflik antara Iran dan Israel yang menelan ribuan korban jiwa dan berdampak luas, termasuk pada kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, bencana alam seperti banjir di Sumatra dan Aceh turut menjadi perhatian, yang hingga kini masih memerlukan penanganan berkelanjutan.
Ia mengingatkan bahwa berbagai ujian tersebut merupakan bagian dari ketetapan Allah, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 155 disebutkan bahwa manusia akan diuji dengan rasa takut, lapar, dan kekurangan, namun Allah memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.
Lebih lanjut, Prof. Chairil mengajak umat untuk tetap optimis dalam menghadapi kehidupan. Ia menegaskan bahwa orang beriman memiliki derajat yang tinggi dan tidak boleh bersikap lemah atau bersedih hati, sebagaimana termaktub dalam Surah Ali Imran ayat 139.
Menurutnya, optimisme harus dibangun secara rasional dan disertai usaha, doa, serta tawakal. Ia membagikan enam langkah membangun optimisme:
- Menemukan hal positif dari masa lalu
- Menentukan target hidup
- Menguraikan target secara terencana
- Bertawakal kepada Allah
- Mengubah cara pandang terhadap kegagalan
- Meyakini pertolongan Allah
“Optimisme akan meningkatkan kinerja, memperkuat amal, dan membantu menyelesaikan persoalan hidup,” tambahnya.
Ia juga menekankan dua elemen penting dalam menatap masa depan, yaitu semangat baru dan optimisme. Umat Islam diajak kembali kepada fitrah manusia sebagaimana dalam Surah At-Tin ayat 4, serta meneladani Rasulullah sebagai problem solver, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Insyirah ayat 1-8.
Menutup khutbahnya, Prof. Chairil mengajak umat Islam Indonesia untuk terus berkontribusi melalui karya-karya positif.
“Umat Islam harus menatap masa depan dengan semangat baru dan optimisme, serta mengisi kehidupan dengan karya nyata bagi kemaslahatan,” pungkasnya.












Leave a Reply
Want to join the discussionFeel free to contribute!